Cerpen Januari Sihontang (Analisa, 22 Oktober 2017)

Perempuan Sunyi ilustrasi Renjaya Siahaan -Analisa.jpg
Perempuan Sunyi ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

KUAMBIL surat undangan bersampul kuning keemasan. Berulang-ulang kubaca. Tertulis nama Nauli di situ. Senyumnya begitu khas dalam kemasan foto prawedding yang sempurna. Tak bisa dipungkiri, di sudut matanya terbersit kegelisahan. Sepertinya dia tidak begitu nyaman dalam dekapan lelaki itu. Berbeda dengan posenya di wallpaper handphone dan facebook-ku beberapa bulan lalu.

Dalam undangan itu, diselipkan juga selembar kertas, putih didandani tinta hitam. Kalau berkenan, usahakanlah datang, mungkin ini hari paling menyedihkan selama hidupmu, sepanjang usiamu. Bagiku juga. Hadirmu sangat berarti. Tatapanmu untuk terakhir kali, saat menyalamku mengucapkan selamat akan memberiku kekuatan.

Bila mau, kecup saja keningku di pesta itu. Aku berharap kau lepas aku saat melayari laut yang belum pernah kulayari, bersama orang yang belum kuhapal wangi tubuhnya dan belum kurindu suaranya.

Dariku: Nauli

***

Pukul 23.30. Suara di lapo tuak itu tidak seriuh tadi sore. Satu persatu parmitu kembali ke rumahnya. Mungkin sebagian ada yang tidak sampai ke rumah karena buru-buru rubuh di teras rumah, akibat pengaruh alkohol. Mungkin ada juga yang tidak dibukakan pintu oleh isterinya. Ada juga yang ambruk ke dalam parit bersama dengan sepeda motornya.

Tak ada lagi lagu-lagu Batak yang selalu dilantunkan trio di lapo ini. Kini hanya ada suara tauke kerbau, orang paling kaya di kampung ini, berbicara dengan sang pemilik lapo. Tingkahnya seperti berbisik, namun suaranya sangat jelas di telingaku. Sebab kami duduk tidak sampai berjarak dua meter. Hanya dibatasi satu meja.

Pak Jukkit, begitu tauke kerbau tersebut dipanggil. Sebutan itu tentu tidak terlepas dari perangainya sehari-hari. Kata-katanya selalu menusuk hati, menyakitkan.

Tak ada yang berani membantahnya. Sekali dibantah, maka dia akan marah besar. Keangkuhannya meledak. Tanpa diperintah, dia langsung mengungkit utang-utang siapa pun yang membantahnya, bahkan mulai dari utang nenek moyangnya. Mungkin, karena perangainya itulah, sehingga isterinya memutuskan cerai dan kembali kepada orangtuanya. Kendati mereka sudah memiliki dua orang anak.

Hampir semua penduduk kampung berhutang kepada Pak Jukkit. Utang tersebut dulunya dalam jumlah kecil, namun karena sistem bunga berbunga, jumlahnya semakin banyak. Bahkan jauh melebihi utang pokok.

Ayah Nauli salah satu yang terjerat hutang kepada Pak Jukkit. Sepuluh tahun lalu, awalnya, utangnya hanya dua ratus kaleng padi. Utang itu untuk biaya adat atas meninggalnya Kakek Nauli. Berhubung karena Kakek Nauli pada masa hidupnya merupakan raja jolo dan raja parhata di kampungnya. Pihak keluarga besar meminta supaya dipotong kerbau pada hari penguburannya.

Padahal, saat itu Ayah Nauli sebagai anak satu-satunya, tidak memiliki persiapan dana. Apalagi, setahun sebelumnya Ibu Nauli bolak-balik berobat ke kota karena menderita kanker rahim. Biaya pengobatannya tentu sangat besar, sehingga Ayah Nauli harus menjual ladang dan sawahnya. Kini, tak ada lagi harta Ayah Nauli yang tersisa kecuali rumah mungil di pinggir jalan yang kini dijadikan lapo tuak.

***

Nauli, putri semata wayang pemilik lapo. Sedari tadi dia duduk di balik pintu. Sejak pertama kali datang ke lapo ini, selalu saja dia duduk di balik pintu. Wajahnya murung. Aku tidak tahu alasannya.

Tebakanku, itu cara agar dia tidak selalu dipandangi dengan nakal oleh parmitu. Mungkin juga dia malu, karena hanya dia anak gadis sebayanya yang tinggal di desa ini. Sebagian besar merantau ke Batam. Sebagian lagi melanjutkan kuliah atau kursus menjahit di kota.

