Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 12 November 2017)

Sasali masih Menunggu ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Sasali masih Menunggu ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Sasali duduk di kelas dua. Siang itu, ia satu-satunya siswa yang tertinggal di sekolah. Semua teman-temannya sudah dijemput oleh orang tua mereka. Ia menunggu dijemput Papa—tidak biasanya Papa datang terlambat sesibuk apa pun pekerjaannya. Karena semua temannya sudah pulang, Sasali hanya bermain di dalam kelas saja.

Ibu Guru—wali kelas Sasali—memutuskan menemani Sasali ketika semua guru pamit pulang. Ibu Guru itu mengutak-atik kuku tangannya dan tampak bosan. Lalu ia membuka buku tulis, mencoret-coretinya. Sasali memperhatikan dari kursinya. Ia tidak tahu apa yang ditulis gurunya itu. Bisa jadi, Ibu Guru hanya membuat bulatan-bulatan tanpa bentuk yang jelas. Orang yang sedang bingung kadang melakukan itu tanpa sadar. Ibu Guru pasti sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah. Di rumah, ia bisa membuka sepatu merahnya. Kaki dalam sepatu itu sudah pucat dan butuh udara.

Sebenarnya Sasali juga berharap Papa segera datang.

Ibu Guru semakin tampak tidak sabar. Ia berdiri dari kursinya. Terdengar bunyi kaki kursi itu bergeser ke belakang. Ibu Guru berjalan ke pintu. Matanya menatap ke gerbang yang sunyi. Ibu Guru tidak bisa pulang karena ia tidak berani meninggalkan siswanya sendirian di sekolah. Namun, Papa memang menyebalkan hari ini. Ia datang terlambat sekali. Mungkin Papa terkena macet—meski itu nyaris tidak mungkin. Mereka tinggal di kota kecil yang masih sepi. Atau Papa kedatangan tamu mendadak—sangat mungkin rekan bisnis. Papa pasti tidak bisa menolak orang itu dan menganggap tidak masalah sedikit terlambat menjemput Sasali. Ibu Guru akhirnya pamit pergi sebentar. Ia mau ke kantor sekolah dan berpesan agar Sasali menunggu saja dalam kelas. Atau, kalau mau, kata Ibu Guru, kau boleh main di sekitar sekolah, tapi tidak sampai keluar pagar.

Sasali tidak suka pekarangan sekolah yang, menurutnya, biasa saja. Setiap hari ia melihat halaman yang sama dan berpikir kenapa orang-orang tidak melakukan sesuatu terhadap halaman itu. Kata Papa, Kau kebanyakan mau sih, Sasa. Papa mengatakannya sambil bercanda, maka ia membalasnya sambil bercanda pula. Ia berkata, Ini juga ketularan dari Papa sih. Karena gemas, Papa biasanya menggelitiki kaki atau ketiaknya. Mama akan berkata dari meja kerjanya, Jangan berisik. Papa menimpal, Siapa suruh bawa kerjaan terus ke rumah. Mama membalas lagi, Han, jangan mengajari anak tidak toleran dong. Papa tidak mau kalah, Tapi ini kan jam bermain sama Sasali, Vi. Mama nyaris berteriak, Ini juga bukan keinginanku, tapi kerjaan memang sedang numpuk. Sasali cepat-cepat meniup peluit yang ia temukan dalam bungkusan makanan ringan, Jangan bertengkar, katanya sambil memasang wajah cemberut. Papa dan Mama saling memandang. Mereka menarik napas dan melepaskannya bersama-sama dan tersenyum. Mereka berbaikan. Mereka bertiga main bersama. Mama melupakan pekerjaannya. Namun, besok paginya ia terserang kepanikan dan segera terbang ke kantor dan urusan mengantar dan menjemput Sasali ke sekolah menjadi tugas Papa selama-lamanya sejak saat itu.

Papa belum juga datang. Selama menunggu di kelas, Sasali merasa ingin pipis. Ia berjalan keluar, mencari kakus sekolah. Tempat yang selama ini selalu ia hindari. Sasali tahu, kakus sekolah di mana-mana bersih dan wangi di pagi hari dan menjadi jorok setelah lewat siang hari. Anak-anak jarang sekali menyiram lantai dan lubang kakus sehabis kencing—biasanya mereka gerombolan anak laki-laki. Namun, karena tak bisa menahan pipis, ia tidak peduli kejorokan kakus itu. Ia dapat menahan napas beberapa menit ketika berada di dalam kakus nanti. Ia berlari keluar. Tas ia tinggalkan di atas meja di kelas yang kosong.

