Cerpen K.Y. Karnanta (Jawa Pos, 12 November 2017)

Madah ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Madah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

RUMAH kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada.

Begitulah madah itu diajarkan, dilagukan, turun temurun, oleh setiap penghuni rumah ini. Siapa pun akan mendengarnya di kala subuh saat cahaya matahari belum utuh, saat pendaran lampu-lampu belum genap di matikan. Juga di ambang magrib saat angin terasa gaib oleh senja yang berangsur raib.

Kadang kami melagukannya bersama, kadang sendiri, hingga kami merasa bahkan dalam diam sekalipun kami sesungguhnya melagukan madah itu. Dalam hati, tentu saja, hati yang tak pernah berbunyi namun senantiasa merasai betapa kami tinggal dalam kenangan tentang hujan dan doa, merindui selembar duaja merah bergambar bulan yang menghilang.

Jika di sudut langit bulan melingkar genap benderang, kami akan duduk di halaman, melagukan madah itu bersama-sama para tetua desa. Ayah akan mengenakan baju lurik bergaris hitam kebiruan, menyalakan damar, sembari memetik sitar yang di hari-hari biasa tersimpan di sebidang makam keluarga kami yang terletak sehari perjalanan ditempuh dengan kaki. Ibu akan mengenakan kebaya merah muda yang lusuh juga tua. Sementara aku dan kedua adikku duduk bersila sembari terus berlagu, menghidupkan setiap kata dalam syair madah itu sesuai pikiran dan perasaan kami sendiri.

Sesungguhnya kami, aku dan adikku Damar telah jenuh dan muak dengan kebiasaan di rumah kami, madah yang tak pernah kami mengerti berkisah tentang apa dan untuk apa, kisah selembar duaja bergambar bulan dan rumah impian yang tak pernah kami lihat namun kami harus percaya memang demikian adanya. Tapi kami segan menanyakan siapakah pencipta madah itu, atau mengapa kami harus melagukannya. Sebab setiap kali bertanya kepada ayah dan ibu, atau mereka yang kami anggap tua, selalu dijawab dengan air mata–air mata yang kubayangkan kadang berulir bening, terkadang merah menyala, dan tak jarang hitam menjelaga.

Jika kami bertanya dengan sedikit nada mendesak, mereka tak hanya berurai air mata, namun juga akan terisak-isak hingga sekujur tubuh kami tak kuasa menahan ngeri dan sesak tak terperi, mendapati betapa suatu pertanyaan ternyata bisa begitu tajam mendalam mengiris hati yang, kami duga, telah lama memar dan mengidap suatu perih yang selalu tak mampu kami mengerti.

Dua hari lagi purnama tiba. Aku dan Damar selalu mendapat tugas untuk mengambil sitar dan kebaya di makam leluhur kami. Maka, sebelum matahari berangsur tinggi, kami segera pergi, dengan membawa sebakul kembang, kendi, dan sebilah parang kalau-kalau kami menjumpai hewan buas.

“Apakah ini kutukan?”

Kubalas pertanyaan adikku dengan lirikan, sambil terus berjalan. Bukan sekali ini Damar bertanya, dan selalu kujawab dengan diam. Saat seusianya dulu aku pun tak henti mempertanyakan hal itu kepada ayah, bahkan dengan nada dan cara yang lebih keras, setiap kali ayah mengajakku menempuh jalan setapak di hutan jati yang tandus ini demi mengambil sitar dan duaja. Ingatanku akan suatu peristiwa terbangun sepanjang perjalanan, terusik oleh pertanyaan Damar tadi.

“Ayah, kenapa tidak kita simpan saja duaja dan sitar itu di rumah?” tanyaku saat itu. Ayah hanya menoleh sekilas, lalu menghentikan langkah.

“Lam, lihat ini. Ini tahi macan. Tapi bukan macan loreng, Lam, ini macan tutul. Atau gogor ya? Hmm…” Ayah melirikku, seakan memancing rasa penasaranku. Biasanya aku selalu tertarik dengan cerita ayah tentang macan yang memang sudah lama sekali tidak terlihat di desa ini. Namun saat itu aku tak peduli.

