Cerpen Zul Adrian Azizam (Rakyat Sumbar, 18 November 2017)

Taraju ilustrasi Google.jpg
Taraju ilustrasi Google

RERUMPUTAN bergoyang ke sana ke mari mengikuti semilir angin. Saat itu angin berembus dengan sangat lembut. Tidak terlalu kencang ataupun pelan. Sehingga menjadi teman berharga bagi anak-anak lapangan. Bukan untuk bermain bola melainkan mencoba menerbangkan sesuatu mengangkasa, bisa jadi itu angan ataupun mimpi. Kondisi angin yang demikian membuat sesuatu itu menjadi lebih cepat mengangkasa tanpa harus berputar-putar dulu kemudian menukik dan kembali naik hingga jatuh menyentuh tanah.

***

Senti demi senti Andri memerhatikan batang bambu yang sepertinya sudah tua. Batang tersebut tepat berada di depan rumahnya. Dia mencoba membayangkan sesuatu dari sebatang bambu itu. Mencoba merenung dan memerhatikan. Tiba-tiba matanya tak sengaja beralih ke langit. Tampak sebuah layang-layang mengudara begitu indahnya, dengan lenggokannya yang sungguh menawan.

Saat itu juga ide menghampiri pikirannya yaitu membuat layang-layang. Belum pernah sebelumnya ia membuat itu tapi pernah membaca tata cara membuatnya di buku pelajaran sekolah dan beberapa kali melihat kakeknya membuat itu untuk dijual. Dulu kakek memang penjual layang-layang di saat barang itu menjadi primadona bagi anak-anak. Tidak sekarang.

Sekarang anak-anak tidak lagi terlalu meminati bermain di lapangan; untuk menerbangkan layangan atau bermain sepak bola. Tempat seperti warnet (warung internet) lebih diminati untuk browsing, game online, dan apa pun itu. Mungkin mengikuti perkembangan zaman yang serba teknologi bahkan sepak bola sudah bisa dimainkan di gedget tanpa harus berpanas-panasan. Sudahlah, itu perkembangan zaman, kembali ke cerita layang-layang kakek.

Layang-layang yang dibuat kakek dulu sangat digemari oleh anak-anak di masanya. Berbagai macam dibuatnya ada layang darek, layang maco–entah dari mana asal muasal nama itu, yang bentuknya berbeda-beda. Anak-anak sering memainkan layang maco karena bentuknya yang kecil seperti ketupat dan aman dimainkan anak-anak karena tekanan anginnya tidak terlalu besar. Sedangkan layang darek banyak dimainkan oleh anak remaja hingga orang dewasa karena bentuknya yang cukup besar dan membutuhkan keahlian khusus untuk menerbangkannya.

Andri melihat layang darek di atas sana sehingga juga ingin membuat layangan seperti itu. Tidak terlalu besarlah buat dia yang sudah kelas XI atau dua SMA. Diambilnya parang ke dapur rumahnya dan ditebasnya sebatang bambu yang dirasanya cukup untuk membuat sebuah layang-layang. Kemudian dipotong-potongnya bambu tersebut dan dibuat seperti lidi-lidi yang tipis tapi kuat. Kakeknya hanya melihat dari balik jendela.

Andri masih aman dengan ingatan cara membuat layang-layang. Sampai akhirnya dia mengalami kesulitan dalam menyatukan lidi-lidi dari bambu itu dengan benang. Merasa sudah tidak mampu dia pun langsung memanggil kakek untuk meminta bantuannya.

“Angku, bagaimana cara mengikat lidi-lidi bambu ini menjadi layang-layang,” tanya Andri pada kakeknya yang biasa dipanggil Angku Kakeknya masih terdiam dan terlihat dia sedang tertawa kecil. Andri tidak tahu apa yang diketawakan oleh kakeknya.

“An, kamu sudah kelas XI tapi masih saja belum bisa membuat layang-layang. Angku dari kelas 2 SD sudah bisa membuatnya,” ucap kakek pada Andri sembri mengusap kepala sang cucu.

Seketika, Andri tertunduk dan terdiam seribu bahasa. Tak ada pembelaan yang ingin dilakukannya. Tidak seperti biasanya yang mempunyai seribu alasan ketika dia merasa tersudut atau disalahkan.

