Cerpen Setta SS (Sumatera Ekspres, 08 Mei 2011)

Kolam Ikan Wak Jasim ilustrasi Sumatera Ekspres
Kolam Ikan Wak Jasim ilustrasi Sumatera Ekspres

Ada sebuah kolam ikan tak jauh dari sekolahku. Kolam ikan itu milik Wak Jasim. Aku selalu melewatinya ketika berangkat atau pulang ke rumah dari sekolah. Di kolam ikan itu ada ikan mujahir, nila, lele, dan ikan emas. Aku suka melihat ikan-ikan itu berebut makanan ketika Wak Jasim memberi mereka pakan.  Mereka selalu makan bersama-sama dengan ceria. Jujur, terkadang aku iri melihat keakraban mereka. Aku sangat berharap, aku pun bisa lebih dekat dengan keluargaku seperti keakraban ikan-ikan di kolam Wak Jasim itu….

MALAM semakin beranjak matang. Lelaki muda itu semakin hening. Tetapi sepasang matanya tak jua redup meski sedari tadi sudah diserang jarum kantuk bertubi-tubi. Tiba-tiba perasaan ganjil menyelinap lindap. Ia seperti meridukan sesuatu yang entah. Sesuatu yang tak wujud, tak terdefinisikan. Mungkin, seperti keceriaan ikan-ikan di kolam Wak Jasim kah?

***

Kanvas raksasa berpigura horizon diperciki jelaga pekat berhiaskan sepotong bulan pias yang bergantung malas di batas cakrawala dilingkupi awan nimbostratus lebih tampak segerombolan bulu domba. Kesenyapan adalah melodi paling harmoni yang telah disepakati bersama untuk disenandungkan sekelompok orkestra alam. Nadanya yang dingin tak berkawan melenting ke pori-pori udara lembab, terpantul tak hanya di pucuk-pucuk dedaun basah dan ceruk-ceruk bah aspal jalanan yang tak lagi mulus karena hujan sepanjang sore, namun sanggup menembus ke balik dinding-dinding batu kamar kontrakan di salah satu gang kompleks perumahan padat sebuah kota satelit; menelusup lewat ventilasi udara, bagian bawah pintu yang tak rapat sempurna, dan kisi-kisi jendela yang beku. Seperti mantra sihir menghiptonis, murajab mengatupkan mata-mata lelah seluruh penghuninya setelah merentang otot seharian. Oh, tidak, kamar di paling ujung ternyata masih menyiratkan tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

Sebuah kamar maskulin? Sebuah beker antik terduduk pasrah di pojok meja kecil berkaki pendek, hampir menempel ke dinding, di tengah ruangan. Putaran jarum merah yang mengatrol pergerakan dua jarum lainnya terdengar khas. Di dekatnya sebuah wadah berbentuk balok berdiri dari potongan kaca yang direkatkan lem berisi penggaris mika dua puluh senti, dua buah pensil gambar, sebuah bolpen berisi tinta empat warna, dan sisir mini setia menemani. Ambal coklat tebal dan dua kasur lipat yang menutup lantai keramik kamar itu sempurna menyerap gebyar cahaya neon yang menempel di kanopi asbes. Sebuah cermin besar di dinding memotret bayangan di sebrangnya; sepotong span hitam, kemeja lengan pendek biru, sehelai koko baru, peci shalat dari rajutan nilon abu-abu biru, dan singlet putih tergantung rapi di sebalik pintu.

Di sudut lain, di antara lemari kayu kuning gading dan rak buku raksasa yang menutup lebih separoh dinding timur kamar, sebuah papan agenda harian dari karton licin terpasang elegan. Cardboard  berlapis gabus setebal satu senti itu hanya ditulisi dua kalimat pendek tulisan tangan spidol merah darah: Winners don’t do different things. They do things differently. Ungkapan Shiv Khera yang dikutip dari You Can Win, buku pertama sosok Indian yang meledak di pasar lintas kontinental itu. Apakah penghuni kamar itu mengidolakan motivational speaker pencipta metode Blueprint for Success yang mencakup point-point berikut ini: motivasi, sikap, ambisi, kepemimpinan, teamwork dan harga diri? Sejatinya ia tak pernah mengidolakan siapa pun, ia hanya terpenjara pada selarik rangkaian huruf-huruf yang ditulis-ulangnya itu. Tak lebih. Dan memang begitulah faktanya. Ia cukup bangga mengidolakan dirinya sendiri.

Tak ada perabot lain di ruangan tiga kali empat meter itu. Selain galon air mineral dan gelas bening berlengan menangkup di mulut galon. Tak ada asbak berjubel abu kuntung atau sobekan bungkus kopi instan. Karena penghuninya tak pernah merengek minta ditemani keduanya saat harus melek hingga larut sekalipun. Ia, seorang lelaki muda berkaos oblong dan bersarung, sedang duduk khusyu di tengah ruangan menghadapi sebuah meja kecil berkaki pendek.

