Cerpen Hary B. Kori’un (Jawa Pos, 05 November 2017)

Eliana ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Eliana ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

MATAHARI hampir tenggelam ketika aku tiba di Plaza de Espana. Aku duduk di pinggir sungai yang airnya membiru dan bening. Banyak perahu di sungai itu. Setiap perahunya diisi dua hingga tiga orang–kebanyakan berpasangan—dan masing-masing saling mengayuh. Aku merasakan suasana yang romantik penuh emosional.

Ada empat jembatan yang memghubungkan alun-alun luas berbentuk setengah lingkaran itu dengan bagunan megah yang juga berbentuk setengah lingkaran. Menurut cerita, masing-masing jembatan mencerminkan empat kerajaan zaman dahulu di Spanyol. Castille, Leon, Aragon, dan Navarra. Di sekeliling bagian depan bangunan ada 48 cerukan yang mencerminkan 48 provinsi di negeri matador itu. Arsitektur khas Spanyol yang memanjang berjejer saling terhubung satu dengan lainnya dengan ratusan pintu dan jendela yang terbuka. Ada beberapa menara di bagian paling kanan dan kiri, juga ada beberapa di tengah, terlihat menjulang gagah.

Beberapa pasangan terlihat berfoto mesra tidak jauh dari tempatku duduk. Mereka mengabadikan momen indah di tempat yang juga indah ini. Di tempat lain, tidak jauh jaraknya dariku, beberapa rombongan wisatawan juga terlihat berfoto. Mereka ada yang berbahasa Spanyol, juga terdengar ada yang berbahasa Inggris.

Di seberang, terlihat monumen sastrawan terkenal Spanyol di abad 14, Miguel de Cervantes Saavedra [1], penulis novel termashur, Don Quixote de la Mancha. Monumen itu merupakan bagunan yang lumayan tinggi dan terlihat dominan di tengah alun-alun, dengan beberapa patung di depannya. Letaknya tak jauh dari taman berpepohonan rindang yang ketika angin semilir datang seperti di musim semi ini, membuat hawa lumayan sejuk meski matahari yang hampir tenggelam masih terlihat di barat.

“Aku akan naik kereta api siang ini. Sore nanti sampai di Madrid. Sekitar lima jam perjalanan dari Barcelona,” katanya dalam pesannya siang tadi. “Nanti sesampai di Stasiun Atocha [2], aku akan naik taksi ke sana. Espérame en la Plaza de España…[3],” katanya lagi.

Aku menunggunya sambil jalan-jalan di lapangan luas itu.

Sejatinya aku tak mengenal dan belum pernah bertemu dengan wanita itu, yang berjanji akan bertemu di sini. Teman sekantorku, Bramono, yang merekomendasikan agar aku mengontak Maria Eliana Valverde sesampai aku di Madrid. Yang mengherankan, Barmono juga tak pernah bertemu dengan wanita itu. Mereka hanya intens berkomuniksi lewat media sosial dengan bahasa Inggris sekenanya. Maklumlah, Eliana sangat Spanyol, dan Bramono sangat Jawa.

“Dia tinggal di Barcelona, hanya lima jam perjalanan dengan kereta api ke Madrid. Ketika kukatakan padanya kalau ada temanku akan ke Spanyol, dia sangat antusias. Dia bilang, mengapa bukan diriku yang ke Madrid…,” kata Bramono sambil senyum-senyum.

Aku jadi penasaran. Lalu tanpa sepengetahuan Bramono, kubuka profi l Eliana di salah satu media sosial. Terlihat fotonya. Muda dan cantik dengan rambut warna hitam bergelombang. Kemudian aku mengirimkan pertemanan kepadanya. Setelah diterimanya, aku sering bertanya tentang Madrid dan Spanyol secara keseluruhan.

“Aku tak perlu bercerita banyak. Datanglah ke Spanyol, kau akan tahu sendiri seperti apa negeriku,” katanya.

