Cerpen Aura Asmaradana (Tribun Jabar, 19 November 2017)

Ke Mana Domba Pergi ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Ke Mana Domba Pergi ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

KETIKA kau punya anak dan anakmu mulai bisa bicara dan ingin tahu banyak, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sadis—yang rasanya kau juga tak pernah terpikirkan untuk menanyakannya pada ibumu dan ketika pertanyaan terkatakan, kau seketika tahu bahwa seluruh jiwamu susut.

“Ma, domba itu sekarang bagaimana?” Kami sedang duduk di bangku semen lapangan adu domba ketika ia menanyakan itu. Tangan Ali, anakku, empat tahun, menunjuk ke arah domba putih yang terkapar di sudut lapangan. Debu beterbangan mengepungnya. Domba itu mati karena menerima benturan yang terlalu keras pada dahinya.

“Bagaimana apanya?”

“Dia diam saja, begitu? Tidak ngapa-ngapain? Tidak pergi ke mana-mana?” Aku terenyak. Pergi ke mana seekor domba ketika ia mati? Pertanyaan Ali terpikir terus olehku hingga berhari-hari. Sialnya, pertanyaan itu muncul ketika aku sedang melakukan riset tentang kehidupan perhimpunan domba adu untuk novelku. Malam-malam yang biasanya kuhabiskan di hadapan laptop, mengolah data, menimbang metafora, dan mentransfer isi memori, jadi teralihkan sebab pertanyaan Ali.

Tentu saja Ali merasa cukup dengan jawabanku yang teknikal, “Domba yang mati itu nanti dikubur oleh pemiliknya. Supaya tidak bau karena badannya akan membusuk.” Tapi diam-diam, aku merasa tak puas. Aku tak puas dengan diriku sendiri. Sebagai ibu. Sebagai manusia yang kurang kedalaman pikir.

Tujuan domba setelah mati tentu tipis bedanya dengan penjelasan tentang kehidupan setelah kematian manusia. Kau bisa menjawabnya dengan referensi agamamu, segala bacaan filsafat, atau menolak membahas sama sekali—sebab bahasan itu takkan tergapai oleh lika-liku pikirmu. Aku sedikit lega Ali tak pernah membahas tentang domba mati lagi.

Awalnya kupikir sesederhana itu. Hingga suatu hari, aku bermimpi seorang laki-laki menjawab pertanyaan Ali untukku. Ia semacam menangkal kedangkalanku. Aku semakin yakin bahwa aku terlalu mengambil hati pertanyaan Ali.

Aku tahu persis orang yang menjawabkan pertanyaanku itu. Namanya. Wajahnya. Aku mengenalnya di dunia maya—yang rill tapi pun tak jelas juntrungannya. Banyak temanku di media sosial sebetulnya tak kukenal sama sekali.

Seingatku, sekali-dua aku pernah berinteraksi tak langsung dengan laki-laki dalam mimpi itu. Menyukai fotonya, kurasa—atau ia yang menyukai fotoku, entahlah. Mungkin ia seorang kawan lama, atau mungkin ia kawannya kawanku.

Sebut saja dia si juru bicara— untuk pekerjaannya mewakilkanku menuntaskan rasa penasaran Ali. Sengaja tak kusebutkan namanya dalam rangka berjaga-jaga. Aku khawatir kamu ternyata mengenalnya.

“Domba itu mati mau menemui seseorang untuk bersandar.”

“Bersandar? Apa itu?”

“Seperti itu. Seperti waktu kamu menaruh kepalamu di pundak Mama.”

“Untuk apa domba bersandar?”

“Supaya merasa tenang dan senang selamanya.” Mendapat jawaban seperti itu, bibir Ali tersenyum begitu rekah dan matang—sebagaimana pula mata si juru bicara tersenyum di balik kacamatanya.

Sejak bermimpi begitu, bertambahlah beban dalam kepala. Di sela kegiatanku setiap hari, aku jadi berpikir ulang tentang tujuan hidup. Terutama perkara sandar-menyandar itu. Tentang yang bersandar dan yang disandari; tentang yang butuh sesuatu sebagai iman dan yang diimani. Sesuatu yang mirip hubungan vertikal dua entitas. Manusia dan sang motor penggerak. Sobelumnya, mana pernah aku berpikir soal hal-hal macam itu?

Dalam mimpi itu, si juru bicara tidak pernah menyampaikan apa pun kecuali kepada Ali. Ia bahkan tak tergoda mengelus pipi kenyal Ali walau jarak wajahnya ke wajah Ali hanya tak lebih dari sejengkal. Ia hanya mengelus-elus janggutnya yang seperti tumpukan jerami.

Hanya itu ceritaku. Ya, hanya itu. Namun berkat mimpi itu, pelan-pelan ada sesuatu yang tumbuh di wilayah-wilayah intimku.

Dalam mimpi, laki-laki itu mengabaikan aku. Aku cemburu karena ia sungguh sadar spiritnya. Bagiku agak mengesalkan: seseorang yang tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, merebut senyum mesra Ali, bahkan menyita pula waktu dan pikiran dan imajinasiku? Bandingkanlah dengan aku yang cukup menjawab pertanyaan domba Ali dengan sederhana—meski jawaban itu sungguh kutimbang dengan serius.

Aku bertanya-tanya, siapa sesungguhnya si juru bicara yang hadir tiba-tiba di mimpi? Kalau ia kawan lama, tak ingat tempat dan waktu ketika pertama mengenalnya. Di dunia nyata, ia tak mengesankan. Tak banyak kulihat aktivitasnya di media sosial. Ketika media sedang ramai tentang korupsi, isu komunisme, atau harga garam tinggi, tak kutemukan sikapnya. Ia sepertinya lebih senang diam.

