Cerpen Rhisma Hilda Prawita (Haluan, 29 Oktober 2017)

Pohon Randu ilustrasi Istimewaw.jpg
Pohon Randu ilustrasi Istimewa

Sudah sejak seminggu yang lalu aku dan keluargaku menempati rumah baru kami. Sebelum kami resmi menempati rumah ini, santer terdengar kabar mistis yang mengelilingi rumah ini. Mulai dari pemilik lamanya yang memelihara tuyul, kabar mistis tentang pohon randu yang berada di sebelah rumah yang tak bisa ditebang dan mengeluarkan darah, sampai kabar beberapa anak kecil yang kesurupan penghuni pohon randu tersebut.

Aku tak percaya kabar tersebut. Terlebih lagi, bagiku hal-hal seperti itu adalah mitos dan takhayul belaka. Boleh percaya, tapi tak boleh mengalasi kami untuk merasa takut. Aku meminta keluargaku untuk tidak terhasut kabar mistis tersebut.

“Lagi pula jika kita tidak mengganggu, mereka pun tidak akan mengganggu.” Itulah kata-kata saktiku setiap kali kudengar istriku mengadu tentang cerita-cerita mistis yang didengarnya dari para tetanggaku tentang pohon randu.

Hari Minggu ini kuhabiskan di rumah, mengajak anakku yang masih berusia tiga tahun berkeliling komplek dengan bersepeda. Saat melintasi pohon randu yang menjulang tinggi—mungkin tingginya mencapai 10 meter lebih—aku merasa bulu romaku meremang. Hawa dingin dan panas bergantian muncul meniup tengkukku.

Kupandangi pohon randu itu, yang tiba-tiba bergoyang tak tentu arah. Padahal aku tak merasa ada angin yang berembus di sekitarku. Kulihat daunnya bergoyang-goyang semaunya. Seperti mengibas-ngibas ke arahku. Tiba-tiba anakku menangis sangat kencang. Buru-buru kubawa dia masuk ke dalam rumah.

“Ada apa, Mas?” tanya Istriku dari dapur. Ia langsung menggendong anakku dan mencoba meredakan tangisnya.

“Entahlah, dia tiba-tiba menangis saat melintasi pohon randu itu,” jawabku santai walau sebenarnya aku sedang menyimpan banyak pertanyaan di kepala.

Advertisements