Cerpen Ruly R (Radar Surabaya, 12 November 2017)

Habis ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Habis ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Tubuh lelaki itu sempoyongan saat dia menghampiriku, di mana aku terbaring di tempat yang menjadi favoritku. Tangannya tiba-tiba meraba, lantas memegang tubuhku. Lebih dari memegang saja, dia meremas tubuhku yang tirus. Saat itu hampir sama dengan yang terjadi sebelumnya. Lebih tepatnya beberapa hari lalu, saat dia melakukan hal itu padaku. Tak ada kata yang sanggup keluar dari mulutku. Yang ada hanya muntahan cairan putih dari lambungku lantas ke atas, melewati kerongkongan dan akhirnya kumuntahkan.

“Sialan,” pekik lelaki itu sembari menghempaskan tubuhku dengan kasar.

Wajahnya menengok cermin yang menempel di dinding kamarku. Sejujurnya ini bukan hanya kamarku, tapi juga kamar bagi yang lain. Bagi mereka yang setiap hari mengalami nasib yang kurang lebih sama denganku. Jika aku akrab dengan tangan lelaki itu ketika dia meremas tubuhku, berbeda dengan tubuh temanku yang setiap hari selalu akrab karena bersentuhan dengan seluruh bagian di sekujur tubuh lelaki itu. Saat dia telah menanggalkan semua yang dikenakannya. Ada juga kawanku yang lain. Dialah yang paling akrab denganku. Lebih tepatnya akrab dengan cairan putih yang kumuntahkan. Bulu-bulu halus kawan satu ini yang paling kuingat, karena sesekali dia pernah menyentuh mulutku. Kawan satu ini ujung tubuhnya runcing. Lelaki itu yang meruncingkan bagian tubuh kawanku, dengan maksud apa dia—lelaki itu—berbuat seperti itu aku tak tahu.

***

Lampu kamar dinyalakan oleh seorang perempuan yang wajahnya sudah tak asing bagiku, karena saban hari perempuan itu juga nyelonong ke kamarku. Perempuan itu tak jauh beda dengan si lelaki tadi, hobi meremas tubuhku setiap hari.

“Mas, ini habis, ya?” teriak si perempuan dari kamar.

Tubuhku erat di genggamnya.

“Apanya?” sahut si lelaki.

Perempuan itu mengangkat tubuhku. Mataku bertemu dengan mata si lelaki yang sering meremas tubuhku, saat si perempuan mengangkat dan menunjukkan tubuhku kepadanya. Kulihat lelaki itu sedang berbaring. Kepalanya disandarkan pada bantal yang sarungnya berwarna putih dengan motif bunga apa entah aku tak tahu namanya. Kakinya tertutupi selimut yang menurutku cukup tebal. Tangan lelaki itu lekat dengan sebuah majalah yang covernya bergambar gajah.

“Ya. Kalau memang habis, gantilah dengan yang baru.”

Ucapan lelaki itu masuk ke dalam telingaku. Kata-katanya seakan menjadi belati yang menghunus ulu hatiku. Kupikir jelas. Aku akan diusir dari kamar, digantikan saudaraku yang lain. Yang pada mulanya gemuk sama sepertiku dulu, lantas kurus dan akan dibuang sepertiku juga.

Aku terkadang berpikir bahwa kehidupan memang hanya pengulangan. Terus menerus, terus menerus, terus menerus.

“Ganti, ganti. Hanya itu yang kamu tahu, Mas. Seperti itu juga butuh duit.”

“Apa maksudmu?” Mata lelaki itu merah dibakar marah.

“Jelas. Setiap hari aku bekerja, sementara kau yang berstatus sebagai kepala keluarga hanya diam di rumah.”

“Coba kau ulangi perkataanmu barusan.” Bentak si lelaki pada perempuan itu, yang tak lain istrinya. Tubuhnya sempat diangkat sedikit dari baringnya seakan tubuh itu ingin meloncat tak beda dengan bola matanya.

“Sudahlah, Mas. Aku malas debat denganmu. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan setelah ini.” Perempuan itu masih memegang tubuhku saat kakinya melangkah kembali ke kamarku yang tak jauh dari kamar tidurnya. Ya, kamarku dan kamar perempuan itu masih satu petak dalam rumah kontrakan. Kamar yang kugunakan lebih identik dengan segala kotor. Kecoa lebih sering tinggal di kamarku, sementara kamar si lelaki dan perempuan itu tadi kulihat lebih rapi dan baunya harum.

Debat yang terjadi di antara sepasang suami istri itu baru pertama kulihat, meski bukan yang pertama kali terdengar olehku. Bahkan sejak awal kedatanganku di rumah ini dan aku ditempatkan di kamarku, perdebatan yang hampir sama selalu terjadi. Jika boleh kutafsirkan, perkara yang memicu perdebatan mereka hanya hal yang sepele. Pernah sekali waktu kudengar karena remote televisi, pernah juga karena sendok, karena gelas juga pernah dan masih banyak hal sepele lain yang selalu menjadi sumbu bagi perdebatan mereka. Bagiku, hal-hal yang sepele tak perlu dibesar-besarkan dan sesuatu yang besar juga tak lantas disepelekan.

