Cerpen Surianti (Rakyat Sumbar, 04 November 2017)

Cindaku ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Cindaku ilustrasi Rakyat Sumbar

SENJA telah datang. Mega di langit sudah nampak. Suara adzan menggema dari surau tangah.

Para warga yang akan melaksanakan shalat berjamaah, sering melihat Cindaku di rumah si Anun. Masyarakat sebagian menyebutnya Leco. Orang yang berbadan pendek, buruk wajah, tua berkaki terbalik. Tumitnya mengarah ke depan, juga tidak berpakaian sehelai benang pun. Orang-orang beranggapan, mahkluk yang nampak oleh mereka di sana adalah sejenis hantu.

Tersebar cerita-cerita di kampung. Cindaku itu dahulunya berupa manusia. Karena perbuatannya sangat jahat, merugikan warga. Pada waktu meninggal kakinya berubah arah. Menurut orang tua-tua, apabila kakinya diluruskan seperti semula, dia bisa menjadi manusia kembali.

Sejak berita tentang Cindaku itu tersebar, masyarakat yang tinggal di dekat rumah si Anun jadi jarang ke surau. Karena takut kalau nanti bertemu hantu mengerikan itu. Ditambah lagi bila turun rinai. Tentu hantu-hantu berwajah jelek akan berkeliaran di lantai teras rumah bertingkat dua tersebut.

Mereka memang kadang nampak berjuntai di atas atap rumah. Atau berkejar-kejaran di teras tingkat dua bangunan. Maka dari itu, jumlah jamaah berkurang di surau. Lantaran warga yang akan berangkat ke tempat ibadah tersebut, mesti melewati rumah si Anun.

Lokasi rumah memang sangat dekat dengan jalan warga. Tidak ada orang yang berani lewat di sana. Apalagi sudah mulai gelap. Saat itu Aris adiknya Pudin terpaksa ke kedai membeli gula. Dia disuruh kakaknya, walau agak berat hati berangkat juga. Berjalan melewati rumah si Anun. Sebab warung satu-satunya yang masih buka cuma itu. Lapau Aji Kundue, di samping rumah tinggal tersebut.

Usai membeli gula, Aris melewati rumah si Anun. Tidak sengaja ia melirik ke atas bangunan. Dia melihat Cindaku berkejar-kejaran sambil cekikikan. Mendadak anak kecil itu lari, namun kaki terasa berat. Bulu kuduknya berdiri. Dingin seluruh tubuh, napas sesak, jantung berdegup kencang.

“Kenapa Aris?” tanya Bu Nurana. Pulang dari pengajian di masjid.

“Ada Cindaku,” jawabnya sambil terus berlari.

Sejak kejadian itu, masyarakat semakin gempar oleh berita Cindaku yang menghuni rumah si Anun. Memang, bangunan tersebut sudah lama ditinggal penghuninya. Lantaran sibuk bekerja di Jakarta, menjual pakaian. Jadi tempat tinggal tersebut sudah tampak angker. Ditumbuhi tanaman rambat dan berlumut. Ditambah pula, tidak ada tetangga bersedia menghidupkan lampu bila malam tiba.

Pudin baru saja menikah dengan warga luar daerahnya. Dia memang dijuluki masyarakat, pemuda lapuk. Lantaran usianya yang sudah lebih kepala empat belum juga laku. Tapi kini, dia baru saja usai melakukan helatan. Langsung pula berencana menetap di kampung. Maklum pekerjaannya sebagai petani di desa.

Tidak mungkin Pudin pilih-pilih rumah untuk tinggal. Dapat ditempatinya bangunan si Anun, itu sudah mujur sangat rasanya. Dapat menghuni rumah tersebut secara gratis. Telah tersedia pula perabotan yang lengkap. Urusan Cindaku, dia tidak begitu mempersoalkan. Penting baginya, ada tempat untuk berteduh.

“Aneh ya. Kok lampu rumah si Anun bisa menyala sendiri. Setiap menjelang senja. Mati waktu Isya berakhir? Apa benar yang dikatakan orang-orang. Kalau rumah itu penghuni barunya Cidaku?”

