Cerpen Agit Yogi Subandi (Lampung Post, 05 November 2017)

Warisan Antoni ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Warisan Antoni ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

“SERATUS hektare tanah kebun kelapa sawit dan uang sebesar Rp 500 juta untuk perawatan kebun tersebut selama dua bulan ke depan,” ucap Notaris Kadarsyah jelas dan lantang. “Dan ini uang dan surat-menyurat yang berkaitan dengan tanah dan kebun tersebut.”

Antoni terdiam lalu tertawa kecil saat melihat amplop berisi uang serta berkas-berkas di dalam kardus di depannya.

“Ini benar-benar aneh dan tidak masuk akal,” dia mencoba menjelaskan. “Jika jumlah uang itu dua miliar, seseorang bisa membeli mobil, pergi berlibur ke pantai atau berbelanja di sebuah kota dan berinvestasi di reksadana. Uang sejumlah itu membuat orang banyak berpikir menggunakannya.”

“Kan, kamu sudah mendengar sendiri, apa yang sudah diwasiatkan paman kamu,” lanjut Notaris Kadarsyah dengan nada yang lebih berwibawa. “Saya sebenarnya kurang yakin, apakah kamu memperhatikan detail-detail dari apa yang saya bacakan tadi, tapi saya harus mengingatkan kamu satu hal inti dari wasiat ini. Kamu diharuskan memberikan kami catatan atas penggunaan uang itu, dan haruslah digunakan untuk perawatan kebun-kebun tersebut. Begitulah keinginan dari wasiat tersebut. Saya yakin kamu bisa mengikuti kehendak Bapak Tamrin Ilhamsyah almarhum, paman kamu.”

“Bapak dapat memercayai saya,” kata Antoni, dengan nada sopan.

“Meskipun merawat kebun yang sudah bertahun-tahun tidak diurus itu, membutuhkan biaya lebih dari apa yang diberikan, dan saya sangat tidak pandai dalam hal ini.”

Antoni pergi ke sebuah warung menemui Nasrudin, yang biasa ia panggil Angkel Nas.

Nasrudin seorangyang kalem, usianya sekitar lima puluh tahun dan orang-orang menemuinya kalau ada perlu saja. Dia selalu berada di sudut warung itu, membaca koran dan ketika melihat Antoni mendekat, ia langsung melengos dan melenguh, melipat korannya dan mengangkat gelas kopinya kemudian meneguknya sedikit.

“Angkel Nas,” kata Antoni sambil memegang gelas kopinya.

Angkel Nas melihat ke arah Antoni dan menaikkan alisnya lalu kembali meminum kopinya kembali, sedikit. “Apa cerita?” tanya Angkel Nas.

“Aduh, ini sungguh cerita yang aneh.”

“Saya harap kamu menceritakan cerita kamu itu ke teman-temanmu, bukan ke saya.” ujar Nasrudin. “Cerita kamu itu aneh-aneh.”

“Ini lebih aneh dari biasanya,” Antoni mengambil pisang goreng di meja. “Dan Angkel saya harus ceritakan ini kepada Angkel. Terlalu sedih dan sekaligus tidak masuk akal. Saya baru saja dari kantor notaris yang memegang surat wasiat dari paman saya yang sudah meninggal. Saya diwariskan olehnya 100 hektare tanah kebun kelapa sawit dan sejumlah uang sebesar Rp 500 juta untuk perawatan kebun tersebut selama dua bulan ke depan. Sekarang saya kebingungan dengan warisan ini. Apa yang dilakukan seseorang dengan warisan semacam ini?”

“Oh, pamanmu itu,” tukas Nasrudin, sedikit terperangah mendengar cerita Antoni, bagai seseorang yang sedang mengunyah nasi dan tiba-tiba giginya tak sengaja menggigit batu. “Orang kaya namun meninggalkan sesuatu yang agak tidak masuk akal.”

“Betul sekali, Angkel Nas,” Antoni sepakat sekali dengan pendapat Nasrudin. “Dan di sinilah letak keanehannya lagi ia meninggalkan kekayaannya untuk seekor kutu. Justru. warisan yang sedikit dan remeh diberikan kepada pembantunya yang sudah lama menetap di rumahnya, berupa lemari pakaian dan uang satu juta. Keponakannya ini mendapatkan warisan yang cukup besar untuk kuhambur-hamburkan.”

“Kamu memang beruntung, punya sesuatu untuk dihamburkan.” Nasrudin menggelengkan kepalanya.