Hanya beberapa detik waktu yang dibutuhkan perempuan itu untuk sampai di dalam kamarku. Sesampainya di tempatku berbaring, dia tanggalkan segala yang dikenakannya. Salah satu kawanku mengakrabi tubuhnya sesuai dengan kehendak tangan perempuan itu.

Pada mulanya bagian tangan perempuan itu yang diakrabi oleh kawanku, baik kanan dan kiri. Lalu, pada bagian ketiak, pada punggung, pada perut, payudara lantas leher. Setelah rampung pada leher, dia taruh tubuh kawanku. Tangan kanannya mengambil kawanku yang lain. Air membasuh tubuh perempuan itu. Kawanku yang tubuhnya tadi diletakan oleh perempuan itu kembali diambil oleh tangan kanannya. Dia meliukan kawanku dari ujung kakinya, lalu pada betis naik lagi ke paha lalu naik ke selangkangannya. Cukup lama kawanku mengakrabi selangkangan perempuan itu. Lalu air kembali membasuh tubuh perempuan itu sesuai kehendaknya.

Kupikir lama juga perempuan itu bermain dengan kawan-kawanku. Rasa bahagia datang karena hal itu, mungkin kebahagiaan datang ketika kita bisa menyadari diri kita. Aku sadar, tubuhku tak akan menarik lagi bagi si perempuan itu. Tubuhku juga tak akan menarik bagi suami perempuan itu, yang menurutku dia selalu menjaga kebersihan mulutnya. Mungkin saja aku besok akan diusir dari kamar, aku sepenuhnya ingat ketika dalam perdebatan lelaki itu menghendaki agar aku diganti. Perempuan itu pun sama. Buktinya tubuhku tak diremasnya lagi. Jangankan untuk meremasku. Di kamarku saja, tangannya enggan untuk menyentuhku tubuhku lagi.

***

“Kenapa kau datang ke sini?”

“Apa?”

“Bagaimana jika istriku tahu?”

“Aku ingin kau menikahiku.”

“Tidak mungkin. Aku masih punya istri.”

“Bukankah kau dulu janji untuk menikahiku?”

“Bagaimana mungkin?”

“Kau yang dulu bilang begitu. Saat kau akrab dengan tubuhku.”

“Hah.”

Perdebatan itu kudengar ketika cahaya matahari menerobos masuk kamar lewat jendela yang melekat di atas tempatku berbaring. Namun, aku merasakan ada yang aneh dari perdebatan itu. Suara perempuan yang kali ini berdebat bukanlah suara yang biasa kudengar selama aku tinggal di kamar ini.

Lelaki itu dengan raut muka yang merah padam memasuki kamar, pintu kamar tak dia tutup ketika dia sudah ada di dalam. Matanya tajam menatap dirinya sendiri dalam cermin setelah dia membasuh mukanya. Tiba-tiba seorang perempuan yang berbaju merah, tak kalah dari merah gincu yang lengket di bibir tipisnya masuk ke kamarku, menyusul lelaki itu. Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan lain masuk ke kamarku. Pipinya putih dan mulus, rambutnya berombak. Sedikit ke bawah, dadanya tampak sedikit menonjol. Dada yang menonjol itu menempel pada punggung si laki-laki. Tangan perempuan itu memeluk erat dari belakang. Mulutnya lirih mengucap, “Kau akan menikahiku bukan?”

Si lelaki diam tak menjawab tanya dari perempuan itu.

“Kau dulu janji begitu, Mas. Aku menginginkan bersetubuh denganmu, karena kupikir kau konsekuen dengan ucapanmu.”

Si lelaki masih saja diam. Raut mukanya menandakan ada beban berat yang hinggap di pikirannya.

“Kenapa kau diam saja, Mas? Atau memang kau dulu hanya menginginkan tubuhku? Jika memang itu yang kau mau maka ….”

“Atau apa?” bentak si lelaki sebelum perempuan itu menandaskan apa yang ingin dia ucapkan.

Tangan si perempuan semakin erat mencengkeram tubuh si lelaki.

“Atau kuadukan tentang perselingkuhan kita pada istrimu,” bisik si perempuan itu.

Tubuh lelaki itu berontak. Si perempuan terhempas dan jatuh di lantai kamar. Sebelum perempuan itu sempat berdiri, si lelaki menancapkan bagian bawah tubuh kawanku yang runcing pada dada kiri perempuan itu sembari memekik, ”Jahanam”.

Kusaksikan merah darah mengalir segar di lantai kamar. Aku hanya bisa diam, mulutku tak bisa untuk mengucap sepatah kata. Jangankan untuk itu, cairan putih yang biasa akrab kumuntahkan saja tidak bisa keluar lagi dari mulutku. (*)

 

Penulis aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning.

Advertisements