Cerpen Bamby Cahyadi (Tribun Jabar, 12 November 2017)

Ars Longa, Vita Brevis ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Ars Longa, Vita Brevis ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

ARS longa, vita brevis. Itu kalimat yang meluncur dari mulut ayahku ketika ia bertengkar sengit dengan ibuku.

Ayahku mengundurkan diri dari restoran cepat saji terbesar di jagat ini ketika usiaku 6 bulan. Ketika itu ayahku menyatakan berhenti bekerja dari perusahaan waralaba restoran cepat saji itu dengan haru-biru. Konon kabarnya ia menangis tersedu-sedu saat menyerahkan sehelai surat pengunduran diri kepada atasannya. Tentu saja ia menangis, bayangkan, ia bekerja di restoran itu genap 16 tahun, waktu yang tidak boleh dikatakan singkat. Sebab apa? Apabila ia— maksudku waktu 16 tahun itu seorang bocah laki-laki—mungkin kini ia sudah ahli merancap bahkan bisa saja ia menghamili anak gadis orang. Ya, itu bisa-bisanya aku saja.

Ayahku tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi bagian dari perusahaan yang begitu terkenal dan mendunia yang papan-papan iklannya bisa kita saksikan di layar televisi ketika ada pertandingan sepak bola level benua, bahkan dunia, misalnya Piala Eropa, Piala Dunia, atau Olimpiade dihelat. Betul sekali, perusahaan ayahku selalu menjadi sponsor utama perhelatan olahraga itu. Membanggakan tentunya. Sayangnya, saat itu aku belum lahir. Tapi tidak apa-apa, bukan soal besar bagiku. Karena aneka pernak-pernik dari restoran cepat saji itu kini menjadi mainan milikku, mulai dari boneka Hello Kitty, Kungfu Panda, Snoopy hingga karakter Ronald yang semuanya suplemen dari menu Happy Meal.

Semula ayahku bercita-cita menjadi wartawan meski ia jebolan Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Hmm, agak aneh juga. Tapi memang ia itu ayah yang aneh pada kenyataannya. Harap bersabar mengenai cerita perilaku aneh ayahku. Bagian ini baru prolog. Kalaupun aku tak ceritakan karena tulisan ini telah menjadi sebuah cerpen. O ya, ayahku kini bekerja di sebuah restoran cepat saji yang lain yang tak sebesar yang pertama.

Ayahku sarjana ekonomi, tapi keinginan terbesarnya bekerja menjadi jurnalis. Ia pun menyelesaikan kuliahnya terlambat setahun lantaran ia terlalu asyik jadi aktivis mahasiswa. Kudengar cerita masa mahasiswanya yang heroik dari obrolan dengan ibuku, ketika itu ia memang suka menulis dan aktif bergiat di unit pers mahasiswa di kampusnya. Bahkan ia pernah menjadi ketua senat mahasiswa, ia aktivis dan tukang demo. Semakin menarik, bukan? Padahal kita tahu menjadi aktivis mahasiswa di zaman rezim Soeharto sangatlah pelik untuk tidak dikatakan sulit.

“Aih, aku ingin sekali bercerita tentang masa muda ayahku, tentu yang kuketahui dari ibuku, dan langsung dari sumbernya, ayahku,” seruku kegirangan sendiri.

Kucing-kucing si Farel, tetanggaku, yang semula anteng terkantuk-kantuk saling peluk dan garuk-garuk bulu di depan teras rumahku mendadak terbangun dan mengeong. “Sabar, ya, Mpus!” kataku pada kucing-kucing itu setengah berbisik, separuhnya lagi menghardik. Kucing-kucing Farel beranjak pergi berhamburan sambil mengibas-ibas ekor mereka, melirikku dengan benci.

Namun ada yang mengganjalku. Apabila aku yang bercerita, tentu cerita ini akan bertutur dengan naratornya aku sebagai “Aku”, aku yang sebagai sudut pandang orang pertama. Hal ini tentu tidak adil, aku hanya akan menyerupai Haruki Murakami yang serbatahu dalam novel-novelnya. Lagi pula, saat ini aku akan berulang tahun yang ke-6 di bulan Oktober nanti. Jadi tak mengapa aku menjadi bocah sok tahu untuk sementara waktu.

