Cerpen Citta Mandala Keniten (Bali Post, 22 Oktober 2017)

Sang Dalang ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post.jpg
Sang Dalang ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Suara kletak dari kayu-kayu itu meriuhkan suasana. Musik-musik dari alat musik tradisional mengalun mengiringi gerakan tangan yang sedang menarikan sesuatu. Bulan juga sedang menyaksikan tarian itu. Semua orang merapat saat mendengar suara-suara. Sinar dari obor yang kekuningan itu menambah hangat suasana. Apinya menggeliat juga menari dengan angin yang menggoda. Lengkap sudah, lapangan itu ramai dengan manusia yang siap menyaksikan pertunjukan wayang semalam suntuk. Menanti sang dalang bercerita tentang sebuah kisah pewayangan yang menyimpan berjuta makna dan perjalanan hidup. Sunyi.

Bersuaralah sang dalang yang wajahnya bersembunyi di balik kain putih lusuh dengan sinar kuning temaram itu. Suaranya terdengar serak dan berat.

“Ini tentang Mahika…”

***

Pagi itu, saat embun masih turun dengan gemulai, ada seorang laki-laki yang sedang memilih biji kopi yang sudah disangrai oleh seorang perempuan tua, yang ia sebut nenek. Laki-laki itu terlihat terpelajar dibalik baju lusuhnya. Mungkin ia kota. Kota di mana tumbuhan kopi berubah jadi gedung pencakar langit. Kota di mana tanah itu sangat berharga tinggi, tanah adalah uang di sana. Kota di mana kegilaan akan semua yang semu benar-benar jadi nyata. Kota yang tak tahu lagi, mana kepala dan mana kaki.

Adiatmika. Seorang kota yang tak silau dengan sinar yang dipancarkan kota. Pemuda kota yang sedikit terdoktrin dengan kkehidupan mayarakat desa. Pemuda kota yang harusnya bisa hidup berkelebihan, tapi tak mau terus menetap di atas tempat yang semu itu. Adiatmika, pemuda kota yang ingat untuk menatap tanah yang tak hanya tentang uang. Seorang pemuda yang memilih untuk terjebak dalam kenyamanan ini di sebuah desa kecil jauh dari hiruk pikuk kota. Ia memilih untuk tenggelam dengan kopi-kopi itu. Di gudang kopi ini, ia tinggal bersama nenek bernama Surawi.

Di gudang kopi inilah ia mengenal gadis desa nan jelita. Mahika. Gadis yang bisa menggetarkan Adiatmika walau tanpa polesan perias wajah sedikit pun. Mahika yang bisa meluluhlantakan pertahanan Adiatmika, pemuda kota itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk saling mengikat satu sama lain. Cinta Adiatmika berbalas dengan indah. Mereka berhak saling cemburu satu sama lain saat itu. Tatapan kesal karena merasa tak diperhatikan menjadi hal yang lumrah. Dan tawa mereka menjadi angin segar pengantar tidur yang akan berlabuh di sebuah ujung bernama mimpi indah. Serta pesan-pesan yang beramplop rindu itu menjadi alasan senyum itu mengembang di wajah-wajah yang senantiasa merona itu. Itu yang disebut kasmaran?

Suatu malam. Adiatmika berkunjung untuk pertama kalinya kerumah perempuannya. Bukan kalung emas, anting dari mutiara atau sebuah cincin yang bertahtakan permata atau intan, tapi sebuah mawar merah yang sedang merekah. Keluarlah sang ayah yang kelihatan sangat bersahabat. Sandiwara? Dipanggilnya Mahika. Gadis itu keluar dengan dress lima senti di bawah lutut berwarna putih sedikit ada gais-garis coklatnya. Cantik, kau meluluhkan aku lagi,lagi,lagi.

“Saya ingin mengajak anak perempuan bapak keluar, boleh?” Katanya santun. Hanya senyuman yang sedikit ambigu. Detik berlalu begitu pelan, menunggu jawaban itu keluar. Hanya ada helaan nafas dan sedikit suara angin yang menyentuh kulit mereka.

“Dia itu berlian kami, kami beri nama berlian kami itu Mahika Sapta Bumi, dia halus, jangan kau buat dia sakit walau hanya segores saja!” Pasangan kekasih yang memang sedang merekah itupun meninggalkan rumah itu. Mereka kencan .