“Banyak sekali, Angkel,” sahut Antoni sambil terkekeh. “Paman saya itu seorang dermawan selama uang itu berkaitan dengan uang jajan.”

“Apakah paman kamu itu punya ahli waris yang lain?” tanya Nasrudin.

“Sepertinya tidak ada,” tukas Antoni sambil memiringkan kepalanya ke kiri dan memutar bola matanya ke kanan atas, lalu memukul pelan meja dengan telapak tangan. “Seharusnya Salbiah, anak angkat paman saya itu. Dia seorang gadis yang baik dan tenang dan tekun belajar dan juga rajin. Ia anak dari keluarga yang kurang beruntung yang dijadikan anak angkat pamanku untuk mengurusnya. Saya lupa mengatakan kalau Salbiah ini merupakan bagian dari keanehan ini. Saya bisa menyerahkan segala urusan semacam ini kepada dia. Tolonglah, Angkel Nas, katakan pada saya, apa yang seharusnya saya lakukan dengan warisan ini?”

Nasrudin mengusap wajahnya yang sedikit mengantuk dan sedikit tersenyum. Ketika Nasrudin sedikit tersenyum itu, Antoni mengerti bahwa ia bermaksud lebih mengejek kelakuannya itu.

“Warisan itu,” katanya sambil menghela nafas. “Sebenarnya itu sesuatu yang banyak. Karena dengan warisan itu, orang bisa tinggal duduk dan menghabiskan semuanya dan menertawakan orang-orang yang mencari uang setiap hari hingga lupa kepada keluarganya tapi tidak menjadikan orang itu kaya. Uang Rp 500 juta dan 100 hektare kebun kelapa sawit, mungkin kamu bisa kredit kendaraan roda empat atau kamu bisa memberi makan anak yatim piatu sepertimu, atau kalau kamu tidak mau pusing, kamu bisa pergi ke sebuah toko pakaian dan membeli pakaian yang bermerek.”

“Ah, kamu berpikir seperti orang kebanyakan, Angkel Nas,” kata Antoni, sedikit tenang. “Saya minta pendapat Angkel Nas untuk membantu saya berpikir menyelesaikan persoalan ini.”

“Kamu ini,” ujar Nasrudin sambil tertawa meremehkan. “Mengapa, Ton, cuma satu hal yang masuk akal untuk bisa kamu lakukan, belikan saja janda yang selalu kau ajak kemari itu, si biduan, Mala, dengan mas kawin 10 atau 20 gram emas, supaya ia mau kawin denganmu. Setelah itu, kalian berdua merawat kebun tersebut bersama-sama. Mudah kan?”

“Baiklah, terima kasih kalau begitu,” Antoni bangun dari duduknya.

Antoni pergi dan memanggil tukang ojek dan berkata: “Studio Monata Electone.”

Mala sedang menunggu giliran untuk berlatih bernyanyi di studio, hampir siap untuk tiba gilirannya memasuki studio, ketika penjaga studio mengatakan kepadanya, bahwa Antoni mencarinya.

“Biarkan ia kemari,” ujar Mala. “Sekarang apa lagi Bang Anton, Mala mau latihan sebentar lagi.”

“Abang hiasi jari Mala dengan cincin ya,” ujar Antoni memberi saran yang merayu. “Hmmm, pasti lebih terlihat manis dan cantik. Abang sebentar saja, kok. Bagaimana pendapat kamu? Aku bisa membelikanmu besok lalu kita akan menikah. Bagaimana, kamu mau?”

“Wah, Abang baik sekali, mau melamar Mala,” kata Mala sambil senyum simpul. “Mana teks lagu untuk latihan, Supri?” Lalu melihat ke Antoni. “Bagaimana, Bang, kemarin Dona dapat mas kawin yang bertebaran ke jari, tangan, dan lehernya, dan belum lagi ditambah dengan sebuah mobil baru keluaran terbaru,” kemudian Mala meminta penjaga studio. “Talong ambikan tas saya di ruang operator, dong Supri.”

“Ayo, Mala, giliran kamu beriatih,” kata temannya yang baru selesai berlatih.

Antoni berjalan lemas keluar studio menuju tukang ojek yang telah menunggunya di luar. Beberapa kecamatan di kota yang diberi lambang tugu Payan Mas itu terlewati. Antoni menghentikan tukang ojeknya itu dan turun dari kendaraan. Seorang lelaki penjual keliling setengah baya yang membawa kursi bambu yang cukup panjang, istirahat di trotoar, mengipas-ngipas lehernya dengan handuk putih yang telah dilumuri keringat dan daki. Antoni menghampiri dan duduk di samping orang itu.