“Iya, aku mendapat tugas ke Madrid. Aku segera ke Spanyol…” Aku tak menjelaskan untuk liputan apa padanya.

Aku baru mau duduk di bangku dekat sungai ketika dia datang. Dia bertanya apakah aku benar-benar orang yang dicarinya. Aku tersenyum dan mengajaknya bersalaman. Aku merasakan tangannya sangat dingin. Meski dia berusaha tersenyum lebar, aku juga merasakan senyum yang dingin di bibirnya. Kedua matanya yang cantik, juga kurasakan dingin pada tatapannya.

“Tarde era yo?” [4] tanyanya dalam bahasa Spanyol. Namun kemudian dia tersadar. “Sorry, apakah saya terlambat?” ulangnya dalam bahasa Inggris.

“Oh tidak. Tidak apa-apa…”

“Begitulah naik moda kereta. Kadang-kadang tidak sesuai waktu yang diperkirakan…”

Dia kemudian mengajakku minum di sebuah kafe tak jauh dari tempat kami bertemu tadi, Chocolateria San Gines. Dia memesan churros con chocolate [5]. Katanya di kafe yang berdiri sejak 1894 inilah churros con chocolate paling enak dan orisinal. Aku ikut saja apa yang dia pesan. Kafe ini berada di salah satu sudut di bangunan yang berjejer setengah lingkaran di Plaza de Espana itu. Kami mengambil satu meja kecil dengan dua kursi di beranda, tidak di dalam kafe. Banyak orang yang juga berada di sana.

Dia kemudian bercerita banyak hal: tentang Sungai Manzanares, sungai terbesar yang membelah Madrid menjadi dua bagian—yang di salah satu bagian di pinggir sungai tersebut berdiri megah Estadio Vicente Calderon, markas klub terkenal Atletico de Madrid; tentang karya-karya sastra Spanyol yang menginspirasi banyak orang; atau kota-kota indah yang membuat banyak turis seakan tak mau pulang dari negaranya.

“Aku suka membaca sastra, tetapi tidak banyak karya penulis Spanyol yang diterjemahkan di negaraku…,” ujarku.

“O, iya?”

“Mungkin aku yang tak banyak tahu. Aku hanya menyelesaikan satu novel karya penulis Spanyol…”

“Novel? Apa judulnya?”

“Keluarga Pascual Duarte. La Familia de Pascual Duarte… Camilo Jose Cela.”

“Cela orang sakral di Spanyol. Itu black story…,” katanya.

“Sakral?”

“Maksudku, sangat dihormati… Kalau Miguel de Cervantes?” katanya sambil menunjuk monumen di seberang kanan tempat kami duduk sekarang.

“Oh iya. Aku juga membaca Don Quixote. Di negaraku diterjemahkan menjadi Don Kisot. Sangat terkenal. Jadi aneh, seperti nama tokoh di Jawa. Semacam nama ejekan…,” kataku sambil tertawa.

“Hemmm… Kau harus tinggal lama di Spanyol. Tak cu kup hanya di Madrid, kota yang menurutku lumayan membosankan. Kau harus melihat keindahan kota-kota pantai seperti di kotaku, Barcelona, Valencia, Tarragona, Murcia, Almeria, Catello de la Plana, Huelva, atau Malaga di selatan dan tenggara. Di utara ada kota indah seperti Gijon, Coruna, Bilbao, Oviedo, Santander, Donostia, atau Pontevedra. Kau juga harus ke Pulau Mallorca. Bisa menyeberang dari Barcelona. Palma de Mallorca adalah salah satu tujuan utama turis dunia. Di hari-hari perayaan tertentu, kamu tak akan mendapatkan penginapan di sana dan harus menggelandang…”

Aku terpesona dengan kecantikannya, baik saat diam, tersenyum, atau ketika bicara panjang tadi. Angin senja yang sebentar lagi akan habis menguraikan rambut panjang hitamnya yang seperti siluet diterpa matahari senja yang tinggal sedikit.