“Besok aku tak mau ikut ayah ke makam lagi,” ujarku sambil melangkah gegas.

Ayah segera menyusul dan menawarkan air kendi.

“Minum dulu, Lam,” ujarnya. Lagi-lagi aku mengacuhkannya, mempercepat langkah menuju cungkup makam yang terlihat tinggal beberapa jangkau di depan.

Ayah langsung menuju pancuran air dekat sungai di pinggir makam, membersihkan tangan dan kaki sembari membasuh muka. Kulihat jejak tapak dan kotoran macan di sekeliling makam, selalu seperti itu. Anehnya, tak pernah kudapati jejak atau kotoran macan di dalam makam, meski di dalamnya ada gubuk dirundung pohonan beringin yang teramat besar yang kukira sangat nyaman untuk berteduh.

Aku berdiri tak jauh dari ayah saat ia mendadak kaku, tubuhnya bergetar, mendapati duaja merah bergambar bulan yang akan diambilnya tak ada di tempatnya. Sitar dan kebaya ibu ada, namun duaja itu tak ada. Ayah menoleh kepadaku, matanya awas menembusi relung penglihatanku. Seketika tubuhku gemetaran. Ingin aku menunduk tapi tak mampu. Pandangan ayah seakan memaku kepalaku. Napasku tersengal, terkejut, tak pernah kulihat wajah ayah tiba-tiba berubah seperti seseorang yang tak pernah kukenali.

Ayah meraung, menghampiri setiap sudut di gubuk dan cungkup-cungkup makam. Duaja itu tak ada. Tetap tak ada. Setengah berlari ayah menghampiri pohon asem, kepalanya mendongak seakan mengurai tiap ranting dan rongga di dahannya. Ayah segera melompat, meraih baju kebaya dan sitar, memeluknya seakan dua benda itu tak pernah ia lihat sebelumnya. Saat itulah, pertama dalam hidupku, aku melihat seorang lelaki yang teramat sabar dan tegar menitikkan air mata, meraung dan terisak-isak. Air mata itu teramat sakit, hitam, pekat, seakan endap kesedihan bertahun-tahun kini menemukan celahnya untuk mengalir.

Ayah, sungguh tak pernah kukira dukamu bisa mengarus sekelam jelaga.

Kudapati kesadaranku kembali. Aku segera berlari menuju sungai.

“Lam, Galam.” Tak kuhirau panggilan ayah. Aku melesat ingin segera tiba di tempat yang kutuju, tempat aku sengaja menyembunyikan duaja merah itu beberapa hari yang lalu. Tanganku meraih seonggok batu, berusaha menggesernya. Dadaku berdegupan. Bayangan wajah ayah, suara isaknya, berdengungan di kepalaku, mengaliri urat-urat jariku yang berkeras menggeser batu itu. Tak ada! Ah, tidak mungkin. Duaja itu ku taruh di situ beberapa hari lalu. Kualihkan pandanganku ke sekitar, tetap tak ada. Tak mungkin! Tak mungkin ada yang datang di hutan jati sejauh ini, di sudut seterpencil ini.

Ayah hanya berdiri, diam melihatku. Tak ada keberanian sedikit pun dalam diriku untuk menatap matanya. Hanya kulihat kakinya perlahan bergerak ke arahku. Aku ingin berlari, sungguh ingin berlari. Tapi sekujur tubuhku dihinggapi perasaan yang teramat ngilu menusuk dada hingga tak ada yang mampu kugerakkan atau kudengar, kecuali napasku yang tertatih dan perih. Yang kurasakan hanya jemari ayah mengusap kepalaku, lalu memelukku dengan lembut dan amat dalam. Seakan suatu sesak menjalar dari relung tubuh kini menggantung di kelopak mata. Aku menangis sekuat-kuatnya. Sejadi-jadinya.

Ayah, Ayah, betapa aku terhukum atas air matamu.

