Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 05 November 2017)

Ali Arkam dan Istrinya dan Kucing ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Ali Arkam dan Istrinya dan Kucing ilustrasi Suara Merdeka

Hujan sudah berlangsung empat belas hari dan tak ada tanda-tanda akan selesai. Gulungan mendung masih merajai langit, memberkahi bumi dengan kegelapan absolut. Sawah dan ara-ara berubah menjadi kolam. Tanaman membusuk. Hewan ternak mati kedinginan. Ikan-ikan mengintip cemas ke permukaan perairan, berharap setitik cahaya dari angkasa. Orang-orang bertanya-tanya, dosa apa yang telah mereka lakukan hingga Tuhan mengirim azab semacam itu. Sebagai jawaban, Tuhan mencipta mendung yang lebih tebal dan menjatuhkan hujan lebih deras lagi.

Ali Arkam mendengkur di balik selimut tebal. Istrinya sebal.

“Tidak adakah yang bisa kaulakukan selain tidur dan mendengkur?” perempuan itu mengibaskan selimut yang melindungi tubuh Ali Arkam.

Di dapur, seekor tikus dekil menjelajahi lemari makanan, lalu melompat ke tempat bumbu, bergerak gesit menuju meja makan, lantas memeriksa gentong beras yang terbuka. Dan setelah yakin segala usahanya sia-sia belaka, ia berjalan lesu di lantai. Seekor kucing kurus mengamatinya. Mencari waktu yang tepat untuk menancapkan cakar-cakarnya pada tubuh bungkring tikus itu. Kesabaran si kucing membuahkan hasil tiga belas detik kemudian.

Ali Arkam berjalan gontai untuk mencari air minum ketika tikus malang itu tinggal ekor. Melampiaskan kekesalan yang diakibatkan oleh gangguan dari istrinya dan cuaca yang tak kunjung membaik, Ali Arkam menyepak si kucing. Begitu keras tendangannya hingga si kucing terpental dan membentur dinding lembap. Kucing itu mengeong sebentar, lalu mengejat-ngejat. Darah kental mengalir dari mulut dan mata kirinya.

“Ada apa?” terdengar suara cempreng dari kamar tidur.

“Kucing terkutuk itu mati,” Ali Arkam menjawab sengau.

“Apa maksudmu?” perempuan itu tergopoh-gopoh menyusul ke dapur.

“Jangan marah. Ambil sisi baiknya. Setidaknya sekarang kita punya sesuatu untuk mengganjal perut kita selain air,” ujar Ali Arkam. Air mukanya pias, namun sesungging senyum tak mampu ia tahan, sebuah reaksi dari perpaduan antara perasaan terkejut menyadari kekejaman yang barusan ia lakukan dan kegembiraan mendapatkan ide cemerlang yang tak pernah ia sangka-sangka.

Dan, itulah yang terjadi. Sisa hari itu menjelma saat-saat terindah dalam kehidupan rumah tangga Ali Arkam selama seminggu terakhir. Istri Ali Arkam mendapat kesibukan lain selain mengomel. Tangan-tangan kokinya mendapat bahan untuk memuaskan hasrat. Dengan keterampilan tingkat tinggi, ia menguliti kucing itu, memotong-motong dagingnya, menyimpan tulang belulangnya, dan menjilati darah yang menetes-netes. Kelaparan yang menyerang perempuan itu berhari-hari telah mengubah dari orang yang anyih-anyih menjadi persona yang hemat dan cermat memperlakukan apa pun yang memiliki pontensi mengenyangkan dan tercerna lambung.

Ali Arkam tak mampu menahan tawa menyaksikan darah belepotan di bibir perempuan yang sudah enam tahun dia nikahi itu.

“Apa yang lucu?” perempuan itu menoleh. Senyumnya mengembang. Kesadaran sebentar lagi mereka akan menyantap daging setelah hari-hari yang sulit menyebabkan kegalakannya menguap. Kegembiraan meluap-luap dari hatinya dan terlihat jelas di air mukanya.

“Kamu, Sayang,” ujar Ali Arkam. “Coba bercerminlah.”

“Ambilkan cermin kecil di kamar. Tangan-tanganku sedang sibuk.”

Mereka tertawa bersama ketika melihat bayangan wajah perempuan itu di cermin.

“Kamu seperti vampir,” Ali Arkam menggoda.

“Dan kamu seperti manusia serigala,” balas istrinya seraya meraupkan tangan kanan yang belepotan darah ke muka Ali Arkam. Dan mereka kembali tertawa, lebih keras dari sebelumnya. Di luar rumah, hujan jatuh makin rapat.

Ketika daging kucing itu sudah terpotong kecil-kecil, Ali Arkam menyalakan kompor gas. “Anjing,” ia memaki begitu menyadari gas elpijinya habis. “Ada uang?” ia bertanya kepada istrinya.

“Sudah tidak ada. Kemarin yang terakhir,” istrinya menjawab lesu.

