Cerpen Dian Nangin (Waspada, 22 Oktober 2017)

Patah ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Patah ilustrasi Denny Adil/Waspada

SETELAH berjalan bersama begitu jauh, bergandengan tangan melewati kerikil hingga batu besar yang menghadang, menapaki jalan yang tak selalu mulus, ia meminta kami berhenti tepat selangkah sebelum tiba di tujuan akhir.

Tujuan akhir yang akan mengantarkan kami pada awal yang baru. Ia memilih berbalik dan pergi. Mustahil bagiku untuk melanjutkan perjalanan seorang diri, sebab perjalanan ini diperuntukkan bagi dua orang.

Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkanku beserta sejumlah pekerjaan yang berat untuk dilakukan; menarik ratusan undangan yang telah disebar, membatalkan segala rencana yang telah disusun matang. Tak lupa menguatkan mental untuk menghadapi komentar orang-orang. Barangkali inilah mimpi terburuk yang pernah kualami kala terjaga.

Ponsel yang kulempar jauh dariku berkedip secara berkala. Aku sudah tak menghitung berapa pesan yang masuk ke sana. Cukup lelah aku menanggapi lautan simpati yang entah darimana saja datangnya. Seandainya aku punya cangkang, ingin aku meringkuk di dalamnya tanpa niat untuk keluar dalam waktu dekat. Masih terlalu pahit bagiku untuk membuka diri setelah gagal mencecap kebahagiaan yang tinggal sejangkau lagi di hadapanku.

Namun, bagaimanapun juga hidup harus berlanjut. Hari baru tiba dengan sebuah kesadaran bahwa aku punya profesi yang menuntut untuk kutunaikan. Dunia profesional di negeri ini tak pernah memberi excuse untuk orang yang tengah patah hati. Padahal aku ingin tidur lebih lama dan baru bangun saat aku sudah siap menghadapi semesta.

Aku bangkit dari tempat tidur ketika sayup suara orang yang tengah bercakap-cakap menyentuh pendengaranku. Siapa yang telah datang bertamu sepagi ini? Aroma tanah basah menyeruak dari luar jendela. Semalaman hujan turun dan menyisakan gerimis di pagi yang belum lagi seutuhnya terjaga.

Di ambang pintu aku terpaku. Tampak lelaki itu di sana, duduk rikuh ditemani ibuku yang rautnya tak kalah muram dengan cuaca di luar. Entah apa yang tengah ia sampaikan pada ibuku dengan kepala tertunduk. Ah, wajah itu masih saja memunculkan kenangan yang belum jauh berlalu. Kenangan yang kemudian mematahkan hatiku hingga menjadi kepingan yang tak terhitung. Ia menoleh. Aku membeku. Dingin dari telapak kakiku yang berpijak pada lantai mengirimkan gigil sampai ke hati.

Ibu bangkit, meninggalkanku dengan sebuah isyarat agar aku duduk dan berbicara dengan lelaki itu. Kuteguk teh sembari mengumpulkan kekuatan. Ada rasa asing yang menyelimuti, seolah kami terpisah ribuan mil meski sekarang sedang duduk berhadapan dan baru kemarin membuka simpul hubungan yang telah mengikat kami selama empat tahun.

“Apa kabar?”

Rasanya aku ingin tertawa sembari memaki demi mendengarnya bertanya. Setelah mengacaukan hatiku, masih terpikir olehnya untuk menanyakan keadaanku? Tak adakah basa-basi lain yang paling masuk akal untuk ditanyakan selain ‘apa kabar’?

“Baik.”

Rasanya ingin aku mengutuk bibir ini, karena masih saja sanggup memberi jawaban yang berlawanan dengan kondisiku yang sebenarnya. Aku sekarat, bajingan! Itulah makna yang tersembunyi di balik kata ‘baik’ yang seharusnya kuteriakkan tepat di depan hidungnya.

“Maaf. Aku sadar sudah menyakitimu. Aku juga remuk,” sahutnya sembari menunjuk dada. ”Di dalam sini.”

