Cerpen Rosni Lim (Waspada, 22 Oktober 2017)

Nostalgia SMA ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Nostalgia SMA ilustrasi Denny Adil/Waspada

SISKA melihat kecemburuan di mata Melinda saat Irwan menyapanya di suatu pesta pernikahan. Teman semasa SMA mereka, Saphira, menikah dengan rekan kerjanya dan pernikahan mereka diadakan di sebuah restoran.

“Siska…,” panggil Irwan perlahan saat Siska duduk termangu seorang diri di depan meja bundar di dalam restoran.

Terkejut, tak sengaja gelas berisi minuman dingin yang ada di depan Siska tersentuh tangannya hingga isinya yang penuh tumpah sedikit..

“Ir-Ir-Ir-wan!” kaget Siska membalas sapaan Irwan, sahabat terbaiknya semasa SMA.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Irwan yang baru datang dan belum memiliki tempat duduk.

“Iya, duduk saja, tempat ini kosong,” kata Siska sambil menunjuk kursi di samping kanannya, sementara dia sendiri berusaha menata debar-debar aneh nan gelisah yang muncul menelusuri hatinya.

“Terima kasih, Siska,” kata Irwan sambil duduk di samping Siska.

Siska tersenyum kikuk. Sudut matanya menangkap ada satu tubuh lain berdiri di samping Irwan dan pemilik tubuh sintal itu pun ikut duduk di samping Irwan.

Melinda, desis hati Siska bergetar.

“Hai!” Melinda menyapa Siska singkat, sementara bibirnya menghadirkan seulas senyum kaku.

“Hai, Melinda!” Siska membalas sapaannya, tak sengaja matanya menatap bola mata Melinda. Ada sorot kecemburuan di sana.

“Ehm!” Irwan berusaha mencairkan kekakuan di antara mereka. “Apa kabarmu, Siska?” tanya Irwan sambil menatap Siska lekat.

Sesaat, Siska menerima tatapan Irwan. Siska mendapatkan ada kerinduan dan perhatian yang dalam. Cepat-cepat Siska menundukkan kepalanya untuk memisahkan tatapannya dari tatapan Irwan. Dia merasakan kedua mata Melinda sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Apalagi sorot mata Melinda begitu cemburu melihat Irwan terus-menerus memandangi wajah Siska.

“Aku baik-baik saja,” kata Siska sambil tersenyum tulus. “Terima kasih, Irwan.”

Irwan tersenyum sedikit. Dia merasa Siska tak jujur memberitahukan kabarnya. Karena Siska adalah sahabat terbaiknya semasa SMA, jadi Irwan sangat mengerti dirinya.

“Siska, kamu…,” Irwan hendak bertanya lebih lanjut, tapi Melinda yang duduk di sampingnya dengan cepat menyela.

“Irwan, sebentar lagi acara akan dimulai. Lihatlah, sepasang mempelai sedang bersanding di depan pintu, mereka akan melangkahkan kaki menuju podium. Saphira cantik sekali memakai gaun pengantin!” seru Melinda, berusaha mengalihkan perhatian Irwan.

“Iya, Saphira cantik sekali,” Siska ikut memandang ke arah mempelai.

Irwan menghela nafas karena Melinda dan Siska sama-sama tak memperhatikannya.

Melihat kedua mempelai yang bersanding di depan pintu, angan-angan Siska melayang ke masa dulu. Saat dia dan Irwan duduk di kelas yang sama. Mereka berangkat sekolah bersama-sama karena setiap pagi Irwan singgah ke rumahnya mengajaknya bareng. Pulangnya, mereka naik angkot bersama. Irwan sering membayarin ongkosnya. Di sekolah mereka sangat dekat. Di kelas sama-sama mengerjakan latihan, di kantin sama-sama sarapan dan minum teh.

Tapi kedekatan Irwan dan Siska hanya sampai di situ. Walaupun di dalam hati Irwan diam-diam mencintai Siska tapi dia tak berani mengutarakannya karena takut Siska akan menolak dan menjauhinya.

Siska pun merasa nyaman bersahabat dengan Irwan yang sering membantunya mengatasi berbagai kesulitan. Dia sama sekali tak tahu Irwan mencintainya, walaupun di dalam hati Siska sebenarnya dia pun mencintai Irwan.

