Puisi-puisi Astrajingga Asmasubrata (Koran Tempo, 18-19 November 2017)

Tenung Balung, Instalasi Pandangan yang Miring, Ambang ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.png
Tenung Balung, Instalasi Pandangan yang Miring, Ambang ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Tenung Balung

–Buat Marhalim

 

melayu yang sedang kuburu

menuntun arah ke tongkang sajakmu

di semenanjung penuh balung itu

 

aku datang sebagai kata-kata

tak cendayam jadi pengucapan baru

meski telah meneroka kamus

 

dan diremuk amuk bahasa

hingga nyaris telanjang bagai hutan

yang dibabat untuk lahan gambut

 

adakah harga sebuah makna

jika permisalan yang kupunya ini

tak membuka palang renung

 

bagai terbukanya selubung udara

untuk dihirup-embuskan sebagai harap

ketika merayakan hidup yang redup

 

marhalim, aku tak tahu

mengapa harus melayu nan jauh

semoga ini bukanlah tenung balung

 

dari todak dalam tongkang sajakmu

 

(dusunmaja, 2017)

 

Instalasi Pandangan yang Miring

–Buat Hanafi

 

garis menyusun warna pelan-pelan

pada pandangan yang miring

mengurai bundel kenangan

setenang bias bulan di jendela

 

melindap dalam sengau senyap

yang bergerumbul di pelupuk mata

tempat cahaya melahirkan rahasia

sawang sinawang yang suwung

 

garis menjulurkan duga sederhana

warna memaknainya dengan terbata

 

lalu terangkumlah sejumlah tenung

di luar geliat takjub yang lembut

juga di luar sebundel kenangan

sebagai hamparan tak tunak direnung

seperti keindahan

 

(dusunmaja, 2017)

 

Ambang

 

saat bayang bulan telungkup

di permukaan danau

dan ikan-ikan berkerumun

pada lengkungnya

lalu angin berdesir meriapkan

kecipak buih kemilau

 

Kulesakkan nir pada sembulan denyut

Jantung air. Menggagau pukau bening

Sajak yang berjuntaian di benakku

Luruh menjadi rumbai-rumbai hujan

Dari langit gering. Aku menulis ini

Dengan menahan nyeri, kata-kata

Sekarat seperti panggilan rindu ibuku

Di detik-detik terakhir hayatnya

 

Kutemukan gerak waktu melambat

Di repih buih. Tahun-tahun yang getun

Mengelucak dalam gejolak gairah

Yang dihirup-embuskan udara dingin

Saat ujung tatapku mengecup bibir air

 

Aku menulis dengan menahan nyeri

Dan tak peduli. Mungkin, inilah kemabukan

Tapi belum jatuh dan belum mau tunduk

Pada sunyi juga pada yang tak terpeluk

Seperti linangan air mata ibuku saat berdoa

 

Yang selalu berdentingan di hari depan

Menorehkan surih ngungun seorang penyair

Menjadi kekal dalam tiada di luar ketiadaan

 

(dusunmaja, 2017)

 

 

Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamin, duco dan pelitur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali (2016).

Advertisements