Minggu ketiga Oktober, ketika aku harusnya melakukan riset ke lapangan lagi, aku memutuskan untuk diam di rumah. Alih-alih mengerjakan novel, aku membuka laman baru yang dipenuhi berlembar-lembar deskripsi dan berbagai kemungkinan tentang si juru bicara. Aku sempat sadar bahwa itu hal yang bodoh. Apalagi aku sedang digiring pada intrik perjudian di lapangan adu domba. Tapi belakangan kupikir, kalau aku datang ke lapangan dan ingat kembali tentang domba yang mati, ke mana mereka pergi, dan kelanjutannya, tentu aku malah tak fokus.

Aku meneguhkan pikiran bahwa mimpi sekadar impuls listrik di otak yang acak Gambar dan pikiran yang berlesatan di mimpi adalah ingatan-ingatan tak berarti. Buktinya, malah aku sendiri yang sibuk menyusun kisah tentang si juru bicara, tanpa bisa mengabaikannya sama sekali. Kau mungkin sudah duga, di tengah penulisan novel, otakku penuh fiksi dan friksi.

Mungkin juga, sebetulnya akulah si juru bicara itu. Ia adalah simbol dari aku—yang kelak bertugas menjawab segala pertanyaan Ali. Mungkin pula aku memimpikan dan mengenang si juru bicara melulu karena jagat bawah sadar ingin aku mengingatnva. Untuk sekali dalam hidup, aku mencari-cari sesuatu yang abstrak dan terkesan lebih besar daripadaku. Aku terpikat oleh spiritualitas entah-berentah.

Semakin lama, aku semakin terpikat oleh sosok si juru bicara. Kehadirannva membuatku berkhayal banyak tentang identitasnya. Tentang kampung halamannya. Tentang minuman pertama yang diminumnya ketika bangun tidur pagi. Aku menulis banyak tentang banyak hal sampai kemudian si juru bicara datang lagi ke mimpi.

Di mimpiku, si juru bicara memberi aku selembar kertas yang isinya kalimat pendek-pendek tentang tidak bisa berinteraksi denganku. Hanya itu. Dan sekejap pemandangan lengkung bibir manis dan domba-domba yang menggeletak manja dekat kakinya.

Bagiku, adanya si juru bicara sudah bukan lagi persoalan siapa ia di dunia nyata, melainkan tentang cara-cara ia hadir di mimpi dan kondisiku ketika menyambutnya datang. Ia terasa menghantu.

Perlahan, segalanya beranjak analog dengan rasa rindu. Aku mengidap kerinduan pada sesuatu yang tidak bayan dan menindas. Banyak rencana penulisan yang putus di tengah jalan hanya karena aku sibuk mengira-ngira dari mana si juru bicara berasal, dan ke mana pulangnya.

Ketika Ali mengajakku berlibur, aku langsung mengiyakan. Semenjak melahirkan Ali, aku kurang piknik. Tapi ternyata pikiranku malah bertambah runyam. Hatta aku menulis ini untukmu.

Desember sudah mau selesai ketika aku dan Ali tiba di bandara untuk terbang ke Palu. Kami makan di lantai dua bandara. Setelah makan, aku mencuci tangan di wastafel deret di area resto.

“Tunggu di sini,” kataku pada Ali. Ia sibuk membuka bungkusan permen.

Ali bersandar di tiang beton putih, di samping ransel 45 liter. Aku mempercepat gerak cuci tangan dan baru saja berencana tak usah mengeringkannya ketika kemudian aku melihat sekelebatan sosok bergerak menjauhi Ali.

Penculik nungkin mengincar Ali. Orang sinting mungkin menyiapkan butiran flakka untuk membuatnya fly dan jadi gila. Ketika kau punya anak dan anakmu belum bisa banyak memilah, bersiaplah untuk selalu khawatir padanya. Seakan seluruh berita kriminal bergantian tayang di otakmu. Aku dikejar tayangan-tayangan itu dan menghampiri Ali yang mengulum asik lolipop.

Seketika saja, aku melihat si juru bicara di sudut mataku, di ujung tangga. Segala gestur dan nuansa sosok itu persis seperti yang kukenang dari dalam mimpi. Ia menoleh padaku sekejap. Kami bertemu pandang. Aku meraih tangan Ali sambil melirik satu detik untuk memastikan ia baik, kemudian kehilangan si juru bicara begitu saja. Dadaku mulai berdentum-dentum. Kutanya Ali, “Tadi ada siapa?”

“Oh, itu. Om tadi bercerita tentang domba-domba.” Aku mulai tidak sanggup mendengar kelanjutan cerita Ali. Jika mimpi hanya menghadirkan seseorang dari masa lalu, mungkin sesungguhnya aku di Husein Sastranegara petang itu kebetulan saja sedang menjadi aku di masa lampau. Tak tahu lagi teori macam apa itu. Dalam sepatu kets, sela-sela jail kakiku berkeringat.

Di ruang tunggu aku beser. Di pesawat aku gamang. Di sebuah kedai kopi di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, aku membuka laptop dan berniat melanjutkan suratku padamu ini, namun kudapati kurang dari sepuluh paragraf sudah tertambah begitu saja tanpa aku pernah mengetiknya. Tiba-tiba saja tidak kurasakan lagi pendingin ruangan. Udara Kota Palu sangat panas.

Ketika Ali mengajakku berlibur, aku langsung mengiyakan. Semenjak melahirkan Ali, aku kurang piknik. Tapi temyata pikiranku malah bertambah runyam.

 

AURA ASMARADANA mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Gemar menulis cerita pendek, esai, dan puisi. Bukunya kumpulan cerpen Solo Eksibisi (2015) dan novel Solilokui yang baru akan terbit.

Advertisements