Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Suara Merdeka, 22 Oktober 2017)

Surat untuk Presiden ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg
Surat untuk Presiden ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

“Keluar kau, Kardi!” teriak Wahyu yang kemudian diikuti suara pintu digedor sepenuh tenaga. Teriakan Wahyu benar-benar merusak ketenangan pagi itu. “Keluar kau atau kudobrak pintu ini,” ancamnya sembari terus menggedor.

Sontak keributan yang dibuat Wahyu memanggil warga untuk datang melihat. Mereka saling berbisik dan menerka, apa gerangan yang menyebabkan Wahyu kalap pagi-pagi begini. Baru saja dia hendak mendobrak, pintu terbuka dan muncullah wajah Kardi yang kebingungan melihat halaman rumahnya mendadak seperti bioskop, penuh warga.

“Ada apa ini, Wahyu?”

Kardi keluar dengan pakaian lengkap hendak berangkat kerja. Burung merpati yang menjadi lambang perusahaan pos nasional tersemat di lengannya.

“Ini semua gara-gara kamu dan teman-temanmu, Kar!” Wahyu menunjuk-nunjuk wajah Kardi.

“Lo, tenang dulu, Yu. Jangan emosi. Aja kesusu nuduh orang. La, aku ini salah apa?”

“Sudah tiga minggu aku menulis surat kepada Presiden. Tapi sampai hari ini belum dibalas. Pasti kalian tidak menyampaikan suratku kan!”

“Lo, kami profesional, Yu. Bahkan kau tahu, aku sudah memastikan suratmu sampai ke tujuan.”

Advertisements