Cerpen Dwi Rezki Fauziah (Koran Tempo, 25-26 November 2017)

Apa pun Selain Tentara dan Kehilangan ilustrasi Indra Fauzi - Koran Tempo.jpg
Apa pun Selain Tentara dan Kehilangan ilustrasi Indra Fauzi/Koran Tempo

“Ibu, aku ingin menjadi tentara.”

Oh, Syahdan… kau tidak tahu sudah berapa kali aku bermimpi buruk selepas Digta mengatakan itu padaku. Kurasa setiap malam, satu-satunya hal yang dapat kudengar adalah bunyi meriam dan tembakan peluru yang menembus daun, dinding, kayu dan hati-hati manusia. Setiap aku memejamkan mata, bayangan akan darah, memar dan tanganmu gemetar saat menyentuhku membuat aku tak pernah sekali pun tidur nyenyak. Lebih parah lagi, kadang aku merasa darah itu mengalir di sela-sela jariku, merembes ke bagian leher dan kuisapi baunya, sementara kau benar-benar pucat—kehilangan darah. Lalu Digta juga akan terbangun, bertanya mengapa aku gelisah, dan ujung-ujungnya berkata dengan “sok dewasa”-nya: Tak perlu takut ibu, itu hanya mimpi buruk. Sekali pun tak pernah berpikir bahwa dialah penyebab mimpi burukku.

Seandainya kau ada di sini, akan kupukul kau habis-habisan. Sebab kisah peperangan yang saban hari kau ceritakan pada Digta membuat anak kita itu tumbuh dengan terobsesi menjadi tentara. Katanya pejuanglah, patriotlah, pahlawanlah, Hah! Pahlawan apa? Kau dan orang-orang berbaju loreng itu hanya dijadikan tumbal saja, Bodoh! Mereka menempatkanmu di barisan depan, agar mereka bisa bersembunyi di barisan ke seratus sambil duduk-duduk. Kau tidak tahukah? Dan sekarang bertanggungjawablah, karena Digta sudah sangat ingin menjadi tentara. Bahkan dia lebih ingin itu ketimbang melihat jasadmu, yang kini tak tahu rimbanya.

Beberapa kali sudah kukatakan padanya, menjadi guru atau dokter jauh lebih baik dan mulia ketimbang tentara. Sudah kuiming-imingi dengan status sosial, gaji tinggi, para gadis bahkan pahala dan ridaku sendiri, tetapi dia tetap tak bergeming. Selalu saja, kehormatan yang dia junjung tinggi. Dia berkata padaku dengan wajah dibuat semeyakinkan mungkin: Ibu, kalau aku jadi tentara, ibu akan dihormati karena telah melahirkan seorang prajurit. Kata ayah, itulah keinginan setiap ibu di dunia ini. Kau yang mengajarinya, kan? Menentang keinginanku demi mengatasnamakan namamu. Oh, Syahdan.. harus bagaimana lagi aku mengatakannya? Aku benci tentara.

***

“Ibu, tentara itu hebat, yah? Pandai menembak dan memanah.”

Begitulah dia katakan setiap kali melihat berita perang saudara di kampung kita. Lalu dia akan menjulurkan tangannya ke depan, mengepal jari- seolah-olah itu pistol, dia arahkan ke sana-kemari sembari berkata: “Door!” “Door!”

Aku kesulitan sekali menangkapnya yang berlarian di halaman. Kau tahu, perang masih belum reda. Meski sudah tak pakai senjata, masih banyak penduduk desa kita yang tiba-tiba terkapar bercucuran darah, sebab peluru yang entah siapa empunya. Keluarga kita termasuk orang paling diincar. Terlebih mereka tahu bahwa Digta ini satu-satunya lelaki setelahmu. Orang-orang mengira Digta pasti memiliki jiwa-jiwa pejuang sepertimu. Dan sayangnya, perkiraan itu memang benar.

Saban hari, Digta menyisihkan satu jam sepulang sekolah untuk belajar bela diri di kampung sekolah. Anak kita sudah menginjak usia sepuluh dan sudah hafal jalan pulang. Sebagai anak lelaki, adalah hal wajar ketika dia suka bepergian. Selain itu, dia bilang dia suka petualangan, silat, naik sepeda menuruni bukit, dan ah, dia juga sangat suka sepak bola. Tetapi yang sering dia katakan malah, Aku ingin jadi tentara. Bukan jadi karateka, pesilat, atau pemain sepak bola. Mengapa tidak jadi pemain bola saja? Tanyaku padanya suatu ketika. Tidak usah, Bu. Pemain bola tidak akan bisa bermain jika keamanan saja masih terganggu. Begitulah jawabnya yang membuat aku semakin mengutuk dirimu, Oh Syahdan.

