Puisi-puisi Ramon Damora (Kompas, 04 November 2017)

Satisfied - 2015 ilustrasi Indrawati Halim - Kompas.jpg
Satisfied – 2015 ilustrasi Indrawati Halim/Kompas

lapislazuli bengali

 

biru sehelai ibunya

mengapung di buthidaung

sirah merona selembar adik

bayi teramat cantik

terkulai ngambang

sepanjang benang darah

ditenun kembali sungai naf

dan rahang-rahang rakit pun

menjahit gelora rakhine utara

namun satu per satu pengungsi

aus, putus, seperti butir-butir

kancing jatuh dari seragam

serdadu gergasi di barak tangsi

semua muara mengulur seutas

demi seutas bangkai gugur

di pepohon lagoon, membuah

buih yang putih, memberi arti

pada setangkai mati

maut menyumbang sedu sedan

dengan menimbun kematian

di ranjang pelaminan sungai

yang senantiasa lengang landai

sisa-sisa perahu pelarian

kadang jadi betapa ringan

terbang serendah bayang

bayang, seindah layang

layang, menggores batas

batas langit bangladesh

di lazuardi sebongkah tubuh

bocahnya tergantung anggun

berayun-ayun gerun bagai

seuntai kecubung kelabu

lapislazuli bengali telanjang,

yang tembuspandang: dia tak

hendak turun, belum mau turun

tetapi sang kanak tahu perahu

perahu akan segera bersandar

menggulung benang bekas

sungai sehelai ibu, selembar

adik, seonggok kehilangan

yang mesti dipakai demi

hari depan jatidiri yang tercela

tuhan oh tuhan, bisik nak

bujang ke awang-awang,

bila giliran-Ku merajalela

entah di kemah-kemah bangla

atau remah-remah bianglala

 

2017

 

baju lebaran

 

tuhan beri baju lebaran

lebar selebar-lebarnya

kain luas bersih welas asih

warna nirwana maha putih

 

tuhan kasih satu syawal

dengan satu-satunya tanda

pengenal: kau sang mula

awalilah semua muasal

 

tandus sawah ladangmu

sekudus mendiang ibu

barah di balik empedu adalah

syahdu zarah mudik ke darah

 

ruang tiada terpindai

rindu tak lagi mengurai

purna karena fitrah

luruh seluruh luruh

 

tuhan beri baju lebaran

lebar selebar-lebarnya

di sana sembunyi sedu sedan

milik tubuh kecut penuh luka

 

merangkak dengan sajadah

dari kedai ke kedai

oh setahun sekali

hanya setahun sekali

 

tuhan alangkah mewah

anak takbir bersama kiyai

istri lahir sebagai bayi

suami luhur seperti priyai

 

pun tangan yang selalu zalim

memeras airmata orang lain

tiba-tiba rajin dan takzim

memohon maaf lahir batin

 

amin

 

2017

 

non-megaphone

 

apa yang mau

kau dengar

perihal myanmar

 

nama tuhan yang

tak sempat keluar

dari leher-leher

dipenggal

 

dengih tasbih wirathu

di antara serpih

serpih empedu

yang telah hijau

oleh langau

 

rengek bayi

dibungkam

darah hitam

tetek suu kyi

 

wirid api menyamak

kulit tulang-belulang

sehangus langit

langit madrasah

 

atau parau serak

jerit allah allah

lengang kabus

dendam atta ullah

 

puisi non-sense

di rakhine

diplomasi non-megaphone

setelah yangoon

 

apa yang mau

kau percaya

tentang rohingya

 

cahaya?

