Cerpen Risda Nur Widia (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2017)

Bocah yang Ingin Melihat Neraka ilustrasi Radar Banjarmasin.jpg
Bocah yang Ingin Melihat Neraka ilustrasi Radar Banjarmasin

AROMA tumpukan sampah meruap dan menyesakan dada setelah hujan turun semalam. Setiap sudut kota terlihat sayu dan pucat karena hujan. Nyamuk-nyamuk mulai menanamkan telurnya di parit-parit, kaleng-kaleng sisa, dan berbagai tempat lainnya. Lalat beterbangan dengan bebasnya dan hinggap ke tempat-tempat dengan membawa penyakit. Namun penyakit yang siap kapan saja menjerat manusia ke penderitan itu seakan-akan dihiraukan. Karena siang setelah hujan itu tampak puak-puak manusia bergerilya di atas gunung sampah. Mereka seperti sedang mencari sebutir emas di balik limbah yang tak dibutuhkan itu.

Di pojokan tempat pembuangan sampah, terlihat seorang bocah terpekur; menyaksikan arakan truk berwarna kuning yang setiap waktu—setiap saat, menuangkan sampah. Truk-truk itu seperti menuangkan air ke dalam gclas. Sampah-sampah pun bertebaran dan sigap diperebutkan oleh para pemulung. Para pemulung itu— di hadapan si bocah—seakan terseret oleh pusaran sampah yang menggunung dan menjijikan. Gancu yang mereka gunakan tampak kelaparan. Tongkat-tongkat berbentuk kail itu cepat merayap memporak-porandakan tumpukan sampah yang menumpuk.

Matahari menyingsing di atas ubun-ubun si bocah. Teriknya membuat si bocah letih. Dan karena itu si bocah memilih beristirahat di bawah pohon bersama ayahnya—yang juga seorang pemulung—mengamati aktivitas para pemulung lain di pusat pembuangan sampah kota.

“Kau tak makan?” Tanya ayah si bocah. “Lekas makan! Tidak setiap hari kita bisa makan telur seperti ini.”

Si bocah mengawasi sudut wajah ayahnya yang sendu. Kerut waktu bersemayam di guratan air mukanya. Kulit ayahnya yang legam tampak begitu tua. Dan sosok itu terlihat semakin kumal karena balutan kaos partai berlubang yang dikenakan. Setelah mengamati ayahnya, si bocah menggerakkan tangannya ke aras nasi bungkus. Tetapi bocah itu tak lekas menyantap. Ia mimikirkan sesuatu.

“Boleh tanya, Pak?”

“Tentang?” Ayahnya menyahut tanpa melirik.

“Sekolah itu seperti apa?”

Ayahnya terpekur dengan mulut menganga. Pria itu seakan dikagetkan dengan penanyaan anaknya yang tak biasa. Bahkan tangan si ayah sempat terhenti di udara dan membuat nasi yang tergenggam tak jadi masuk ke mulut. Pria itu mengawasi anaknya, syahdan menerawang ke kejauhan dengan matanya yang merah. Pria itu memperhatikan keributan jalanan. Di sana terdengar lengking seperti letupan pelur yang bercampur dengan teriakan dari berbagai kendaraan. Pria itu dari tatapannya—seakan mencari jawaban. Pria itu menghela napas lalu memandang anaknya.

“Sekolah itu seperti neraka,” kata ayahnya kemudian.

“Neraka?”

“Kamu di sana hanya disiksa dengan berbagai hal yang tidak kamu suka.”

“Tetapi mengapa anak-anak yang berangkat sekolah tampak senang.”

“Itu hanya tipuan saja.”

“Tipuan seperti apa?”

“Mereka semua dicuci otaknya.”

“Jadi sekolah itu tempat pencucian otak, ya?”

“Betul!” Jawab si ayah melihat air muka lugu anaknya. “Sekolah adalah tempat mengerikan. Apalagi untuk orang-orang tercela seperti kita. Mereka mungkin akan membakar kita hidup-hidup.”

“Kenapa kita tercela?”

“Karena kita hanya sampah di negeri ini. Mereka membenci kita karena itu dan akan membakarnya.”’

Anak itu memanggut samar. Bocah itu tidak dapat membayangkan seperti apa bila dirinya masuk sekolah. Ia pun bergidik membayangkan bila dibakar seperti tumpukan sampah yang setiap sore dilihatnya. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di benak si bocah. Karena ketika melihat ayahnya bercerita, si bocah seperti merasa ada yang dirahasiakan. Bocah itu tak tahu rahasia apa itu. Pun si bocah tak berusah mencari tahu. Ia hanya membuka bungkus makanan, lantas menyantapnya seraya mengingat senyum bocah-bocah berseragam yang dilihatnya pagi tadi—sebelum berangkat memulung.

***

Bocah itu masih merasa penasaran dengan yang dimaksud oleh ayahnya tentang sekolah—tempat yang menurut ayahnya adalah neraka; tempat penyiksaan bagi orang-orang terkutuk seperti dirinya. Apakah benar sekolah itu adalah neraka? Tetapi mengapa setiap pagi ketika akan berangkat untuk memulung dirinya selalu mendapati senyum merekah pada wajah bocah-bocah berseragam itu? Seandainya mereka disiksa di sekolah, pasti hal sebaliknya terjadi. Wajah mereka tak memanggul kebahagian, tetapi kemuraman.