“Tidak apa-apa, An. Angku salut padamu. Di luar sana tidak banyak yang ingin memainkan ini lagi apalagi membuatnya. Tapi kamu masih berusaha untuk menyelesaikannya sendiri,” puji kakeknya.

Sontak, setelah mendengar penjelasan kakeknya, Andri terkejut dan bangkit dari keterdiamannya. Begitu tidak yakinnya Andri menanyakan kembali, “Benarkah, Ngku?” Kakek hanya terlihat menganggukkan kepala seraya tersenyum.

Tidak menunggu lama, kakek pun memeriksa yang dikerjakan Andri. Sudah sesuai atau belum. Mulai dari mencek keseimbangan lidi-lidi bambu dan ternyata tatapan tajam kembali mengarah ke Andri.

“An, ini belum benar. Coba kamu lihat. Sudah seimbang atau belum?” kakek menanyakan kepada Andri sambil kakek meletakkan lidi-lidi bambu di jarinya untuk melihat keseimbangannya. Andri pun memerhatikan dengan seksama.

“Iya ya, Ngku. Tidak seimbang, bagian kanan sepertinya lebih berat daripada yang kiri,” jawab Andri.

“Nah, kalau seperti ini harus diraut lagi, An. Biar seimbang dan bisa terbang dengan baik” penjelasan Kakek.

Kakek pun memperlihatkan cara merautnya yang benar. Andri memerhatikannya. Tidak sekedip pun ia lewati.

Sesudah lidi-lidi bambu itu seimbang, kakek mengikatkan satu demi satu agar terbentuk seperti bingkai layang-layang. Kembali Andri hanya mengamati dengan saksama sambil menolongkan kakek untuk mengambilkan apa yang dibutuhkannya.

Terbentuklah bingkai layang darek, kakek kembali menyerahkan penyelesaiannya kepada Andri.

“Sudah, An. Ini sudah berbentuk, sekarang giliran kamu memvariasikannya dan menyelesaikannya,” ucap Kakek kepada Andri yang kembali masuk ke dalam rumah.

Andri kembali memerhatikan dengan seksama bingkai layang darek tersebut. Memikirkan warna apa yang akan diberikan dan variasinya.

Tiba-tiba tercetus ide untuk memberikan warna merah dan putih; merah di bagian atasnya dan putih di bagian bawahnya. Terinspirasi dari bendera Indonesia. Sangat nasionalis sekali.

Andri menggunting kertas minyak agar sesuai dengan pola bingkai layangan dan kemudian merekatkannya dengan lem agar terlihat rapi. Tidak lupa, dia juga memberikan juntaian ekor di paling bawahnya dengan menempelkan guntingan-guntingan kertas minyak hingga terjuntai panjang.

Tidak membutuhkan lama selesai juga layang-layang hasil buatannya sendiri yang dibantu kakek. Terlihat kepuasan di raut wajahnya. Andri pun ingin memperlihatkannya kepada kakeknya untuk dinilai. Apakah sudah sesuai atau belum. Itu sudah dapat dikatakan layang-layang.

“Ngku, layanganku sudah siap,” ujar Andri pada kakeknya dengan raut wajah senang.

“Sekarang layanganmu sudah jadi, tapi tidak mungkin kamu lihat-lihat sajakan, An? Agar dapat diterbangkan, kamu harus membuat tarajunya. Coba buat,” penjelasan Kakek pada Andri sambil menyuruhnya untuk menyelesaikannya agar bisa mengudara.

“Iya, Ngku. Saya coba untuk membuat tarajunya,” jawab Andri.

Andri pun mulai membuat taraju. Dibuatnya lubang di kecil di tengah-tengah layangan (dekat dengan tempat penyilangan rangka bambu), dimasukkannya benang layangan ke lubang dan diikatkan ke titik persilangan, yang kemudian mengikatkan ujung yang lain ke ujung bawah rangka layangan. Kira-kira talinya 90 cm.

Sepertinya sudah siap untuk mengudara. Tampak Andri semringah karena menyelesaikan tahap akhir pembuatan layang-layang sebelum diterbangkan. Sebelumnya Andri memberikan ekor di paling bawah layang-layang dengan menempelkan kertas minyak yang sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan kemudian disambungkan hingga terlihat panjang. Setelah semuanya terselesaikan Andri kembali ingin memperlihatkan kerjanya pada kakek.

“Ngku, layanganku sudah siap dan siap mengudara.” sahut Andri pada kakeknya.

