Fabel Elisa D.S. (Padang Ekspres, 19 November 2017)

Kisah Si Udang Bungkuk ilustrasi Google
Kisah Si Udang Bungkuk ilustrasi Google

Dahulu kala, hiduplah seekor udang di lautan luas bernama Dadang. Ia mempunyai sapit yang lumayan besar dan kuat. Kelebihan tersebut membuat Dadang disegani dan ditakuti oleh ikan-ikan kecil.

SAYANG, lama kelamaan Dadang menjadi sombong. Setiap hari pekerjaannya hanya berjemur di atas karang besar sambil memamerkan sapitnya.

“Hei, Cumcum… minggir! Jangan di situ, nanti kau terkena sapitku, lho!” Dadang berenang mendekati karang kesukaannya, kemudian naik dengan pongah. Ia menggerakkan kedua sapitnya secara bergantian. “Coba lihat sapitku. Besar, kan?” Cumcum si cumi-cumi mungil merengut kesal. Dasar sombong, batinnya. Tanpa banyak bicara ia berenang menjauhi karang tempat Dadang berjemur dan menuju karang yang lebih kecil. Di sana Cumcum bertemu Raju rajungan yang juga merasa kesal melihat kesombongan Dadang.Tapi mereka diam saja, tak mau ribut dengan si udang pongah.

Dadang menikmati kesendiriannya berjemur di atas karang besar. Tiba-tiba ia terkejut, langit yang semula cerah berubah gelap. Ternyata bukan awan mendung penyebabnya, tetapi Cami si burung camar dengan kawan-kawannya sedang menukik ke karang besar tempat Dadang berjemur.

“Minggir, Cami! Kau menutupi matahariku!” teriak Dadang sambil mengacung-acungkan sapitnya.

“Dadang, karang ini milik umum. Bukan punyamu saja. Aku dan teman-temanku juga mau berjemur di sini.”

“Kau ingin merasakan sapitku, ya?” Mata Dadang melotot karena marah.

Meskipun enggan, Cami dan sekawanan burung camar akhirnya terbang menjauh dan pindah ke karang lain. Mereka bosan jika harus berdebat dengan Dadang.

Begitulah kelakuan Dadang setiap hari. Ia merasa hanya dirinya pemilik karang besar di tengah laut tersebut. Karena kepongahannya, satu per satu binatang laut yang lain enggan bersahabat dengan Dadang. Hanya satu yang masih setia menemaninya, yakni Tero si ikan teri.

“Tero, mainlah ke sini. Lihat, matahari sudah muncul dari balik awan!” ujar Dadang.

“Dang, jangan kayak gitu, dong. Kasihan Cami dan teman-temannya. Mereka berjubel di karang kecil. Kalau di sini kan lumayan luas,” kata Tero sambil berenang di sekitar karang besar.

“Biarin saja mereka di sana!” ucapnya.

“Nanti nggak ada yang mau main sama kamu, lho.

“Aku nggak peduli.”

Tero sedih melihat sahabatnya seperti itu. Tapi ia tak mau meninggalkan Dadang sendirian tanpa teman.

Raju yang tak tahan lagi melihat kepongahan Dadang, akhirnya naik ke atas karang besar. Perlahan ia mendekati si udang sombong tersebut.

“Hei, Dadang, ayo kita adu sapit. Siapa yang bisa bertahan, dialah pemenangnya,” tantang Raju.

“Oke. Siapa takut. Pasti kamu yang kalah,” ejek Dadang.

Adu sapit antara Dadang dan Raju pun dimulai. Cami dan kawanan camar, Cumcum serta ikani-kan kecil memberikan semangat ke Raju. Mereka semua berharap agar sang rajungan yang menjadi juara. Pertarungan berlangsung sengit, keduanya sama-sama kuat. Setelah agak lama, tiba-tiba….

“Awaaas… ombak besar datang!” teriak Cami. Ia dan kawanan burung camar segera terbang ke atas untuk menyelamatkan diri.

Raju, Cumcum, Tero, dan ikan-ikan kecil segera berenang ke balik karang besar. Dadang pun bergabung dengan mereka. Tapi terlambat, ombak besar sudah menerjang. Ia terlempar dan punggungnya menabrak dinding karang kecil yang berada tak jauh dari tempat adu sapit.

“Aduh… punggungku,” rintih Dadang sambil meringis kesakitan. Punggungnya terasa seperti mau patah. Dengan tertatih ia pun bangun.

Betapa kagetnya Dadang karena benturan keras membuat punggungnya bengkok. Berkali-kali ia mencoba untuk meluruskan tetapi gagal. Bahkan rasa sakitnya bertambah parah.

“Dang, gimana kondisimu?” tanya Tero sambil mendekati Dadang.

Cumcum, Cami dan kawanannya serta Raju pun mengerubungi Dadang. Mereka ikut bersedih melihat Dadang kesakitan.

“Sakiiit….” suaranya mengerang.

Dadang benar-benar menyesal. Andai ia tak sombong, maka Raju tidak akan menantangnya adu sapit, dan kecelakaan pun bisa dihindari. Sejak saat itu, keturunan Dadang udang menjadi bungkuk semua hingga saat ini. (***)

Advertisements