Puisi-puisi Indrian Koto (Jawa Pos, 26 November 2017)

Di Rumah Jagal, Sitinjau Laut, Ketika Rinai Sakit, dan Lainnya ilustrasi Google.jpg
Di Rumah Jagal, Sitinjau Laut, Ketika Rinai Sakit, dan Lainnya ilustrasi Google

Di Rumah Jagal

 

leher ini sebentar lagi

sudah tak ada

kami selesai begitu saja;

tanpa kenangan

 

kisah

menguap serupa darah

 

tak ada kubur

tak ada ziarah

diri disantap sampai tandas

belulang ini, penanda tubuh terakhir

tak punya nisan, tak punya turunan

tumbuh dan usai

di tangan tukang jagal

 

tubuh ini sebentar lagi

sudah tak ada

 

Sitinjau Laut

 

bukit, segalanya kabut

di ketinggian ini, betapa aku bergantung

kepada jalan yang entah akan

membawaku ke mana. dan aku

menjadi kerdil, tak bisa jauh darimu

 

oi, kabut tebal. jarak pandang, jalan

berliku, hutan terbakar, dan jurang dalam

di bawah, antara imaji dan halusinasi

rumah menanti

 

Ketika Rinai Sakit

 

ketika rinai sakit

air di mana-mana, di luar basah

di dalam diri kami juga basah

 

ketika rinai sakit

kami memasuki tenda pengungsian

orang-orang yang selamat dari jerat ajal

kapal karam, sisa mesiu dan asap di mana-mana

kesedihan kami adalah kesedihan mereka

yang kehilangan rumah, kehilangan anggota tubuh

kehilangan ladang, kehilangan keluarga

kehilangan masa lalu, dan jalan pulang

 

ketika rinai tak berhenti sakit

air mata kami adalah air mata ia yang disiksa

majikannya

perempuan yang dirampas kehormatannya,

keluh kesah pasien rumah sakit yang jemu

dan cemas

 

ketika rinai sakit

hutan terus dibakar, gedung terus dibangun

gerimis kecil ini tak mampu jadi penawar

berhektare lahan yang diludahi api,

penghapus debu di jalan berlubang

kesedihan yang diulang sepanjang tahun

 

rinai masih sakit

kesedihan kami adalah kesedihan sebuah bangsa

yang dikepung perang dari luar dan dalam

tubuhnya sendiri

 

ketika rinai sakit

kami merindukan hujan sekali jatuh

menghapus api, melindapkan debu, memadamkan

amarah

dan menghentikan kesedihan republik ini

 

Gerimis Melati

 

ketika tangis pertamamu pecah

langit menjatuhkan kelopak melati

yang wanginya tercium sepanjang hidupmu

 

aku memandang bening matamu

seperti lubuk dengan mata air abadi

tak peduli musim apa, kami akan bisa melihat

gerimis jatuh, bau tanah yang meningatkan kami

pada asal dan muara

 

dalam gerimismu yang terus melati

orang-orang tak cemas tak bisa pulang,

air tak akan naik ke mana-mana.

 

ketika kau mulai belajar tertawa

suaramu adalah senandung yang paling rindu

pengantar tidur yang paling aman

setiap kami dihajar kesulitan

 

dalam diri kami kini

ada kebun melati yang meruapkan bau pelukan

gerimis melati, gerimis dengan aroma melati

senandung yang semerdu dan seindah melati

kekal di dalam diri kami

 

rinailah hari, hiburlah kami

dengan senandung kecilmu

dalam kebun melatimu, dalam sukacita kami

yang kedalamannya setangguh puisi

 

kau gerimis, melati dan senandung dari kedalaman

cukup maut saja yang tahu kebenarannya

 

Burung Pemikat

 

aku tak bisa mempercayaimu

kata-kata serupa getah

mencabut bulu-bulu, mengurungku dalam pelukmu

 

kita sepasang burung liar yang terperangkap

di sangkar sempit

lalu, entah siapa yang memulai, kita bersepakat

terbang

–setelah satu-satu sayap kita kembali tumbuh

menjelajahi angkasa, menukik ke pucuk daun

melupakan rumah yang lama

 

kau mengepak terlalu tinggi

sayap-sayapmu kokoh dan begitu gagah

di pokok-pokok rindang, kau bersiul nyaring

bulu dan suaramu menggoda pemikat menaruh

perangkap

 

di alam bebas begini. aku begitu takut sendirian

bukan atas ancaman dan gunjingan

aku terbiasa berumah sempit

mengenal hal-hal sederhana, berbagi tempat

denganmu

 

sedang kau dalam sekejap

menjadi burung pemikat

menggoda di celah getah dan perangkap

 

 

INDRIAN KOTO lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com serta penerbitan kecil MK Books dan Penerbt JBS. Buku puisi pertamanya: Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017).

Advertisements