“Kau mendengarkanku?” katanya membuyarkan lamunanku. Aku malu dan agak salah tingkah. Mungkin mukaku seperti kepiting rebus.

“Iya. Maaf… aku mendengar nama-nama kota itu seperti nama-nama klub sepak bola yang sangat digemari oleh banyak orang di negaraku…,” kataku mencoba menghilangkan rasa malu.

Dia tersenyum sebelum memasukkan churros ke cokelat panas itu, kemudian mengunyahnya. Di antara semua yang terlihat dingin di tatapan matanya maupun senyumnya, kecantikannya yang alami tak bisa ditutupinya.

“Memang, kota-kota itu memiliki klub-klub sepak bola dengan sejarah panjang. Aku tak perlu bercerita tentang klub-klub itu, kamu pasti sudah hapal. Di kotaku, Barcelona, ada pertarungan klasik antara Barcelona dan Espanyol. Itu kamu juga pasti tahu. Tetapi, kedua pendukung tak memiliki kebencian yang berlebihan. Setiap kedua tim bertemu, aromanya biasa saja. Ini mungkin karena kekuatan Barcelona tak diimbangi oleh Espanyol. Di sini, sejarah, prestasi, dan uang memang memihak Barcelona…”

“Kamu Barcelonistas?” tanyaku.

“Les Cules…,” jawabnya sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak melebar.

“Seorang musisi terkenal di negaraku membuat lagu berjudul Barcelona. Lagu yang sangat terkenal. Tentang seseorang yang jatuh cinta pada gadis Catalonia saat berada di Barcelona. Cintanya tertinggal di Barcelona…”

“So sweet… Aku ingin mendengar lagu itu…,” katanya dengan suara manja.

Aku mengambil handphone-ku dan membuka sebuah aplikasi video. Beberapa saat kemudian terdengar suara Fariz R.M. Eliana mendengarkan secara seksama, meski mungkin tak tahu artinya. Kemudian, katanya, “Musiknya enak. Bagus… Pasti dia sangat terkesan selama di Barcelona. Quiere usted bailar conmigo?” [6]

“Aku? Menari denganmu? Hahahaaa…”

“Malam ini aku akan menginap di Madrid. Aku ingin menemanimu jalan-jalan. Dari sini, nanti kita bisa ke banyak tempat. Kita bisa jalan kaki ke Palacio Real de Ma drid. Orang asing menyebutnya Royal Palace. Tak jauh. Nanti kita juga bisa ke Auditorio Nacional de Musica. Kabarnya ada pertunjukan musik kontenporer dari kelompok musik asal Huesca. Tak jauh dari situ ada Parque de Berlin, Taman Berlin. Di sana banyak orang berkumpul atau sekadar ngobrol. Bisa sampai pagi.”

“Kelompok musisi dari Huesca? Aku ingat sebuah puisi dengan judul itu… And if bad luck should lay my strength, into the shallow grave, remember all the good you can; don’t for get my love… , ” [7] kataku girang sambil membaca bait terakhir puisi itu.

“John Cornford?”

“Ya.”

“Dia pahlawan bagi kami orang Catalonia dan Basque…”

“Tapi dia orang Inggris, kan?”

“Dia mati muda, berjuang melawan fasis Franco. Franco musuh kami. Catalonia dan Basque tak pernah mengakui Franco. Juga Madrid!”

Ada penekanan ketika dia menyebut “Madrid” tadi. Terdengar suaranya dingin dan agak tertahan. Aku heran, mengapa setiap bibirnya menyebut “Franco” atau “Madrid”, ada yang terdengar gemeretak pada giginya. Matanya yang dingin, juga terlihat menyala.