 

maka diamlah

berhenti menebar tulah

makin tumpah setakat

kata, kata, kata

kau hanya jadi

 

junta

 

2017

 

wirid duri

 

anak aku tahu diri

ayah ia hanya duri

 

tiap ia jumpai aku

genap aku lukai ia

 

pada sembilu aku

rindu selalu kata ia

 

dari mata pisau aku

doa mengasah ia

 

bila aku terlalu tajam

jangat ia menganga

 

sakit ia menujum pejam

jerit aku seharum bunga

 

raunglah tebing tinggi

erang aku geming seligi

 

kelak kau mudah sembuh

dari onak yang tersentuh

 

anak aku mengerti

apa makna sajak ini

 

sekuntum mawas diri

bukan mawar gerigi

 

2017

 

teluk belanga inderasakti

~ ardadan

 

dari dermaga, pompong rimbun mengurai jelaga laut

peluh terakhir huyung dalam pantun sampiran kabut

rembulan jembia nyisip di pinggang menara masjid

azan menggenggam luka penyengat tiada terjahit

segala diam diam-diam; makam, gurindam, malam

dahan nam-nam menyimpan gagak bertanjak hitam

tinggal hasrat angin utara menabuh leher nelayan

setipis kulit kompang terkikis batuk bedengkang

menuju pelantar adakah sepi sungguh-sungguh sepi

dahak maut kerak lumut takkan setebal ampas kopi

masih sedap bual melelang naskah-naskah lama

mencabar nafkah hari esok yang tak lagi sama

walau azan menetes dari tiap ceruk luka menganga

kau lanun atau laksmana: sama dalam teluk belanga

 

2017

 

kepada batik, sajak berbisik

 

semua yang kusangka epik

padamu rupanya semata titik

 

tak bunyi baris hiperbolaku

digores sunyi garis polamu

 

kelam kalam leleh sempurna

dalam malam lilin sederhana

 

alinea lupa mengurai hening

o betapa lena dibelai canting

 

kian kau umbar cahaya benang

semakin terbakar daya bayang

 

kata-kata durhakai janji

tiba-tiba mendustai imaji

 

masihkah pantas aku berkain

dengan majas dan lain-lain

 

baru kuikat sebait dua diksi

kau sudah kuliti serat berisi

 

permisi, permisi

apakah kau puisi

 

2017

 

sekanak-senandika

: rida k liamsi

 

akan tetapi, datuk

tikam cintamu belaka

yang masih sudi

menyeka retak ceguk

mangkuk waktu kami

kita redakan sebentar

asma semua magma

tenung gunung-gunung

sihir paling ros, mimesis kabut

mahmud dalam mahmud

 

larut sesaat dalam nikmat

gelas demi gelas mintakat

membilas pahit langit-langit

agar surup terhirup sakit

supaya sedap sesapan dekap

menyuling nasib yang gelap

 

bila lebih dahulu

kau bersurai menyangrai

biji-biji janji di lain kaji

kau tahu kami

selalu di sini

menjaga bunyi

seandai canai

perenggan cawan setangkai

tiada lengking

semata denting

sendok menggasing

sendu masing-masing

hingga senja

menyangga meja

kekasih membara

dirayu-goda teja

 

sayap kelekatumu

jatuh satu-satu

ke pangkuan tungku tungkaiku

“lampu bukan lagi tumpu,

bila tapak tak terlacak…”

 

digerus budi bahasa

sehalus robusta dan arabika

kata-kata tetap tak berganjak

dalam kehendak kopi sekanak

secangkir renyai cuma

mengusir jejak yang lenyai

ke dasar-maha-dasar puisi

adapun bubuk-bubuk sepi

diaduk diseduh mimpi

akan tetapi…

 

2017

 

selimut dari natuna

 

semalam selimut anaknya

membelai-belai pulau ranai

asyik masyuk berderai

 

semalam selimut anaknya

selembut ruh perahu

melayani bayang nelayan

 

semalam doa lelah

berbantah-bantah semesta

saling cintakan entah

 

semalam sepasang puting

dada jembatan pering

hanya susui laut kering

 

ikan-ikan duduk bersila

di kemah selimut anaknya

berebut mengenalkan nama

 

presiden telah tiba

kata tongkol dan todak

ia datang dari kabut

 

membawa tanda mata

untuk kanak-kanak

yang hafal biota laut

 

dalam senyum mutumanikam

anaknya kayuh sepeda gunung

membonceng tuhan maha diam

 

semalam selimut anaknya

melipat jasad ditenung

wabah chikungunya

 

2017

 

 

Ramon Damora lahir di Muara Mahat, Kampar, Riau, 2 April 1978. Benang Bekas Sungai (2017) adalah buku puisi terbarunya. Bermastautin di Batam dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Advertisements