Cerpen Kaka Clearny (Republika, 29 Oktober 2017)

Surga di Formosa ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Surga di Formosa ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Embusan sapu-sapu angin November membawaku terbang kembali memunguti serpihan asa yang pernah terberai. Tergoda oleh iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan seorang calo TKI, aku memilih Negeri Formosa, Taiwan, untuk mengadu nasib, menggantungkan harapan-harapan pada koin-koin NT. Dengan semangat super meluber-luber, jiwa dan ragaku lesap menuju negeri empat musim bersama maskapai Eva Air, meliuk di birunya angkasa, menyelinap di antara gumpalan putihnya mega.

Kedua mataku berbinar. Aku merasakan angin daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu, saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi di Xindian sesaat setelah oto berpelat nomor aksara Han Zi itu memboyongku untuk menemui majikan. Aku tidak sendiri, ada Mr Chen yang notabene sebagai agenku.

Ada sesuatu yang membuncah isi kepalaku, hatiku membelungsing. “Bukankah aku sudah medical check-up, mengapa harus ke rumah sakit lagi?” gumamku dalam hati.

Meski begitu, aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr Chen menuju lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat begitu kuat di dalam ruangan itu. Terdapat tiga ranjang pasien. Langkah kami lurus menuju ranjang yang memangku jendela.

Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di atas ranjang. Terlihat kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya terbalut perban dengan bercak darah. Di hidungnya terpasang selang makan. Di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak. Di dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah ranjang terdapat kantong kencing.

Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan. Ini pemandangan pertama yang mengerikan sepanjang hidupku. Terdapat dua wanita yang berdiri di masing-masing sisi ranjang. “Selamat petang, Nyonya Ma,” suara Mr Chen menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku akan sosok pria yang tergolek di atas ranjang.

“Petang, Mr Chen.” Salah satu wanita menjawab sapaan agen perekrutku. Wanita paruh baya, bertubuh kurus. Tingginya kurang lebih sama denganku 150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam. Matanya terlihat lelah.

“Namanya Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini,” tambah Mr Chen.

“Nana, ini nyonyamu,” ungkap Mr Chen padaku.

“Selamat petang, Nyonya,” sapaku padanya sambil menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja menjadi pembantu.

“Selamat datang,” jawab Nyonya, diikuti seraut senyuman hambar dari wajahnya.

“Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma.”

“Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan.” Mr Chen memberi penjelasan singkat padaku.

Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang Nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap. Keadaan seperti ini bagai membeli kucing dalam karung. Aku tidak membaca dengan seksama isi lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu.

Tepatnya, semasa pelatihan di asrama perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada di benakku saat itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di Singapura yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah. Tapi, berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.

Meski begitu, aku harus tetap konsisten, semua sudah telanjur. Terikat perjanjian utang bank selama sembilan bulan, aku harus melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang. Mr Chen pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.

“Kerja baik-baik ya.”

“Kalau ada apa-apa, hubungi aku,” pesannya sambil menepuk ringan pundakku.

“Terima kasih,” ungkapku sambil mengangguk.

Mr Chen berlalu meninggalkanku. Semen tara, sesosok wanita lain yang bersama Nyonya adalah yang merawat Tuan sebelum aku tiba. Namanya Ms Anggie. Perawakannya tinggi besar. Wajahnya sinis menatapku. Untuk sementara, dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat Tuan.

“Nyonya, kecil sekali dia!”

“Apa dia mampu menjaga Tuan?” ungkap wanita itu pada Nyonya sambil sesekali melirikku.

“Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun.” Nyonya mencoba membela.

Maghrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera tenggelam dalam dekapan malam langit Negeri Formosa. Nyonya pun telah berpulang ke kediamannya dan memercayakanku merawat tuan di bawah pengawasan Anggie yang memang sudah berpengalaman.

“Kamu bisa sedot dahak kan?”

“Coba kamu praktikkan sekarang!” Suruh Anggie dengan nada agak tinggi. Entah apa yang terjadi, sejak awal kedatangan dia memperlakukanku dengan sinis. Aku cuaikan saja. Toh dia bukan majikan.

“Aku bisa, Nona Anggie,” jawabku lirih.

“Selamat malam, Tuan.”

“Namaku Nana.”

“Nantinya, aku yang akan merawatmu.”

“Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak.” Aku memperkenalkan diri pada tuan sebelum melakukannya.

Tuan tak bersuara karena di bagian leher ada semacam lubang napas dan itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sesekali, dia melirik ke arah Anggi. Sorotan mata Tuan bak pisau tajam, penuh kebencian. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit menyumpah serapah, tapi tak terdengar suara.

Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan Nyonya yang menjelaskan mengapa kedua tangan Tuan terikat. Karena otak Tuan bagian pengendali saraf motorik belum benar-benar pulih, hal ini menimbulkan gerak refleks memukul, mencakar, mencabut apa saja yang ada didekatnya dan dia tidak sadar akan hal itu.

Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba pembungkus tangan Tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang.

Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar tubuhnya sendiri.

“Dokter!”

“Suster!”

“Tolong!” Terdengar teriakan Ms Anggie. Wajahnya menggambarkan ketakutan.

Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang agar pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan tuan. Ada sembilan perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sementara, aku lirik Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.

Tak lama, Tuan dibawa masuk ke ruang ICU. Pada waktu yang bersamaan, Nyonya datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan berderai air mata. Tapi, reaksi Nyonya membuatku nanap terpatung. “Pergi kau, aku tak ingin melihatmu!” dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiranku.

Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai. “Tapi, Nyonya…!” Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak pedulikanku.

“Tak punya pengalaman, jangan ke sini,” ejek Anggie yang mengikuti langkah Nyonya.

Aku punguti baju-bajuku. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba, ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya, dalam lunglainya tubuh ini, wajahku bagai tersulut api. Dadaku terpanggang.

Rasanya, seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara di balik kelopak mata. Kubiarkan saja air mataku merembes mengalir pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku tak perlu takut.

Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan mengajarkan keikhlasan. Kutekan beberapa nomor dan mulai berbicara.

“Selamat malam, Mr Chen!”

“Aku….” Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, tapi belum selesai berucap dia sudah memotong pembicaraan.

“Ya, aku sudah tahu.”

“Bermalam saja di rumah sakit.”

“Besok aku jemput.” Mr Chen berkata dengan nada ketus. Sepertinya, dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tak memberiku kesempatan berbicara dan langsung mematikan telepon.

Bulir-bulir bening tak berhenti menetes. Isak tangis lirih memecah keheningan malam yang semakin larut. Bahkan, satu-satunya pelindung di negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, ingin mengadu padanya. Tapi tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerjaku, ambisi untuk segera mengeruk NT mematahkan nalarku, itu kelalaianku.

“Ibu, aku sudah sampai di Taiwan, majikanku sangat baik. Ibu doakan anakmu ya?” Selayang SMS kukirim untuk Ibu, agar beliau tidak khawatir.

Dinginnya AC ruangan lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah perenungan. Kejadian hari ini akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidupku. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang terjadi.

“Kamu pergi mandi dulu!” Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.

“Malam ini, aku boleh bermalam di kursi ini?” izinku padanya.

Dia mengangguk tanda setuju. Kuhabiskan malam ini di bangku ruang tunggu rumah sakit menunggu pagi menanti agen datang menjemputku. Menjadi TKI itu bagai melempar dua sisi mata uang, mempertaruhkan nasib.

Entah, saat melemparkan mata uang, nasib akan jatuh di salah satu sisi mana, nasib baik atau buruk. Namun, yang paling utama adalah berharap kepada Sang Pencipta agar senantiasa memberikan hidayah dan jauh dari putus asa. Semangat harus tetap ada, meski permasalahan selalu berdatangan.

 

Hong Kong, 20 September 2016

Cerpen ini berhasil menjadi pemenang pertama Bilik Sastra VOI Award 2017 yang ditulis oleh pemilik nama asli Nila Noviana dengan nama akun Facebook sekaligus nama pena Kaka Clearny. Dara Blitar kelahiran 17 Desember 1986, saat ini, aktif sebagai pekerja migran di Negeri Beton. Pernah menjuarai lomba cerpen yang diadakan KPKers Hong Kong maupun KPKers pusat. Masuk dalam 250 penyair terbaik Indonesia versi Bebuku Publisher. Juara satu lomba menulis puisi tema janji Penerbit Harasi. Karya-karya lain dibukukan dalam antologi bersama baik cerpen maupun puisi. Alamat e-mail yang masih aktif nila00123@gmail.com.

Advertisements