Namun, setelah kupikir-pikir, tak jadi perihal luar biasa dan merepotkan bagiku, bahkan aku pernah dengar ada cerita yang diceritakan oleh seekor monyet, anjing, babi, kecoak bahkan sebuah benda mati sekalipun sebagai orang pertama yang bertutur. Dengan begitu, hal itu memberikan peluang bagiku untuk bercerita tentang ayahku saat ia masih belia, atau siapa saja yang terlibat dalam kisáh ayahku. Mungkin, atau bisa jadi, Anda juga akan terlibat dalam cerita ini. Seru, bukan?

Iya, ya ya. Aku sudah menduga, kalian akan mengatakan secara lugas bahwa aku anak kecil sok tahu, anak kecil yang terlalu banyak berkhayal, imajinatif, maniak fantasi, dan sekadar berbual. Bukankah hal itu ciri khas anak kecil sekali untuk tidak menuliskannya banget. Dan sudah kukatakan pada paragraf sebelumnya. Hal ini membuatku terkikik.

Sebentar.

Hari ini masih pagi, hari Minggu. Ayah dan ibuku masih tidur ketika ayam jantan peliharaan Pak Tohir, bapaknya si Farel, berkokok lima belas kali. Aku sangat tak paham, mengapa ayam Pak T’ohir itu selalu berkokok lima belas kali, tak kurang pun tak lebih. Padahal, apabila patokan hitungan adalah jam, seharusnya ayam itu berkokok 12 kali sesuai angka pada jam, angka 1 hingga 12. Atau 24 kali, sesuai hitungan dalam 1 hari terdiri atas 24 jam. Bisa juga 7 kali, secara simbolik bahwa 7 kali merupakan jumlah hari itu dalam 1 minggu dengan sebutan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ya, hari ini hari Minggu, hari ke-7. Seharusnya ayam Pak Tohir berkokok cukup 7 kali pertanda ini hari, hari Minggu. Kulihat jarum pendek pada jam dinding menunjukkan angka 8. Bolehlah juga setelah ayam itu berkokok 7 kali, lantas menyambungnya dengan berkokok sebanyak 8 kali pertanda jam saat ini. Lho? Ya ampun! Bukankah secara matematis kokok ayam 15 kali tadi sudah menerjemahkan hari ke-7 dan tepat pukul 8 pagi ini. Betapa tololnya aku ini. Tapi, maklumlah aku kan hanya anak kecil.

“Koran-koran!”

Di depan pagar, Pak Badiru loper koran langganan ayahku sudah berdiri. Sepeda ia sandarkan pada sisi pagar yang lain. Agak terlalu mainstream loper koran selalu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, tapi kenyataannya demikian. Seperti seorang pacar yang menerima surat dari sang kekasih, aku berhambur ke arah pagar dengan mata berbinar-binar.

“Dek, bapakmu masih tidur, ya?” tanya Pak Badiru.

“Iya, Pak, biasaaa!” jawabku singkat dengan tarikan panjang pada kata biasa.

“Ini Kompas Minggu, ini Jawa Pos, ini Media Indonesia, ini Pikiran Rakyat, dan ini Nova… eh, ada Tribun Jabar, nih!” ujar Pak Badiru sambil mengangsur lima buah koran dan sebuah tabloid ke tanganku.

“Lho, koran Republika-nya mannaaaa?” sergahku dengan tarikan panjang pada kata mana.

“Astaga. Saya lupa bawanya, Dek!” Pak Badiru menepok jidatnya sendiri.

“Huh, dasar pikun!” gerutuku. Tentu dalam hati, tak sopan menghardik orang tua seperti Pak Badiru dengan suara lantang seperti toa masjid yang beberapa bulan lalu di Tanjung Balai dijadikan alat provokasi untuk membuat kerusuhan.

“Nanti siang saya ke sini lagi, ya, bilang ke bapakmu,” kata Pak Badiru seraya menaiki sepedanya.

“Oke, bos!” sahutku.

Sebenarnya Pak Badiru setiap hari Sabtu juga datang mengantar koran ke rumahku, ia mengantar Koran Tempo edisi Akhir Pekan dan Kompas edisi hari Sabtu. Ia hanya datang pada hari Sabtu dan Minggu, hari lain tidak.

Aku membawa koran-koran dan tabloid itu ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja tamu, sembari tanganku meraih remote televisi mencari saluran acara televisi kesukaanku Upin-Ipin, hore!

