Cerpen Kazuhana El Ratna Mida (Banjarmasin Post, 22 Oktober 2017)

Keputusan Bapak ilustrasi Rizali Rahman -Banjamasin Post Group.jpg
Keputusan Bapak ilustrasi Rizali Rahman/Banjamasin Post Group

Aku tidak paham, kenapa bapak akhirnya memilih jalan itu. Jalan di mana bapak akan menjadi orang cacat. Bapak tidak akan bisa berjalan lagi. Bapak akan terkurung dalam sepi—tidak bisa ke mana pun yang dia ingini.

Padahal aku tahu, bapak sangat suka berpetualang ke berbagai tempat sejak hari menyakitkan itu. Namun begitu, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk setiap pilihan bapak.

***

Hari itu aku baru pulang kerja. Hawa dingin menusuk pori-pori tubuhku. Meski jaket kulit yang aku kenakan sudah aku rekatkan sedemikian rupa. Namun tetap saja, aku masih kedinginan. Segera, aku memasukkan kunci duplikat yang aku miliki untuk membuka pintu.

Yah, sejak ibu meninggal, bapak semakin sering bepergian. Aku tidak tahu jam berapa bapak akan pulang. Oleh karena itu, kami sepakat membuat satu kunci lagi untuk kami bawa masing-masing, agar tidak saling menunggu jika pulang sewaktu-waktu.

Dulu karena hanya bapak yang membawa kunci, aku pernah tidur di luar, karena bapak tidak kunjung pulang hingga fajar tiba.

Dan begitu aku memasuki rumah dan memasukkan kunci itu ke dalam tas selempang yang aku kenakan, aku menatap sebuah kejutan yang tidak terduga. Dadaku berdentum tidak keruan. Antara marah, bingung juga sedih. “Apa yang Bapak lakukan?” teriakku panik.

Darah merembasi karpet cokelat yang baru aku pasang dua hari lain. Di sisi lain ada dua potong kaki yang masih mengeluarkan darah segar dan menguarkan bau anyir. Lalu sebuah parang tergeletak tidak jauh dari sana. Dan, bapak terkapar lemah dengan mata terpejam.

Aku menatap pilu keadaan bapak yang mengenaskan itu. Segera aku memanggil ambulans agar segera datang untuk menyelamatkan bapak. Aku sungguh tidak paham kenapa bapak memilih melakukan hal gila ini.

***

“Bapak tidak apa-apa?” tanyaku ketika akhirnya bapak siuman. Dan, bapak hanya menanggapi pertanyaanku dengan anggukan.

“Kenapa Bapak melakukan hal ini? Marni takut, Pak.”

“Bapak pantas mendapat hukuman ini, Mar.”

Selalu itu yang bapak katakan sejak satu minggu lalu.

Aku tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya. Tapi, sejak bapak pulang dari tempat yang sering dia kunjungi—tempat yang memberinya kepuasan sebagai seorang laki-laki, bapak tiba-tiba bilang ingin memotong kakinya. Bapak bilang itu adalah hukuman yang pantas bagi pendosa sepertinya.

Dan, rancauannya itu semakin menjadi-jadi setiap hari. Oleh sebab alasan itulah, yang akhirnya membuat bapak jarang keluar lagi. Bapak jadi murung dan sering meracau aneh-aneh.

“Memangnya Bapak melakukan apa, sampai harus memotong kaki?” Aku sungguh tidak habis pikir.

“Ada, Mar. Bapak melakukan banyak kesalahan. Bapak takut, Mar.” Tiba-tiba bapak tergugu dan aku semakin bingung melihal kondisinya.

Sudah berkali-kali aku bertanya tentang alasan kenapa bapak memotong kakinya sendiri, tapi berkali-kali pula bapak menolak bercerita. Bapak hanya selalu bilang bapak salah, atau bapak pantas mendapatkannya.

“Ayolah, Pak. Ceritakan pada Marni. Siapa tahu Marni bisa membantu masalah Bapak.” Aku masih membujuk.

“Tidak ada yang bisa membantu bapak, Mar. Ini urusan bapak sendiri. Bapak harus bertanggungjawab.”

Maka aku pun memilih diam. Kalau sudah seperti itu pasti akan sulit merayu bapak. Sifatnya memang sudah keras kepala sejak dulu. Aku akhirnya hanya bisa menyuruh bapak untuk istirahat.

Dan, aku juga mencoba tidur sejenak di sampingnya. Tidur dengan menekuk tangan sebagai alas tidur. Karena di kamar yang ditempati bapak tidak ada kasur lebih untuk dipakai. Bagaimana pun aku juga butuh istirahat, setelah kemarin kerja lembur dan disambut dengan kejadian yang tidak terduga.

Aku baru saja memejamkan mata sejenak, ketika aku mendengar suara bapak yang nampak ketakutan—bapak mengigau dengan keras. Dan, detik itu aku akhirnya paham kenapa bapak akhirnya menjadi seperti ini. Aku tersungkur, tergugu dan merasa ngeri.

***

Seperti yang aku katakan sebelumnya, sejak seminggu lalu bapak terlihat aneh. Jika setiap hari, bapak selalu pergi entah ke mana yang aku tahu pasti tempat itu adalah tempat orang-orang bersenang- senang tanpa adanya aturan—meski aku memang tidak mencampuri ke mana bapak pergi—aku hanya tahu saja. Karena memang sudah menjadi kebiasaan.

Dan, tiba-tiba bapak tidak pernah pergi lagi. Bapak bilang dia selalu bermimpi buruk. Sayangnya aku tidak tahu bapak bermimpi apa. Bapak tidak pernah cerita. Sedang aku tidak pernah terjaga lebih lama setelah pulang kerja. Aku akan langsung mandi dan tidur lelap hingga pagi. Mengingat aku terlalu sering lembur kerja. Dan, kalau tiba-tiba hari ini aku tidur tak lelap, mungkin karena efek khawatir yang tengah mendera, melihat bapak yang terkapar lemah.

Maka hari ini aku memaksa bapak untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Dan, mimpi apa yang sampai membuat bapak banjir keringat dan nampak ketakutan.

“Di-di-a da-tang, Mar. Dia ingin menghantam kaki, bapak. Memotong, memukul dan membakar. Dia menakutkan, Mar. Bapak takut.”

“Kaki, Mar …. kaki, jagalah dia baik-baik, Mar. Jangan kau injakkan di tempat haram yang tak diridai Tuhan. Tuhan akan membalas semuanya. Kau mengerti kan? Jangan seperti bapak, Mar.”

Hanya itu yang bapak katakan dan aku langsung memeluknya, antara haru dan sedih. Sedih karena bapak salah penafsiran dan haru akhirnya hati bapak telah terbuka, setelah sekian tahun bapak marah pada takdir Tuhan, menghujat atas kematian ibu hingga membuatnya tersesat di jalan abu-abu.

 

KAZUHANA EL RATNA MIDA. Kelahiran Jepara, November 1988. Cerpennya dimuat diberbagai media. Karyanya a.l. antologi cerpen Ramadhan in Love (Indiva, 2015), antologi puisi Luka-Luka Bangsa (2015), Lot & Purple Hole (2015), The Power of Believe (2016). Bingkai Kasih Khazanah Jiwa (2016), dan Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik (2017). Alumni Unisnu Jepara ini tinggal di Jepara.

Advertisements