Cerpen Aziz As-Syah (Radar Surabaya, 22 Oktober 2017)

Tak Perlu Dijeda ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Tak Perlu Dijeda ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Baik tentang keagamaan, matematika, geografi, fisika, dan bahkan dipelajari tentang pendidikan kewarganegaraan. Tapi, tidak hanya ilmu itu yang dapat kita pelajari di sana. Segala bentuk ilmu bisa kita dapatkan di sekolah. Terutama, ilmu berperilaku kepada sesama.

Akan tetapi, dari kebanyakan orang yang mengatakan bahwa sekolahku berbeda dengan sekolah-sekolah sebagai mana lazimnya. Entahlah, keperbedaan apa yang terdapat pada sekolahku, aku tidak tahu. Hanya saja, yang aku tahu, sekolahku berakreditasi B untuk kalangan swasta. Lumayanlah, untuk memajukan dan menumbuhkan generasi bangsa. Selain itu, perlu kalian tahu bahwa sekolahku tidak jauh berbeda dengan yang lain. Hanya itu yang aku tahu.

***

Sudah delapan tahun aku belajar di sekolah ini. Semenjak di SD hingga SLTP, dan sekarang sudah kelas VIII. Sungguh mengagumkan menuntut ilmu di sekolah ini. Karena telah banyak kurasakan, termasuk ilmu yang didapatkan selama berada di sini. Awalnya, tidak tahu membaca, tidak tahu menulis, tidak tahu sopan santun, tidak tahu kemerdekaan Indonesia kapan? Pada akhirnya aku tahu semuanya. Dengan bukti, bahwa Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pada teks Proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno di depan banyak orang dan didengar oleh seluruh rakyat Indonesia, disebarluaskan lewat media seperti radio dan lain semacamnya. Seperti itu, disampaikan oleh Bapak Dardiri, guru Pendidikan Kewarganegaraan. Ia adalah guru muda yang mengabdikan dirinya di sini. Dan gemar mengajar tentang segala yang berbau Indonesia.

Inilah berkat guru-guru di sini dengan suka hati mengajarkan atau membagi ilmunya dengan ikhlas. Namun, tetap yang menjadi benalu dalam benakku, aku tidak pernah menemukan keperbedaan yang dimaksud oleh orang-orang. Dan barangkali hal itu hanyalah iklan mereka untuk mengajak para siswa-siswa untuk masuk ke sekolah di sana. Entahlah!

“Selama sekolah di sini, apa yang kamu rasakan?” tanyaku mengawali pertanyaan.

“Biasa saja, seperti yang dirasakan teman-teman kita,” jawabnya spontan.

“Apakah kamu tidak merasakan perbedaan selama belajar di sekolah ini?” tanyaku penuh penasaran. Barangkali ia merasakan perbedaan yang dikatakan oleh orang-orang.

“Tidak ada. Setiap hari aku merasakan pahitnya belajar. Iya pokoknya, belajar, belajar, belajar, dan belajar, itu saja. Demikian yang banyak aku rasakan sehingga banyak pengetahuan yang aku dapatkan,” jawabnya dengan santainya, tanpa ada yang mengganjal seperti yang aku rasakan. Barangkali mereka sulit untuk merasakan hal yang sama seperti aku rasakan. Sebab aku tahu, aku adalah laki-laki yang seringkali dihantui penasaran terhadap segala sesuatu. Tapi, penasaran ini bukanlah rasa penasaran yang timbul begitu saja dari hati. Melainkan timbul dari perkataan orang-orang terhadap sekolahku.

Kriiiing… bel masuk telah dibunyikan. Tepat pada jam 09.30 WIB, bertanda jam masuk telah tiba. Seluruh siswa-siswi berbondong-bondong masuk ke dalam kelasnya masing-masing, begitu juga aku.

Aku pun membalikkan badan dengan langkah kaki gontai, dan rasa penasaran tetap termaktub dalam pikiran tanpa ada jawaban dari Deki, teman sekelasku. Tak ada yang aku mengerti selain dunia sebagai gudang beribu pertanyaan yang memaksa ingatan untuk menemukan jawaban.

