Cerpen Rizkia Hasmin (Pikiran Rakyat, 05 November 2017)

Ketegangan Ini ilustrasi Zesika H Kamilah - Pikiran Rakyat.jpg
Ketegangan Ini ilustrasi Zesika H Kamilah/Pikiran Rakyat

KAU memesan segelas latte, ketika dari balik dinding kafe yang jernih, matahari tampak merosot. Kafe itu persis menghadap laut. Saat langit menyibakkan lembayung, cahayanya jatuh tepat ke permukaan kaca, membiaskan semburat kuning keemasan pada seisi ruangan. Suara ombak mengempas bibir pantai menambah sejuk suasana hatimu sore itu. Dari meja barista, seorang pelayan muncul membawakan kopi susu dengan sedikit lapisan busa di permukaannya. Terlihat lembut dan menggoda.

SEBULAN lalu ayahmu menelepon. Rematiknya kumat lagi. Katanya, dia akan mengunjungimu dalam waktu dekat. Dulu, ayahmu selalu pulang seminggu sekali. Jika rematiknya kumat, kau akan membuatkan ramuan dari jahe. Dua potong jahe kau panggang di atas bara api, lalu kautumbuk dan kauoleskan pada kaki ayahmu yang sakit. Tapi semenjak perusahaan tempat ayahmu bekerja menugaskannya pindah ke Sulawesi, kau kian jarang bertemu dengannya. Sudah enam bulan ayahmu tak pulang Semoga rematik ayah tak kambuh lagi, katamu sekali waktu. Telefon selulermu menjerit. Kaulihat di layamya ada panggilan masuk.

“Halo, lagi di mana?”

“Di kafe, dengan segelas latte dan…”

“Sudah! Jangan teruskan! Nanti aku jadi….”

“Jadi apa?” kau tertawa menggoda. Kau tahu dia tak akan tahan dengan godaan senja.

“Tidak! Aku hanya….”

“Hanya?”

“Minggu depan barangkali aku akan sibuk.”

“Ed, ada apa?!” kau bertanya.

“Ada urusan yang harus kuselesaikan.”

“Maksudku, kamu hanya ingin apa?”

Dia tertawa mendengar perkataanmu yang terkesan serius. Tawanya terdengar renyah di telingamu. Kau suka saat dia tertawa. Setiap mendengar tawanya, kau merasa nyaman.

“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Ucapannya terdengar sungguh- sungguh di telingamu.

“Aku bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja. Sudah ya! Kamu kan tahu aku….”

“lya, iya,” potongnya cepat. “Selamat menikmati senja.”

Dia lelaki yang kaukenal dua tahun silam. Saat itu kau duduk di meja yang sama di kafe itu. Menikmati segelas latte dan suasana senja yang menawan. Semenjak ayahmu bekerja di Sulawesi, hidupmu mulai terasa sepi. Seharian kau hanya di rumah. menggelesot di sofa, menonton acara reality show di televisi atau membaca buku-buku fiksi kesukaanmu. Dan seminggu sekali duduk di kafe itu, menikmati keindahan senja. Selebihnya tak ada yang menarik bagimu. Tubuhmu hanya dipenuhi ruang-ruang kosong.

Kemudian dia datang.

Perlahan ruang-ruang kosong itu mulai terisi oleh kehadirannya. Kau suka tatapannya yang lembut dan cara bicaranya yang terkesan serius, namun tidak pernah membuatmu merasa bosan.

Kau masih ingat saat dia memandangmu. Posisi dudukmu cukup jauh darinya, namun saling berhadapan. Ia selalu memandang ke arahmu. Kau bahkan sedikit kikuk oleh tatapannya. Kemudian ia menghampiri, duduk semeja denganmu. Kau masih ingat percakapan saat pertama kali bertemu dengannya.

“Kamu keberatan jika aku duduk di sini?”

Awalnya kau takut membuka diri untuk seseorang yang belum kaukenal. Tetapi sorot matanya membuatmu percaya bahwa sifat seseorang bisa dilihat dari cara dia memandang. Saat menatapnya, kau percaya dia lelaki yang baik.

“Sebenarnya aku lebih suka sendiri, tapi kalau kamu ingin duduk aku tidak keberatan.” Dia tersenyum mendengar jawabanmu, kemudian memesan espresso.

“Kamu sering ke sini?”

Dia mencoba membuka obrolan saat kau tengah asyik memandang matahari yang perlahan mulai merosot. Tujuanmu ke kafe itu tak lain hanya untuk menyaksikan mata-hari tenggelam.

“Sepertinya kamu begitu menikmatinya,” sambungnya.

Kau sedikit kaget atas ucapan dan tingkahnya yang kaku. Kau menoleh, lalu membalas ucapannya.

“Kamu lelaki pemberani.”

Dia tertawa, “Ya. lelaki yang mencoba berani. Oya, aku, Ed.”

Itulah percakapan pertamamu dengannya. Kemudian percakapan itu terus berlanjut hampir setiap minggu di kafe yang sama. Kedekatanmu dengannya semakin hari semakin hangat. Bagimu dia adalah lelaki yang sangat berani. Hingga suatu malam, kau larut dalam mabuk asmara yang menggebu-gebu.

