Cerpen Muhammad Husein Heikal (Kedaulatan Rakyat, 05 November 2017)

Lelaki Penunggu Sabtu ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Lelaki Penunggu Sabtu ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

Sabtu. Hari yang selalu dianggap terakhir sebelum Minggu. Atau Sabtu memang merupakan hari terakhir dalam sepekan, bila Minggu dihitung sebagai hari pertama. Namun kita sama-sekali tak usah mempersoalkan itu. Sebab bagaimanapun, Sabtu selalu disebut sebagai akhir pekan.

Akan tetapi, Sabtu bukan sekadar akhir pekan biasa bagi lelaki itu—atau tepatnya lelaki penyair itu.

Di pagi yang baru saja lahir, lelaki itu baru saja kembali menidurkan mimpinya. Ia bangkit dari matras, menata kembali letak selimut dan bantalnya. Kemudian membuka sedikit celah jendela kayu disisi utara. Seketika ruang kamar kecil itu menjadi benderang. Cahaya ultraviolet menembus bersama kehangatannya. Lelaki itu, atau lelaki penyair itu sama-sekali tidak tahu sekarang jam berapa.

Hanya satu yang ia sadari saat ini, hari ini adalah Sabtu.

Lelaki itu menghidupkan smartphone-nya. Menatap layarnya, menunggu-nunggu barangkali ada notifikasi masuk. Semenit berlalu, secara otomatis layar smartphone itu menggelap kembali. Ya, sama-sekali tak ada kabar hari ini. Kabar gembira maupun kabar tidak gembira.

Ia pandang-pandangi smartphone yang baru dibelinya tiga bulan lalu. Harganya cukup mahal, baginya. Hampir setara dengan harga notebook baru berspesifikasi rendah. Ia lebih memilih membeli smartphone, daripada memperbarui notebook-nya yang sudah dipakai sejak SMA. Sebab menurutnya, notebook itu masih cukup bagus, dan masih tahan untuk digunakan sehari-harinya. Apalagi, notebook itu hanya ia gunakan untuk mengetik tulisan—puisi-puisi, tepatnya—dan kemudian mengirim tulisan itu melalui email. Ya, itu saja.

Alasan ia membeli smartphone cukup sederhana: agar mudah mengecek e-paper koran. Sebagai seorang yang bergelut di dunia kepenulisan, ia beranggapan tentu harus rutin dan aktual mengecek berbagai koran yang terbit di berbagai sudut kota. Tidak hanya koran ibukota, koran-koran yang tak terdata di dewan pers pun ia cek setiap hari. Kegiatan ini setiap hari dilakukannya.

Inilah yang menyebabkan seorang mahasiswi tertarik pada keanehannya. Di awal-awal masa perkenalan mereka—ketika smartphone itu belum terbeli—senantiasa keheranan melihat lelaki itu mengapa selalu membawa koran ke kampus. Meski mahasiswi yang kini menjadi pacarnya itu tak sempat beranggapan, bahwa lelaki itu adalah penjaja koran keliling.

Dari sekian banyak koran yang terbit, hampir setengah di antaranya pernah memuat nama lelaki ini, tentu saja beserta karya puisi-puisinya. Namun, dari semua itu ada dua koran nasional berkaliber, tentunya, yang memuat rubrik puisi di setiap hari Sabtu. Dua koran ini sudah lama menjadi incaran dirinya—dan tentu para penyair sebayanya—lewat karya puisi. Sudah entah berapa kali, yang jelas lebih dari bilangan belasan, ia mengirimkan puisi-puisinya ke koran-koran itu. Namun sampai saat ini ia belum berhasil, sama-sekali.

Terkadang, ia membayang-bayangkan namanya di koran itu. Dilengkapi lukisan ilustrasi, dan di bawah puisi-puisinya itu bakal tertulis biodatanya yang singkat. Sering pula ini menjadi mimpi yang menghiasi tidurnya. Ia terbayang, puisi manakah yang bakal dimuat sang redaktur tersebut. Bila puisi ini kira-kira di sebelah sinilah letaknya yang bagus. Dan ilustrasinya dapat diperkecil sedikit, dan..dan.. itu semua hanya angan.

Hari ini Sabtu. Ya, hari yang ditunggunya itu kembali berkunjung. Lelaki itu begitu setia melakukan ritual hari Sabtu-nya. Bangun, bangkit, menatap smartphone, dan—seperti biasa—kembali kecewa. Tak jarang ia menelan ludah.

Akan tetapi, kali ini, di Sabtu pengujung bulan ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Semacam sesuatu yang menggairahkan, baginya. Ya, kali ini ia kembali mematikan smartphone-nya. Kemudian membuka lipatan notebook-nya, dan menuliskan sebuah cerita tentang itu. Dan cerita itu kini sedang Anda baca…

 

Medan, 2017

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Cerpen dan puisinya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Termuat pula dalam buku Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Riau Pos 2015), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara 2016), Cinta yang Terus Mengalir (Taaruf Penyair Muda Indonesia 2016), Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016), dll.

Advertisements