Oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto (Koran Tempo, 07-08 Oktober 2017)

Sirkus Pohon ilustrasi Bentang.jpg
Sirkus Pohon ilustrasi Bentang

Nama Andrea Hirata masih menjanjikan. Novel terbarunya, Sirkus Pohon, sudah laris bahkan sejak novel tersebut belum berjudul. Novel itu diluncurkan pada 15 Agustus lalu dan pada tanggal itu juga judul novel Andrea baru diungkapkan.

Sebelumnya, novel itu sudah ramai dipromosikan meski memakai nama sementara: #KaryaKe10Andrea. Promosi novel Andrea meliputi agenda Berburu Karya Andrea dan Nyanyian untuk Pak Cik. Kendati khalayak sama sekali belum tahu novel seperti apa yang dikarang Andrea, mereka banyak yang tertarik dan memesan (pre-order) novel semata-mata karena “nama besar” pengarangnya!

Memang, Andrea mesti diakui sebagai pengarang penting di Indonesia, walau ia cenderung berjarak dari lingkungan sastra kita. Andrea menempuh pendidikan ekonomi, alih-alih sastra, bahasa, apalagi filsafat. Namun ia dianugerahi keberuntungan ilahiah, langsung dari Tuhan, yakni dilahirkan di Gantung, Belitung Timur. Dengan itu, ia tumbuh dalam konteks sosial yang menarik untuk dinarasikan melalui novel. Tak pelak, Laskar Pelangi (2005) yang ditulisnya meraih perhatian luar biasa di dalam dan luar negeri, entah oleh pembaca maupun penonton film yang diadaptasi dari novel itu. Kesuksesan Laskar Pelangi kemudian Andrea jinjing melulu, disematkan sebagai instrumen promosi novel-novel berikutnya, termasuk Sirkus Pohon.

Konon, menurut keterangan Andrea, Sirkus Pohon itu novel terbaik yang pernah dikarangnya. Ia mengakui, “Buku ini memberi saya kesan this is it, memberi saya kesan apa yang ingin saya sampaikan selama ini sebagai seorang penulis, memberi saya kesan sudah lama saya ingin menulis seperti ini.” Novel yang nantinya terbit sebagai trilogi itu dikerjakan dalam tempo relatif panjang. Andrea memerlukan riset selama empat tahun, sampai-sampai mesti berkunjung ke Tahiti untuk belajar tentang pohon delima. Proses penulisan sendiri berlangsung selama dua tahun. Enam tahun waktu pengerjaan itu pun dibayang-bayangi kesuksesan Laskar Pelangi. Novel-novel sebelum Sirkus Pohon terbukti gagal melampaui pencapaian novel perdananya itu.

Sirkus Pohon, sebagai “this is it” Andrea, menanggung beban berat untuk menjaga reputasinya yang bertaraf internasional. Hanya, tak banyak hal baru yang Andrea tawarkan dalam novel itu. Sirkus Pohon masih berlatar tempat di kampung Melayu pedalaman. Andrea lagi-lagi mengisahkan perjalanan menuju sukses dari bocah hingga dewasa. Bedanya, jika Laskar Pelangi bertokoh bocah-bocah yang dapat lanjut sekolah, Sirkus Pohon mengisahkan mereka yang putus sekolah. Dalam hal ini, rasionalitas menjadi tantangan besar Andrea. Sebab, ia telah memilih jalur realisme, yang dalam terminologi Andrea sendiri, “fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.” Meski begitu, sekian peristiwa dalam Sirkus Pohon terasa picisan dan sulit diterima sebagai fakta sosial yang mungkin terjadi.

