Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 12 November 2017)

Kaisar dan Rembulan ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa
Kaisar dan Rembulan ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

MULANYA hanyalah di teras istananya saja. Saat dia sedang kesepian. Permaisurinya masih berbanyak-banyak istirahat lantaran masa-masa hamil tua.

Tanpa sengaja dia menemukan rembulan yang tampak begitu memesona. Alangkah cantiknya. Kuning keemasan di tengah kepungan gelap semesta. Hari berikutnya, kecantikan itu semakin dan semakin bertambah sempurna saat mencapai purnama.

Dia pun kemudian memiliki jadwal tetap untuk menikmati rembulan. Jadwal itu tak boleh diganggu oleh hal apa pun dan siapa pun. Meski oleh kedatangan tamu penting sekalipun. Jadwal itu hanya milik dia dan rembulan. Dia membebaskan diri dari jadwal itu hanya saat rembulan telah menghilang.

“Memangnya hal apakah yang membuat Paduka tertarik? Bukankah itu hanya sekadar rembulan, yang siapa pun bahkan bisa melihatnya setiap hari?” tanya sang panglima perang, saat mereka sedang membahas kekuatan militer yang dimiliki istana.

Dia geleng-geleng kepala, menyayangkan panglima perangnya yang tak sedikit pun memiliki jiwa seni.

“Tentu saja, raja berbeda dengan rakyat jelata, wahai panglimaku. Rembulan menyuburkan daya imajinasiku. Rembulan menenangkan banyak kegundahanku. Rembulan menjadi pengobat rasa sepiku. Kadangkala, aku ingin melihat rembulan dari banyak sisi. Aku ingin melihat kecantikannya dari berbagai tempat. Karena itulah aku menyuruhmu menaklukkan negeri-negeri yang berada di wilayah utara. Aku sangat ingin melihat kecantikan rembulan dari wilayah utara.”

Sang panglima mengangguk. Tunduk. Pun ketika mendapatkan perintah untuk mengirimkan pasukan perang ke wilayah utara. Itu adalah peperangan pertama yang disulut rajanya sejak kematian kakek buyutnya, sang pendiri kerajaan.

***

Sejak kemenangan pertamanya, kesenangan lelaki ini tetap tak berubah. Saat rembulan mulai menghilang dari atas istananya, dia akan berpindah tempat ke utara dan terus ke utara. Seiring kemenangan demi kemenangan yang diperoleh panglima perangnya. Meski pada tanggal tertentu rembulan tetap menghilang juga.

“Kau tak akan pernah tahu, wahai panglimaku. Kau tak akan pernah tahu kenikmatannya jika kau tak memiliki jiwa yang selalu merindukan keindahan ini,” ujar lelaki itu saat sang panglima perang menghadap.

Semua kerajaan di daerah utara telah takluk. Upeti-upeti mulai berdatangan. Jumlah selir juga bertambah. Begitu, tak ada yang lebih diingini lelaki itu selain melihat keindahan rembulan.

“Aku yakin keindahan rembulan di daerah selatan, barat, dan timur pasti juga beda. Betapa aku ingin membuktikannya. Karena itu persiapkanlah tentara kita untuk menaklukkan daerah selatan, barat, dan timur sekarang juga.”

Hari-hari penuh peperangan pun dimulai lagi. Kisah-kisah kepahlawanan mulai dicatat sejarah. Lelaki itu memberikan penghargaan tinggi terhadap para prajurit yang mempersembahkan jasa besar untuknya.

Dia mulai mengangkat pejabat-pejabat baru di setiap wilayah taklukan. Dia ganti beberapa pejabat yang menampakkan ketaksukaan atas kesukaannya menikmati keindahan rembulan. Apalagi ketika dia menurunkan perintah untuk membangun sebuah menara di setiap sisi istana taklukannya.

“Aku tak ingin diganggu atau terganggu oleh siapa atau apa pun saat menikmati keindahan rembulan,” ujar lelaki itu, menjawab pertanyaan beberapa pejabat yang menanyakan alasan pembangunan menara.

“Bahkan oleh permaisuri sekalipun,” tegasnya sekali lagi.

Para selir sampai terbakar cemburu saat mendengar kalimat itu. Mereka tak berani protes. Bahkan para panglima perang pun harus menunggu Raja menuntaskan kesenangannya menikmati rembulan. Yang bisa dilakukan para selir hanyalah berlomba mempercantik diri, agar setidaknya bisa menyamai kecantikan rembulan.

Memang, setiap kali lelaki itu berujar, “Hari ini kau benar-benar seperti rembulan.” Maka itu berarti sebuah keberuntungan bagi selir yang mendapatkannya.

Pembangunan Menara Rembulan—begitu raja menamainya, pun dilaksanakan segera. Pembuatan rancang bangunnya diperlombakan. Barang siapa yang sketsanya mampu menarik perhatian raja, dia akan diangkat sebagai arsitek istana.