Sebagai petani sayur, mereka mendapat uang dua hari sekali dari hasil penjualan tomat atau cabai. Sejak sawah tergenang dan tanaman membusuk, mereka tidak lagi mendapatkan penghasilan. Hal itu terasa makin menyakitkan lantaran seharusnya pada hari kedua hujan tak habis-habis ini, mereka memasuki puncak masa produksi cabai dalam musim tanam tahun ini. Mereka telah menghabiskan banyak dana untuk membeli benih dan obat-obatan. Tabungan musim kemarin habis terkuras. Dengan pertimbangan matang, mereka memilih benih terbaik yang jauh lebih mahal dari yang standar. Berharap benih-benih itu tumbuh sebagai tanaman yang baik dan menghasilkan banyak buah-buahan, mereka mengangankan keuntungan berlipat sebagai akibat dari kenaikan harga menjelang tahun baru, seperti yang selalu terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ali Arkam menjelajahi seantero rumah, mencoba menemukan kayu sebagai bahan bakar untuk menyate daging kucing itu. Setelah setengah jam yang sia-sia, kemarahannya bangkit. “Aku tak mau makan daging mentah,” gumamnya.

“Ambil saja satu kursi. Pilih yang sudah hampir rusak,” istrinya berkata.

Itu ide cemerlang. Kegembiraan kembali menguasai pasangan yang oleh tetangga-tetangganya kerap diolok-olok gabuk lantaran tak kunjung memiliki momongan itu. Olok-olokan itu sering membuat mereka depresi. Beberapa famili menyarankan mereka mengadopsi anak sebagai pancingan. Dengan nada meyakinkan, mereka menyebut nama-nama yang berhasil mendapatkan momongan setelah mengadopsi anak sebagai pancingan.

“Yu Ginah dua puluh tahun mandul. Kau tahu? Kini ia punya si Jupri setelah sebelumnya ngambil si Ali, anak mbakyunya.”

“Pak Supri juga begitu kan? Istrinya nyaris gila saking stres. Lalu mereka ngambil Juminten. Dan lihatlah. Sekarang mereka punya tiga anak. Dan Bu Supri sudah hamil lagi.”

Pada waktu itu, kebetulan kakaknya yang sudah memiliki dua putra tengah hamil dua bulan. Setelah perundingan yang berlangsung mudah, tercapai kesepakatan janin itu kelak diadopsi sebagai anak pancingan oleh Ali Arkam. Selagi menunggu kelahiran si anak, Ali Arkam memungut seekor kucing kampung, sekadar untuk menghibur diri dari sepi, yang kini dagingnya akan mereka santap.

“Kecap ada?”

“Ada. Banyak kayaknya.”

“Bumbu-bumbu gule?”

“Ada juga.”

Mereka memanfaatkan tungku yang sudah berbulan-bulan mereka pensiunkan, tepatnya sejak pemerintah membagi-bagikan kompor gas berikut tabung elpiji tiga kilogram. Asap mengepul menyesaki dapur. Ali Arkam membuka jendela dapur, namun segera menutup setelah air hujan menampias.

Mereka tidur lelap setelah menyantap sate daging kucing dan bercinta habis-habisan. Tiga jam kemudian, ketika hari telah gelap, mereka terbangun bersamaan dan merasakan perut mereka panas.

“Seperti ada yang mencakar-cakar lambungku,” keluh Ali Arkam.

“Aku bahkan seperti mendengar suara ngeong dari dalam perutku,” istrinya menjawab.

“Barangkali organ pencernaan kita kaget. Kita kan sudah lama tidak makan daging?”

“Bisa saja.”

“Atau ini pertanda lambung kita menginginkan daging kucing lagi. Sisa-sisa kucing yang kita gule itu.”

“Yah, mungkin lebih baik bila kita makan lagi.”

Maka mereka menyantap gule tulang-belulang kucing, beserta kepala si kucing. Ali Arkam dengan rakus mencungkil kedua bola mata kucing, dan istrinya memilih menyikat congor beserta lidah si kucing. Mereka membagi bongkahan otak kucing sama besar. Gigi-gigi mereka mengerikiti belulang, dan lidah mereka sigap menyedot sumsum.

Hawa dingin dan perut kenyang mendatangkan kantuk begitu tulang belulang kucing telah licin di piring. Suami-istri itu tidur bergelung di kamar, damai dalam siraman cahaya lampu yang tidak terlalu terang. Meringkuk seperti dua ekor kucing.

Ali Arkam bangun lebih dulu keesokan paginya. Hidungnya terasa gatal dan ia bersin-bersin. Seperti ada bulu-bulu yang menggelitiki lubang hidungnya. Ia terlonjak dari tempat tidur begitu mendapati di sampingnya, tengah tidur bergelung, seekor kucing besar, begitu besar hingga lebih layak disebut kucing raksasa. Kucing yang mengenakan daster seperti yang dipakai istrinya ketika berangkat tidur malam sebelumnya.

Ali Arkam memanggil istrinya dengan panik, mengira istrinya telah bangun lebih dulu dan pergi keluar kamar untuk melakukan sesuatu. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah suara meong yang parau. (44)

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Buku puisinya Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Advertisements