Cerpen Budi Hatees (Padang Ekspres, 29 Oktober 2017)

Qadam ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Qadam ilustrasi Orta/Padang Ekspres

1

AKU mulai kisah ini dari dirimu. Semua ini memang tentang dirimu.

Kau mengendap-endap masuk ke surau ketika Subuh itu Kakek Nuridin sedang salat sunah. Setiap kali baru masuk ke surau, orang tua itu senantiasa mengawali aktivitasnya sebagai penjaga surau dengan salat sunah.

Semua orang di kampung tahu persis kebiasaan Kakek Nuridin. Dan Subuh itu kau tiba-tiba muncul di belakangnya. Sebatang kayu kau genggam. Saat ia rukuk, saat itulah kau hantam tengkuk tuanya. Dia jatuh dan mati.

Tetapi kau membantah semuanya. Ketika warga menemukan mayat Kakek Nuridin, kau yang menangis tersedu-sedu. Kau bilang sambil meratap, “Siapa yang tega membunuh orang sebaik Kakek Nuridin?”

Kakek Nuridin menatapku, lalu mengernyitkan keningnya. Orang tua itu mengejekmu. Sungguh, kau anak muda tak tahu malu.

 

2

AGAR lebih jelas, aku mulai dari sebelum kau membunuh Kakek Nuridin.

Kau tak suka kepada orangtua itu. Soal itu sudah kau tunjukkan saat pertemuan di Balai Desa beberapa waktu lalu. “Kau cuma pintar bicara,” katamu, “Kalau kau dalam posisi aku, pasti kau pun tak bisa apa-apa. Dasar orangtua tidak tahu diri.”

Kau memaki orang tua itu di hadapan orang banyak. Tapi Ompu Nuridin malah tersenyum. Orang-orang yang menghadiri pertemuan itu kaget bukan main, tak menyangka kalau kau akan sekasar itu. Mereka lebih tidak menyangka lagi ternyata Kakek Nuridin juga sangat keras mempertahankan pendapatnya.

“Itu gunanya kau kami pilih.” Kakek Nuridin menebar tatapan ke setiap sudut ruangan, kuat kesan meminta dukungan orang-orang. “Kami berharap kau punya solusi kalau ada persoalan. Ternyata….”

“Ternyata apa?” Amarahmu meninggi, sampai sudah di ubun-ubunmu. “Ingat kalau kau tua. Jangan memancing aku supaya marah.”

“Baiklah.” Kakek Nuridin masih lembut. “Aku tak akan bicara lagi. Kau kelihatannya tak senang. Padahal apa yang salah dari ucapan aku?”

“Salah. Semua salah.” Tetapi kau tak melanjutkan kalimatmu, karena kau langsung ingat sedang berada di mana. Orang-orang bisa saja tahu penyebab kemarahanmu, lalu mereka mempergunjingkannya. Lalu….

Kau tidak ingin semua orang punya alasan sama untuk memusuhimu.

Tiba-tiba kau diam. Kau perhatian semua mata yang tertuju kepadamu. Semua ingin tahu penyebab meledaknya kemarahamnu. Lalu kau alihkan perhatian mereka kepada hal lain yang tak ada kaitannya dengan inti pertemuan itu.

Kau sengaja berbuat begitu, sebab bila tidak, semua akan terbongkar. Juga hal yang dikatakan Kakek Nuridin, hal yang membuat kau begitu tersinggung.

“Kita sudahi saja pertemuan ini. Semuanya sudah jelas bagi kita.” Kau pun menutup pertemuan, tak perduli orang-orang bertanya-tanya.

Kakek Nuridin tampak mau protes, tetapi kau segera memotongnya.

“Sudahlah Kakek Nuridin, aku tak mau berdebat lagi denganmu.”

 

3

Kakek NURIDIN itu penjaga surau. Dia bukan orang asli, tapi pendatang yang kesasar. Dia tiba-tiba sudah ada di surau, tertidur di sana. Kondisinya sangat memprihatinkan. Warga yang menemuinya memutuskan memberinya tempat di kampung. Dia mendapat tanggung jawab mengurus surau.

Dua hari sebelum pertemuan, Kakek Nuridin mendatangimu karena mendengar ada bantuan dana dari Gubernur untuk membangun surau menjadi masjid. Kau kaget, tak mengira laki-laki tua itu tahu soal bantuan itu.

Gubernur memberikan uang itu langsung ke tanganmu karena kau berjanji kepada Gubernur bakal mengajak seluruh warga untuk mencoblos gambarnya saat Pilkada nanti. Ketika pulang membawa uang itu, kau merancang-rancang rencana untuk menghabiskan semuanya. Kau berpikir uang itu pantas untukmu, karena Gubernur memberikanya hanya padamu. Tidak ada yang lihat, kau berpikir begitu sambil melangkah.

Tetapi laki-laki tua itu tahu. Bagaimana bisa dia tahu? Darimana dia tahu?

Kakek Nuridin mendatangimu dengan konsep pemikiran, bahwa surau itu sudah seharusnya diubah menjadi masjid karena jumlah warga yang akan ditampung semakin banyak.

“Bantuan itu cukup untuk mengubah status surau menjadi masjid,” kata Kakek Nuridin.

Kau kaget dengan tawaran Kakek Nuridin. Kau yakin Kakek Nuridin cuma menebak-nebak soal uang. Karena sejak uang kau terima, belum ada seorang pun yang kau beritahu. Bahkan, istrimu yang gendut tak tahu menahu. Kalau istrimu tahu, pastilah dia akan meminta bagian, lalu dia pergi menghabiskannya di pasar sambil bercerita kepada semua orang.

