Cerpen Guntur Alam (Padang Ekspres, 19 November 2017)

Percakapan di Meja Makan dan... ilustrasi Orta - Padang Esspres
Percakapan di Meja Makan dan Rahasia Kecil yang tak Bisa Diceritakan pada Siapa pun selain Kamu ilustrasi Orta/Padang Ekspres

TANGANMU sedikit gemetar saat menggenggam jemarinya, mata kalian bertemu. Kau berusaha tersenyum, terasa kaku. Kau memang pembohong yang payah. Dulu, saat kalian masih pacaran, dia sudah berkali-kali mengatakan itu; kau sangat payah dalam bersandiwara! Pun sekarang, semua masih terasa sama, hanya saja waktu tak bisa ditipu. Banyak hal sudah tergilas, termasuk otot-otot yang dulu begitu kencang di tubuh kalian, juga warna rambut yang legam.

“Kau ingat,” ucapmu saat menyendokkan sup untuknya. “Kau pernah mengidam sup buntut Babah Aci di simpang lima saat hamil anak sulung kita.” Lalu kau terkekeh, lucu sendiri akan kenangan yang tiba-tiba hinggap.

“Aku mengayuh sepeda malam-malam. Hampir tengah malam. Hujan tak menyurutkanku.” Kau menghela napas, seakan mendorong sesuatu yang berat di dada. “Aku beruntung, masih ada sisa seporsi. Mungkin karena hujan, biasanya sebelum pukul sembilan, sup buntut itu sudah ludes.”

Matamu berkaca-kaca, pun matanya.

“Sayangnya kau hanya memakannya sesendok. Alasanmu mendadak tidak kepengin lagi.” Kau terkekeh lagi. “Aku sangat kesal malam itu. Sudah susah payah mencarinya, hujan-hujanan, tapi ternyata hanya kau makan sesendok. Namun marahku hanya sebentar, langsung luluh karena senyum dan godaanmu.”

Dia berusaha tersenyum, stroke membuat senyumnya tak secantik dulu. Namun kau terus meyakinkannya, jika senyumnya tetap jelita, seperti waktu pertama kalian bertemu. Lalu jatuh cinta dan memutuskan menikah. Senyum itu tetap cantik. Tak berubah oleh apa pun, “termasuk waktu,” katamu.

“Kamu jangan egois, Bang!” terdengar teriakan dari ruang tengah.

Kau menoleh, dia yang duduk di kursi roda pun berusaha memutar lehernya, tapi sia-sia. Dia tak bisa melihat apa yang terjadi di balik tirai merah marun itu. Namun kau justru bersyukur dia tak bisa melihat apa yang ada di sana. Jika bisa, kau pun ingin menyumpal lubang telinganya, juga telingamu.

Advertisements