Kebaruan yang ditawarkan Andrea barangkali pretensinya berbicara politik, meski dalam lingkup kampung. Politik bukan semata-mata selipan atau selingan. Politik hadir di sekujur novel, sebagai pangkal peristiwa dalam Sirkus Pohon. Politik dimaknai Andrea secara praktis, yakni pemilihan kepala desa Kampung Ketumbi. Kendati begitu, peristiwa hidup Sobridin (tokoh utama novel) sendiri sebetulnya ditentukan oleh konspirasi politis Taripol Mafia dan Abdul Rapi. Andrea mempertemukan kita pada peristiwa yang mengesankan dan cukup memberikan efek kejut di akhir novel. Sayangnya, humor-humor yang bertaburan di sela-sela peristiwa tak begitu mengundang tawa. Andrea cenderung mengulang beberapa humor yang sama, Debuludin yang “berdebu-debu” misalnya.

Kebaruan lain yang Andrea tawarkan adalah teknik. Ia tidak menggunakan teknik komparasi dan analogi sebagaimana novel-novel sebelumnya, melainkan teknik yang ia sebut “sintesis”. Andrea memberi penjelasan, “Novel ini tidak bisa digambarkan dengan gamblang karena menulisnya dengan teknik ‘sintesis’. Maksud saya adalah, ini sudah membandingkan hal-hal yang tidak berhubungan.” Andrea menyajikan sekian peristiwa yang berlainan ruang dan waktu, masing-masing bertokoh Sobridin, Dinda, Tara beserta ibu dan sirkus keliling, Tegar, Gastori, dan Taripol. Sekian peristiwa bergantian tampil. Memang, dari peristiwa satu ke peristiwa dua dan seterusnya, terasa tidak berhubungan. Namun Andrea justru meruntuhkan ketakterhubungan itu sendiri di akhir novel untuk menunjukkan bahwa setiap peristiwa sebetulnya berhubungan.

Penentuan judul Sirkus Pohon sebetulnya problematis. Dalam novel itu memang ada pohon dan ada sirkus, bahkan menjelang akhir novel ditunjukkan pohon untuk berada di tengah-tengah sirkus. Namun penampilan pohon delima dalam novel itu kurang atraktif untuk mendefinisikan Sirkus Pohon. Sebetulnya, Andrea menyatakan, “Novel ini merupakan Laskar Pelangi dalam bentuk lain, bukan dalam karakter utama Ikal, Mahar, dan Lintang. Namun Laskar Pelangi dengan karakter utama sebatang pohon delima.”

Pernyataan Andrea bahwa tokoh utama Sirkus Pohon adalah sebatang pohon kurang bisa diterima. Pohon agak terlambat dihadirkan sebagai entitas penting. Pohon itu pun kurang berperan penting. Kalaupun berperan, pohon itu cuma dijadikan instrumen, bukan tokoh utama sebagaimana yang Andrea nyatakan.

Ada baiknya Andrea agak rendah hati dan mau belajar kepada novelis muda, semisal Faisal Oddang atau Ziggy Zezs yazeoviennazabrizkie, dalam menarasikan pohon. Meski tetap ada cela pada setiap novel mereka: Puya ke Puya (2015) dan Semua Ikan di Langit (2017), toh Faisal dan Ziggy relatif sukses menarasikan pohon sebagai tokoh dengan baik. Ziggy mengizinkan pohon dalam novelnya berdialog dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan Faisal sanggup menempatkan pohon pada posisi sentral dalam kisah. Dua penulis muda itu menautkan pohon pada hal-ihwal religius, menarasikan proses kehidupan dan penciptaan. Andrea justru mengaitkan pohon dengan industri hiburan, dan risikonya adalah ketidaksanggupan mengagungkan pohon di semesta Sirkus Pohon. Jika benar nantinya Sirkus Pohon mewujud trilogi, kita doakan saja agar Andrea mampu menambal lubang-lubang Sirkus Pohon di novel berikutnya.

 

JUDUL: Sirkus Pohon

PENGARANG: Andrea Hirata

PENERBIT: Bentang

CETAKAN: Pertama, Agustus 2017

TEBAL: 410 halaman

 

Udji Kayang Aditya Supriyanto, pembaca sastra dan pengelola Bukulah!

Advertisements