Sejak kedatanganku ke lapo ini, Nauli mulai ceria. Kendati masih tetap setia duduk di balik pintu, namun dia memiliki kesibukan baru selain melayani parmitu. Kini dia lebih sering membaca buku dan sesekali melirik ponsel genggamnya. Aku yakin, dia membaca chatingan kami. Wajahnya sesekali senyum, hampir tertawa.

Nauli hanya datang ke teras yang disulap jadi lapo tuak ketika parmitu minta tambah atau bayar tuak. Sesekali, Ama Gurdak, Ayah Nauli, memanggilnya, bahkan membentak jika parmitu minta tambah tuak, namun Nauli tidak mendengar.

Ibu Nauli sendiri sudah lima tahun belakangan ini tidak bisa beraktifitas. Beberapa penyakit aneh mengidap tubuhnya. Penyakit itu berawal dari kanker rahim yang sudah diobati ke kota beberapa tahun silam.

“Simpan saja Ito,” kataku sambil senyum kepada Nauli ketika tangannya menyentuh gelasku yang tidak berisi tuak lagi.

“Tidak tambah lagi,” sahutnya sambil senyum.

“Tidak, besok saja. Biar ada alasanku kemari, melihatmu.”

Nauli senyum, lalu berlalu dari depanku. Sesaat dia meninggalkan senyumnya, mungkin buat bekalku malam ini. Di alam mimpiku.

Seketika Ayah Nauli melirikku, sangat tajam. Sepertinya dia tidak senang anak gadisnya bercanda denganku. Kuacuhkan saja, aku pun pulang setelah membayar tuakku terlebih dahulu.

***

Hari ini adalah bulan keenam. Sekaligus bulan terakhir kami kuliah kerja nyata di Desa Sipege, perkampungan terpencil di pedalaman Pulau Samosir. Selama enam bulan di desa ini, sambutan masyarakat sungguh luar biasa. Kecuali Ayah Nauli dan Pak Jukkit. Setiap saya datang ke lapo, selalu saja Pak Jukkit menyindir. Bahkan Pak Jukkit pernah menghasut kami dan meminta kepala desa mengusir kami dari desa ini.

Suatu ketika, tepat malam minggu, aku berbincang dengan Nauli di lapo. Sesungguhnya, aku hanya menjelaskan sinopsis novel permintaannya yang baru kubeli dari kota. Untuk mengisi hari-harinya menjaga lapo tuak, Nauli membaca novel.

Entah angin darimana, tiba-tiba saja Pak Jukkit sudah menamparku. Tak tahu sebabnya apa, tentu saja aku melawan dan membalasnya. Seketika itu, Pak Jukkit memaki-maki.

Berbagai macam makian dan sumpah serapahnya. Mulai mahasiswa pemabuk, hingga mahasiswa abal-abal. Padahal, dia tidak tahu, minum tuak hanya satu cara agar bisa bercerita dan dekat dengan masyarakat desa. Terutama bisa memandang dan lebih dekat pada Nauli. Mencium aroma tubuhnya setelah mandi dan duduk di balik pintu.

Nauli, gadis yang sudah menarik perhatianku sejak pertama berkenalan di mual mata. Ketika itu dia mencuci pakaian dan kami bergotong royong membersihkan jalan menuju mual mata tersebut.

Setiap kesempatan kami gunakan untuk berbincang. Nauli selalu memintaku bercerita tentang dunia kampus dan mahasiswa dan tentang novel-novel terbaru. Sekali dia bertanya tentang pacarku.

Dengan pasti kujawab kalau hatiku telah tertambat di desa ini. Dia tersenyum, sepertinya mengerti apa maksud jawabanku. Ya, dia seorang gadis penjaga lapo. Harus melupakan impiannya kuliah dan bekerja di kota demi menjaga ibunya yang sakit-sakitan dan membantu kehidupan keluarga.

Kami telah berjanji akan menikah setelah aku menyelesaikan kuliahku. Hanya setahun lagi. Apa lagi orangtuaku sudah setuju.

***

Setelah membaca surat itu, telepon genggamku berdering. Sebuah pesan pendek dari Nauli.

“Semoga kamu membaca surat undangan itu, hasian. Itulah sebabnya setengah tahun aku tidak menjalin komunikasi denganmu. Ayahku melarangku berkomunikasi denganmu. Saat kamu datang ke rumahku dua bulan lalu. Sesungguhnya tidak benar bahwa aku telah merantau ke Batam. Itu hanya alasan ayahku agar kita tidak bertemu. Aku tidak tahu, apakah aku bisa melayari laut neraka ini. Demi hutang ayah, aku harus menjadi isteri dari duda beranak dua. Lelaki yang paling kubenci suaranya dan muak aroma tubuhnya. Aku bingung, antara menggadaikan kebahagiaanku demi orangtua atau pergi bersamamu.”

Aku menelan ludah.

 

Malam Tahun Baru, Sipege, 1 Januari 2017.

Advertisements