Cerpen Anton Erlangga Aditama (Kedaulatan Rakyat, 29 Oktober 2017)

Bedhol Desa ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Bedhol Desa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

INI hari ‘bedhol desa’ alias pindahan serentak secara bersama-sama satu desa. Aku bukan main senangnya. Pagi-pagi sekali, dengan kecepatan seorang pelari, aku mengepak semua barang-barangku nyaris hanya dalam sekejap mata. Baju, komputer, buku-buku pelajaran, semuanya sudah terbungkus rapi di dalam kardus dan ditata sesuai ukuran.

Kulonprogo akan punya bandara baru. Aku dan keluargaku akan tinggal di rumah baru. Lahan di desa kami “terpaksa” kena gusur, tapi aku bersyukur sekali karenanya. Belum pernah aku sebahagia ini semenjak Ayah membelikanku sebuah kamera Canon Rebel yang sudah lama kuidamkan!

Aku tidak mengerti mengapa orang-orang di desaku begitu sedih dengan hal ini, sama halnya dengan seluruh anggota keluargaku. Baiklah, orang lain mungkin punya rumah yang keren, dengan garasi dan langit-langit. Tapi, siapa sih yang akan merindukan gubuk mereka ini?

Aku tahu Ibu, Ayah, dan kakakku berlama-lama mengepak barang-barang mereka, tapi sekarang sudah jam sepuluh. Acara bedhol desa akan dimulai setengah jam lagi, dan aku bahkan belum melihat satu kardus pun selain milikku di teras rumah. Ini sudah kelewatan.

“Kau ngapain sih?” Aku mendamprat kakak perempuanku, Trisna, yang bukannya melipat kaus kaki yang bertebaran di sekitarnya, malah duduk melamun menatap kosong pada jendela. “Kenapa belum selesai?” tuntutku.

“Hampir,” katanya, tapi ia masih bergeming. “Mau kubantu?” Aku mengusulkan, melangkah masuk. “Nggak, pergi sana.” Trisna tidak menatapku ketika mengatakannya. Ia sengaja berlambat-lambat saat memunguti kaus kaki.

“Cepatlah.” kataku tak sabar. Mungkin aku terdengar menyebalkan, tapi selama sepersekian detik aku benar-benar tidak peduli.

Lahan relokasi rumah kami berjarak kira-kira setengah jam perjalanan dari sini. Sementara itu aku menunggu di ruang tamu yang kosong, benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Barang-barang lain yang lebih berat telah dipindahkan sehari sebelumnya.

Sepuluh menit berlalu dengan lambat ketika belum ada tanda-tanda bahwa orang tua atau kakakku akan segera selesai. Ada apa sih dengan orang-orang ini?

Aku memandang berkeliling ruangan, dan pandanganku jatuh pada sebuah celah selebar dua inci di bagian dinding yang retak. Dulu aku pernah menyembunyikan surat cinta untuk Trisna yang dititipkan padaku dari seorang pemuda yang tak bisa kuingat namanya. Ia marah besar ketika tahu, tapi sudah terlambat bertahun-tahun hingga tak mungkin untuk membalasnya

Dari dalam ruang tamu aku mengamati teras, di mana ibu biasa menunggu tukang sayur sementara ia menjahit. Satu kali dulu, tepat di keset itu, Trisna pernah menangis di pangkuan Ibu karena dia turun ke peringkat dua di kelas. Jika aku berpikir aku takkan merindukan rumah ini, ternyata aku keliru.

Ayah muncul dari ruang tengah, membawa sebuah kardus besar dan segepok kunci. Dengan menghela napas ia meletakkan kardusnya dan menatap kunci-kunci itu. Bandulnya di koleksi dari berbagai pasar malam yang dihadiri kami.

Sejenak Ayah kelihatan ragu-ragu, apakah mereka perlu mengunci rumah? Dan ekspresi yang tersirat di wajahnya membuatku tidak tahan.

“Kita akan tinggal di rumah yang lebih bagus,” kataku lirih, lebih kepada diri sendiri alih-alih untuk menghibur Ayah.

Ketika keluar lewat pintu depan rumah kami, aku menyadari bahwa itulah terakhir kalinya aku akan pernah melewatinya.

Aku takkan lagi berebut dengan Trisna untuk membukakan pintu ketika Ayah pulang di hari Sabtu membawa martabak. Pintu itu telah menjadi saksi pada banyak kesempatan di mana aku berpamitan dengan Ibu ke sekolah, dan anak cucuku nanti takkan menyadari betapa bersejarahnya bel pintu rumah kami karena besok pagi semua akan roboh, rata dengan tanah.

Aku duduk bersimpuh di antara kardus-kardusku dan menangis. Di teras ini, takkan ada lagi permainan catur satu lawan satu antara aku dan Ayah.

Aku takkan pernah lagi melihat Trisna pura-pura duduk memeluk buku, sementara ia menunggu pemuda anak tetangga sebelah yang ditaksirnya lewat. Ibu dan Ayah muncul dari dalam dan tersenyum penuh pengertian. Trisna ada di belakang mereka. Lalu sebuah pemahaman lain muncul di benakku.

Aku masih punya mereka, pikirku. Tak ada yang perlu disesali, rumah mereka nanti akan sama hangatnya dengan yang ini.

“Ya Tuhan,” Trisna geleng-geleng. Ia kelihatan puas sekali, seringainya benar-benar menyebalkan. “Kupikir kau senang kita akhirnya pindah?” Aku mengingatkan diriku untuk menggeplak kepalanya jika ada kesempatan.

Sambil memunguti harga diriku yang berserakan, aku menyeka airmataku dan mengangguk, “Memang,” kataku kaku. Aku bangkit dan berjalan menenteng kardus dengan angkuh, memimpin rombongan. q-e

Advertisements