“Iya, An? Sekarang coba kamu berlari dari ujung sana ke sini sambil memegang tarajunya,” perintah kakek pada Andri. Andri dengan segera berlari sambil memegangi taraju layangannya seperti terbang. Angin saat itu berhembus dengan sederhana. Ternyata layangan sering menukik dan berputar-putar diudara. Tidak bisa mengudara dengan baik.

“Kenapa layangannya, Ngku? Kok tak bisa terbang?” tanya Andri heran pada kakeknya.

Kakek pun melihat raut wajah yang penuh tanda tanya dari mata cucunya.

“Itu karena kamu tidak seimbang dalam membuat tarajunya; antara yang kanan dan kiri. Sebelum mengikatnya, kamu lihat dulu apakah sudah seimbang yang kiri dan yang kana. Kalau sudah baru kamu ikat,” penjelasan Kakek.

“Oh. Seperti itu ya Ngku.” Andri kembali memperbaiki taraju layangannya. Hingga saatnya layangan tersebut benar-benar benar dan bisa untuk terbang.

***

Angin berembus dengan sederhana. Rerumputan menari-nari dan mentari sudah sedikit bersembunyi di balik awan-awan. Andri membawa layangannya ke lapangan. Ingin menerbangkannya karena sepertinya cuaca sangat mendukung. Diikatkannya tali layangan yang sangat panjang ke taraju. Dia meminta kepada temannya untuk memegang layangannya dan dia siap-siap untuk menariknya. Sekali tarikan saja layangannya mengangkasa. Begitu indah lenggokannya. Dia berusaha untuk menjaganya agar tetap mengudara. Ditarik-ulurnya benangnya. Sangat senang hati Andri melihat layangannya mengudara tinggi.

Sedang asyik-asyik bermain, tiba angin kencang datang dan membuat layangannya terbang tidak teratur, terkadang menukik dan naik lagi. Itu terjadi beberapa kali. Sudah ditarikulurnya lagi benang layangannya tapi tidak juga. Sampai akhirnya layangan itu terputus oleh angin yang kencang di atas sana dan tidak sanggup ditopang oleh benang layangannya. Sontak, anak-anak yang asyik bermain dan melihat layangan langsung berhamburan dan mengejar layangan Andri yang putus tertiup angin. Anak-anak terus mengamati arah layangan itu–tak sekedip pun hilang.

Begitu pula dengan Andri, ia langsung berlari dan mengejar layangannya. Ia tidak mau perjuangannya membuat layang-layang menjadi sia-sia.

Andri terdiam dan terpaku. Permainan yang sudah dibuatnya dengan susah payah hanya bisa dimainkan beberapa saat saja. Andri langsung pulang ke rumah dengan lesu dan pandangan tertunduk. Sambil menendang kerikil-kerikil yang ia lihat.

Sesampainya di rumah, dia tidak langsung masuk ke dalam. Dia duduk dulu di depan rumah dan tiba-tiba kakek mengejutkannya yang kemudian duduk di sampingnya. “Mana layanganmu, An?”

Awalnya Andri hanya diam dan tertunduk beberapa saat dan kemudian menjawab pertanyaan kakek, “Putus karena angin, Ngku.”

Kakek hanya tertawa dan kemudian berdiri dan melihat langit seraya menghela napas panjang.

“An, layangan itu terbang dan kemudian terputus. Begitu pula dengan manusia, hidup dan kemudian mati. Apabila layangan masih mampu seimbang maka makin lama ia mengudara dengan tenang. Sedikit saja kesenjangan maka itu akan membuatnya menukik dan kemudian terjatuh. Angin menerpa layanganmu dan kemudian terputus. Itu karena tidak seimbang kekuatan tali dengan ukuran layanganmu. Sekarang ini menjadi barang langka. Tidak banyak orang memainkannya dan memahami permainannya,” penjelasan kakek panjang lebar.

Andri hanya melongo karena belum terlalu paham dari penjelasan kakek. Kakek pun menimpali penjelasannya tadi, “Kau akan paham seiring usiamu berjalan, An.” Senyaman apapun kedudukan yang pernah dirasakan tetapi apabila keangkuhan menduduki. Itu tidak akan lama. (*)

 

Penulis guru bahasa Indonesia di SMP PGRI 2 Padang.

Advertisements