Cerpen Trah W (Haluan, 05 November 2017)

Persimpangan Berdarah ilustrasi Haluan.jpg
Persimpangan Berdarah ilustrasi Haluan

“Jangan jauh-jauh, Alia!” imbau seorang lelaki berperawakan sedang dan tinggi. Adalah Ali, seorang pekerja kuli panggul di pasar. Saban sore ketika ia tidak bekerja, Ali menerima resparasi alat elektronik apa saja yang dibawa pelanggan.

“Ya, Ayah!” balas Alia, anak Ali tanpa menoleh pada ayahnya. Ia terlalu asyik bermain bersama Aisya, teman sebayanya.

Alia adalah anak berusia 10 tahun. Ia tidak sekolah akibat perang sipil yang sudah berlangsung dua tahun menghancurkan satu-satunya sekolah di daerah tempat tinggalnya. Alia tinggal berdua bersama Ayahnya—sedangkan ibunya telah meninggal 5 tahun lalu karena serangan Demam Berdarah (DBD). Kenyataan itu membuat Alia harus ikut bekerja. Saban pagi, Alia menjajakan roti sebentuk mirip piring—agak pipih dan lebar—bikinan tetangganya, seorang wanita paruh baya.

Sore di pemukiman kumuh itu tidak begitu ramai. Suara ledakan dan bangunan yang runtuh di kota sebelah terdengar sampai ke pemukiman itu. Perang sipil yang sudah berlangsung dua tahun telah merenggut kebahagiaan semua orang. Saban malam selalu saja ada orang-orang yang mengetuk pintu untuk meminta pertolongan tempat tinggal sementara. Mereka terpaksa harus pindah akibat rumah yang mereka tinggali hancur digempur rudal.

Penjagaan di setiap pemukiman juga sangat ketat. Pemimpin kaum pemberontak menyebarkan pasukan hingga ke pusat-pusat pemukiman padat penduduk. Kata mereka, ini merupakan tindakan penjagaan agar masyarakat merasa aman dan nyaman. Kenyataannya, tindakan itu untuk malah menarik simpati masyarakat kepada kaum pemberontak. Agar masyarakat mau membantu kaum pemberontak dalam melancarkan serangan. Dengan kelicikan mereka, kaum pemberontak selalu memberikan doktrin yang menyudutkan pemerintahan.

***

Pagi kembali menyapa pemukiman tempat Alia tinggal. Nyanyian burung sudah tidak terdengar lagi. Mereka sudah bermigrasi ke daerah yang jauh dari suara ledakan rudal. Setiap kali pagi hadir, masyarakat di sekitar lokasi perang disapa oleh suara sirine, pertanda seluruh pasukan harus bersiap untuk kembali berperang.

Ali tengah bersiap untuk pergi bekerja. Di rumah yang hanya ada kamar, dapur, dan kamar mandi itu, tidak banyak yang harus Ali bereskan. “Kamu kenapa pakai baju merah, Alia?”

“Ya, Ayah. Alia suka warna merah,” jawab Alia sambil merapikan jilbab panjang berwarna senada bajunya.

“Baiklah. Ayah pergi dulu ya, Nak. Alia hati-hati di rumah. Jangan jauh-jauh dari pemukiman,” tukas Ali sambil mencium kepala Alia.

“Ya, Ayah.”

Setelah bersiap-siap, Alia mendatangi rumah Bibi Fatimah, tetangga pembuat kue yang sering dibantu Alia untuk menjualnya ke jalanan. “Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam. Alia, kemarilah, Nak!” sila Bibi Fatimah yang tengah menata kue di dalam keranjang anyaman bambu. “Nah, Alia, ini kuenya, Nak. Hati-hati membawanya, ya.”

“Iya, bibi. Alia pergi dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Alia tidak menjajakan kue-kue tersebut ke pasar. Ia lebih memilih arah ke sebuah persimpangan yang banyak dilalui orang. Matahari sudah mulai memanjat naik. Alia mempercepat langkah. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan pasukan pemberontak. Mereka bersenjata lengkap menaiki kendaraan lapis baja dan bersiap untuk kembali ke medan perang. Mereka mengalungkan sorban kotak-kotak putih-merah di leher. “Sorban ini adalah tanda bahwa kami selalu bersama Allah!” kata mereka setiap kali melakukan propaganda pada warga sipil.

