Cerpen Aminullah (Waspada, 22 Oktober 2017)

Hujan ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Hujan ilustrasi Denny Adil/Waspada

OKTOBER itu mengingatkanku pada tetesan hujan yang jatuh melalui dahan pohon rindang. Entah kenapa saat malam itu perasaanku sangat buyar, ditambah lagi apa yang terjadi pada diriku sebelumnya.

Aku mencari penghangat jalanan untuk melindungi ragaku yang sedang kedinginan. Ketika di perjalanan aku berhenti tepat di ujung lorong gelap, aku mendengar suara rintihan perempuan sedang menangis, aku mencari suara itu dengan keadaan saat itu sedang sunyi.

Ternyata benar sosok perempuan dengan keadaan compang-camping sedang bersandar di samping tong sampah, ia kedingingan sambil menangis, tapi aku takut untuk mendekat kepadanya, namun dengan hati penuh keberanian aku mendekatinya dengan rasa penasaran.

“Hei…” tanyaku kepadanya.

Namun saat aku bertanya, perempuan itu enggan menjawab pertanyaanku, entah apa yang terjadi aku tidak tau pasti, malam menunjukan pukul 23:30, di sekitar kami tiada orang lain kecuali aku dan perempuan itu. Aku masih bingung apa yang sebenarnya terjadi, aku memutuskan untuk tetap terjaga di sampingnya. Tidak lama berselang perempuan itu mulai berhenti dari tangisannya, aku mencoba untuk bertanya kembali, barangkali pertanyaan keduaku bisa terjawab olehnya.

“Hei…” Tanyaku kembali kepadanya.

Perempuan itu memandangku dengan raut wajah sedikit pucat, aku bertanya pada diri sendiri apakah perempuan itu seorang manusia apakah bukan. Namun aku langsung menepis prasangkaku terhadapnya. Aku sedikit terkejut ketika perempuan itu menjawab pertanyaanku barusan.

“Tolong aku.” jawabnya.

Jantungku bergetar seketika mendengar suaranya, aku ingin berbicara namun bibirku enggan terbuka ditambah lagi malam itu udara sangat menusuk hingga ketulang. Aku mulai mengatur diriku secara perlahan, dan saat itu aku mulai terbiasa dengannya.

“Namamu siapa? Kenapa menangis?” Tanyaku kepadanya.

“Tolong aku, tolong panggilkan Tuhanku ke sini.” Jawabnya.

Aku terkejut kenapa perempuan itu menyuruhku memanggil Tuhan untuknya.

“Kenapa kau menyuruhku memanggil Tuhan? Bukankah Tuhan ada di mana-mana, bahkan mungkin Tuhan ada di sampingmu.” jawab aku dengan sedikit lantang.

“Jika Tuhan ada saat ini, tidak mungkin aku menyuruhmu untuk memanggilkannya, sekarang hanya kita berdua setelah tiga pria telah memperkosaku,” jawabnya.

Perasaanku terpukul saat itu, saat mendengar apa yang barusan terjadi kepadanya. Aku mulai sedikit bingung bercampur sedih, namun bagaimanapun aku adalah laki-laki, aku harus bertindak untuk seorang perempuan apalagi yang sedang terkena musibah seperti ini.

“Lantas jika Tuhan ada di hadapanmu, apa yang kau lakukan?” Tanyaku.

“Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya, biarkan Tuhan melihat kondisiku saat ini, dan aku ingin menyampaikan kepadanya,” jawabnya kepadaku.

“Apa yang ingin kau sampaikan?” Tanyaku kembali.

“Aku sangat berterima kasih kepadanya, hujan yang turun malam ini menenangkan hatiku, menyatukan air mataku dan membawanya ke hilir sungai, apa yang aku rasakan telah dirasakan oleh semesta,” jawabnya dengan raut wajah sedih.

Seketika aku mendekapnya, aku ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya, aku teringat oleh almarhum ibuku, ia sangat mirip sepertinya, apalagi ia seorang perempuan yang suatu saat ia menjadi ibu dari anak-anaknya.

Malam itu hujan mulai reda, kini hanyalah suara jangkrik dari semak-semak yang terdengar, tirai cakrawala mulai membuka bajunya, rembulan mulai mengintip kami, bintang tampak bergandeng tangan di atas sana, apakah Tuhan telah menjawab semuanya.

