Fabel Lailatus Solikha Marwah Alfika (Radar Surabaya, 19 November 2017)

Kehebatan Cacing ilustrasi Radar Surabaya
Kehebatan Cacing ilustrasi Radar Surabaya

Ketika matahari sedang terik-teriknya, anak-anak pulang sekolah. Cacing, semut, burung, dan kambing pulang bersama-sama. Cacing melata di atas tanah dengan santai. Semut berjalan dari pohon ke pohon. Burung terbang ke sana-ke sini, dan kambing berjalan di sebelah cacing dan semut. Mereka pulang sambil bermain-main.

“Eh teman-teman, aku udah bisa terbang sambil berputar-putar, loh!” teriak burung sambil bertengger di atas ranting Kakek Puspa yang sedang tidur.

“Oh ya? Hebat sekali kamu. Coba tunjukkan!” sahut cacing yang kemudian berhenti dan melihat aksi burung. Semut dan kambing juga ikut berhenti.

Burung pun terbang ke atas. Sampai di atas, burung membalikkan badannya dan terjun ke bawah sambil berputar-putar dengan cepat. Burung hampir menabrak kepala kambing. Namun, burung segera sadar dan menghindar kemudian kembali bertengger di atas ranting Kakek Puspa. Teman-teman terkagum dan bertepuk tangan.

“Aku diajari ayahku kemarin sore. Awalnya aku takut, tapi setelah ku coba ternyata menyenangkan. Aku suka sekali,” jelas burung dengan bangga.

“Wow! Itu keren sekali, Burung,” kata cacing sambil bertepuk tangan.

“Itu tidak seberapa! Aku sudah bisa berjalan di balik daun. Coba lihat.” Semut membela diri agar tidak kalah keren.

Semut menyiapkan diri di atas ranting Kakek Puspa. Ia berdiri sambil menutup mata dan berdoa. Kemudian semut dengan perlahan mencoba membalikkan tubuhnya. Semut pun mulai berjalan di bawah salah satu daun Kakek Puspa. Ia berhasil dan berteriak, “Lihat! Aku bisa kan! Aku belajar sendiri lagi!”

“Wow! Itu keren!” teriak cacing lebih kagum.

“Okelah, okelah, itu lumayan,” kata burung.

“Alaah, itu tidak seberapa. Aku bisa memakan semua tumbuhan yang ada di hutan ini. Kalian kan nggak bisa. Burung cuman makan biji-bijian, semut cuman makan buah-buah manis, cacing malah cuman makan sisa tumbuhan yang mati. Kerenan aku kan?” jelas kambing tak mau kalah sambil menunjuk satu per satu teman-temannya.

“Coba buktikan sama kami kalau kamu bisa memakan semua tumbuhan!” pinta semut kepada kambing agar membuktikan kehebatannya.

Cacing dan burung hanya mendongakkan dagunya pertanda ikut menantang kambing.

“Oke!” sahut kambing menyanggupi tantangan teman-temannya.

Kambing mulai memakan rumput yang ada di bawahnya. Setelah itu, ia memakan daun yang gugur disamping cacing. Agar terlihat agak tinggi, kambing memakan bunga yang ada di dekat semut. Lalu ia menaiki pohon yang telah tumbang dan mengejek burung dengan memakan daun yang ada di sebelahnya juga.

“Eit, kaget aku. Ku kira kamu mau makan aku!” teriak burung sambil terbang karena kaget.

“Baiklah, baiklah, kamu bisa memakan semua tumbuhan yang ada di hutan ini. Aku mengakuinya,” terang semut.

“Aku juga mengakuinya,” kata burung dan cacing hampir berbarengan.

“Kamu bisa apa, Cacing?” tanya kambing.

“Aku tidak bisa terbang berputar-putar, aku juga tidak bisa berjalan di balik daun, apalagi memakan semua tumbuhan yang ada di hutan ini. Aku hanya bisa berjalan di atas tanah,” kata cacing murung.

“Kata siapa kamu tidak bisa terbang? Aku bisa membantumu terbang!” kata burung agar cacing tidak bersedih.

“Aku mungkin tidak bisa membantumu berjalan di bawah daun, tapi aku bisa membantumu berjalan di atas daun,” kata semut menyemangati cacing.

“Dan aku bisa mengajarimu cara memakan tumbuhan-tumbuhan seperti rumput dan daun yang segar,” kata kambing dengan riang.

“Benarkah teman-teman? Aku ingin sekali melakukannya. Ayo kita lakukan satu per satu!” pinta cacing kepada teman-temannya.

“Pertama, ayo makan rumput dan daun segar,” kata kambing.

Kambing menjelaskan cara memakan rumput. Ia menjelaskan betapa enaknya rumput hijau itu. Hingga cacing pun mulai menggigit rumput yang ada di depannya.

“Hiyak!” teriak cacing sambil memuntahkan rumput yang baru saja dimakannya. “Ini tidak enak kambing. Rasanya aneh sekali. Benar-benar aneh!”

“Benarkah? Padahal itu makanan favoritku setelah daun. Sekarang kamu coba makan daun aja,” pinta kambing pada cacing.

“Makan daun yang ini aja cacing, biar kamu nggak perlu naik-naik pohon,” sambil menunjuk daun yang ada di bawah kakinya.