Katanya, bagi masyarakat Catalonia, Barcelona bukan hanya sekadar klub. El Barca Es Mas Que Un Club. [8] Dia juga menjelaskan, kata-kata “Catalonia is Not Spain” yang ditulis di spanduk-spanduk para pendukung Barcelona baik saat bermain di Nou Camp maupun stadion lainnya, adalah bentuk perlawanan yang nyata. Keinginan untuk berpisah dari Spanyol.

“El amor es ciego, [9] Martin. Cinta kami memang buta untuk Barcelona. Buta untuk keinginan kami merdeka dari penindasan dan rasa terhina! Sesuatu yang mungkin aneh dan tak kau pahami.”

Lagi, suaranya terdengar sangat dingin, tetapi penuh dengan nyala api. Matanya juga terlihat menyala ke arah kiri, arah barat: Estadio Santiago Bernabeu. Kami sudah berada di Parque de Berlin. Kami tak jadi nonton pertunjukan karena tak dapat tiket. Dari Taman Berlin ini hanya satu blok lagi—dengan jalan kaki ke arah barat—sampai ke Santiago Bernabeu. Aku dikirim ke Madrid untuk nonton dan sekaligus meliput El Derbi Madrileño antara Real Madrid melawan Atletico. Ini sekadar hadiah dari prestasiku. Pertandingannya dua jam lagi. Aku belum mengatakan hal itu kepadanya.

“Dua jam lagi mereka akan bertanding di sana,” katanya sambil menunjuk Santiago Bernabeau dengan tatapan mata yang membara, hampir bersamaan dengan kata-kata yang ada dalam pikiranku.

“Aku ke Madrid untuk itu…,” kataku berusaha pelan.

“Impianku sepanjang hidup adalah berada di stadion itu, dalam pertandingan apa pun, melihat Real Madrid secara langsung…,” sambungku.

Eliana seperti tersengat. Dia berdiri dari bangku taman tempat kami duduk.

“Traidor! Fascista [10]!” katanya sambil berjalan cepat meninggalkanku. Aku tak berusaha mengejarnya karena aku tahu itu sia-sia. Aku hanya melihatnya dengan rasa kehilangan di dada. Ada yang hampa di sana.

***

AKU keluar dari Biblioteca Nacional de Espana atau National Library of Spain di

Paseo de Recoletos—bersebelahan dengan Museo Arqueologico Nacional (Museum Arkeologi Nasional), di seberang Plaza de Colon, masih di kawasan Salamanca—ketika hari mulai gelap. Udara yang dingin dengan embusan angin yang agak kencang membuat aku menggigil. Kunaikkan resleting jaket tebalku, dan kuketatkan tali ransel di kedua pundakku.

Bramono mengingatkanku lewat aplikasi pesan bahwa jangan pernah merasa pernah ke Madrid kalau belum menginjakkan kaki ke tiga tempat monumental: Estadio Santiago Bernabeau, Plaza de Espana, dan Biblioteca Nacional de Espana. Maka sebelum kembali ke Jakarta, kusempatkan mengunjungi arsitektur megah yang sangat artistik yang dibangun semasa Raja Philip V berkuasa pada 1712 itu.

Entah mengapa kuat keinginanku—seolah ada yang menuntun—menuju ke ruang arsip koran-koran lama. Beberapa saat kemudian, dadaku tiba-tiba berdegup kencang dan pikiranku entah ke mana ketika membaca halaman depan koran Mundo Deportivo tertanggal 18 Maret 1938, dua hari setelah Barcelona dibombardir oleh tentara Jenderal Franco. Judulnya: Maria Eliana Valverde, Franco víctimas de la bomba [11].

Aku menganggap itu kebetulan kalau foto hitam-putih yang memang sudah agak buram tidak memperlihatkan wajah Eliana yang kukenal tiga hari yang lalu, yang pergi dengan sangat marah—yang menuduhku pengkhianat dan penganut fasisme—saat tahu aku seorang Madridista. Artikel itu mengisahkan tentang gadis militan pendukung Barcelona yang pro-kemerdekaan Catalonia, yang ikut tewas bersama ribuan rakyat kota itu. Terlihat ada pin berlogo klub Barcelona di sweater yang dikenakannya.