Sejak peristiwa itu tak sedikit pun aku bertanya perihal madah yang kami lagukan, juga duaja merah, kebaya, sitar tua, dan segala yang kukira akan mengundang air mata bagi ayah dan ibuku. Kuhalau segala sangsi, sekian ragu, juga perih, setiap kali keluarga kami berlagu menjemput purnama. Jika semua itu adalah kutukan, mungkin saja itu benar, maka aku mesti menjalaninya. Kalaulah tidak, toh aku juga hidup di dalamnya, tak bisa mengelak darinya.

Diam-diam aku akhirnya percaya bahwa ada beberapa hal dalam hidup yang begitu saja melekati diri, seakan sepatu yang tak bisa terlepas ke mana pun diri melangkah, dan bahkan kebal terhadap setajam apa pun kesangsian. Dan air mata ayah barangkali telah menyucikanku dari segala kesangsian itu.

Rumah kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada.

“Jadi benar ini kutukan?” Damar bertanya sekali lagi.

“Aku tidak mengatakan begitu,” sahutku.

“Tapi kamu melamun. Melamun berarti benar, Kang.”

Kulihat Damar. Wajahnya lugu dan teduh, meski tak dapat kuingkari sepasang matanya yang baru lepas dari kanak-kanak itu makin tajam menghunus rasa ingin tahu. Tapi aku selalu memilih menjawab keingintahuannya dengan senyuman. Aku tak yakin dia bisa menerima penjelasanku. Ah, mungkin juga bukan penjelasan. Keingintahuan dan penafsiran sering melompat lebih jauh melampaui kenyataan. Maka, kenyataan dan penjelasan bahwa air mata ayah yang menggenangi ingatan kukurasa hanya akan semakin menyalakan rasa keingintahuan Damar yang menyala-nyala.

Angin berhembus teramat kering. Tak ada bebunyian lain kecuali suara ranting-ranting dan ranggas dedaunan jati yang bergesekan menutupi jalan setapak menuju makam. Tinggal beberapa turunan lagi kami tiba. Damar melagukan madah keluarga kami, dengan aneka nada yang dibuat-buat. Aku tertawa. Damar ikut tertawa.

Aku baru akan menantang Damar beradu lari saat kusadari, baru saja kusadari, betapa kami berdua telah melewati turunan jalan setapak ini berkali-kali sejak tadi. Ya, aku yakin. Pohon jati yang tepat bersebelahan dengan seonggok batu besar yang bentuknya menyerupai kepala macan tempat aku menyembunyikan duaja merah yang kemudian hilang bertahun-tahun lalu itu telah kami lewati.

Matahari telah miring hampir segaris dengan telinga. Tak mungkin, tak mungkin kami menghabiskan waktu selama itu jika hanya untuk tiba di bagian jalan ini, yang masih jauh dari makam. Mungkinkah lamunanku tentang masa lalu tadi teramat membuai hingga tak menyadari jalan yang kulalui? Dan Damar, apakah dia juga tidak menyadarinya?

Damar terdiam menatapku, tatapannya begitu ganjil, teramat aneh. Mendadak kurasakan bulu kudukku berdiri. Bunyi gesekan ranting dan pusaran angin hutan raib. Tapi ada semacam hawa dingin menerpa. Dengan tangan setengah gemetar Damar menunjuk ke arah batu besar itu. Mata Da mar begitu awas tajam menusuk satu titik. Astaga! Tidak mungkin!

Tiga ekor macan loreng berukuran hampir seperti anak kerbau, macan yang selama ini hanya kudengar dari cerita-cerita ayah yang tak juga kupahami itu, berjalan pelan mengelilingi kami berdua. Kupegang erat tangan Damar. Kurasakan tubuhku seakan mengawang, hening, hingga bisa kudengar bunyi napasku sendiri, juga napas Damar, gemetar seakan gentar beradu getar dengan dengus tiga mahluk besar itu.