Cacing pun mulai memakan daun secara perlahan. Cacing mulai menikmatinya. “Ini lumayan enak. Tapi ada pahit-pahitnya. Mungkin karena dia belum terlalu busuk dan mati, makanya masih belum terlalu enak,” jelas cacing.

“Setidaknya kamu bisa memakan daun ini kan?” kata kambing meninggikan semangat temannya itu.

“Sekarang, jangan makan lagi daun itu, Cacing,” teriak semut dari atas batang Kakek Puspa.

“Kamu akan berjalan di atasnya! Meskipun kamu tidak bisa menaiki pohon dan berjalan di balik daun, tapi kamu pasti bisa berjalan di atas daun itu,” jelas semut.

Setelah semut menjelaskan caranya, cacing pun bisa berjalan di atas daun itu. Ia senang. Sekarang hanya perlu belajar terbang dari burung maka cacing akan terlihat keren, pikirnya. Tak lama, burung menghampiri cacing di bawah Kakek Puspa.

“Kamu akan kucengkeram dengan cakarku. Lalu kita akan terbang bersama-sama sampai di atas kepala Kakek Puspa. Mumpung Kakek Puspa lagi tidur, hihihi,” jelas burung pada cacing yang sudah bersiap-siap untuk terbang.

Cacing tidur telentang. Burung meletakkan cengkeramannya di atas badan cacing dan mulai mengangkatnya. Mereka terbang.

“Wah! Wah! Wah! Aku terbang!” decak kagum cacing.

Kambing dan semut tersenyum bahagia melihat temannya yang sangat senang karena bisa terbang. Mereka terus melihat burung yang membawa cacing terbang ke kepala Kakek Puspa. Sebelum sampai di atas kepala, cacing merasa ada yang aneh.

“Eh, eh, kenapa ini? Hati-hati, Burung!” kata cacing mulai cemas.

“Tenang saja, kamu tidak berat kok!” pembelaan burung.

Ketika burung dan cacing hampir sampai di kepala Kakek Puspa, tanpa sengaja cacing terlepas dari cengkeraman burung.

“Aaaaaaaaa…. aku jatuhhh…,” teriak cacing ketakutan sampai membangunkan Kakek Puspa. Dengan sigap, Kakek Puspa menjulurkan rantingnya agar cacing tidak terjatuh di tanah dan terluka. Cacing masih terengah-engah, namun agak lega karena ia tidak terluka.

“Ada apa ini cucu-cucuku? Kenapa kalian ribut sekali dari tadi? Kakek jadi tidak nyenyak tidurnya ini…,” kata Kakek Puspa yang masih sehat meskipun sudah berumur 200 tahun.

Kambing, semut, dan burung menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Kakek Puspa mendengarkan sambil geleng-geleng kepala. Hingga akhirnya Kakek Puspa pun menjelaskan, “Cacing bernafas melalui kulitnya. Ketika bernafas, kulit cacing mengeluarkan lendir. Maka dari itulah burung secara tidak sadar melepaskan cacing karena kulitnya yang licin.”

“Ooo.. begitu…,” jawab semut, kambing, dan burung. Cacing masih merasa kaget.

“Cacing memang tidak bisa memakan segala tumbuhan yang ada di hutan ini. Cacing kan kecil, jadi tidak bisa memakan bunga atau daun-daun yang ada di atas pohon. Cacing juga memang tidak bisa berjalan di bawah daun seperti semut. Cacing kan melata di tanah. Apalagi cacing mau terbang, ya tidak bisalah. Kan Cacing tidak punya sayap, Nak.”

Cacing mulai sedih ketika mendengar penjelasan Kakek Puspa tentang dirinya.

“Tapi, cacing sangat berguna bagi seluruh warga di hutan ini. Cacing memakan tumbuhan yang telah mati. Kemudian kotoran dari tanaman yang dimakan cacing tadi, dibuang di dalam tanah. Benar Cacing?” tanya Kakek Puspa.

Cacing mengangguk.

“Ketika cacing masuk tanah, ia membuat pori-pori untuk tanah. Kemudian masuklah oksigen yang membuat tanah gembur dan subur. Selain itu, kotoran cacing juga bisa menyuburkan tanah. Jadilah berbagai tumbuhan yang kuat karena akarnya bisa bernafas,” jelas Kakek Puspa yang membuat cacing mulai berbangga diri. Cacing tersenyum.

“Jadi Cacing tidak perlu jadi semut ya, Kek?” tanya semut.

Kakek Puspa mengangguk.

“Cacing juga tidak perlu jadi kambing ya, Kek?” sambung kambing.

Kakek Puspa kembali mengangguk.

“Apalagi jadi burung ya, Kek?” tanya Burung.

“Betul sekali!” kata Kakek Puspa.

“Jadi, cacing tidak perlu jadi apapun ya, Kek?” tanya cacing.

“Memang. Cacing hanya perlu jadi diri sendiri. Cacing cukup bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan. Maka dengan sendirinya, cacing akan terlihat keren. Mengerti?” sambung Kakek.

“Mengerti, Kek” jawab cacing dengan bangga mengakhiri kegiatan mereka di siang hari itu. (*)

 

*Penulis adalah mahasiswi Bahasa dam Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Advertisements