Dan, kakiku seperti tak bisa kugerakkan ketika handphone-ku bergetar. Sebuah pesan masuk, pengirimnya Maria Eliana Valverde: “Martin, maafkan aku. Kau tak akan pernah paham arti Barcelona dan Catalonia bagiku. Bagi kami. Bagi Madrid, kami hanyalah parasit, dipandang sebelah mata. Melawan adalah cara kami, seperti para pemain Barcelona yang terus menyerang ketika bermain. Menang atau kalah. Aku senang bertemu denganmu, meski aku tahu kita berseberangan. Tapi, la vida es así, cada uno dejando… [12].’’

Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Nalar dan pikiran rasionalku mulai koyak-moyak. Aku teringat segala yang dingin pada dirinya: genggaman tangannya saat kami bersalaman, dua bibirnya yang manis, dan tatap matanya yang sering kosong, meski kadang terlihat membara.

Bayangan pertemuan dengan Eliana tiga hari yang lalu seolah-olah mengabur dan hilang ketika aku sudah berada di taksi menuju Puerta del Sol, tempat penginapanku selama di Madrid, yang berada di Titik Nol kota itu. Aku merasa pikiranku sudah tak normal lagi. Nyatakah wanita bernama Maria Eliana Valverde itu? Aku benar-benar tak paham. ***

 

Pekanbaru, Mei 2017

 

Keterangan:

[1] Monumen Miguel de Cervantes Saavedra didesain oleh dua arsitek terkenal, Pedro Muguruza dan Rafael Martinez Zapatero, serta pemahat bernama Lorenzo Coullaut Valera pada tahun 1925. Setelah Lorenzo meninggal, pemahatan diteruskan oleh anak lelakinya, Federico Coullaut-Valera Mendigutia. (Wikipedia)

[2] Stasiun Atocha adalah satu dari dua stasiun besar di Madrid. Stasiun lainnya adalah Chamartin. Stasiun Atocha menghubungkan Madrid dengan beberapa kota besar lainnya seperti Seville, Toledo, Zaragoza, Lleida, Barcelona, dan Malaga.

[3] Tunggulah aku di Plaza de Espana (bahasa Spanyol).

[4] Apakah saya terlambat? (Spanyol)

[5] Perpaduan donat dan cokelat panas yang sangat kental. Cara makannya cukup mencelupkan donat yang bentuknya memanjang ke dalam cokelat panas tersebut.

[6] Apakah kamu ingin menari denganku? (Spanyol, lirik lagu “Barcelona” oleh Fariz RM)

[7] Puisi “Huesca” karya John Cornford, yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar dengan judul sama.

[8] Sebuah ungkapan perlawanan yang menjelaskan bagaimana Barcelona sebagai cerminan dari “pemberontakan”, perjuangan dari masyarakat yang terpinggirkan, tertindas secara sosial politik dari sebuah kekuasaan Kerajaan Spanyol yang dikuasai Jenderal Franco sejak menang Perang Sipil tahun 1937-1939. Franco berkuasa secara fasis dan otoriter.

[9] Cinta itu buta (Spanyol).

[10] “Pengkhianat! Fasis!” (Spanyol)

[11] Maria Eliana Valverde, korban bom Franco.

[12] Hidup memang begini, saling meninggalkan… (Spanyol)

 

HARY B. KORI’UN adalah wartawan Riau Pos (Jawa Pos Group) di Pekanbaru. Buku kumpulan cerpen tunggalnya Tunggu Aku di Sungai Duku (2012). Novel terbarunya, Luka Tanah (2014). Novel lainnya, Nyanyian Batanghari (2005), Jejak Hujan (2005), Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), dan Nyanyian Kemarau (2010).

Advertisements