Rasa penasaran itu membuncah di hati si bocah. Ia pun—pagi itu sebelum berangkat memulung—dengan sengaja membuntuti seorang anak seumuran yang akan berangkat sekolah. Ia ingin menjawab kegelisahannya itu walau hal buruk nanti terjadi. Memang ketika menguntit beberapa kali terbersit perasaan takut membayangkan sekolah. Tetapi untuk sementara ketakutannya ia buang. Menyingkirkan jauh-jauh. Karena pagi itu ia ingin melihat neraka.

***

Sepanjang perjalanan saat menguntit, terus saja si bocah dibayangi tentang neraka yang diceritakan oleh ayahnya kemarin: api yang berkobar membakar apa pun dan penyiksaan yang tak mengenal batas. Bocah itu—di benaknya mengabstraksikan tangisan yang menguara memilukan seperti derai hujan yang bertampias di atap rumahnya bila badai datang. Sekali lagi tubuh si bocah bergidik mengartikan kalimat yang dipaparkan ayahnya kemarin.

Namun entah mengapa sepanjang jalan—ia tidak melihat kegelisahan pada garis wajah bocah yang sedang dibuntutinya. Di wajah bocah berseragam itu malah selalu menyebulkan senyum yang renyah: bahagia. Si bocah pemulung tak habis pikir tentang kebisaan manusia zaman sekarang yang dapat menikmati siksaan dengan bahagia. Apakah siksaan di zaman sekarang terasa nikmat? Pikirnya. Si bocah pemulung dengan takzim membuntuti bocah itu hingga sampai di sekolahnya.

Ketika benar-benar sampai, si bocah pemulung terpekur menyaksikan setiap tawa yang berdengung di sudut-sudut sekolah. Di sana anak-anak terlihat bahagia. Mereka berlari-lari riang memainkan sesuatu. Selain itu juga banyak penjual makan yang acap dilihatnya berkeliling saat memulung. Si bocah pemulung sama sekali tidak melihat neraka yang diceritakan ayahnya; tempat-tempat penyiksaan yang dikerumi oleh pekik tangis dan kesedihan. Tetapi yang ia lihat adalah taman bermain yang luas. Lonceng mendadak berdengung. Si bocah pemulung tergeragap.

“Pasti itu tanda dimulainya penyiksaan,” pekiknya samar. Matanya jelalatan mengitari tempat; mencari-cari sosok malaikat yang bertugas untuk menyiksa bocah-bocah itu. Tetapi si bocah pemulung tak menemukan. Ia malah menemukan sosok seorang wanita berpakaian coklat, mengenakan sepatu hitam, dan tersenyum kepadanya. Ia berpikir: Malaikat itu telalu cantik untuk menyiksa anak anak!

Setelah lonceng berbunyi, si bocah pemulung melihat anak anak itu melesat seperti anak panah yang dilecut. Anak-anak itu berbaris dengan tertib memasuki sebuah ruangan asing. Si bocah pemulung dengan bergetar memasuki halaman sekolah yang luas. Namun tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Tempat yang ia kira adalah ruangan penyiksaan bagi anak-anak, tidak ditemukannya. Tempat itu bersih. Bangku, kursi, dan papan tulis tertata rapi. Bocah pemulung itu juga melihat seorang wanita berseragam coklat yang tak henti-hentinya membersitkan senyum kepada anak-anak.

Di mana letak neraka yang dimaksud oleh ayah? Batinnya. Pada setiap inci pandangannya tak dijumpai penyiksaan kejam. Bahkan saat melihat di dalam suasana ruang yang ceria, ia merasa iri pada anak-anak yang duduk dengan senang di bangku dan meja yang bersih itu. Ia ingin duduk di sana; mengacungkan jari; melontarkan pertanyaan seperti mereka. Ia termenung meyaksikan semua itu dari jendela. Sampai kemudian seorang bocah menyentaknya.

“Hai lihat ada pemulung di sana!” Seorang bocah menyahut. Seluruh bocah berpaling menatapnya. Si bocah pemulung pun tersipu seperti maling. Anak-anak itu tertawa serentak sampai wanita berseragam coklat menenangkan.

***

Gopah-gopoh si bocah pemulung keluar dari sekolah tersebut. Sepanjang jalan ia menekuri setiap perkataan ayahnya kemarin; tentang neraka yang dijumpai bila ke sekolah. Tetapi neraka itu tidak ada di sana dan ia malah berpikir kalau ayahnya berbohong. Ombak masih berkecamuk di dalam benaknya. Ia bagai terombang-ambing di dalam kebingungan. Bocah itu termenung dengan wajah murung menatap langit yang mendung.

“Dari rnana saja kau! Seharian kau tidak membantu mencari uang! Mau makan apa kamu nanti!” Tegur ayahnya melihat si bocah pemulung baru pulang.

Bocah itu dengan gemetar menatap air muka ayahnya yang berang. Ia kembali mengambil gancu serta karung yang senantiasa menemaninya. Ia beranjak kemudian kembali mengais botol-botol bekas di gunung sampah; mengumpulkannya ke karung goni. Tetapi ia masih merasa penasaran tentang neraka yang diceritakan oleh ayahnya kemarin. Ia sama sekali tidak merasa takut dengan neraka itu. Ia malah ingin duduk di ruang pesakitan itu; mendengarkan seorang wanita berpakaian coklat bercerita tentang rentetan angka-angka dan ilmu-ilmu lainnya. Ia ingin hidup di dalam neraka itu; menikinati siksaan sembari tertawa-tawa. (*)

 

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-lndoensia UGM (2013). Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Advertisements