Puisi-puisi Thoha Muntaha (Republika, 26 November 2017)

Diskriminasi, Ojo Dumeh, Hukum Alam, dan Lainnya ilustrasi Google.jpg
Diskriminasi, Ojo Dumeh, Hukum Alam, dan Lainnya ilustrasi Google

“DISKRIMINASI”

 

Marginalisasi wong cilik sering hadir menyertai libido kekuasaan

Ruang kreasinya ditekan

Pasar bebas adalah firman

Pemodal menjelma sebagai tuhan

Penguasa sekedar jongos suruhan

 

Hedonisme dipaksa menjadi gaya hidup

Keadilan hanya terdengar sayupsayup

Partai politik kerap menjadi mantel orang korup

Cahaya hukum makin meredup

Sementara wong cilik tetap basah kuyup.

 

“OJO DUMEH”

 

Katakan “Akulah Rupiah”

Kepada Ku kalian menyembah

 

Sejurus kemudian jidat menghitam bersujud pada Rupiah kuasa Alam

 

“Mobilku mewah, rumahku megah

Sekali lirik semua menyerah” ujar jamaah Rupiah

 

Namun saat terengah karena malnutrisi

Rupiah yang dipuji tak bertaji

 

Mereka berteriak “Mana kuasamu hai Rupiah”

Semua terlambat saat jasad berkalang tanah

 

“Sangkan paraning dumadi”

Bermula dari kesetiaan zat padat, cair dan urai untuk saling menyatu

Lalu bertarung, menang kemudian berenang menggapai telur bulu perindu

Sejengkal kemudian bertiup ruh kehidupan dalam mahkota hulu

Dendang mijil, kinanti, sinom, asmaradhana, hingga megatruh saling memandu

 

Demikianlah narasi tiap diri

Kepada Nya diri kembali

Kasih Sayang Nya senantiasa menyertai

Ilahi, Engkaulah tujuan abadi, Ridlo-Mu selalu dinanti

 

“HUKUM ALAM”

 

Sabda Alam telah sepakat

Bahwa siapa berbuat, siap pula akibat

Kreativitas dan improvisasi adalah modal

Keberanian mengeksekusi laku profesional

Melayani sepenuh hati

Adalah semangat dan ekspresi sehari-hari

Ingat…alam senantiasa tersenyum

Jika manusia santun dan taat hukum

 

“EKSPRESI”

 

Hadir menyertai manusia organ lihat, dengar dan rasa

Setia menerima lalu mengelola dan mengekspresikan ragam berita

Jadilah ia mahluk mulia

Berkomunikasi dengan banyak bahasa

Gerak tubuh dan mimik wajah

Bisa dipindai arah dlolalah atau hidayah

Mendidiknya untuk jujur

Berbuah hidup makmur

Membimbingnya untuk Taat

Menuai banyak manfaat

Wajah nan teduh

Lapang rasa tanpa keluh

 

Membiarkannya bergerak liar

Membuat rasa senantiasa dikejarkejar

Membalutnya dengan laku maksiat

Menuai banyak madlorot

Wajah keruh nan lusuh

Beban berat tubuh berpeluh

 

THOHA MUNTAHA, Pesantren Minhajut Thullab Indonesia.

Advertisements