“Jangan lekas percaya pada hal-hal seperti itu. Kemaren kabarnya, ada orang berani tinggal di sana. Pudin, membawa istrinya itu tinggal di rumah si Anun.”

“Kok nggak pernah keliatan. Sudah lama dia tinggal di sana?”

“Itulah masalahnya. Sudah sebulan lebih mereka tinggal di sana. Tapi belum satu pun warga yang melihat istri Pudin itu. Sekadar belanja ke warung saja tidak pernah.”

“Atau jangan-jangan Pudin kawin dengan Cindaku?”

Suatu siang Pudin bercerita di sawah. Sedang istirahat siang, lelah bekerja lantaran panas sangat terik. Acap kali dia melihat Cindaku di rumah si Anun. Tengah malam, saat pulang dari lapau (kedai). Terdengar suara gaduh dari belakang. Hantu berwajah jelek itu berkejar-kejaran memainkan jemuran kainnya. Dia diamkan saja, lanjut tidur ke kamar. Istrinya sudah lelap tidur.

Mungkin Cindaku tidak menyukai lampu, pikirnya. Sebab tidak pernah masuk ke kamarnya. Mereka hanya berani di tempat gelap saja. Teras sengaja tidak diberi penerangan, agar hemat listrik. Begitu juga bagian belakang yang terlihat kelam. Sering terdengar suara gaduh sampai ke ruang tamu.

Pudin setiap hari bekerja memetak ke sawah. Setelah magrib, baru bergegas pulang. Biasanya, usai mandi langsung ke lapau. Mencari segelas kopi dan main domino bersama teman-teman. Bahkan sampai larut malam. Pukul dua belas baru ia pulang, membuka pintu. Istrinya terkadang sudah lelap tidur.

Sebetulnya, memang kurang wajar terlihat. Sebab Pudin jarang mendekati istrinya. Mereka padahal masih disebut pengantin baru. Entah kenapa ia malas saja. Bahkan tidak tertarik sama sekali. Sebagai penutup malu, ia bersedia kawin dengan perempuan yang juga sudah berumur tiga puluh lima itu.

Sejak menikah sampai saat pindah ke rumah si Anun. Pudin tidak pernah sekalipun mendatangi istrinya. Entah karena dia sudah agak tua. Tidak ada hasrat untuk berkasih-kasih dengan perempuan yang berkulit kuning itu. Walau wajahnya sudah dipoles bedak, tetap saja terlihat jelek di matanya. Ditambah pula body agak berisi. Seluruh tubuh wanita berambut sebahu itu seakan dipenuhi lemak.

Terkadang batin Pudin sering menjerit. Mengapa setiap kali melihat istrinya ia ingin lari saja. Apa gunanya ia menikah, bila tidur masih sendiri-sendiri juga. Harus ada guling pembatas. Apa lagi jalan ke luar bersama. Sekadar menikmati suasana sore di kampung. Jangan harap itu terjadi. Malu dia membawa perempuan yang baru datang di hidupnya itu bersantai.

“Ada juga bagusnya punya istri jelek. Tidak pernah ditiduri. Jadi tidak bakal mengandung. Punya anak, akan membuat hidup semakin susah. Untuk makan saja sudah payah,” bisiknya membatin sendiri.

Seperti biasanya. Setelah Pudin agak terlelap, antara tidur atau belum. Istrinya bangun, menyelimuti suami tercinta. Lalu mematikan lampu, agar tunggakan listrik tidak membengkak. Memenuhi kebutuhan makan saja, sudah susah. Sebab yang berusaha hanya suaminya saja seorang diri.

“Bang Pudin, aku telat. Mungkin hamil. Sudah dua bulan,” ujar istrinya tengah hari. Sambil meletakkan nasi ke piring suaminya.

“Kok bisa?”

“Kok bisa bagaimana? Kamu kan suamiku. Ini mesti terjadi, karena aku perempuan.”

“Sekali saja aku belum pernah menidurimu?”

“Lalu siapa yang tidur denganku? Sampai telat datang bulan?”