Lima bulan sudah sejak hari itu. Hati Adiatmika memang sudah terikat oleh berlian berjalan itu. Santunnya, parasnya, hatinya, pemikirannya, tutur katanya, semuanya. Benar-benar mengikat laki-laki lulusan seni pewayangan itu. Adiatmika yang rambutnya sebahu, segala ocehan yang ringan dan senyebarkan aroma humoris. Jatuh tepat dihati gadis desa bernama Mahika yang sempurna.

Malam itu. Aroma kopi Toraja itu. Memantapkan hatinya untuk mempersunting Mahika sang pujaan hati. Tekatnya bulat. Besok ia akan melamar gadisnya itu. Hatinya bahkan berdebar saat menyebut nama gadis itu. Besok, akan ku minta berlianmu itu, dan aku akan memanggilmu pak, Bapak, bukan Om lagi, gumamnya. Sampai akhirnya mata itu terlelap.

Kata itu akhirnya benar-benar membuatnya tak merasa berpijak. Matanya seakan buta, ada sesuatu yang memenuhi isi kepala dan tubuhnya. Ia seperti melayang. Sungguh, mengatakan hal seperti itu, hal yang benar-benar dari hatikah? Sampai seperti itukah sensasinya?

“Tapi aku belum seratus persen yakin kau bisa menjaga berlian kami” Yap. Itu sungguh menjatuhkannya ketanah lagi. Ia terbentur dan nyaris remuk. Mulutnya bisu seketika. Bagaimana ini?

“Diammu membuat saya semakin ragu.” Bahkan ia tak menyiapkan kata-kata untuk situasi ini.

“Saya tak jamin bisa menjaga berlian ini selamanya, tapi selagi saya bisa bernapas dan merasakan napas berlian ini di darah saya, saya akan berusaha menjaganya”

Dan lamaran pun diterima.

***

“Ayo sini kita fotoan!” Mahika mengeluarkan phonselnya. Memasang wajah jelek dan sesekali tertawa. Siang itu mereka terlihat beda. Kebahagian itu benar-benar memancar. Jelas dua bulan lagi mereka akan benar-benar bisa merasakan nafas mereka mengalir di dalam darah satu sama lain. Hampir satu hari mereka melewati hari bersama. Sebelum pukul 22.22 Adiatmika mengantar berliannya pulang. Mengembalikan harta berharga milik orang tuanya itu kembali ke rumah.

06.15, ponsel Adiatmika berdering. Bukan alaram, karena ia hari itu tidak memiliki kegiatan lain selain bersantai di rumahnya. Mertua .Ia tercengang melihat siapa yang menelpon, ada apa laki-laki itu menelponnya di jam seperti itu.

“Cepat ke sini, ini tentang Mahika”, nadanya bergetar, seperti sedang menyanggah air mata. Ia menagis? Kenapa? Adiatmika segera menuju lokasi yang dimaksud. Sebentar, rumah sakit? Laki-laki yang memiliki tattoo beraksara Bali di tangan kanannya itu meremas gas motornya itu. Yang ada di kepalanya hanya wajah sang berliannya itu.

“Maaf, Pak, kami sudah berusaha yang sebaik-baiknya.” Dunia benar-benar hancur saat itu. Om yang nyaris ia panggil Bapak itu terkulai lemas di lantai dan Ibu masih bisa bertahan di tengah ketidakpercayaannya. Dunia benar-benar runtuh dan menimpa Adiatmika. Suara tawa Mahika terus menggema di telinganya. Bayangan gadisnya itu berlari mengelilingi kepalanya. Suaranya memanggil Adiatmika juga terdengar jelas. Ia dipenuhi oleh perempuan itu. Inikah akhirnya? Benarkah begini ujungnya? Bahkan saat napas mereka belum mengalir di dalam darah satu sama lain, perempuan itu pergi? Tapi kenapa? Pertanyaan itu terus menuntu jawaban yang sebenarnya juga tak pernah ia tahu di mana ia akan menemukan jawabnya. Sungguh ia seperti debu sekarang. Adiatmika debu dan Mahika angin yang sudah mempora-porandakannya serpihannya tercecer terbang dibawa angin dan terhempas jauh dari butiran yang lainnya. Laki-laki itu benar-benar kehilangan semuanya. Semuanya. Dunianya. Ia sedang menunggu gila sekarang. Adiatmika sedang berada disebuah ruang dan terdapat lorong yang gelap dan sepi, dulunya, beberapa jam lalu tempat itu bersinar karena sinar yang bernama Mahika, sekarang lenyap, tak ada yang bisa menolongnya keluar dari sana.

