Cerpen Pangerang P. Muda (Tribun Jabar, 22 Oktober 2017)

Perihal Seorang Perempuan Pencerita ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Perihal Seorang Perempuan Pencerita ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

PEREMPUAN itu saya lihat pertama kali di suatu petang, saat lampu-lampu yang mengitari sisi barat kafe berusaha menelan senja yang mulai buram. Saya suka menatap jenjang lehernya yang kerap menoleh ke arah sungai, begitu pun gerak bibirnya yang membuka-mengatup; belakangan saya tahu, kala saya ikut meriung di mejanya, ternyata ia sedang bercerita.

Perempuan itu cantik. Kulitnya agak gelap; atau entahlah, mungkin karena saya selalu melihatnva di málam hari. Sorot matanya agak redup. Kalau tidak salah mengingat, satu kali pun bibirnya tak pernah berhias senyum. Tidak, saya kira ia bukan tipe perempuan kétus, ia hanya sedang memeram tumpukan geram; dan itu juga belakangan saya tahu.

Ia selalu mengenakan sweter berleher rendah. Untuk menghalau cucuk udara dingin dari arah sungai, ia tutupi lehernya dengan kalungan syal. Atau, holeh jadi, syal berwarna pink itu hanya upaya menghalau belalak mata pengunjung kafe yang kebanyakan lelaki.

“Syal berwarna pink?” sergahmu, menyorongkan wajah. “Ah, perempuan gila itukah?”

Saya merekahkan senyum melihatmu mulai tertarik. Abu rokok sedang saya jentikkan ke asbak kala kau menukas, “Jadi dia di sana, menebar virus kegilaannya.” Dan setelahnya, kau termangu.

Saya suka melihatmu agak pasi, seperti ketakutan. “Perempuan itu,” saya menambahkan, menikmati kelesian wajahmu, “terus bercerita soal bayi-bayi yang seharusnya ia lahirkan. Ia ingin bayi-bayi itu menyebar ke seluruh pelosok kota dan bercerita pula seperti dirinya.”

Kau melengos. Saya menduga kau sangat tertarik mendengar cerita ini walau saya tahu kau tidak akan suka mendengarnya.

***

DI kafe itu, jembatan di alas kepala kami akan bergetar setiap ada kendaraan besar melintas. Getar itu akan merambat ke dinding-dinding kafe, dan kadang membuat permukaan kopi di gelas kami beriak. Suara bising yang ditimbulkannya juga membuat cerita perempuan itu terputus. Bila terlalu sering kendaraan besar lewat, maka ia memilih mengeraskan suaranya alih-alih membuat jeda dari ceritanya.

Baiklah, akan saya jelaskan tempatnya. Bila kau tiba pada ujung jembatan itu, menepilah dan akan kautemukan jalan sempit berbelok lalu menurun ke tepi sungai. Sebelumnya itu hanya jalan yang dilalui orang-orang yang akan memancing. Namun, semenjak di bawah ujung jembatan ada sebuah kafe, sehingga bila malam cahaya lampu-lampunya menghambur menerangi tepi sungai, jalan kecil itu mulai pula dilintasi para pemburu nikmat kopi.

Lidah saya bukan pencicip kopi yang baik. Hirup lubang hidung saya pada kepul aromanya terasa sama saja dari setiap jenis kopi. Saya mulai suka ke kafe itu memang bukan karena nikmat kopinya, tapi karena keberadaan perempuan itu. Ia selalu ada di sana, terus bercerita, sehingga ia saya juluki perempuan pencerita.

Kota kita ini, kau tahu, telah disesaki ratusan kafe. Namun kafe yang ada di bawah ujung jembatan itu bukan cuma nikmat kopinya yang membuat orang berdatangan, tapi juga menjadi pilihan bagi yang suka mendengar cerita yang amat rahasia. Di situ serupa tempat berkumpulnya para aktivis klandestin. Mereka yang datang merasa sedang berada di sebuah gua, atau malah di bawah tanah. Seperti itu saya merasakannya. Kami berkumpul menyesap aroma kopi, mendengar cerita yang amat rahasia, dan mobil-mobil berlintasan di atas kepala kami.

Kau menggeleng, terus menggeleng, sampai saya tahu betapa resah kau mendengar cerita ini.

***

PEREMPUAN pencerita itu mulai bercerita bila pengunjung kafe telah ramai. Ia berjeda dari ceritanya saat memesan segelas kopi. Setelah menyeruputnya satu atau dua kali, barulah ia meneruskan. Cukup lama setelah gelas kopinya tak lagi berisi, baru ia mengakhiri ceritanya.

“Begitu pentingkah ceritanya?” tanyamu, terkesan setengah acuh.

“Sangat penting. Ini menyangkut nasib kota kita ini ke depan.”

Tawamu tipis, berseling gumam, “Cuma cerita kelahiran bayi-bayi, seperti katamu tadi, dapat menentukan nasib kota ini ke depan?”

“Ia bercerita tentang bayi-bayi yang gagal ia lahirkan. Dan agaknya ia ingin bercerita ke sebanyak mungkin orang, bagaimana cerita di balik kcmunculan bayi-bayi itu.”

Kau menggeleng, terus menggeleng, entah untuk keberapa puluh kalinya.