Benar saja. Kakus itu bau sekali, padahal ia baru berdiri di muka pintu. Ia hampir muntah. Tidak ada siapa-siapa lagi di sekolah selain Ibu Guru yang sedang berada di kantor sekolah. Jadi ia berpikir untuk pipis di balik dinding gedung saja. Jangan pernah membuka celanamu di tempat sembarangan, Sasali, ia teringat pesan Mama. Itu benar sekali. Mama pasti sudah banyak mendengar tentang kejahatan yang mengintai anak-anak. Papa kerap bilang di dalam mobil kalau ia harus waspada dan pintar menjaga diri. Mama memang tidak terlalu mencemaskannya. Yang paling sering Mama lakukan, melarangnya begini dan begitu. Kata Papa, Mamamu itu tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan kecemasannya, maka bisanya cuma melarang. Mereka merasa geli saat membicarakan Mama yang sok sibuk sekali. Kata Papa, meski begitu kita harus tetap mencintai Mama. Sasali setuju dengan Papa. Bagaimanapun Mama perempuan paling pintar di antara mama teman-temannya di sekolah dan itu membuatnya bangga. Kata Papa, selain cantik dan pintar, Mamamu itu juga sangat baik hati dan memang pantas dicintai.

Ia benar-benar tidak tahan. Tanpa berpikir lagi, ia menahan napas dan masuk ke dalam kakus yang gelap. Sasali mengangkat rok dan menurunkan celana short dan celana dalam. Semua ia lakukan cepat-cepat. Napasnya lepas karena ia tidak kuat menahannya. Bau kakus menyerbu hidung dan perutnya menjadi mual. Air dalam bak kecil, kosong. Keran mati. Pantas saja kakus itu bau sekali. Setelah selesai pipis, ia mengelap selangkangannya dengan tisu. Ke mana-mana ia memang senang membawa tisu. Ia lebih suka cebok dengan tisu ketimbang air. Setelah selesai, ia menaikkan celana dalam, lalu celana short, dan menurunkan rok merahnya. Mestinya Sasali cepat-cepat keluar karena ia sudah tidak tahan bau di dalam kakus—lebih-lebih setelah ditambah bau pipisnya. Namun, ia malah asyik memperhatikan pecahan cahaya yang masuk lewat celah atap. Perlahan kakus tidak terlalu gelap lagi. Ia bisa melihat tulisan-tulisan di dinding, walau tidak terlalu jelas. Ia juga bisa bernapas seperti biasa dan tidak terganggu dengan bau pesing.

Dalam cahaya itu, ia melihat sesuatu beterbangan. Ia pikir itu binatang kecil. Namun, sepertinya, bukan. Nanti ia akan bertanya kepada Papa tentang itu. Kata Papa, Apa-apa yang kau tidak tahu, sebaiknya ditanyakan. Apa Ibu Guru sudah mencoba menelepon Papa dan bertanya kenapa ia belum juga menjemputku? pikir Sasali. Oh, Ibu Guru mungkin sudah kembali ke kelas dan sebaiknya hal itu ditanyakan kepadanya, Sasali berpikir lagi.

Ia meninggalkan kakus. Ibu Guru sudah pasti kebingungan mencarinya. Ia sudah sungguh merepotkan Ibu Gurunya hari ini. Sebenarnya, ia sudah merepotkannya beberapa kali—juga sejumlah temannya yang sering terlambat dijemput orang tua. Kali ini, Papa memang sangat keterlaluan terlambatnya. Kasihan Ibu Guru. Kalau saja, ia bisa membuat Papa datang cepat ke sini.

Kelas masih kosong. Tas punggungnya tergeletak sendirian di atas meja. Tas itu mungkin tidak suka jika ia lama-lama meninggalkannya. Kata Mama, benda-benda juga punya perasaan loh, Sasali. Mama mengatakan itu saat mendongeng sebelum tidur. Namun, ia memilih percaya kalau benda memang benar-benar punya perasaan. Karena itu ia harus menjaganya baik-baik. Ia menyayangi semua miliknya; tas, sepatu, baju, boneka, buku, kaos kaki, dan banyak lagi.