Nanti saat ayahku bangun, pastinya hal pertama dan utama yang ia lakukan adalah membuka halaman koran lembar demi lembar dengan antusias, lalu pada halaman tertentu ia akan berhenti, ia melumat isi lembar koran pada tangannya dengan bersemangat, lantas ia membuka halaman koran yang lain, berhenti pada halaman tertentu, dan semua koran yang ada ia begitukan. Setelah itu bergegas ia mengambil laptop, menyalakannya dan mengaktifkan koneksi internet, lantas ia larut dengan laptopnya, entah apa yang ia lakukan. Mungkin ia menemukan lowongan pekerjaan yang diiklankan di koran-koran itu lalu ia membuat surel lamaran pekerjaan.

Itu dugaanku. Aku tidak begitu yakin apa aktivitasnya.

Kembali ke suasana rumahku saat ini.

Ayah dan Ibu sudah bangun. Hal pertama yang dilakukan Ayah seperti yáng telah kuutarakan tadi. Ibuku membereskan rumah, lantas beberapa saat kemudian… mereka sudah mandi.

Aku melihat Ibu sedang menyisir rambutnya yang tebal dan panjang tergerai hingga ke pinggul. Ia terlihat begitu modis. Ia memandang wajahnya yang cantik dari pantulan cermin sambil bersenandung. Sesekali ia mengerlingkan matanya pada cermin itu. Wajahnya telah ia pulas dengan bedak dan bibirnya telah ia poles dengan lipstik merah cerah. Ia terlihat begitu narsis. Entah apa yang ada di benaknya saat ini. Kini ia memperhatikan tatanan riasan wajahnya, membetulkannya sedikit, memastikan semuanya sudah terlihat sempuma. Cantik. Pantas saja ayahku jatuh cinta padanya.

Aku lihat Ayah mendekati Ibu. Ada perihal penting rupanya yang akan Ayah sampaikan hari ini pada ibuku. Ketika hal itu Ayah sampaikan, ibuku terperangah dan hampir saja terjerembap ke lantai, untung ia masih sempal bersandar pada kusen pintu kamar. Ketika aku dengar, Ayah mengatakan bahwa ia mengundurkan diri lagi dari tempatnya bekerja. Ibuku buru-buru menguasai dirinya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya melalui mulutnya seperti saat ia melahirkanku, dulu. Ibuku berupaya mencerna perkataan Ayah, lantas ia memandang wajah Ayah dengan mata menyipit. Dahi ibuku mengerenyit membuat semacam tanda tanya besar di dahinya.

“Ya, aku berhenti bekerja lagi,” kata ayahku berupaya menjawab kerenyitan Ibu. “Ini bagian dari resolusiku tahun 2017!” lanjut Ayah mantap.

“Mau jadi apa kamu kalau tidak kerja?” tanya ibuku dengan ketus.

“Aku memutuskan untuk menjadi penulis saja, menulis cerpen dan novel,” jawab ayahku datar. “Seperti yang sudah kulakukan saat ini,” ujar ayah melanjutkan perkataannya lagi.

“Mau makan apa kita?”

Ars longa, vita brevis!” jawab ayah tegas.

Suara ibuku tiba-tiba melengking lantas menggelegar bagai gemuruh guntur di langit kelam dan siap menghancurkan plafon rumah kami yang mendadak berderak-derak.

“Koran, koran, Republika-nya udah ada, nih!” Suara Pak Badiru mengheningkan sejenak suasana panas yang mencemaskan ini.

Ayah juga pernah berkata, untuk merasakan sepi datanglah ke keramaian. Lihatlah betapa kerumunan orang-orang hanya serupa gumpalan awan yang siap lenyap ketika angin berembus.

Tapi mengapa ibuku berkata dengan nada sangat tinggi, “Mau makan apa kita?”, ketika ayahku bilang ia mau menjadi penulis saja? Sebagai anak kecil, bagian inilah yang tak kumengerti, maka kusudahi saja cerita ini.

 

Catatan:

– Saat ini Koran Tempo yang memiliki rubrik cerpen dan puisi terbit di hari Sabtu dan Kompas mengubah konsep pemuatan puisi pada hari Sabtu dan cerpen pada hari Minggu.

Ars longa, vita brevis adalah frasa latin yang berarti Seni itu panjang, sedangkan hidup itu pendek.

 

Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Menulis cerpen untuk sejumlah koran, tabloid, dan majalah. Buku kumpulan cerpen terbarunya Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Desember, 2016).

Advertisements