“Kalau begitu kenapa?” tanyaku. Ia pasti paham tanpa perlu kujelaskan lebih jauh. Luka itu masih cukup basah untuk ia lihat sendiri.

Ia hanya membisu. Lama. Entah sedang menyusun alasan lain, entah memang tak ingin menjawab. Sebab bila ia menjawab, pasti akan terbit debat panjang seperti yang sudah-sudah.

“Apa ada wanita lain yang mengisi hatimu? Kalau ya, katakan padaku siapa dia. Aku ingin mengucapkan selamat. Cinta yang dia beri padamu pastilah lebih besar dari yang kau dapatkan dariku.”

“Tidak,” dia menyangkal cepat. “Tidak ada wanita lain.”

“Lalu apa?” cecarku. “Kau tak yakin padaku? Setelah sekian lama?”

“Bukannya aku tak yakin padamu. Aku hanya masih meragukan diriku sendiri,” sahutnya lirih, mengulang jawabannya yang lalu. Namun rautnya datar. Tak tampak penyesalan atau kesedihan di sana. Apa dia sudah begitu lihai menyembunyikan segala perasaannya? Ataukah… aku yang kini tak lagi mampu membaca wajah itu?

“Aku tahu pernikahan adalah satu ibadah yang mulia. Tapi niat yang mulia itu tak cukup didasari cinta, tak baik pula diawali dengan keraguan,” katanya dengan sikap bijak yang memuakkan.

Aku mendengus. Bagiku, cinta adalah sebuah tombol panas. Ia adiktif dan melenakan. Kadang cinta juga memilih berkhianat, membuat mereka yang mendewakannya jadi sinting.

“Aku akan menunggumu sampai kau yakin,” kataku terbata, kaget mendengar kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku. Terang-terangan mengungkapkan betapa aku masih mendamba dirinya.

“Kau hanya akan membuang waktumu.”

“Tak mengapa,” sahutku bersikeras.

“Jangan keras kepala.”

“Kau tega!!” Aku meledak. Ia telah menekan tombol panas itu tepat pada momen kritis yang melumpuhkanku. Tak ada upaya apapun yang ia lakukan untuk menyembuhkanku, tak juga kata maaf sebab ia tak lagi manjur.

Kedatangannya pagi ini menjadi penegas perpisahan karena ia berkata akan pergi jauh ke tempat yang tak lagi berhak untuk kuketahui.

“Dulu aku memintamu baik-baik. Sekarang aku ingin melepasmu baik-baik. Aku pamit,” katanya. Ia menjabat tanganku sepintas dan berlalu begitu saja.

Ia telah berpakaian teramat rapi, bersepatu, lengkap dengan aroma parfum yang kukenal baik. Ia sungguh akan pergi rupanya. Meninggalkanku dengan tampilan baru bangun tidur dan tanpa antisipasi. Aku tak ingin ia pergi, namun kakiku tak juga bergerak untuk menahannya. Hanya bisa kupuaskan mataku memandang buram punggungnya dari balik pintu kaca yang basah oleh gerimis.

Namun walau demikian aku tak memilih mengambil tindakan huru-hara untuk menunjukkan kalau hatiku tengah terluka. Aku tidak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak. Mengamuk, memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Aku hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pagi ini. [1] Menyeret langkah-langkah lambat di bawah rinai yang melayang bersama daun-daun berguguran.

Bersama satu kesadaran yang perlahan merayap, aku membuka pintu dan menyusulnya. Ia sudah berada di luar gerbang. Di bawah rintik hujan yang membasahi rambutku, kuikuti jejaknya. Aku menunggu toleh kepalanya yang tak kunjung kudapatkan walau sekali saja, tak peduli seberapa lama aku menunggu. Hingga ia menghilang di belokan jalan.

 

Medan, 2017

 

Keterangan:

[1] Petikan puisi Sapardi Djoko Darmono dengan judul “Pada Suatu Pagi Hari”. Puisi telah diedit oleh penulis semata demi kepentingan cerita.

Advertisements