Pudin tidak berselera lagi makan siang. Perut terasa kenyang. Setelah mendengar celoteh istrinya yang tidak masuk akal. Dia bergegas ke luar dari rumah. Beranjak kembali ke sawah. Melanjutkan pekerjaannya memetak tanah. Dalam letih dan bingung, dia duduk ke pondok bambu. Bercerita-cerita sambil minum teh manis dengan Bu Nurana juga suaminya.

“Din, jangan terlalu sibuk bekerja. Bagilah waktu dengan istrimu. Ajak dia jalan-jalan sore ke luar sesekali!”

“Bagaimana tidak berusaha keras Bu Nurana. Hidup perlu makan. Istriku itu pemalu, dia malas jalan-jalan ke luar. Lebih senang nonton di rumah.”

“Saya jadi heran. Kenapa kamu bisa tahan di rumah itu. Apa istrimu tidak merasa terganggu dengan Cindaku itu?”

“Atau jangan-jangan istrimu itu…” ucapan Bu Nurana terputus. Lantaran suaminya cepat-cepat mendeham, agar tidak dilanjutkan perkataannya.

“Bu Nurana hati-hati kalau bicara. Istriku bukan Cindaku. Dia hanya belum bisa bersosialisasi dengan warga di sini. Karena baru pindah,” jawab Pudin agak seot.

“Lagian sekali seminggu dia pulang kampung pula. Kapan mengerjakan pekerjaan rumah. Tugas perempuan Bu Nurana paham, tidak habis-habis. Ditambah lagi, jemuran di belakang sering dipindahkan Cindaku itu. Dia harus bolak-balik menjemur kain dan memarahi aku. Katanya aku yang memindahkan besi jemuran.”

Hati dan pikiran Pudin tidak pernah tenang, hingga senja datang. Bahkan dia tidak pulang menemui rumahnya. Dari sawah, langsung duduk di lapau. Sampai istrinya datang ke warung tempat ia sedang berjudi, sambil menghirup lintingan ganja temannya. Dia tidak peduli, malah mengusir istrinya saat itu juga.

Sampai waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Pudin masih belum beranjak dari warung tempat ia duduk semalam. Enggan untuk ke luar, dia malah tidur dengan nyenyaknya, di atas dipan kayu samping meja. Tanpa disadari, jam berputar cepat. Senja datang lagi, rinai turun.

Setelah mencuci muka, ia duduk di bangku kayu. Menghirup kopi, sambil membakar rokok. Orang-orang semakin ramai berdatangan. Sekadar duduk bercerita dan main domino. Malam datang lagi. Rinai semakin tebal, ditiup angin kencang. Teman-temannya sudah beringsut pulang. Pudin juga tinggalkan lapau, lantaran sudah lengang.

Dibuka pintu rumah, langsung masuk ke ruang tamu. Pintu kamar tenganga, gelap gulita. Tidak seperti biasanya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Belum terlalu larut dia pulang. Tiba-tiba saja pikiran untuk bermanja dengan istri datang seketika. Lagian  istrinya sudah hamil. Siapa lagi yang meniduri perempuan itu, kalau bukan dirinya.

Dinyalakan lampu kamar. Mata Pudin terbelalak, melihat istrinya tertidur pulas. Matanya terpejam, seorang pria gemuk berwajah buruk, tumit terbalik rebah di sampingnya. Memeluk wanita di depannya dengan erat.

Cepat Pudin mematikan lampu. Tidak sanggup melihat adegan selanjutnya. Cindaku tengkurap di atas tubuh istrinya. Bergegas ia pergi ke rumah Bu Nurana. Menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.

“Pudin, sadarlah mulai hari ini. Tadi siang istrimu ke sini. Dia pamit, mau pulang kampung. Tidak tahan menerima perlakuan kau. Tingkah laku kau setiap hari,” ujar Bu Nurana penuh lemah lembut. Memberikan arahan yang baik pada Pudin.

Pudin tidak berucap apa-apa lagi. Dia diam membisu. Kalau bukan istrinya yang dilihat di kamar tadi, lalu siapa? Benarkah selama ini dia telah dipermainkan oleh Cindaku, yang menghuni rumah si Anun. Dalam bingung, ia kembali pulang ke rumah orang tuanya. (*)

Advertisements