Cerpen Dadang Ari Murtono (Haluan, 12 November 2017)

Dalam Dirinya Ada Seekor Burung ilustrasi Haluan.jpg
Dalam Dirinya Ada Seekor Burung ilustrasi Haluan

Di hadapan cermin itu ia membayangkan tubuhnya—yang adalah cangkang telur belaka—retak, untuk kemudian benar-benar pecah. Retakan itu mungkin akan dimulai dari perutnya yang kerap terasa panas dan menggelegak, membuatnya merintih kesakitan dan berguling-guling dalam kamar penjaranya. Retakan itu, selanjutnya, merambat ke dadanya. Bersamaan dengan itu, jalur retakan lain juga memanjang ke bawah, menuju telapak kakinya, membentuk percabangan tepat di selangkangan. Barangkali ia akan menjerit, tapi ia berjanji akan lirih saja. Ia capek berteriak. Dan setiap kali berteriak, ia tahu—setahu-tahunya bahwa para penjaganya—dua orang—akan membuka pintu kamar penjaranya, meringkusnya menggunakan tangan-tangan kekar mereka, mengikatnya dengan sabuk-sabuk lebar berwarna putih yang tak pernah mampu ia putuskan, tak peduli seberapa keras ia berusaha.

Retakan itu, pada akhirnya, akan sampai pula pada batok kepalanya. Awalnya, garis-garis hijau akan muncul di sana, mengikuti pola urat-uratnya. Semakin lama, warna-warna hijau itu akan semakin matang hingga mendekati warna hitam. Hitam yang pekat. Hitam yang nyaris merupa cahaya. Cahaya hitam. Apakah cahaya bisa berwujud hitam? Ia tidak yakin, tapi mungkin saja. Apa yang tidak mungkin di dunia ini? Ia pernah mengalami hal-hal yang seakan tak masuk akal. Dulu sekali, ia mengira bahwa dirinya manusia seperti kebanyakan manusia lainnya. Manusia yang tubuhnya menyimpan jeroan dan sampah hasil pencernaan. Namun ia keliru. Suatu malam, ia bermimpi seekor burung berwarna hitam dan bermata merah dan berjambul putih dan berkaki kuning terbang berputar-putar di atas dirinya. Ia sedang berada di sehamparan padang rumput. Sejauh mata memandang, hanya rumput tak bertepi. Tak ada batu. Tak ada semak. Tak ada pepohonan. Hanya rumput dalam kawasan D terbuka. Sebuah dunia yang mau tak mau, mempertimbangkan tipografinya, melambangkan kemerdekaan yang absolut, kebebasan mutlak. Langit cerah dan tak ada awan. Burung itu entah datang dari mana. Ia seperti begitu saja muncul dari kehampaan. Lalu terbang berputar-putar. Awalnya, ia mengira burung itu adalah gagak. Namun, melihat ukurannya yang lebih besar dari elang, dan jambulnya yang putih terang, ia segera sadar bahwa anggapannya keliru. Itu adalah burung yang tidak ada di dunia nyata. Atau setidaknya, belum dikenal oleh zoologi. Ia mendongak. Burung itu berkaok keras, begitu keras sehingga seolah langit terbelah dan bumi bergoyang karenanya. Kaokan itu semakin menegaskan keyakinannya bahwa burung itu bukanlah gagak. Suara kaokannya mirip sekali dengan lenguh gajah yang tengah birahi. Ia pernah melihat gajah yang sedang birahi, suatu hari beberapa tahun yang lalu, di taman safari.

Kehadiran burung misterius itu membuatnya takjub. Ia mendongak dan melongo. Dan tepat pada waktu itulah, si burung meluncur dengan kecepatan yang tidak terukur, menuju jitu ke liang mulutnya yang terbuka. Reflek, ia berteriak dan menutup mulut. Namun terlambat. Burung itu, yang sesungguhnya tampak mustahil bisa masuk ke dalam mulutnya mengingat ukurannya yang sebegitu, ternyata bisa masuk dengan gampang. Ia merasa pergerakan burung itu sedikit terhambat di tenggorokannya. Ia batuk-batuk. Lalu setelahnya, burung itu telah benar-benar berada dalam dirinya.

