Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 22 Oktober 2017)

Depati Kincung ilustrasi Padang Ekspres.jpg
Depati Kincung ilustrasi Padang Ekspres

PETIR berdenyar membelah langit, ketika sesosok lelaki tua bertongkat kayu berjalan gontai memasuki kampung Lubuk Dabak. Ia seperti tak terpengaruh pada gigitan suhu dingin dan tusukan hujan gerimis. Dan seandainya kaki lelaki tua itu tak menapak tanah, pastilah orang-orang yang melihatnya akan mengira ia hantu gentayangan yang datang dari pemakaman umum di lereng Bukit Mategelung.

Suhu dingin mencucuk jangat dan kesiur angin yang membawa gerimis membuat orang-orang kampung enggan keluar dari rumah. Suara jangkrik berderik tak berputus. Sesekali terdengar pula lengking burung hantu dari arah Hutan Kelingi menambah mencekamnya suasana.

Begitu sampai di pertigaan jalan setapak, lelaki tua itu berhenti. Matanya menatap ke rumah panggung bercat biru yang berada di sebelah gardu jaga malam. Rumah paling besar itu milik Marpawi, kepala kampung Lubuk Dabak. Lelaki tua itu mengusap jenggotnya sebanyak tiga kali sebelum mendorong pintu pagar dengan ujung tongkat kayunya.

“Cari siapa?” tanya Ainah, istri Marpawi. Perempuan itu berdiri di ambang pintu sambil menatap lelaki tua di hadapannya dengan mata penuh selidik.

“Aku ingin bertemu, Marpawi,” jawab lelaki tua itu lembut.

“Ada pasal apa kau ingin menemui suamiku?”

“Aku membawa pesan untuknya.”

“Sampaikan saja padaku, nanti akan kusampaikan kepadanya.”

“Tidak. Mengingat betapa penting pesanku ini, ia harus mendengarnya sendiri.”

Ainah memandangi lelaki tua itu dari kepala hingga ke kaki. “Tunggulah di sini, aku akan memanggilnya,” jawab Ainah setengah membentak lalu berbalik dengan wajah geram.

Pada saat Ainah masuk ke dalam, lelaki tua itu mundur menjauhi pintu. Jika saja mata Ainah sedikit awas, maka ia pasti dapat melihat ada yang tak wajar pada diri lelaki tua itu. Sekujur tubuhnya kering, kakinya pun terlihat bersih padahal hujan membuat jalanan kampung Lubuk Dabak dipenuhi lumpur. Lelaki tua itu mengenakan gamis panjang bewarna hijau gelap, di lengannya ada gelang yang melingkar, gelang itu bergerak-gerak seperti ular.

Saat Ainah datang bersama suaminya, lelaki tua itu masih berada di beranda. Seolah tak ingin berlama-lama menemui tamunya, Marpawi menghampiri lelaki tua itu. Dengan nada suara yang tak ramah, ia bertanya nama dan keperluan lelaki tua itu menemuinya.

“Aku Depati Kincung.”

Sulit membaca raut wajah Marpawi dan Ainah usai lelaki tua itu memperkenalkan diri. Entah takut atau justru meremehkan, namun keduanya terdiam cukup lama dan saling pandang. Marpawi tiba-tiba tertawa sinis, Ainah tersenyum kecut.

Nama yang baru saja disebut lelaki tua itu adalah nama keramat di Kampung Lubuk Dabak. Tak ada yang tak tahu nama itu. Konon, nama itu menjadi legenda di kampung Lubuk Dabak sejak zaman Belanda. Para penjajah itu mendatangi kampung Lubuk Dabak dikarenakan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah. Jutaan ton batu bara dan minyak bumi tersimpan di dalam tanahnya.

Depati Kincung yang menjadi kepala kampung Lubuk Dabak ketika itu menentang ketamakan orang Belanda. Dengan kesaktiannya Depati Kincung menanam lempengan baja yang dipesan khusus dari Kesultanan Palembang untuk menumpulkan mata bor milik orang-orang Belanda.

“Ya ya, aku tahu nama itu. Kau pikir aku akan percaya? Berapa kau dibayar orang untuk menakutiku?” sergah Marpawi pongah.

“Mungkin lelaki tua ini sudah gila,” celetuk Ainah. Ia membuang muka dengan sikap yang benar-benar menghina.

Lelaki tua itu tersenyum. Ia tenang dan sama sekali tak terpancing oleh hinaan yang keluar dari mulut pedas tuan rumah. “Aku bukan orang gila. Aku datang untuk menyampaikan pesan kepada suamimu, Ainah.”

“Dari mana kau tahu namaku? Aku bahkan belum pernah bertemu denganmu.”

“Tak ada yang tak tahu siapa dirimu. Sifatmu yang congkak itu telah menyebar kemana-mana.”

“Jaga mulutmu, bangsat tua,” hardik Marpawi. Ia berdiri dan memajukan tubuhnya ke depan sambil menjegilkan mata.

Ainah tak mau kalah, ia ikut-ikutan menimpali kata-kata suaminya, “Kalau kau mau minta sedekah, bilang saja, jangan mengarang cerita.”