13.15, pemakaman. Tak ada kata yang bisa menggambarkan keadaan di sana. Diam menjadi jawaban dari semuanya. Raga perempuan itu masuk dalam kandungan lagi, kandungan yang tak akan pernah membuatnya lahir lagi. Bukan untuk sembilan bulan, tapi selamanya. Mahika telah dikandung bumi, menyatu dengan pertiwi. Ia membumi untuk selamanya. Selamat jalan kekasih Adiatmika. Berlian bapak.

***

Apa yang seharusnya dirasakan Adiatmika saat ini? Ia gila. Setahun setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke banyak tempat. Ya, tentu saja bayang gadis itu masih mengikutinya. Ia sampai gila. Ia bersahabt dengan gunung sekarang. Ia ingin pergi jauh. Ia akan menitipkan semuanya tentang gadisnya itu dan menggantung di puncak sana.

Malam itu, sedang ada pementasa wayang di sebuah lapangan di suatu desa kecil. Rindu untuk melihat pertunjukan yang sebenarnya energi itu juga mengalir di darah seoranga Adiatmika. Ini ranah ku, gumamnya. Ia menikmati pertunjukan itu. Dan di sana ia menemukan dirinya.

***

“… dia adalah berlian ku, mereka susah senang bersama, dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia!”

Sang dalang menambah seoarng tokoh dalam ceritanya. Wayang itu ia beri nama Mahika. Dalang itu gila? Tidak, ia hanya ingin terus mengingat dan membuatkan tempat untuk orang itu. Adiatmika memutuskan untuk menjadi dalang yang sejati. Ia akan bercerita tentang kisah-kisah yang selalu bahagia di akhirnya. Ia seperti berandai-andai saat berdalang. Kembali membayangkan jika, kisahnya bisa berakhir bahagia. Di akhir pertunjukan selalu ada bulir air mata yang jatuh. Sungguh ia sangat amat merindukan gadisnya itu. Bagaimana cara menjelaskan rasa rindu?

Sang Dalang selalu bersembunyi di balik wayang-wayangnya. Mengarang cerita untuk menghibur penonton yang mendamba sebuah kisah yang berakhir bahagia. Tahukah kalian wahai pendamba kebahagiaan, ada air mata yang selalu menetes di balik itu. Becerita, semakin membuatnya tertusuk oleh ingatan dan kenyataan. Tapi di sisi lain hanya dengan itu ia setidaknya bisa mewujudkan khayalannya untuk bisa merasakan nafas Mahika mengalir di darahnya. Bagaimana ini? Ada yang bisa menjelaskan? Tidak! Mahika hidup dalam wayang itu, tentu Sang Dalang yang bersembunyi dibalik itu semua, Adiatmika merasa masih ada kebahagiaan di hari-harinya.

“ Ini tentang seorang yang telah dikandung bumi dan cinta seorang yang menanti ia dikandung oleh bumi yang sama juga suatu hari nanti.”

***

Dengar, mungkin melupakan tak semudah saat mengingat, tapi bukankah ada satu tempat untuk tetap menyimpan semua itu. Ada satu ruang yang disebut hati. Terserahmu jika ingin mewujudkan khayalanmu. Tapi jangan jadikan itu sebagai penghambatmu. Jika itu pilihanmu, setidaknya rasa kehilangan orang, bisa kau bagikan dengan pesan yang berbeda. Beritahukanlah rasanya kehilang pada orang lain, agar tak merasa terpuruk yang sama. Bukankah itu tugasmu, Sang Dalang.

***

“Iya Pak, ada apa?”

“Kau tahu, berlianku yang sudah lama dikandung bumi, masih ingatkah kau?”

Sesak itu mulai memenuhi Adiatmika Sang Dalang

“Ia sangat mencintaimu, kau tahu berlian ku memilih menunggumu di sana dengan keadaan yang sangat baik, ia tak mau menyusahkanmu di sini, dia menunggumu di sana dengan keadaan bahagia, lebih baik dari keadaannya di sini.”

Air mata itu meleleh lagi. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan orang tua ini, batinnya sambil menahan tangis.

“Cepat selesaikan tugasmu di sini, dan susul dia di sana, tapi jangan bertindak bodoh, karena dia tidak akan menerimamu kalau kau mengakhiri hidupmu karena ia menunggumu di sana.”

Telpon itu terputus. Sang dalang meleleh lagi. (*)

Advertisements