Oleh Tyas KW (Kompas, 22 Oktober 2017)

Bermain Gamelan ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Bermain Gamelan ilustrasi Regina Primalita/Kompas

“GONG-GONG kecil ini untuk apa, Kak?” tanya Dhanis di rumahnya JI Glagahsari Umbulharjo, Yogyakarta. Ia heran melihat Kak Nono, kakaknya yang sudah kuliah, membeli tiga buah gong kecil.

“Itu oleh-oleh untuk teman-teman kakak,” jawab Kak Nono. Seminggu lagi Kak Nono kembali ke tempat kuliahnya di Jakarta.

“Oleh-olehnya kok, gong? Ini tidak asyik, Kak?”

“Gong ini bagian dari gamelan,” jawab Kak Nono. “Gamelan itu terkenal, lho.”

“Apa serunya gamelan, Kak? Musiknya lambat jadi ngantuk,” sahut Dhanis.

“Tak kenal, maka tak sayang. Ayo, hari Kamis ikut kakak ke tempat belajar gamelan, ya,” ajak Kak Nono. Namun, Dhanis tak bersemangat dengan ajakan kakaknya.

Kamis pagi, Dhanis pergi bersama Kak Nono ke Keraton Yogyakarta dan langsung menuju Bangsal Sri Manganti.

“Bangsal Sri Manganti ini merupakan pusat kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Setiap Kamis pagi ada pertunjukan gamelan. Kita menonton dahulu di sini,” Kak Nono menjelaskan.

“Nanti kalau aku mengantuk, bagaimana?” ungkap Dhanis. Kak Nono menggamitnya untuk segera duduk.

Pertunjukan gamelan baru akan dimulai. Semua tempat duduk tampak sudah penuh.

Ternyata, lagu-lagu yang dimainkan kelompok pemain gamelan itu ada juga yang iramanya tidak lambat. Dhanis yang awalnya tak tertarik malah mulai jadi menikmatinya, terutama saat gong berbunyi. Kepala Dhanis selalu ikut terangguk-angguk setiap gong besar dipukul. Dhanis suka suara gong yang bergaung dengan nada berat itu.

“Wah, gongnya besar sekali yaa, Kak!” seru Dhanis kagum.

Setelah pertunjukan selesai, Dhanis mendekati pemukul gong dan menanyakan alat musik gong itu, dan alat musik lainnya. Pak Parto, si pemukul gong lalu menjelaskan ke Dhanis mengenai gong, kendang, dan alat-alat gamelan lainnya yang fungsinya berbeda-beda. Dhanis mencoba memukul gong. “Duuunnnggg…” Dhanis senang sekali mendengarnya.

“Kak, aku mau belajar memukul gong. Ternyata gong itu untuk penutup dari lagu yang liriknya panjang,” ujar Dhanis saat Kak Nono mendekatinya. “Duuuunnnggg…,” Dhanis kembali memukul gong besar itu.

Kak Nono hanya tersenyum mendengarnya. “Nah, kalau alat yang satu itu, fungsinya apa, Dhanis?” tanya Kak Nono sambil menunjuk kendang besar.

“Nah, kalau itu namanya kendang untuk mengatur tempo,” ucap Dhanis bangga. Dhanis memang cepat ingat dalam mempelajari sesuatu hal baru. “Nanti, aku juga ingin bisa bermain kendang.”

“Adik hebat! Sudah mengerti gamelan,” puji Kak Nono.

“lya, Kak. Aku mau belajar gamelan. Jadi aku bisa ikut melestarikan budaya Indonesia. Apalagi bermain gamelan itu beramai-ramai, jadi seru, Kak. Duuunng….,” Dhanis mengakhirinya kata-katanya dengan membunyikan alat musik gong kembali.

Kak Nono pun tersenyum. Ia bangga dengan Dhanis. *

Advertisements