Di kemudian hari, ia meyakini bahwa pada waktu itu pula, dua raksasa jahat memasuki tubuh kedua orang tuanya. Ia tidak ngawur ketika sampai pada kesimpulan semacam itu. Tiga hari setelah mimpi tersebut, ia mulai merasa bahwa perutnya bergolak. Awalnya, ia mengira itu hanyalah efek akibat konsumsi cabe yang terlalu banyak. Namun tidak. Di dalam kamar kecil, ia mendengar suara kaok burung hitam dalam mimpinya, kaok yang serupa lenguh gajah birahi. Ia mendongak, mencari-cari burung itu. Namun langit-langit kamar mandi tetap langit-langit kamar mandi. Sebuah lampu lima watt menggantung di internit yang dicat putih. Di sudut, ada laba-laba yang tengah merajut sarang. Dan tak ada seekor burung hitam berjambul putih bermata merah dan berkaki kuning yang terbang berputar-putar. Ia masih mendengar suara kaok tersebut. Dan perutnya terus bergolak. Ia mencoba mendengar lebih seksama. Dan ia menyadari bahwa sumber suara itu ternyata dari dalam dirinya belaka.

Terengah-engah ia keluar dari kamar kecil. Ia terkapar di kamarnya dan tak bangun selama tiga hari. Sejak itu, ia lebih sering merasa perutnya bergolak dan burung dalam dirinya berkaok keras. Burung itu seakan hendak keluar dari sana, namun tak tahu caranya. Berkali-kali ia membuka mulutnya lebar-lebar, memberi akses bagi burung itu. Namun burung itu tidak melesat dari sana dan meninggalkan tubuhnya. Seiring waktu, akhirnya ia menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi sebutir telur belaka, cangkang bagi seekor burung yang berhabitat asli dalam mimpi untuk menerabas ke dunia nyata. Satu-satunya cara agar burung itu keluar, tidak bisa tidak, adalah bila dirinya, yang tak lain semata cangkang, pecah.

Seiring dengan timbulnya kesadaran itu, golakan yang berpusat di perutnya kian menjadi-jadi. Ia mulai tak tahan untuk tidak berteriak-teriak. Ia meracaukan perihal burung tersebut. Dan orang tuanya mulai menunjukkan watak asli dari raksasa yang telah menguasai mereka. Mereka membawanya ke dokter. Dan dokter mengatakan bahwa tidak ada masalah apa-apa dengannya. Sementara itu, burung dalam dirinya lebih sering berontak. Seolah waktu untuk menetas semakin dekat. Dan ketika waktuwaktu semacam itu tiba, ia mengalami tantrum yang luar biasa dahsyat. Ia bisa tiba-tiba berguling dan mengamuk dan meracau di mall, di masjid, di pasar, di mana saja. Itulah saat dua raksasa tersebut, tanpa malu-malu, merobek tubuh kedua orang tuanya, menampakkan wujud asli mereka yang buas dan mengerikan, dan menyekapnya dalam kamar sempit ini.

Ia tak lagi bisa keluar dari kamar itu.

Dan setiap kali ia berteriak, dua raksasa penjaga itu akan menghambur, meringkusnya, mengikatnya dengan sabuk-sabuk lebar berwarna putih yang kuat.

Di hadapan cermin itu, kini, ia membayangkan tubuhnya retak, lalu pecah. Dan seekor burung berwarna hitam terbang. Ia tidak tahu apakah bila itu terjadi, maka ia akan mati. Ataukah ia akan meneruskan hidup dalam diri burung hitam itu. Ia tidak tahu apakah sebutir telur ayam yang menetas itu mati. Ataukah telur tersebut meneruskan hidup dalam diri seekor anak ayam. Ini pengalaman pertamanya sebagai telur. Ia, tidak bisa tidak, adalah sebutir telur amatiran.

Satu hal yang ia tahu, ia tidak boleh berteriak ketika itu terjadi. Bila ia berteriak, maka kedua raksasa itu akan menghambur masuk. Dan sabuk-sabuk mereka, mungkin saja akan merekatkan kembali retakan-retakan tubuhnya. Dan itu akan memperlambat proses penetasan burung hitam berjambul putih bermata merah dan berkaki kuning dalam dirinya.

Ia memandang wajahnya. Pucat seperti mayat. Pasti efek kurangnya paparan sinar matahari yang ia terima. Ia meraba wajahnya. Dan ia menyadari bahwa kuku-kuku tangannya telah tumbuh begitu panjang. Tiba-tiba, ia mendapatkan ide itu.

“Bila tubuhku tidak segera retak, maka aku akan membantunya,” gumamnya. Ia, dengan gemetar, menancapkan kuku-kuku itu di perutnya. Ia bermaksud mengupas dirinya sendiri.

“Kemerdekaan yang sesungguhnya memang menyakitkan,” ia mencoba menghibur diri sendiri ketika ia merasa sakit yang teramat bersamaan dengan tetes darah pertama yang merembes.

 

DADANG ARI MURTONO, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Advertisements