“Aku datang ke sini bukan untuk meminta sedekah. Aku datang untuk mengingatkan kalian berdua.”

“Katakan saja, jangan bertele-tele. Setelah itu segera angkat kakimu dari rumahku ini,” kata Marpawi sambil menudingkan telunjuknya ke bawah dagu lelaki tua itu.

“Aku datang untuk memintamu tak lagi menebangi Hutan Kelingi. Sudah cukup. Jangan diteruskan.”

Marpawi tertawa keras. “Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya sambil berjalan mondar-mandir. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan saat berhadapan dengan lelaki tua itu, Marpawi mengembuskan asap rokoknya.

“Kau mungkin bisa membodohi penduduk di sini. Tapi jangan harap ceritamu mempan padaku,” ujar Marpawi menyeringai.

“Hutan Kelingi dan kampung ini menyatu. Kau akan menghancurkan keduanya kalau tak mau mendengar perkataanku.”

Marpawi tambah tergelak. “Aku memiliki izin lengkap untuk mengambil kayu-kayu di hutan itu. Kau tak perlu melakukan cara memalukan seperti ini untuk menghancurkan mata pencaharianku.”

“Aku sudah memberimu peringatan, jika kau tetap tak mau mendengar, kau akan menerima ganjaran.”

“Kau mengancamku?” bentak Marpawi seraya mencengkram krah baju lelaki tua itu dengan kasar.

Lelaki tua itu menggeleng lemah. Matanya menyorotkan tatapan iba. “Tak ada waktu lagi, Marpawi. Tak ada waktu lagi.”

“Dasar orang tua sinting! Enyahlah dari rumahku!”

Marpawi mendorong tubuh lelaki tua itu dengan kasar hingga membuatnya terhuyung, namun tak jatuh. Lelaki tua itu masih sempat berpegangan pada tiang rumah. Dengan tatapan sayu, ia memandangi wajah Marpawi dan Ainah. “Pergilah ke Bukit Mategelung. Kampung ini akan hancur lepas tengah malam.”

Marpawi menudingkan telunjuknya tepat di hidung lelaki tua itu, “Pergilah, sebelum kesabaranku betul-betul habis!”

Marpawi dan istrinya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan lelaki tua itu sendirian di beranda. Lelaki tua itu pergi menjauh dari halaman rumah Marpawi. Bayang-bayangnya kemudian menghilang ditelan keremangan malam yang bergerimis di sekujur kampung Lubuk Dabak.

***

Hampir setiap hari terdengar raung chainsaw dari arah Hutan Kelingi. Hutan itu berada di hulu Sungai Pehaku. Orang-orang kampung Lubuk Dabak menganggap hutan itu hutan keramat. Namun kekeramatan itu telah memudar ketika berpuluh-puluh ton kayu gelondongan dihanyutkan ke Sungai Pehaku saban hari. Orang-orang hanya bisa mengelus dada. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sebab perambah-perambah itu menghabisi Hutan Kelingi atas perintah Marpawi.

Sudah banyak yang tahu kalau Marpawi biang keladi pencurian kayu di hutan hulu sungai Pehaku, tapi tidak ada yang berani mengusiknya. Sudah banyak tokoh-tokoh dan para tetua yang memperingatkan perilaku Marpawi. Namun Marpawi tidak pernah menggubris. Ia merasa sebagai kepala kampung, tidak ada satu orang pun yang berhak melarangnya.

Desas-desus merebak, Marpawi menyuap pejabat dan pemerintah. Marpawi pandai benar merayu orang- orang yang kiranya akan menjegal ladang bisnisnya. Namun sepertinya Marpawi lupa, kalau ada banyak sengketa yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang semata.

Seusai pertemuannya dengan lelaki tua bertongkat kayu malam itu. Hujan gerimis yang turun sejak petang berubah menjadi badai lepas tengah malam. Sungai Pehaku meluap ganas. Gelontoran air bah menerabas pekatnya malam. Menyapu Kampung Lubuk Dabak dengan lumpur dan potongan-potongan kayu dari arah Hutan Kelingi.

Sesaat sebelum banjir bandang menerjang, penduduk mendengar satu teriakan yang memerintahkan mereka mengungsi ke Bukit Mategelung. Tidak ada yang tahu siapa pemilik suara itu, tapi penduduk yakin, suara itulah yang membuat banyak nyawa berhasil selamat, kecuali nyawa Marpawi dan Ainah. (*)

 

TENTANG PENULIS

Adam Yudhistira (1985) penulis asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah dimuat di berbagai media massa, di antaranya; Kompas, Jawapos, Media Indonesia, Majalah GADIS, Majalah Kartini, Tabloid Cempaka, Lampung Post, Fajar Sumatera, Riau Pos, Suara NTB, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, basabasi.co, tamanfiksi.co, dll. Pemenang lomba Menulis Kompas Klasika Dongeng Anak Nusantara Bertutur pada tahun 2014 dan 2015. Pada tahun 2016, ia menjadi Pemenang Lomba Green Pen Perhutani Award. Dan di pertengahan 2017, salah satu puisinya menjadi nominator terpilih dalam Krakatau Award dan dibukukan dalam Antologi berjudul Secangkir Robusta (2017). Buku terbarunya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Advertisements