“Pak,” panggilnya. “Sudikah bapak memberitahu saya apa yang akan Bapak lakukan kalau Bapak memiliki uang Rp 500 juta dan 100 hektare kebun kelapa sawit?”

“Adek ini yang baru turun dari motor itu?” tanya bapak itu.

“Sepertinya anda bukan orang yang susah.” kata si penjual kursi keliling itu. “Bepergian dengan kendaraan roda dua itu. Saya akan masukkan ke buku ini. Lihatlah.”

Lelaki itu mengeluarkan buku tabungan dari tas pinggangnyadan menyodorkannya. Antoni membukanya, dan buku itu adalah buku tabungan dari sebuah bank. Antoni melihat jumlah tabungannya yang sudah mencapai Rp 12.725.000.

Antoni mengembalikan buku tabungan itu dan bergegas menuju tukang ojek yang sudah menantinya.

“Kita menuju kantor Notaris Kadarsyah Hasan, S.H., M.Kn, dan partner, di dekat tugu kota.”

Notaris Kadarsyah melihat Antoni dengan perasaan agak sedikit kesal, bertanya-tanya melalui matanya yang membesar itu.

“Maafkan saya, Pak.” Antoni melanjutkan. “Boleh saya bertanya? Saya harap ini masih bisa disebut sopan. Apakah Salbiah mendapatkan warisan dari paman saya, Pak?”

“Tidak,” kata Kadarsyah.

“Baiklah, terima kasih ya, Pak.” ucap Antoni lalu keluar menuju tukang ojeknya. Lantas ia memberi tahu si tukang ojek alamat rumah almarhum pamannya itu.

Salbiah sedang mencatat sesuatu di ruang teras rumah almarhum pamannya itu. Dia bertubuh ramping, tinggi dan berpakaian terusan bunga-bunga berwarna gelap. Tapi lihat mata dan bulu matanya yang lentik, Antoni sedikit mabuk karenanya dan memandang kehidupan menjadi lebih berbeda karenanya.

“Abang baru pulangdari tempat pak notaris,” jelas Antoni. “Mereka sedang memeriksa berkas-berkas yang abang bawa ini. Mereka menemukan sebuah…” Antoni mencoba mengingat-ingat tentang istilah hukum yang digunakan oleh si Pak Notaris tadi. “Mereka menemukan sebuah wasiat tambahan atau sesuatu mengenai wasiat, Buya Karim. Sepertinya Buya memikirkan kamu juga dan menginginkan kamu menerima 100 hektare kebun kelapa sawit dan uang sejumlah Rp 500 juta untuk kamu. Bapak Notaris Kadarsyah meminta abang untuk membawakan semua itu. Ini dia. Sebaiknya kamu lihat dulu dan menghitungnya untuk memastikan uang dan berkas-berkasnya.” Antoni mendekatkan surat-surat yang berkaitan dengan tanah kebun dan uang itu ke dekat tangan Salbiah.

Salbiah terkejut, “Hah!” dan sekali lagi, “Hah!”

Antoni berdiri dan mencoba duduk di tempat yang lebih jauh.

“Tentu saja,” kata Antoni dengan suara yang berpusat di dada. “Kamu tahu, Abang mencintaimu.”

“Maaf,” kata Salbiah sambil merapihkan uang dan berkas menjadi satu tumpukan.

“Apakah ini berguna untukmu?” tanya Antoni dengan nada bicara yang halus.

“Maaf,” kata Salbiah sekali lagi.

“Boleh Abang minta kertas dan pena?” pinta Antoni sambil tersenyum manis. Ia berdiri di dekat meja tempat Salbiah menulis tadi. Salbiah memberinya selembar kertas dan pena kemudian ia merapikan kembali berkas-berkas tadi.

Antony mencatat: “Telah diterima dari si Anjing Liar, Antoni Ahmad, Rp 500 juta sebagai tabungan akhirat atas perintah Allah Yang Mahakuasa kepada perempuan terlembut dan tercinta di kota yang mengerikan ini.”

Antoni memasukkan kertasnya tadi ke sebuah amplop, mengajak salaman lalu pergi.

Tukang Ojek telah membawanya lagi ke kantor Notaris Kadarsyah Hasan, S.H., M.Kn., dan partner.