Jika benar apa yang dikisahkan para tetua desa, betapa macan tidak memakan manusia, namun selalu melukai apa yang ia anggap membawa bahaya di wilayahnya, maka sebentar lagi habislah kami berdua. Namun jika seperti yang dikatakan ayah, macan tidak akan melukai tubuh yang teraliri madah dan niscaya, maka apa yang bisa aku dan Damar lakukan saat ini adalah diam, hanya menabuh gumam sekian doa dan madah dalam dada:

Rumah kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada.

Hening. Diam. Kurasai denyut jantungku sendiri, sembari menahan kaki yang mendadak terasa begitu lemah. Tiga macan itu menatapku. Napasnya sesekali terengah. Angin terik mati suri. Desirannya tak kurasakan lagi. Kulirik Damar. Pandangannya seakan tertumbuk pada satu titik, pandangan yang tajam seperti yang biasa ia punyai. Genggamanku dilepasnya perlahan. Ada hawa panas mendadak menguap di punggung hingga tengkuk.

Brukk. Samar-samar kurasai kaki dan tubuhku ambruk. Pandanganku hanya segaris tipis warna bebatuan tandus, mengabur jauh, teramat jauh. Lirih kudengar suara erangan, dengkur, tapi aku, ah, aku tak sanggup menerkanya.

***

WAKTU terbangun seakan beribu serangga berbisik di telingaku. Langit gelap. Kurabai tubuhku, antara berharap dan tidak, mencari kalau-kalau ada luka dan darah. Tidak ada. Bulan melingkar genap. Ah, ya, jangan-jangan sudah dua malam setidaknya kami di sini. Dibias bulan purnama, jalan setapak yang kulalui seperti bercak-bercak hitam panjang pandangan. Samar-samar kulihat Damar, terduduk bersila dengan parang bebercak darah.

“Ke mana perginya?”

Damar bergeming. Pakaiannya tampak bebercak merah. Ketika aku bertanya apakah dia terluka, dia menjawab tidak sepatah kata. Membayangkan tiga macan itu kembali, nyaliku bergidik. Kuraih tangan Damar dan menariknya berjalan. Apakah kami masih harus mengambil sitar dan kebaya merah itu?

Sesekali kubayangkan muka ayah dan para tetua yang kecut tersebab tak ada kebaya, sitar, dan madah terlagu malam itu. Juga raut muka ibu yang akan berderaian air mata mengenangkan kebaya merah yang tak jadi dipakainya. Ayah dan Ibu, hanya kami berdua yang kau punya. Tidakkah nyawa lebih berharga daripada madah dan selembar kebaya kusam seakan rumah impian yang tak jelas ada?

Bulan bundar di langit masai, kami berjalan dengan langkah dan pikiran gusar tak selesai. Dingin angin kami tak rasa, duri di semak kami tak jera. Selepas jembatan bambu di depan rumah kami berada. Sayup terdengar suara tabuhan dan madah nyaring terdengar. Ah, apa pula itu? Dari jauh kami lihat damar menyala. Dua orang menabuh gendang, kukira ayah salah satunya, sedangkan ibu menari, gerakannya teramat kuhapali.

Damar masih membisu. Ah, betapa dalam perjalanan kembali ini dia hanya diam tak seperti jamaknya dia kerap bertanya. Semakin dekat semakin lekat gambar yang kulihat: ayah mengenakan baju lurik bergaris hitam kebiruan kebanggaannya sembari memetik sitar, ibu dengan baju kebaya merah tua menari dengan duaja dikibar-kibarkan. Lalu dua orang di belakangnya …ah mustahil!

Seakan suatu kekuatan mendekap lekat dadaku. Berdiri di sebelahku, Damar terdiam. Tatapannya, juga tatapanku, menghujam sekerumunan tubuh-tubuh yang sedang menari dengan purnama di ubun-ubun mereka. Ya, tubuh-tubuh yang kami kenali, dengan duaja yang kami kira raib tak kembali. Bahkan kini kami lihat tubuh kami sendiri turut berada di sana, bermadah teramat sendu, teramat merdu, seakan besok kami akan bisu.

Rumah kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada. ***

 

Jatirogo, 2017

KUKUH YUDHA KARNANTA, staf pengajar Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya FIB Universitas Airlangga Surabaya.

Advertisements