Puisi-puisi Humam S Chudori (Media Indonesia, 19 November 2017)

Bingung, Mulut, Cinta dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Bingung, Mulut, Cinta dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Bingung

 

Win, aku terlalu lelah untuk tetap bertahan dalam

kesetaraan. Ada hal yang sangat sulit untuk

kuperjuangkan jika tuntutan persamaan terus

menerus kamu dendangkan. Kau nyanyikan. Kau

tembangkan tanpa henti seperti anak-anak di desa

saat diantar tidur oleh simbok atau embah dengan

sinom atau lirik sluku-sluku batok.

 

Win, kita beda dengan mereka yang berkulit albino

dan rambut jagung. Kulitmu sawo matang dan bola

matamu hitam legam tidak biru, tidak pula berwarna

hijau. Tapi kau begitu ngotot ingin seperti mereka

yang segalanya serba sama. Padahal sisi mata uang

mana pun tak pernah ada yang sama.

 

Win, percakapan kita malam ini justru

memperpanjang jarak kita. Jembatan yang kita

bangun tak pernah menjadi kokoh meski puluhan

tahun kita bangun bersama dengan skrup dan

mur kasih sayang. Tapi kekokohan titian kita tidak

pernah terjadi. Meski kebersamaan dalam jiwa

yang terjalin terlihat indah. Tapi sesungguhnya

keindahan itu penuh kepura-puraan sekedar berusaha

menyenangkan Tuhan.

 

Tuhan, maafkan aku yang pernah menuntut pada-

Mu. Dan permohonan itu Kau kabulkan. Tapi kini jadi

penyebab penyesalan yang tak pernah menemukan

titik akhir.

 

2017

 

Mulut

 

tanpa kau sadari

mulut itu telah kau gunakan

mengundang malakul maut

padahal kematian

pasti akan datang

meski tanpa diundang

tak peduli kepada pahlawan

tak peduli kepada pengecut

tak peduli kepada pendiam

tak peduli kepada si besar mulut

 

Cinta

 

Andai Kau tak pernah menciptakan cinta nan suci

dan abadi. Barangkali hidupku tak seberapa tersiksa

seperti sekarang ini. Hidup menjadi neraka sepanjang

masa, meski tak pernah ada yang tahu bagaimana

panas yang menyiksa dada dan membuat sesuatu

mendidih di otak yang ada di kepala

 

Tuhan, kenapa Kau cipta rasa cinta jika pada akhirnya

cinta tidak pernah menyatu di alam nyata. Lalu apa

artinya cinta yang menyiksa. Padahal seharusnya

cinta menambah bahagia tenaga. Menjadi energi

hidup. Menjelmakan irama bahagia.

 

Tuhan, benarkah cinta yang mendatangkan bahagia

itu masih ada saat dunia disesaki oleh nafsu syahwat

terhadap kekuasaan.

 

2017

 

Bahagia

 

kau selami lautan luas

kau panjat puncak gunung

kau telusuri semua sahara

kau jelajahi ujung dunia

bahkan kau berjalan

di atas awan yang bertebaran

pada angkasa raya

ketika kau cari bahagia

bahagia tak usah kau cari

ke sana ke mari

di sekelilingmu ia adanya

sebab

 

bahagia adalah buah manis

dari tingkahlaku baikmu

yang mengejawantah

dalam senyum sumringah

orang sekitarmu.

 

2017

 

Ingin Aku Menanam Damai

 

ingin kutanam kedamaian

meski tanah ini penuh perseteruan

ingin kutabur benih ketenangan

walau lahan ini sarat kegaduhan

ingin kusemai pohon kejujuran

kendati bumi ini dilapisi kemunafi kan

 

Tuhan

ajarkan aku bersabar

menunggu hasilnya

memang tak mudah

tapi aku pasrah.

 

2017

 

Malu

 

bukan malu yang kau jaga

tapi kemaluan yang kau piara

yang kau agung-agungkan

guna membesarkan birahi

pada kekuasaan

memupuk syahwat pada harta

menebar popularitas semu

padahal semua langkah ini

menuju kehancuran diri

tapi tak pernah kau sadari.

 

Baiti Jannati

-bagi Adin

 

Bagaimana kau rancang dan cipta bunga dunia dalam

jelmaan baiti jannati. Sedang istri selalu mengajak

diskusi dengan nada gaduh. Dengan kasidah

keributan dan irama capek menjadi lagu sehari-hari.

Aroma saling menyelidik pada setiap pembicaraan.

Dan desible suara perempuan itu ternyata lebih tinggi

dari suaramu nan lembut.

 

2017

 

Humam S Chudori, lahir 12 Desember 1958, di Pekalongan, Jawa Tengah. Sajaknya, selain dimuat di media cetak, juga terhimpun dalam sejumlah buku antologi puisi antara lain Sketsa Sastra Indonesia, Trotoar, Resonansi Indonesia (dwibahasa Indonesia–Mandarin), Antologi Puisi Indonesia 1997, Menatap Publik, Senandung Wareng di Ujung Benteng, Jakarta dalam Puisi Mutakhir, Mengalir di Oase, Tifa Nusantara 2, Gelombang Maritim, Ije Jela, Seratus Puisi Qurani 2016, Matahari Cinta Samudera Kata, Kejernihan Cinta, Sail Cimanuk, 1550 Mdpl Kopi, Batik Si Jelita, Buitenzorg, Jejak Kata, dll.

 

Redaksi menerima kiriman puisi orisinal dan belum pernah diterbitkan media massa lain. Kirim ke puisi@mediaindonesia.com

Advertisements