***

PEREMPUAN itu bilang, sebelum menjadikan kafe itu sebagai tempatnya bercerita, ia memilih jalanan untuk menceritakan perihal bayi-bayinya yang telah beterbangan ke langit. Ia temui para pelintas jalan, ia datangi orang-orang yang sedang makan di warung tepi jalan, atau mendatangi orang-orang yang meriung di halte. Namun orang-orang itu hanya melengos tidak sudi mendengar ceritanya. Orang-orang yang ia datangi itu menganggapnya perempuan yang hilang ingatan. Mereka yang ia temui di sana rupanya sepaham denganmu, menganggapnya perempuan tidak waras.

Dan di kafe itulah, ia merasa menemukan tempat terbaiknya irntuk terus bercerita. Ia merasa sudah terlalu lama memeram sendiri ceritanya; dan menurutnya, cerita itu sudah saatnya menetas untuk menyebar ke seluruh kota ini. Berbeda dengan orang-orang di jalanan, pengunjung kafe di sana malah menyukai ceritanya. Makanya ia semakin bersemangat.

***

TIDAK usah berpikir saya sedang membual. Walau yang ia ceritakan cuma soal bayi-bayi yang gagal ia lahirkan, caranya bercerita amat memikat. Saya, atau kami para pendengar ceritanya, suka melihat gerak bibirnya yang membuka-mengatup saat bercerita, dengan sorot mata yang redup. Kala bercerita seakan ia sedang menyenandungkan lagu pilu.

“Kau terlalu melebihkan,” katamu tak senang.

Tidak, ia memang menganggap kelahiran bayi-bayinya dibidani oleh para malaikat. Dalam tutur ceritanya, bayi-bayi itu sebenarnya telah lahir di dalam perutnya; dan sebelum sempat melihat kota ini, malaikat telah lebih dahulu datang menjemput lalu membawanya ke langit. Ia berhitung, mungkin telah puluhan bayinya dijemput malaikat dengan cara serupa itu. Menurutnya, bayi-bayi itu telah ia beri pula keterampilan bercerita, dan kelak di langit bayi-bayi itu akan beranak-pinak bersama cerita-cerita yang dibawanya.

Tawamu terdengar garing. Matamu bergerak resah. Mulutmu mencibir, “Sampai kapan perempuan gila itu akan bercerita? Sampai saatnya dipasung?”

Ganti saya yang menggeleng. “Semakin banyak orang yang percaya pada ceritanya, berarti semakin banyak pula orang menganggapnya perempuan waras. Ia sangat waras. Seluruh warga kota akan segera tahu itu.”

***

DAN di suatu sore yang terasa kecut, mata saya kau buat terbelalak. Mulut saya pun sampai ternganga. Seakan baru saja ada desing peluru melesat masuk ke lubang kuping saya mendengar apa katamu.

“Perempuan yang kau ceritakan itu, sekarang telah berumah di awan.” Tawa kerasmu menyusul. “Perempuan itu telah terbang ke langit. Dan di langit tidak akan ada lagi yang bisa mendengar ceritanya.”

Di kota ini, kau memang seorang penguasa. Kau orang yang ditokohkan, tentu oleh para pendukungmu. Dengan kekuasaan dan ketokohanmu, kau memang bisa melakukan apa saja. Namun harusnya tidak dengan cara kalap seperti itu.

“Cerita-ceritanya akan mewujud serupa wabah,” kata saya menahan amarah. “Akan menyebar ke seluruh lekuk dan ceruk kota, akan masuk ke benak semua warga kota, bahwa selama ini kaulah yang selalu datang mengendap, memintanya menerbangkan bayi-bayinya ke langit.”

Perempuan itu mengaku bahwa telah sekian lama ia menuruti keinginanmu, menuruti keegoisanmu, dan ia merasa itu sudah cukup. Ia mulai mual dengan dusta-dustamu, jijik melihat betapa gampang engkau menyembunyikan reputasi palsu, yang terus kau jaga dan poles dengan beragam program pencitraan.

Agaknya, setelah sekian lama, ia mulai jenuh dan tidak bahagia. Menjadi perempuan simpanan tentu memang amat melelahkan. Dan saatnya ia ingin melawan. Kali ini ia membantahmu. Ia ingin orang-orang melihat kerjap matamu pada mata bayi yang terakhir ada di dalam rahimnya, ia ingin orang-orang menyaksikan wajahmu ada pada wajah bayi itu, dan ia ingin tahu serupa apa titisan darah dagingmu itu setelah sebelumnya tidak ada yang pernah kelihatan wujudnya.

Kalian pasti bertengkar hebat karenanya. Tentu kau marah. Bahkan mungkin panik. Bayangan keruntuhan reputasimu tentu langsung menghantam benakmu. Ah, saya tidak ingin membayangkan seperti apa kau melakukannva, dengan cara bagimana kau mengirimnya ke langit berkumpul dengan bayi-bayinya….

Saya menahan geram. Saya hanya sanggup berujar lirih, “Yang akan meruntuhkan ambisimu untuk kcmbali terpilih menjadi penguasa kota bukan pesaingmu, bukan pula musuh-musuh politikmu, tapi serentetan cerita seorang perempuan yang akan merebak serupa wabah….”

Saya keliru, harusnya saya tidak usah menceritakan perempuan pencerita itu padamu.

***

 

Parepare, April-Sept, 2017

Pangerang P. Muda guru SMK di Parepare dan menulis cerpen di beberapa media Di samping buku kumpulan cerpennya Menghimpun Butir Waktu (2017) yang telah terbit, beberapa cerpennya juga ikut dalam buku antologi cerpen.

Advertisements