Kau pernah bilang bahwa jika itu laki-laki, kau ingin anakmu menjadi tentara. Dan aku bersikukuh mau punya anak mahaguru. Kita sempat tak bicara tiga hari tiga malam karena itu. Padahal, kau sangat jarang berada di rumah. Dirga—anak perempuan kita-juga tidak suka dengan pekerjaanmu. Seperti halnya aku, dia pun paling benci kehilangan. Dan tampaknya dia mulai terbiasa merasakan hilangmu, sehingga ada-tidaknya kau dianggap angin lalu saja. Malangnya anak kita, Syahdan, dia pun mulai menyatu dengan kehilangan itu.

Beberapa bulan setelah kematianmu, dan kepergian tawaku, dia keracunan akibat memakan daun aglaonema di depan rumah. Kurangnya persediaan beras waktu itu membuatku terpaksa hanya memasak sekali sehari saja. Uang pun aku tak punya. Ibu dan bapak yang sakit bahkan tak kuobati. Inilah yang mengherankan. Kau bilang, uang pensiunmu akan membantu kami, selalu kau embel-embeli dengan uang tunjangan, asuransi, jaminan, atau apalah, tapi semuanya hampa. Kau itu cuma orang desa, Syahdan. Mereka mungkin sudah lupa alamatmu. Omong kosong dengan uang-uang itu. Anak kita—Dirga—akhirnya meninggal, di rumah sakit yang tak memberi pelayanan baik karena hanya kubayar dengan janji.

Ibu dan bapak pun menyusul tak lama kemudian. Namun, kematian mereka masih kuwajari dan tak terlalu menyayat hati. Mereka memang sudah tua sekali, dan beberapa kali telah kita prediksikan mati. Sebab asap-asap peluru yang mengganggu pernapasan mereka kian menerobos celah-celah rumah kita. Kini kami tinggal berdua. Aku dan Digta. Kuhidupi dia dengan menjual segala berharga yang masih melekat di badan. Anting-anting, kalung, baju pengantin, dan cincin kita. Lalu kugunakan uang itu sebijak mungkin. Ada pula beberapa juta kusisipkan untuk pengobatan. Kalau saja Digta kenapa-kenapa, maka aku tidak pontang-panting lagi untuk berhutang.

***

“Ibu, apa tentara punya banyak uang?”

Aku masih memikirkan kau dan uangmu ketika Digta menanyakan itu padaku. Aku muak, Syahdan. Aku lelah diingatkan tentang kau oleh pertanyaan-pertanyaan Digta. Kubanting meja keras-keras di depannya. Sebuah vas bunga kaca terjatuh namun tak sampai pecah. Dia bertanya kenapa. Aku balas dengan teriakan murka.

“Berhentilah berbicara tentang tentara!”

“Memangnya salah, Bu? Digta ingin jadi tentara, untuk melindungi ibu.”

“Omong kosong! Kau hanya akan pergi dari ibu, meninggalkan ibu sendiri. Seperti yang dilakukan ayahmu itu.”

“Tidak. Meskipun mati, Digta mati terhormat sebagai prajurit. Lagipula semua orang bukannya akan mati, Bu? Mengapa ibu begitu takut?”

“Digta, pokoknya ibu tidak mau kau jadi tentara!”

“Ibuuu!” lalu aku mendengar teriakan Digta. Entahlah, ada kaget, marah dan perih tersirat dari suaranya. Namun, aku tidak bisa memastikan. Yang kuingat setelah teriakan itu, hanya tangis, darah, peluru dan salak anjing menyahut-nyahut, kalau aku tidak keliru.

***

“Jadi kakek dulu juga seorang tentara, Yah?”

“Iya. Kakek ayah- bapak dari nenek- juga tentara.”

“Wah, betapa beruntungnya nenek, dikelilingi oleh banyak tentara. Sudah semestinya dia tidak merasa takut selama perang berlangsung.”

“Seharusnya begitu.”

Seorang tentara dan anak perempuannya itu masih bersimpuh di kuburan menjelang sore hari ini. Sesekali mereka tertawa, dan menunduk khidmat—menatap nisan di hadapannya. Hingga telepon genggam tentara itu berdering. Maka segerahlah dia mengajak anaknya kembali.

“Shayla, ayo pulang. Ayah ada kerjaan.”

“Apa ayah tidak kembali lagi malam ini?” Anak itu menatap ayahnya dengan mata berbinar gelisah.

“Ya, seharusnya begitu.”

 

Dwi Rezki Fauziah. Berusia 18 tahun. Masih pelajar di sekolah menengah. Suka menulis. Cerpennya beberapa kali diterbitkan dalam buku antologi.

Advertisements