Cerpen Risma Dewa Purwita (Banjarmasin Post, 12 November 2017)

Penjaga Tanah ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Penjaga Tanah ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

“Seharusnya aku yang mati, bukan Mateus!” teriakku dalam hati, setelah menyaksikan jasad Mateus yang lidak bernyawa lagi.

Baju kausku basah karena titik air mata yang jatuh tak terbendung. Hampir semua orang yang berada di tepi waduk itu menangis histeris, terlebih ibu Mateus yang tak henti memanggil-manggil anak semata wayangnya.

Tiga hari yang lalu, pukul 14.00, sepulang dari mencari kayu di hutan, kami berenam mandi di waduk setengah jadi. Di seberang sana ada beberapa perempuan yang sedang bermain rangkuk alu [1]. Niat yang sebenarnya mandi di waduk itu adalah sekadar mencari perhatian perempuan-perempuan di sana. Benar saja, seketika itu kami berenam mendapat perhatian dari mereka. Mereka tersenyum kepada kami, tetapi kami terus bertingkah seolah-olah kami seperti lumba-lumba yang sedang beratraksi di depan penonton.

Memang waduk itu akan dijadikan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kabupaten kami. Namun entah karena persoalan apa, pihak pengelola membiarkannya begitu saja tanpa ada kepastian selanjutnya. Kami asik berenang seiring matahari berarak ke arah barat. Sekitar tiga puluh menit pertama, Lazarus berteriak katanya ada yang menarik kedua kakinya ke bawah. Kami terkejut. Lalu menolongnya. Setelah Lazarus berhasil kami tolong, tiba-tiba gelang tangan pemberian Pater Philip dari Roma, terlepas.

Masih di tempat yang sama. Aku melihat gelang itu terlepas dari tanganku, kemudian aku langsung mengambilnya. Namun saat aku mengambil gelang tersebut, tiba-tiba air waduk berubah menjadi keruh dan air itu menarik tanganku. Tubuhku disedot oleh air hingga ke dasar. Detak jantungku berdebar tak karuan. Di sana, di dasar waduk, lumpur setinggi pinggangku. Aku benar-benar takut. Aku berusaha keluar dari lumpur itu, namun gagal. Beberapa menit kemudian, aku kehabisan napas, aku berusaha bertahan. Tetapi air sudah masuk ke dalam hidungku, aku tersedak. Mataku juga perih, aku pasrah.

Belum ada lima detik, seseorang menepuk pundakku. Dia menarik tanganku keluar dari lumpur. Mateus dan Antonins menolongku. Aku berhasil keluar dari lumpur maut itu. Penglihatanku kabur, namun di atas permukaan air, aku masih bisa melihat Lazarus. Albertus, dan Gilbertus. Tetapi, teriakan Lazarus memanggil Mateus dan Antonius mengejutkanku.

“Mateus! Antonius!”

Lazarus menyuruh Albertus untuk cepat membawaku ke daratan. Sedangkan dia dan Gilbertus menolong Mateus dan Antonius yang tenggelam, tepat di tempat aku tenggelam tadi. Setelah sampai di daratan, aku meminta Albertus untuk mencari pertolongan. Siapa saja yang bisa menolong. Namun. Albertus terkesan keberatan karena melihat aku terkapar lemah, tak berdaya.

Gelang! [2] Ngo! [3]” kataku.

Kemudian Albertus pergi berlari menuju perkampungan. Setelah itu aku tak tahu, lebih tepatnya lagi, ketika aku membuka mata yang kudapati adalah orang-orang sedang mengerumuniku. Tak lama, aku dibawa ke Puskesmas.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Setelah dikabari, bahwa aku berada di Puskesmas, kedua orang tuaku langsung mendatangiku di Puskesmas. Aku tahu mereka khawatir.

“Mah, asa [4] Mateus agu [5] Antonius?” tanyaku.

Mamahku tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menitikkan air mata. Perasaanku tidak enak, kemudian aku bangkit dari tidur, lalu berlari keluar dari ruangan yang bau obat-obatan, menuju waduk.

“Edward!” panggil Mamah, “Ngo nia, hau?” artinya: mau ke mana, kamu? Pertanyaan tidak aku hiraukan. Aku berlari, dan terus berlari.

Sesampainya di waduk.

Ada banyak orang di sana, termasuk tim SAR dan PMI. Aku mendekati Lazarus. Albertus, dan Gilbertus di dekat mobil PMI.

“Mateus agu Antonius nia [6]?” tanyaku.

Namun pertanyaan itu belum sempat dijawabnya, beberapa rombongan membawa kentongan, datang. Mereka memukul-mukul kentongan tadi sambil memanggil nama Mateus dan Antonius.

“Mereka dari Mbaru Gendang Wela,” kata Gilbertus kepadaku.

Mbaru Gendang adalah rumah adat khas Manggarai berbentuk kerucut. Rumah ini disebut sebagai simbol sekaligus pusat seluruh kehidupan orang Manggarai. Mbaru Gendang juga biasanya dijadikan sebagal tempat upacara-upacara adat.

Di Mbaru Gendang, mereka mengadakan ritual, semacam memberi sesajen kepada leluhur, agar anak yang hilang segera ditemukan. Tentu saja ritual tersebut dipimpin oleh tua golo [7] di sana.

Dua jam berlalu. Perenang profesional didatangkan untuk membantu pencarian. Antonius ditemukan. Beruntung Antonius masih dapat diselamatkan. Namun Mateus belum ditemukan.

***

Hari ini adalah hari ketiga kedua temanku tenggelam.

Tuang [8], apa mungkin waduk ini tidak termasuk ke wilayah Mbaru Gendang Wela?” begitu kata pastor paroki kepada tua adat.

Kemudian tua adat bertanya kepada warga perihal daerah kekuasaan rumah gendang Wela.

Tuang, mungkin waduk ini masuknya ke rumah gendang Nai,” Dangdur menerka.

Kemudian tua adat memperhatikan daerah sekitar waduk. Tanpa basa-basi tua adat itu langsung pergi bersama rombongannya, termasuk orang tua kedua temanku ke rumah gendang Nai yang ada di seberang kampung. Saat itu juga dibuatlah ritual. Setelah ritual selesai, dilakukan kembali hal yang sama: memukul-mukul kentongan dan memanggil nama Mateus.

Pukul 14.00.

Tim SAR berhasil menemukan jasad Mateus. Dia sudah meninggal. Jasadnya terdapat luka-luka kecil, diyakini bekas gigitan ikan. Tetapi kenapa perutnya lidak kembung? ***

 

Keterangan:

[1] permainan tradisional yang menggunakan bambu sebagai alat permainannya. Sekarang menjadi salah satu tarian tradisional daerah Manggarai-Flores, NTT.

[2] cepat

[3] pergi

[4] bagaimana

[5] dan/dengan

[6] kemana

[7] penjaga tanah

[8] bapak, tuan, atau raja

 

Risma Dewi Purwita. Kelahiran Punwaita, September 1990. Karya puisi dan cerpen mahasiswa STK1P St. Paulus Ruleng ini dimuat. a.l. di Minggu Pagi Jogja dan Flores Pos, serta dua antologi bersama. Novelnya “Rafaelo” terbit 2017 dan segera terbit “Lihardo”. Sekarang tinggal di Ruteng-Manggarai-NTT.

Advertisements