“Sampai di mana pembahasan kita minggu lalu?” tanya Pak Dardiri, guru pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan semangat menggebu-gebu.

“Di bab I paling akhir tentang Sikap Positif Terhadap Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat,” jawab dari salah satu siswa kelas VIII Ghayatul Anwar Fairus.

“Halaman berapa?” tanyanya lagi seraya membuka lembar demi lembar tentang hal tersebut.

“Halaman 25, Pak,” cetus Dayat, dari arah belakang dengan penuh semangat pula.

Ia pun memulai pelajaran seperti biasa yang dipenuhi ambisi menggebu-gebu demi mencetak siswa-siswa yang berintelektual mumpuni dan berakhlakul karimah. Begitulah semua guru-guru di sini inginkan terutama, Bapak Dardiri.

***

“Apakah kamu tidak merasa ganjal dengan perilaku guru-guru di sini pada pekan kali ini?” tanyaku dengan penuh tanda tanya dalam benak.

Pagi mulai menampakkan keasriannya, dengan fajar yang kekuningan mulai menyingsing di ufuk timur penuh pesona. Pepohonan yang berlambaian penuh tabiat untuk terus menghibur alam ini. Serta angin berdesir mesra menembus pori-pori tubuh penuh ramah nan berarti. Tak ada yang melebihi selain selain ciptaan-Mu, ya rabbi.

“Perilaku ganjil apa yang kamu maksudkan?” tanyanya tak mengerti.

“Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu tentang sekolah ini? Sepertinya dipenuhi banyak pertanyaan ganjal yang ada dalam pikiranmu. Buktinya kemarin kamu menanyakan hal seperti ini kepadaku. Sebenarnya ada apa?” tanyanya lagi penuh penasaran untuk cari tahu.

“Sebenarnya tidak ada apa-apa. Barangkali ini hanyalah pikiran asal-asalanku saja. Merasa penasaran terhadap segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Tapi, kamu harus tahu meskipun aku sering penasaran terhadap segala sesuatu. Bukanlah filsuf yang merasa haus akan kebenaran. Hal itu hanyalah perkiraanku saja, barangkali!”

Aku berusaha menghindar untuk tidak menyusahkan orang dalam berpikir seperti yang aku pikirkan saat ini. Aku hanya tidak ingin mereka susah hanya gara-gara pikiranku yang selalu terlintas segala yang tak mesti ada jawabannya. Tapi, selain itu pula, aku berpikir, “Muncul pertanyaan tentu akan ada jawaban.” Dengan itu aku berkeyakinan pasti di kemudian hari, aku akan mendapatkan atau menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan dan kepenasaran yang aku alami itu. Itu pasti!

“Tapi, bagaimana menurutmu guru yang akhir-akhir ini seringkali memakai pakaian batik motif Madura asli itu, beda dengan yang lain?” tanyaku lagi seraya menunjukkan jari telunjukku ke arah guru itu, yang ada di arah bagian barat sana.

Ia bingung dengan pertanyaan sekaligus pernyataanku. Sebab, sebelumnya tidak akan terpikirkan dalam pikirannya perihal semua itu. Betapapun ia harus mengulang masa lalunya.

“Tak terpikirkan, memang, sebelumnya akan hal semacam itu. Sebab, kau tahu sendiri aku bukanlah orang yang suka meneliti segala hal.”

Aku hanya menganggukkan kepala memberikan isyarat mengerti terhadap segala yang disampaikan.

Matahari semakin bersinar semakin nampak ciptaan Tuhan dan kekuasaan-Nya. Satu persatu satu siswa dan siswi mulai berdatangan dengan buku, bolpoin di tangan. Terkadang setia dengan tas yang digendong di belakang badan, di samping badan. Terlihat indah siswa yang berjejer di depan beranda-beranda sekolah atau kelas-kelas dengan buku bacaan di tangan. Sebab, sudah menjadi kebiasaan atau menjadi kewajiban bagi seluruh siswa di sini, jika ada waktu lenggang untuk tidak meninggalkan waktu untuk membaca meskipun sekadar memegang. Sebagian pula berlalu-lalang di halaman.