Kau tak ingin orang-orang tahu. Lalu, kenapa Kakek Nuridin tahu….

“Semua dana itu milik warga,” kata Kakek Nuridin, “kau harus pergunakan untuk kepentingan warga.”

Kau pun teringat pada ucapan Gubernur saat menyerahkan dana itu, sama persis seperti yang dikatakan Kakek Nuridin. Padahal, dana itu tidak ada kaitannya dengan program pembangunan daerah. Dana itu diambil Gubernur dari rekening pribadinya, diberikan kepada beberapa desa dengan maksud agar seluruh warga desa memilih Gubernur saat pilkada nanti.

“Uang apa?!” Kau melotot. Marah.

Kakek Nuridin tersenyum.

Sehari sebelum pertemuan di balai desa kau gelisah di dalam ruang tamu rumahmu.

Kau tetap bingung sampai besok harinya, sampai pertemuan di balai desa itu digelar. Rencanya kau akan mengajak seluruh warga memilih Gubernur saat Pilkada nanti. Kau ingin mengatakan kepada mereka betapa Gubernur itu sosok yang sangat pantas menjadi Gubernur. Kau mencoba mempengaruhi mereka dengan sekian banyak pujian terhadap Gubernur.

“Kenapa harus pilih dia?” Tanya salah seorang.

“Dia kasih apa?”

“Dia pantas untuk dipilih.”

“Ini bukan soal pantas, pasti ada hal lain.”

“Ada!” teriak Kakek Nuridin.

Saat itulah kau bilang tak suka pada Kakek Nuridin. Orang-orang heran pada sikapmu.

 

4

SETELAH pertemuan di balai desa itu, kau semakin gelisah. Kau sangat khawatir Kakek Nuridin akan membongkar soal uang itu. Kalau itu terjadi, kau tak akan mendapat apa-apa, kecuali caci maki.

Kau tahu, seluruh warga tak suka pemimpinnya berwatak jahat. Mereka ingin seorang pemimpin yang jujur, transparan, dan tak memanfaatkan warganya. Bukankah itu alasan mereka saat memilihmu dalam pikades. Ketika itu, kau seorang yang jujur, sopan, santun, dan…

Kau menang sedangkan kau tak pernah bermmpi menjadi kepala desa. Lalu, semua berubah. Kau menjadi sombong. Kau menjadi….

Semua warga menyesal memilihmu. Mereka merasa telah tertipu oleh wajahmu yang lugu. Mereka…. Tak pernah warga merasa begitu tertipu dalam hidup mereka.

Seperti warga lain, Kakek Nuridin juga merasa sangat tertipu. Sebagai satu-satunya orang paling tua di desa, Kakek Nuridin merasa kau tidak lagi menghormatinya.

Selama ini, semua warga menghormatinya, bukan saja karena ia sangat berusia. Tetapi juga karena ia seorang yang alim, yang menghabiskan sisa umurnya untuk mengurusi surau, mengajak setiap orang beribadah, dan memberikan ceramah agama. Suaranya yang serak dan parau sering bergema di lingkungan desa saat membacakan Alquran.

Seluruh warga mencintai Kakek Nuridin dan menghormatinya sebagai orangtua. Kau tahu kenapa? Karena ada manusia yang diberi Allah kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Kakek Nuridin memiliki itu, kelebihan itu. Akulah kelebihannya, dan aku pula yang memberitahu soal uang dari Gubernur itu. Aku mengikuti Kakek Nuridin karena ia seorang yang alim.

Semula Kakek Nuridin tidak percaya, tetapi aku meyakinkannya. Ketika ia menjumpaimu dan menyampaikan rencana-rencananya untuk mengubah surau menjadi masjid, saat itu ia hanya ingin memastikan kebenaran informasiku. Ternyata, kau kaget dan tak sengaja, Kakek Nuridin menangkap perubahan pada kulit wajahmu. Aku bilang pada Kakek Nuridin, “Lihat, ia jadi pucat. Ia heran kenapa Kakek Nuridin tahu.”

 

5

BEGITULAH, kau pun penasaran dan ketakutan. Kau merencanakan akan membuat Kakek Nuridin diam. Aku sudah mengingatkan Kakek Nuridin, tetapi laki-laki tua itu sangat percaya kepada Alllah.

“Allah sudah menentukan semuanya?” katanya.

Subuh itu aku sangat khawatir. Aku tak ikut salat sunnah. Hanya Kakek Nuridin dan aku mengawasinya sambil berpikir apa yang akan kau lakukan padanya.

Tak lama berselang, aku lihat kau memasuki surau. Kau membawa sepotong kayu. Aku mencoba menghalangimu, tetapi aku tidak bisa. Setiap kali aku coba menyentuhmu, aku hanya menyentuh ruang kosong. Aku mencoba mengingatkan Kakek Nuridin, tetapi aku tunda karena laki-laki tua itu sangat khusuk.

Saat Kakek Nuridin rukuk, kau pun muncul dan menghantam tengkuknya. Kau tersenyum melihat tubuh tua itu terjerembab. Tetapi aku justru tersentak karena Kakek Nuridin ternyata tetap berdiri, meskipun ada tubuh yang tergeletak di sajadah itu. Sosok itu jelas sosok Kakek Nuridin, tetapi ada sosok Kakek Nuridin yang lain.

Aku lihat kau begitu gugup. Kau seret tubuh yang tergeletak itu keluar surau, entah kemana. Aku tidak perduli, karena bagiku Kakek Nuridin tidak pernah pergi. Lalu, aku lihat Kakek Nuridin memberi salam. Setelah itu ia melihat kepadaku.

“Kau tak salat sunnah?” tanyanya.

Aku mengangguk dan mulai salat sunnah. ***

Advertisements