Langit dipenuhi geriap cahaya. Udara dingin menyeruak melalui jendela yang terbuka. Di sana, sepasang kekasih tengah dilanda asmara.

“Aku mencintaimu, Ed.”

“Ya, aku tahu, kamu tidak perlu mengatakannya.”

“Kamu akan setia, Ed?”

“Apa kamu meragukan kesetiaanku, Sita?”

“Sejak pertama kali menatapmu, aku percaya kamu lelaki yang setia.”

“Kalau begitu, kamu tidak perlu menanyakannya lagi.”

“Aku mencintaimu, Ed.”

“Ya, aku tahu itu. Kamu mabuk Sita, sekarang tidurlah!”

Malam semakin memagut. Tapi, udara dingin tak sanggup memberi gigil pada seasang kekasih yang dimabuk asmara.

***

SEMINGGU kau kehilangannya. Dia tidak memberimu kabar, nomor telefonnya tak bisa dihubungi. Pikiran buruk seketika merebak. Kau khawatir dia akan pergi. Tapi akhirnya, dia menelefonmu, katanya dia sedang berada di luar kota. Bukankah dia pernah mengatakan kepadamu bahwa dia bekerja di sebuah hotel di kota lain, dan sebulan sekali datang menemuimu. Dia selalu membawakanmu sebuah buku dan beberapa rangkaian bunga kesukaanmu. Lalu kalian akan mengunjungi kafe tempat pertama kali bertemu. memesan latte dan espresso sembari menyaksikan matahari tenggelam. Kalian sepasang kekasih yang menyukai senja.

***

MATAHARI sudah sepenuhnya tenggelam. Tapi masih ada sedikit sisa cahaya kuning berpelitur, selebihnya hanya ombak yang terus menyapu pantai. Sayup-sayup. mengalun Ligh As A Feather dari Return To Forever feat Chick Corea. Jazz memang selalu menarik untuk didengar, kau membatin. Kau begitu hapal dengan lirik lagu itu. Tanpa sadar mulutmu ikut menirukan suara perempuan yang terdengar merdu itu.

Telefon selulermu menjerit lagi. Sebuah panggilan masuk.

“Sayang, lusa ayah akan pulang.”

“Bagaimana dengan pekerjaan ayah?”

“Ayah dapat cuti satu bulan dari perusahaan. Jadi ayah akan pulang. Apa kamu baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.”

“Baiklah. Besok ayah telefon lagi.”

Hening. Suasana mulai sepi. Hanya satu dua meja yang masih terisi pengunjung. Saat itu kau hanya ingin segera berada di rumah. Perasaan gelisah mulai menyerang pikiranmu. Kau bingung, apa yang mesti kau lakukan? Kau tak ingin ayahmu kecewa. Kau tak ingin ayahmu mengetahui bahwa janin yang ada di rahimmu adalah buah dari hubungan yang tidak resmi. Kau sangat takut.

Kau segera meninggalkan kafe. Kaupacu mobil dengan pikiran-pikiran yang terus berkelebat di kepala. Saat itu kau hanya butuh kekasihmu. Jika dia ada di sampingmu, kau pasti tak akan serisau ini. Sesampainya di rumah, kau bngsung menghambur ke tempat tidur. Segera kauraih telefon seluler.

“Ya, halo.”

“Apa kamu sibuk?”

“Tidak, Sayang. Ada apa?”

“Kita mesti segera menikah!”

“Tenanglah, Sita! Apa kamu sedang mabuk?”

“Tidak. Aku hanya ingin kamu segera menikahiku.”

“Ya, tentu kita akan menikah. Bukankah aku pernah mengatakannya.”

“Lusa, ayah akan pulang. Kita harus segera bicara.”

“Ya, besok aku akan menemuimu. Tapi kamu harus tenang. Sudah ya, jangan menangis.”

“Aku sayang kamu, Ed.”

“Ya, aku tahu itu. Sekarang kamu harus tidur!”

Obrolan berakhir. Ada sedikit rasa lega dalam hatimu. Kau berusaha agar segera tertidur. Tapi pikiranmu masih berkelebat. Membayangkan pernikahan dengan lelaki yang sangat kaucintai.

Dalam risau, bibirmu melengkungkan senyum. Tapi matamu kini sudah sepenuhnya terpejam. Sementara di sudut ruangan di kota lain, kekasihmu juga tampak risau setelah menutup telefon darimu. Ia berjalan ke kamar, ingin segera tidur.

“Telefon dari siapa?” tanya seorang perempuan yang berbaring di tempat tidur.

“Ada tugas dari kantor, besok aku ke luar kota lagi.”

“Kok mendadak begitu?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Bagaimana dengan Aya? Besok hari pertamanya masuk sekolah.”

“Besok pagi aku yang akan mengantar Aya ke sekolah. Sekarang tidurlah!” dia mengecup kening perempuan itu. Sebentar hening. Sekilas membayang wajah polos Sita dalam kantuknya. ***

Advertisements