Suara ledakan kembali terdengar. Sangat dekat dengan Alia, hanya berjarak sekitar 600 meter dari tempat Alia berdiri. Lima belas menit kemudian, satu kompi pasukan bergegas menuju lokasi ledakan. Ada kendaraan mengangkut rudal-rudal di antara pasukan-pasukan itu. Termasuk dua buah tank yang dengan gagahnya melindas jalanan. Alia sudah terbiasa dengan pemandangan itu, begitu juga masyarakat sekitar. Mereka tidak panik apalagi kocar-kacir.

Dan kemudian kembali lagi. Booooooooommmmmmm…….!

Sebuah rudal menghantam sebuah bangunan yang lain. Meluluhlantakkan bangunan yang berada tepat di hadapan Alia. Bocah itu pun terlempar seketika. Sejauh sepuluh meter. Baju merah yang ia kenakan penuh sobe. Banyak luka fatal nan menganga di tubuh mungil itu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Alia tidak bergerak. Barulah semenit kemudian ia sadar. “Ayah….,” rintihnya pertama. Seluruh orang yang berada di persimpangan itu terkena hantaman rudal. Mereka juga terbujur tak berdaya. Alia merasa tubuhnya dingin. Ia menggigil. Ia pun memanggil.

Tiga ratus meter dari lokasi Alia, Ali terhentak. Ia sadar betul lokasi ledakan itu dari arah tempat biasa Alia berjualan. “Alia!” teriaknya, kemudian berlari. Meski tanpa alas kaki, Ali terus berlari. Tidak peduli kakinya menginjak krikil yang tajam. Kakinya berdarah, tapi Ali terus berlari.

“Alia!!” teriak Ali ketika melihat anaknya sudah terbaring tak berdaya.

“Ayah… Dingin…,” rintih Alia.

“Tolong!” Tidak ada orang yang membantu. Semua orang di sana terkapar, senasib dengan Alia. Persimpangan sejenak sepi. Hanya ketidakberdayaan yang ada. Duka dalam mereka dapati, meski kesalahan pada yang lainnya. Dalam hati, mereka tidak menginginkan perang saudara itu. Mereka berharap keadaan yang damai.

“Tolong!!! Tolong anakku!” pinta Ali kepada sebuah pasukan yang baru saja sampai.

“Bawa dia!” perintah seorang pemimpin pasukan.

Rumah sakit masih sepi. Namun, beberapa saat lagi seluruh ruangan akan dipadati tubuh-tubuh kaku dan penuh luka. Alia baru saja sampai. Dokter membawa Alia ke ruang operasi. Satu menit. Sepuluh menit. Lima belas menit kemudian, dokter keluar dari ruang operatie khomer (OK).

“Bagaimana keadaan Alia, dok?” sambut Ali.

Wajah dokter itu tampak murung. Ali menyadari itu. “Maaf, pak. Keadaan anak bapak begitu lemah. Allah telah memanggil Alia dalam perjalanan ke sini.”

“Tidak! Tidak mungkin! Alia!” Ali berlari ke kamar. Ia harus menerima Alia yang sudah tak bernyawa. Alia yang ceria. Alia yang tertawa. Alia telah pergi. Rudal yang menghantam persimpangan telah merenggut tujuh belas nyawa tak bersalah, termasuk Alia. Pihak pemerintah menyangkal bahwa mereka dalang penyerangan itu. Pemimpin pasukan pemberontak tak mau kalah, mereka juga menolak. Tidak ada yang ingin disalahkan dalam peristiwa itu. Satu hal yang pasti, perang sipil merenggut begitu banyak nyawa tidak bersalah, tetapi tidak jelas perang itu demi kepentingan siapa. (*)

 

Bungo, 01 Agustus 2017

Trah W atau Fitra Wahyudi. Menetap di Padang. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang.

Advertisements