Di saat tinggal air hujan yang membekas di jalanan, aku berniat membawa ke rumahku untuk sementara. Setibanya di rumahku aku memberikan ia sebuah handuk dan beberapa pakaianku untuk menggantikan pakaiannya yang basah dan lusuh. Aku melihatnya ia lebih tampak tenang ketimbang sebelumnya.

Seusai mandi, aku memberikan beberapa makanan dan segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya, ia sangat cantik malam itu, semoga apa yang terjadi pada dirinya tidak membuat patah semangat untuk kedepannya.

“Nama kamu siapa?” Tanyaku dengan lembut.

“Namaku Bunga Sari Mekar. Nama kamu siapa?” Tanyanya kembali padaku.

“Aku Arimbi, biasa orang memanggilku Abi.” Jawabku padanya.

“Dimana orang tuamu?” tanyanya kembali.

“Kedua orang tuaku sudah meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan,” jawabku dengan sedikit sedih.

“Oh, maaf ya,” ujarnya.

Tidak lama berselang aku memutuskan untuk ia segera istirahat, aku memberikan sebuah kamarku padanya, sedangkan aku cukup tidur di ruang tamu. Keesokaan hari, aku bersiap untuk membuatkan sarapan dan teh hangat untuknya, pagi ini cuaca sangat sejuk, burung-burung menari dan bernyanyi di sekitar rumahku. Aku masih saja ikut merasakan kesedihan yang dialaminya sejak tadi malam, namun bagaimanapun aku harus bisa membawa hati perempuan itu kembali bersemangat.

Kini ia terbangun, wajahnya sangat lucu ketika ia bangun tidur, aku memintanya untuk segera mandi dan sarapan. Seusai mandi, kami berdua duduk di kursi kayu tepat di teras rumahku, dengan beberapa pohon yang membuat suasana sejuk, dan beberapa nyanyian burung kala itu membuat ia menikmatinya.

Aku bertanya tanya kepadanya tentang asal tempat tinggalnya, ternyata ia tinggal bersama orangtuanya, orangtuanya berada di Padang, sedangkan ia di Medan hanya bekerja dan tidak memiliki sanak saudara.

Pagi ini aku berniat di rumah saja bersamanya, seharusnya pagi ini aku kuliah namun aku tidak mau membiarkan perempuan sendirian di rumahku, aku takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kembali padanya.

Tiba-tiba ia berbicara kepadaku, bahwasannya ia ingin pulang esok hari ke rumah orangtuanya, ia tidak memiliki alat komunikasi untuk saling memberi kabar kepada orangtuanya. Mungkin orangtuanya sudah sangat rindu kepadanya. Tanpa memikir panjang aku menuruti yang diinginkan, dan niatnya aku ingin mengantarkannya hingga rumah orangtuanya, namun ia menolak tawaranku, ia takut merepotkanku. Tapi bagaimanapun keputusan darinya, aku sangat menerima.

Hari kemarin telah berlalu, hari ini di mana si Bunga akan berangkat untuk pulang ke kampung halamannya, setelah sarapan aku langsung mengantarkannya ke sebuah terminal, dan aku tidak segan memberi beberapa uangku sebagai ongkosnya. Ia sangat berterima kasih kepadaku, dan ia tidak tau apakah ia bakal kembali menjumpai aku. Yang pasti aku sangat sedih di saat melihat dirinya terakhir kali untukku. Ia tidak segan memelukku di keramaian orang, ia berbisik kepadaku.

“Jangan lupain aku ya, Bi,” ujarnya kepadaku.

Seketika perasaan aku sedih, ialah wanita yang buat aku merasa tidak kesepian selama orangtuaku meninggal, dan kini ia harus meninggalkanku seorang. Aku tidak kuat menahan kesedihan ketika aku melihat bis yang ia gunakan untuk pulang telah berangkat.

Malam-malam kulalui dengan kesendirian, aku masih mengingatnya, aku merindukan sosoknya saat ini. Dan kini, hanyalah sebuah kenangan, kenangan sisa bibirnya yang menempel digelas teh hangat buatanku.

Apakah ia merindukanku? Hujan, turunlah malam ini, datanglah malam ini bersamanya. Aku ingin mendekapnya kembali. ***

 

Advertisements