Cerpen Arsyad Salam (Padang Ekspres, 05 November 2017)

Suamiku Ingin Mati di Wawonii ilustrasi Padang Ekspres.jpg
Suamiku Ingin Mati di Wawonii ilustrasi OrtaPadang Ekspres

1/

Pukul satu siang.

Duduk menyandar pada tumpukan dos mi instan, perempuan itu tampaknya sedang asyik dengan diri sendiri. Pandangannya tak pernah lepas dari layar ponsel yang terkoneksi dengan headset di kupingnya. Namun saya yakin ia tidak bisa fokus mendengarkan lagu. Meskipun duduk di bagian paling atas Kapal Fajar Fadilah, ia pasti terganggu oleh suara mesin yang mulai menaikkan gas. Sebentar lagi kapal berangkat. Kembali mengarungi lautan Kendari-Wawonii. Suara percakapan para penumpang hilang tertelan suara mesin. Begitulah memang setiap kali kapal hendak berangkat.

Rasanya saya kenal perempuan itu. Entah di mana. Sepertinya saya pernah tahu siapa dia. Atau paling tidak pernah berbicara dengannya. Sayang, ingatan tak selamanya panjang.

Pasti ada di antara kalian bertanya, cantikkah perempuan itu? Berapa usianya? Bagaimana postur tubuhnya? Langsing? Kurus? Gemuk? Yang bertanya begitu bisanya laki-laki. Entah kenapa laki-laki di mana pun lebih mengutamakan detail fisik perempuan daripada soal lain. Apakah ia cerdas? Apa kelebihannya? Itu jarang ditanyakan.

Terus terang saya tak bisa menjawab pertanyaan kalian. Seperti sudah saya singgung, saya tak kenal dekat perempuan itu. Apakah ia cantik? Mungkin. Namun bukankah definisi cantik dan tampan sangat relatif? Artinya berbeda bagi setiap orang.

Ketika Pulau Hari di kanan dan Pulau Saponda di kiri telah terlewati, saya perhatikan tidak terjadi perubahan pada wajah perempuan itu. Biasa-biasa saja dan terus mengawasi laut dengan ekspresi sangat wajar. Mungkin kedua pulau itu sudah terlalu biasa bagi dia, tak lagi membawa kesan mendalam. Mungkin ia seperti saya juga, melewati pulau itu hampir tiap pekan. Bolak-balik Kendari-Wawonii. Rutinitas membosankan. Tapi mau apalagi. Saya memang harus menempuhnya demi tugas dan tanggung jawab sebagai aparat negara.

Advertisements