Cerpen Artie Ahmad (Haluan, 22 Okrober 2017)

perempuanyangmemeluksunyiilustrasiistimewaw
Perempuan yang Memeluk Sunyi ilustrasi Istimewa

Kesunyian adalah hal yang abadi. Dalam kesunyian kita bisa menemukan diri yang hakiki. Diri kita yang murni, layaknya bayi baru lahir ke dunia. Ungkapan tentang kesunyian  itu, aku dapatkan dari seorang lelaki. Lelaki yang kupilih menjadi kekasih dan kemudian suami. Lantaran dia juga, aku benar-benar mengenal kesunyian. Kesunyian, hal yang abadi dalam kelampusan. Seiring ausnya usia yang menanjak tua, betapa sesungguhnya kesunyian yang sejatinya menakutkan itu, menjadi hal yang amat biasa. Tak asing. Seolah-olah menyatu dengan tubuh.

Dulu, ketika jalan-jalan belum seterang sekarang, aku malah tak mengenal apa itu kesunyian. Duniaku seramai pasar malam. Banyak hal yang membuatku melupakan apa itu sepi, apa itu sunyi. Seolah keramahan dunia kepadaku atas tuntunan semesta raya. Tentu saja, semua itu sebelum aku mengenal lelakiku itu.

Di sebuah pagelaran drama di pengujung malam minggu, kali pertama kami bertemu. Mata kami bersilang pandang, sekejap saja. Namun sejurus kemudian, silang pandang yang sekejap menjadi pandangan mata yang mengundang. Tak ubahnya pelanduk yang malu-malu mendekati betina di belantara hutan, dia mendekatiku untuk pertama kali dengan sedikit malu. Lalu, gegasnya waktu membawa kami ke pintu pernikahan. Dia menjadi lelakiku seutuhnya.

***

“Lima tahun kita menikah, tapi belum ada tanda-tanda kau mengandung.”

Ucapan lelakiku itu menggetarkan jantung. Betapa tidak, di keluarganya, keturunan adalah hal yang paling penting dalam hubungan suami istri. Bagi kedua mertuaku, kehadiran cucu dari lelakiku adalah berkat yang sangat ditunggu. Bagiku, kehadiran jabang bayi di rahimku adalah harapan baru bagi hidupku.

“Kita harus bersabar, Bang. Aku sudah mencoba segala macam jamu dan ramuan untuk penyubur kandungan,” ucapku perlahan sembari meremas tangannya dengan lembut.

Advertisements