Sasali duduk di kursinya. Ia tendang-tendang pelan kaki meja hingga menimbulkan suara yang teratur. Ibu Guru belum kembali dari kantor sekolah. Ia buka tas. Kotak bekal makannya tentu sudah kosong. Perutnya lapar. Padahal tadi ia makan siang cukup banyak. Kotak bekalnya berisi macam-macam. Papa yang menyiapkan semuanya. Mama tidak suka dapur. Papa memang suka masak. Mama senang bila diberi tugas mengguntingi pucuk-pucuk bunga yang bercabang liar. Kalau pekerjaan rumah terlalu numpuk, Mama memanggil pekerja dari perusahaan penyedia jasa cleaning servis. Kalau besar kau mau jadi apa? tanya Papa. Mau sibuk kayak Mama, katanya. Jangan, sergah Papa. Mamamu bahkan hanya punya sedikit waktu untuk minum teh. Sasali dan Papa cekikikan. Mama tidak tahu kalau mereka menertawakannya.

Papa belum juga datang. Kalau datang nanti, Sasali berjanji akan memarahi Papa. Papa boleh sibuk, tapi jangan seperti Mama yang sering tidak memikirkan apa pun kalau sudah duduk mengurus pekerjaannya. Ia tidak bisa marah kepada Mama. Mereka bertiga sudah membuat kesepakatan kalau Papa yang bertanggung jawab mengantar-jemput Sasali sekolah. Sebagai gantinya, Mama yang bertugas menemani Sasali bermain ke taman kota tiap hari Minggu dan Papa akan malas-malasan dan tidur seharian di rumah. Di rumah nanti, Mama harus diberi tahu soal keterlambatan Papa hari ini. Biar Papa tidak mengulanginya lagi, biar tidak sering-sering merepotkan Ibu Guru.

Ibu Guru ke mana perginya? Apa Ibu Guru sudah pulang dan meninggalkanku sendirian? Memikirkan itu, Sasali jadi ketakutan. Ia belum pernah sendirian di kelas. Ini jelas berbahaya. Mama selalu mengingatkan kalau ia tidak boleh sendirian di sebuah tempat.

Ia menaikkan kedua kakinya ke atas kursi. Ia peluk dua lututnya erat-erat. Dagunya menempel lekat di kedua lutut itu. Kepalanya memikirkan semua yang menakutkan. Papa tidak datang-datang juga. Ibu Guru entah di mana.

***

Papa datang dan menemukan tas Sasali tergeletak di meja. Papa kebingungan mencari-cari Sasali. Ia melihat angka pada jam tangannya. Ia datang tepat waktu. Ia tidak tahu kenapa sekolah demikian sepi. Tidak ada pemberitahuan sama sekali jika hari ini sekolah pulang cepat dari biasa.

Sambil berdiri di pintu, mata Papa terus mencaricari Sasali. Ia berharap melihat anak itu berlari-lari menujunya, tapi tak ada. Ia berpikir untuk segera menghubungi Mama. Siapa tahu Sasali dijemput mamanya dan mereka pergi makan-makan berdua.

***

Sasali! Sasali! Ibu Guru memanggil-manggil di pintu kelas. Ia tadi tertidur di kantor. Semalaman ia kerja lembur memeriksa buku PR siswa. Matanya tidak tahan dan tertidur begitu saja ketika ia pergi ke kantor sekolah untuk beristirahat sejenak di atas sofa.

Tidak ada siapa-siapa di kelas. Tas Sasali tergeletak di atas meja. Ibu Guru mencari nama Papa Sasali dalam daftar kontak ponselnya. Tadi, nomor itu selalu sibuk. Sekarang, nomor itu tidak bisa dihubungi. Ibu Guru berpikir, Sasali telah melupakan tas itu ketika papanya datang menjemput.

 

Rumah Kinoli, 16/17

Yetti A.KA, Tinggal di Kota Padang, Sumatra Barat. Kumpulan cerpen terbaru Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Advertisements