Cerpen Kiki Sulistyo (Banjarmaasin Post, 05 November 2017)

Rastamin Mencari Rumah  ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Rastamin Mencari Rumah ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Karena tercekat rasa haus yang begitu berat, Rastamin mencari-cari kran air di sekitar perumahan itu. Matanya sibuk memperhatikan halaman setiap rumah, siapa tahu ada kran yang sekiranya tidak perlu izin untuk memakai airnya.

Perumahan itu sepi, sejak tadi Rastamin tidak melihat seorang pun. Sepertinya ia memang tak perlu meminta izin untuk sekadar mengambil air dari kran. Toh, tidak akan ada yang melihatnya.

Tadi Rastamin memasuki perumahan ini dengan harapan ada rumah kosong yang bisa disewa. Tetapi tak ada seorang pun yang bisa ditanya.

Setelah berputar beberapa kali, Rastamin melihat seulas selang yang mengucurkan air di samping sebuah rumah yang sedikit terpisah dari rumah-rumah lainnya. Ia bergegas mendekati selang itu.

Ada rasa heran yang timbul melihat air yang dibiarkan mengucur begitu saja. Tetapi rasa haus mengalahkan keheranan itu. Rastamin sigap menyambar selang lalu diarahkan ke mulutnya. Kesegaran air seketika melenyapkan rasa hausnya.

Sekonyong-konyong seorang lelaki keluar dari rumah. Lang kahnya bergegas, namun begitu melihat Rastamin lelaki itu segera berhenti bagaikan sosok dalam film yang di-pause.

“Haus?” tanyanya.

Lelaki itu berpenampilan rapi dengan selelan kemeja panjang, celana hitam, dan sepatu kantor yang berkilauan terkena cahaya matahari. Rastamin tercenung, tidak menjawab. Selang air masih dipegangnya, air mengucur ke tanah memercikkan pasir-pasir halus ke kaki Rastamin.

“Kenapa tidak minum di dalam?” lanjut lelaki itu.

Rastamin tidak mengenalnya, tapi rasanya pernah melihat lelaki itu entah kapan. Sepertinya si lelaki baru pulang dari kantor, mungkin untuk makan siang bersama keluarganya, dan sekarang ia akan segera kembali ke kantor.

Tanpa sungkan lelaki ltu menggamit lengan Rastamin dan mengajaknya masuk. Selang air terlepas dan menggeliat di tanah bagaikan ular yang sekarat.

Seketika timbul dalam pikiran Rastamin bahwa orang ini mengira ia hendak mencuri lalu menjebaknya masuk rumah. Rastamin membayangkan sebentar lagi semua penghuni perumahan ini akan datang dan menghajarnya sampai mati.

Pikiran itu membuat Rastamin ketakutan. Ia tidak mau mati konyol karena kesalahpahaman. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, atau lebih tepatnya tak berani berbuat apa-apa. Rastamin menurut saja.

Ketika akan masuk, Rastamin tiba-tiba merasa pernah melihat rumah ini sebelumnya. Tapi bukankah semua bentuk rumah di perumahan macam ini memang seragam? kata Rastamin dalam hati menepis perasaannya sendiri.

Di dalam rumah beberapa orang terlihat seakan sudah menunggu. Mereka satu keluarga. Seorang perempuan yang kelihatan sedih dan letih, seorang gadis yang tampaknya baru beranjak dewasa, dan seorang anak laki-laki remaja.

Di sekitar mereka menumpuk barang-barang, sehingga mengesankan mereka hendak pindah rumah. Ah, laki-laki tadi pastilah kepala keluarga ini, pikir Rastamin. Lelaki itu berdiri di belakang Rastamin.

Pikiran akan dijebak membuat Rastamin segera bertindak. Sebelum mereka angkat bicara. Rastamin lebih dulu bersuara.

“Mohon maafkan saya, rupanya ada salah paham. Sungguh saya tidak bermaksud jahat. Tadi saya cuma kehausan dan melihat ada selang yang mengalirkan air. Saya kira tidak ada orang. Kalau saya tahu ada orang di rumah ini, tentu saya akan minta izin dulu. Sekali lagi mohon maafkan saya.”

Orang-orang itu diam saja. Mata mereka menatap Rastamin dengan kesan yang tak mudah disimpulkan. Rastamin balas menatap mereka. Gadis yang baru beranjak dewasa itu memiliki banyak jerawat di wajahnya yang berminyak. Gadis ini pasti tak pandai bersolek, pikir Rastamin.

Sementara perempuan yang tampak sedih dan letih serta anak lelaki yang baru beranjak remaja itu benar-benar punya garis wajah yang serupa. Sekali lihat orang pasti bisa menduga mereka ibu dan anak. Tapi gadis tadi tidak mudah dicari kesamaan garis wajahnya dengan mereka. Garis wajah gadis tadi justru mengingatkan Rastamin pada wajahnya sendiri.

Rupanya usahaku tidak begitu berhasil, ucap Rastamin daiam hati. Ia harus meyakinkan mereka lagi.

“Oh ya, tadi saya masuk ke perumahan ini untuk mencari rumah yang bisa disewa. Saya datang dari jauh dan butuh tempat tinggal segera. Hmm, saya lihat barang-barang di sini sudah di-packing. Apakah kalian baru tiba atau hendak pindah dari sini? Kalau hendak pindah, nah, barang-kali rumah ini jodoh saya. Rasanya rumah ini cocok buat saya.”

Tatapan orang-orang sedikit berubah, seperti menajam, seperti siap melontarkan kemarahan. Malu aku,pikir Rastamin. Suasana senyap beberapa saat. Rastamin merasa harus lebih meyakinkan lagi.

Baru saja ia akan bicara kembali, tiba-tiba gadis yang baru beranjak dewasa itu membentak.

“Apa Bapak sudah gila? Ini rumah kita! Rumah yang Bapak gadaikan. Itu lihat! Itu petugas yang sudah siap menyita rumah ini. Kita mau tinggal di mana, Pak?” (*)

 

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (2014), Rencana Berciuman (2015), Penangkar Bekisar (2015), dan yang terbaru Di Ampenan, Apalagi yang Kaucari? (2017). Domisili di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Advertisements