“Saya telah menyelesaikan tugas yang diberikan melalui wasiat paman saya itu, Pak,” katanya sambil tersenyum kepada notaris Kadarsyah. “Dan saya kemari untuk memberikan catatan yang diminta tersebut sebagaimana yang telah Bapak bacakan dan saya setujui. Rasanya agak sedikit lega, mudah-mudahan Bapak juga merasa lega.” Antoni meletakkan selembar amplop putih ke atas meja notaris itu. “Bapak akan menemukan catatan singkat di situ, Pak, tentang cara saya mengurus segalanya.”

Tanpa menyentuh amplop yang tergeletak itu, Notaris Kadarsyah beranjak dari kursinya dan memanggil rekan kerjanya. Berbarengan mereka memeriksa sebuah kardus yang baru saja mereka keluarkan dari sebuah lemari besi. Setelah rekannya memberikan sebuah amplop besar cokelat yang masih tersegel, pencarian telah berhenti dan sekarang mereka merapikan kembali kardus itu dan memasukkannya kembali ke lemari besi. Notaris Kadarsyah membuka segel dan menarik keluar selembar kertas, lalu kemudian mengajak rekannya untuk membaca surat itu. Mereka berdua mengernyitkan dahi kemudian menggeleng-geleng setelah membaca surat itu. Lalu Notaris Kadarsyah membacakan surat itu dengan suara yang lantang dan jelas.

“Saudara Antoni,” ucapnya sedikit resmi, “Di sini kami membaca sebuah lampiran untuk saudara yang sebenarnya satu rangkaian dengan surat wasiat paman anda itu. Lampiran ini telah dikuasakan kepada kami dengan perintah untuk tidak membukanya sampai saudara memberikan catatan pengeluaran sejumlah uang yang digunakan untuk mengolah perkebunan warisan paman anda itu. Sebelumnya, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada saudara, apakah uang itu digunakan dalam kaitannya dengan perkebunan itu? Karena jika jawaban Anda adalah, ‘iya’ maka kami akan memberitahukan kepada anda mengenai isi dari lampiran ini.”

“Bagaimana saudara Antoni?” tanya Notaris kepadanya.

“Baiklah,” sambil tergugup-gugup ia menjawah, “Iya.”

“Bahwa, Anda telah memenuhi syarat pada wasiat pertama, yaitu mengurus 100 hektare kebun sawit dengan sejumlah uang sebesar Rp 500 juta, yang syarat dari dapat dibukanya lampiran ini, saudara Antoni, selaku ahli waris dari Almarhum Bapak Tamrin Ilhamsyah, patut mendapatkan imbalan. Baiklah Saudara Antoni, syarat yang kita bicarakan tadi merupakan syarat untuk diberikannya lampiran ini kepada Saudara, dan Almarhum Tamrin Ilhamsyah telah memercayakan kepada kami untuk menyerahkan surat rumah dan uang tabungan sejumlah Rp 5 miliar kepada Saudara. Namun, apabila Anda menggunakan uang yang diisyaratkan sebelumnya di wasiat, Anda gunakan sebagaimana yang pernah diisyaratkan almarhum Bapak Tamrin Ilhamsyah, seperti yang pemah Anda lakukan pada waktu yang telah lalu, maka kami akan menyerahkan lampiran ini kepada anak angkatnya, yaitu Saudari Salbiah. Sehubungan dengan hal itu, kami berhak untuk menilai catatan Anda sebelum lampiran ini kami serahkan kepada Saudara.”

Tangan Notaris Kadarsyah hendak mengambil amplop yang diberikan oleh Antoni di meja itu, tetapi, Antoni lebih cepat dari tangan notaris ketika hendak mengambilnya. Setelah Antoni mendapatkan amplop itu kembali, amplop itu dirobeknya menjadi dua dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya.

“Baiklah, bisa dimengerti,” tukas Antoni sambil tersenyum. “Jangan hiraukan hal ini, sepertinya bapak-bapak notaris ini tidak akan mengerti perincian yang saya berikan. Selamat sore bapak-bapak sekalian.”

Bapak-bapak notaris itu sedikit kesal dan mulai menggeleng-gelengkan kepala, mereka lebih terlihat sedih dan bersalah, namun Antoni melangkah keluar dengan langkah lebih mantap dari sebelumnya.

 

Agit Yogi Subandi, bergiat seni di Komunitas Berkat Yakin (KoBer), Lampung. Tinggal di Bandar Lampung.

Advertisements