Seiring dengan kemenangan-kemenangan yang terus diraih, pembangunan Menara Rembulan pun semakin dipergiat. Bahan bakunya dikumpulkan dari berbagai wilayah taklukan. Distribusinya diawasi langsung oleh pejabat khusus bentukan raja yang dalam jangka waktu tertentu harus melapor kepadanya.

Setiap hari akan terlihat iring-iringan yang mengangkut kayu, bebatuan, lempung, genting dan lain sebagainya. Berbulan-bulan. Menara itu dibangun sesuai perintah raja, “Semakin indah semakin bagus. Semakin tinggi semakin baik.”

***

Setelah berjalan tahun, kebiasaan lelaki itu tetap tak berubah. Dia memiliki jadwal menikmati rembulan yang tak bisa diganggu gugat. Betapapun oleh pejabat yang hendak melapor. Kelahiran putra-putranya sendiri, atau bahkan kematian selir.

Sakin tergila-gilanya pada kecantikan rembulan, kemudian dia bahkan mengumumkan lomba cipta puisi dengan tema ‘rembulan’ ke seantero negeri. Hadiahnya tak main-main. Lima pemenangnya akan diangkat sebagai pujangga istana. Segala sesuatu yang berujung pada pengangkatan sebagai pegawai istana akan selalu menjadi rebutan.

Selang satu bulan setelah pengumuman lomba puisi itu, akhirnya tiba pula hari penjurian. Bertumpuk-tumpuk puisi telah terkumpul dibawa ke hadapan Raja. Puisi-puisi pilihan akan dipilihnya—tentu saja—sambil menikmati keindahan rembulan di atas Menara Rembulan.

Alangkah terkejutnya semua orang ketika tiba-tiba saja raja turun dari menara dalam keadaan marah besar.

“Cepat, cari siapa saja penulis puisi ini, lalu hadapkan kepadaku!”

Orang-orang bertanya-tanya. Suasana menjadi tegang lantaran tiba-tiba raja akan menjatuhkan hukuman mati. Eksekusi dilakukan di tempat tertutup. Tak seorang pun diizinkan mendekati lokasi.

Sepuluh penulis puisi yang membuat raja marah itu diseret-seret layaknya ternak. Tubuh-tubuh yang sudah babak belur itu dipancang di tiang hukuman, menunggu keputusan raja. Sepuluh penulis puisi itu terlihat tiada gentar. Mereka membaca keras-keras puisinya betapapun tiada yang dengar.

Ketika raja datang…

“Apa yang akan kalian katakan sebelum kalian mati?” tanya raja dengan raut yang dingin. Berjalan dari satu pesakitan ke pesakitan yang lain.

“Bagaimana puisiku tak penuh darah jika seluruh anggota keluargaku telah kau bantai hanya demi ambisimu yang omong kosong itu?!” teriak seorang perempuan yang menjadi salah satu pesakitan. Dia adalah bekas permaisuri yang istananya telah diambil oleh raja kita.

“Bagaimana puisiku tak berwarna merah jika setiap hari mata dan telingaku kau suguhi dengan peperangan?” susul seorang lelaki tinggi kurus yang juga menjadi salah satu pesakitan. Dia seorang penyair yang sudah dikenal banyak orang.

“Itu bukanlah puisiku! Itu adalah bisikan ayah dan kakak lelakiku yang meninggal akibat pembangunan menara kesombongan!” Ganti seorang lelaki muda yang postur tubuhnya paling kecil di antara para pesakitan.

“Kenapa tak kau adakan lomba untuk mengambil rembulan saja, Paduka. Agar Paduka tak tersiksa keinginan sendiri,” lanjut seorang lelaki gagah. Dulunya dia adalah seorang gubernur yang dicopot lantaran menentang pembangunan Menara Rembulan.

Raja kita seolah tak terpengaruh dengan suara-suara lantang tawanannya. Dengan dingin dia lantas memerintahkan agar eksekusi lekas dijalankan.

***

Lelaki itu sudah tak sabar ingin sampai di puncak menara demi menikmati kecantikan rembulan. Setelah berbagai macam urusan yang membuat urat lehernya tegang, betapa dia ingin melupakan semua dengan pesona kecantikan rembulan.

Dia menghela napas panjang sebelum menghempaskan tubuh di atas kursi empuk. Baru saja pantatnya menemukan kenyamanannya, tiba-tiba saja telinganya mendengar suara tangisan, rintihan, dan riuh-rendah peperangan.

Dia terlonjak. Kemudian berusaha keras menyadarkan diri sendiri bahwa suara-suara itu tak ada. Tak nyata dan dia sedang berada di atas menara.

Entah bagaimana kemudian dia melihat rembulan telah berubah warna.

Penuh darah! *

 

Kalinyamatan – Jepara, 2015.

Advertisements