Karena ketidakberanian keduanya untuk mengungkapkan cinta, akhirnya mereka tetap sebagai sahabat baik. Sampai akhirnya muncul Yanto saat mereka kelas III SMA. Yanto yang murid baru sangat tertarik pada Siska. Dia berusaha dengan berbagai cara mendekati Siska. Sifatnya yang humoris, super, dan agresif berhasil membuat Siska menerimanya.

Dengan cepat, hubungan Siska dan Yanto terjalin. Bahkan, setengah tahun setelah berpacaran, Yanto meminang Siska untuk menjadi istrinya. Anehnya, Siska mengiyakan saja walaupun hatinya sebenarnya mencintai Irwan. Mungkin karena Siska tak berani membayangkan persahabatannya dengan Irwan berubah menjadi percintaan, atau karena dia tak ingin merusak persahabatannya dengan Irwan selama ini.

Selembar surat undangan pernikahan yang dilayangkan Siska pada Irwan, membuat Irwan patah hati. Dia memutuskan untuk tak menghadiri pesta pernikahan sahabat terbaiknya itu karena tak mampu melihat gadis yang dicintainya bersanding dengan pria lain. Karena itu, Irwan tiba-tiba pergi ke Jakarta untuk kuliah. Tak disangka, di kampus Irwan bertemu Melinda, teman semasa SMA. Melinda yang sejak SMA sudah menyukai Irwan, berusaha mendekati Irwan. Karena patah hati akibat pernikahan Siska, Irwan menerima Melinda. Mereka berpacaran empa tahun dan menikah setelah Irwan menamatkan kuliahnya dan pulang ke Medan.

Acara resepsi pernikahan Saphira dengan suaminya berjalan meriah. Sepanjang acara, Irwan tak berhenti memandang Siska. Dia penasaran kenapa Siska datang ke pesta sendirian alias tidak bersama Yanto? Ke manakah suaminya?

Menjelang akhir acara, Siska duluan pamit pulang. Dia memanggil taksi online dari hp androidnya dan buru-buru melangkah ke luar dari ruangan pesta.

Irwan menatap punggung Siska yang meninggalkannya. Seribu pertanyaan di benaknya masih belum terjawab karena Siska tak banyak bicara dengannya sepanjang pesta. Hanya mengiyakan, menidakkan, ataupun menjawab pendek.

Tiba-tiba punggung Irwan ditepuk Andika dari belakang. Andika merupakan teman semasa SMA mereka. Andika duduk di kursi yang ditinggalkan Siska. Setelah bertanya kabar Irwan, Andika tiba-tiba menyinggung soal Siska.

“Kasihan Siska ya,” kata Andika prihatin.

“Kenapa dengan Siska, Andika?” tanya Irwan cepat. Rasa penasaran dan keingintahuannya akan keadaan Siska diharapkannya bisa dijelaskan Andika.

“Oh, kamu belum tahu ya?” Andika balik bertanya.

Irwan menggeleng cepat. Hatinya semakin penasaran.

“Siska tak jadi menikah dengan Yanto. Seminggu menjelang pernikahannya, Yanto tiba-tiba mengalami kecelakaan naas dan nasibnya sungguh tragis, mengembuskan nafas terakhir.”

“Oh!” Irwan terpekik.

Andika menatap wajah Irwan yang berubah pucat dan penuh kesedihan. “Dia suruh kami tidak boleh memberitahukanmu kabar sedih itu karena tak ingin mengganggu kuliahmu di ibukota. Bahkan, saat kamu pulang ke Medan dan hendak melangsungkan pernikahan dengan Melinda, dia sengaja tak memunculkan diri karena tak ingin mengusik kebahagiaanmu dengan Melinda,” jelas Andika.

Irwan mendengarkan cerita Andika dengan hati remuk-redam. Tak disangkanya sama sekali kalau Siska tidak jadi menikah dengan Yanto. Tapi walaupun begitu, Siska menyimpan rahasia itu demi kebahagiaannya dengan Melinda. Tapi tahukah Siska, setelah mengetahuinya hati Irwan tak mampu menahan rasa sedih.

“Siska, kenapa semuanya jadi begini?” bisik hati Irwan penuh rasa sesal. Matanya berkaca-kaca dan tak lama kemudian sebutir airmata jatuh membasahi pipinya..

***

Advertisements