Selalu terlintas dalam bayangan perihal yang aku pikirkan. Sungguh naif aku jika tidak mendapatkan jawaban.

***

“Apa yang kalian rasakan serta akan berikan kepada Indonesia saat ini, tepat pada Hari Kemerdekaan?” tanyanya kemudian, setelah menjelaskan dan memberi waktu bertanya kepada siswa tentang pelajaran Sikap Positif Terhadap Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat. Ia merupakan guru yang tidak pernah bosan memberikan motivasi, selain fokus pada pelajaran.

Seketika terlintas dalam benakku “ini kesempatanku”, kemudian aku menoleh ke kanan-kiri memastikan, barangkali ada teman-teman yang ingin bertanya. Di antara mereka tidak ada yang mengacungkan tangan. Malah diam dan duduk manis di atas bangku, mengamati. Barangkali mereka tidak bertanya karena ada dua alasan: pertama, takut salah. Kedua, tidak ada bahan untuk ditanyakan.

Berselang berapa menit kemudian tetap tidak ada di antara teman-teman untuk bertanya. Akhirnya dengan penuh percaya diri aku memberanikan diri untuk bertanya. Perihal yang aku rasakan selama ini. ‘Rasa penasaran’ itu.

“Bapak…,” seraya aku acungkan tangan.

“Iya.”

“Sebelumnya saya minta maaf apabila pertanyaan saya melenceng dari pelajaran yang dijelaskan Bapak barusan. Tapi, ini menyangkut tentang Indonesia…” aku berhenti sejenak untuk mengatur nafas.

“… akhir-akhir ini saya suka memerhatikan sikap Bapak. Maaf! Karena saya rasa Bapak merasa aneh dan berbeda dengan guru-guru lain yang biasa saya lihat, Pak? Soalnya dari penampilan Bapak tidak pernah lepas setiap harinya memakai pakaian batik yang bermotif seperti itu. Memangnya, apa yang melatar belakangi hal itu? Sekali lagi, maaf Pak jika pertanyaannya agak lebai,” lanjutku.

Kelas seketika bising setelah aku bertanya hal semacam itu. Barangkali anggapan mereka itu pertanyaan-pertanyaan risih yang tak perlu ada jawaban, tapi bagiku tidak.

Ia (Red: Dardiri) hanya tersipu malu dengan senyum yang merekah di bibir.

“Iya, terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang bagus. Sebetulnya, kenapa saya seringkali memakai seperti ini? Kalian tidak pernah menyadari betapa telah melalaikan dan membiarkan hal sepele untuk dilakukan. Saat ini telah banyak orang mengentengkan hal sepele yang nyatanya berdampak besar, 5 tahun lamanya. Saya melakukan seperti ini karena saya menyadari betapa saya mesti menumbuhkan hakikat jati diri saya sebagai orang Madura, yang kata mereka Madura kental dengan budayanya. Baik budaya membatik, musik, tari muangsangkal, kerapan sapi, dan lain semacamnya. Hal ini sebagian dari mempertahankan budaya Madura agar tetap utuh selamanya.” Ia menjedah penjelasannya.

“… tapi bagaimana kalian tetap menumbuhkan jati diri kita sebagai seorang yang tumbuh dan besar di tanah Madura ini. Apalagi tepat pada hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun kita ini, bagaimana turut menumbuhkan jiwa nasionalisme kita sebagai bangsa tanah air meskipun dengan cara seperti ini. Dan sekali lagi, perlu kalian ingat, jangan sampai membiarkan hal remeh dipandang sebelah mata,” lanjut penjelasannya.

“Betapa bodohnya aku, tidak cepat sedikit lagi mengerti,” batinku. (*)

 

Madura, 28 Agustus 2017 M.

*Penulis adalah mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk Sumenep Jurusan Akhlak Tasawuf (AT).

Advertisements