PERCAYAKAH ANDA BAHWA SAYA ADALAH ORANG TERHEBAT SEDUNIA?

Kamu dapat membaca dengan jelas kata-kata itu tertera pada bagian pungggung kaos oblong yang dikenakannya, menggunakan huruf balok dengan warna kontras.

99% responden menjawab YA dan 1% menjawab TIDAK. Survey telah dilakukan pada 100.000.000 orang dan Anda adalah orang yang terakhir.

Kelanjutan kalimat itu, agak jauh letaknya ke bawah hampir mendekat ke pinggangnya.

Hmm… kamu tak sepenuhnya keliru jika menerka ia tipikal robot kapitalis yang lebih sering lupa waktu, kadang lupa diri, dan tak pernah sudi diganggu. Hampir setiap malam, di saat semua penghuni kontrakannya lelap dijerat mimpi, ia masih akrab berkutat dengan sederetan bahasa pemograman. Tahukah kamu, deret bahasa sandi itu cinta matinya selama beberapa tahun belakangan ini. Simbol-simbol latin itu tak lain nyawanya yang sesungguhnya. Hatinya seolah telah beku, tak tersentuh, tak menyisakan ruang bagi sosok gemulai—di matamu, namun kadung terpatri dalam benaknya sebagai pencipta horror. Ia pun setia menjadi diri sendiri di usia yang semakin matang dan mandiri.

Tepat pukul dua puluh tiga lewat tiga belas menit sembilan belas detik. Keruwetan program yang sedari dua jam sebelumnya sudah ia pelototi ternyata membuatnya jengah juga kali ini. Saat vakum itulah tiba-tiba sebuah pesan singkat dari nomer Ayahnya membuyarkan konsentrasi lelaki muda itu pada monitor 12 inci di hadapannya. Special message alert tone ponsel mungilnya purna merobek keheningan yang berdentang akut di dasar palung hatinya.

O ya, sebaiknya aku perkenalkan terlebih dahulu nama lelaki muda itu padamu: Satria—ya, kamu panggil sajalah dia Satria. Nama lengkapnya sangat panjang. Tapi ingat, jangan dibaca “Satrio”, dia sangat tidak suka itu. Karena ia merasa bukan Jawa, alibinya ketika aku tanyakan hal itu padanya.

“Pa, aku ado PR English. Disuruh buat karangan tentang lingkungan alam sekitar sekolah yang aku lihat. Minimal satu paragraf. Contohnya, I see landscape. Aku dak biso cara nyusun kalimat dan kata-katanyo. Kato guru aku, yang dinilai tu cara penyusunan kalimatnyo. Tolong carikan, Pa, aku dak biso. Besok ngumpulnyo!”

Bibir tipis Satria hanya sedikit merekah; namun tampang kecutnya membongkar pasang sebuah program berbasis bahasa C++ untuk simulasi aliran supersonic—sebenarnya ia hanya sedang mencoba-coba saja karena bukan bidang pemograman keahlian utamanya, tak sempat berganti rona. Pesan singkat itu forward-an dari SMS adik perempuannya. Ayahnya ternyata sedang di perjalanan dinas dan tak sempat menyusun sebuah karangan pendek dalam bahasa Inggris untuk memenuhi permintaan bungsunya, gadis kelas tujuh di sekolah menengah.

Ia memilih acuh dan kembali menatap himpunan kode-kode numerik pada layar monitor. Ada kehampaan merayap seketika di lembar-lembar membran otaknya tanpa bersuara. Ya, meski kamu lihat matanya menancap lekat di deret angka-angka buta.

Ia beralih ke pesan singkat itu lagi.

Inilah kesempatan yang kau tunggu-tunggu itu! Sebuah hardikan menghentak alam bawah sadarnya.

Ia ragu.

Terpaku.

Bisu.

Dan hardikan itu sekali lagi mencibirnya, menghempaskannya pada sebuah ruang kosong dalam lipatan waktu.

Maka, kini ia hendak membuka kembali laci memori paling bawah di lemari otaknya yang sudah sekian lama diabaikan. Kawan, jika kamu penasaran coba tengoklah sendiri apakah tampak debu lekat menempel di sekujur permukaan laci memorinya itu? Aha! Beruntunglah ia masih menyimpan kunci gembok kecilnya, tergantung di satu sudut nuraninya. Pengembaraan menembus belantara kelam masa silam pun dimulai.

Ia teringat sketsa sebuah bangunan permanen di sebuah desa satu jam dari pusat keramaian ibu kota kabupaten, tersempil di satu ruang kecil di bagian selatan luasnya bongkahan tanah Andalas. Sketsa itu kini semakin jelas di pelupuk matanya. Mula-mula sebuah gerbang kokoh dari jalinan batang besi setinggi dua meter warna hijau lumut. Kemudian beranda depan rumah bercat putih dengan besi-besi seukuran telunjuk sisa coran yang mencuat tepat di atasnya. Sebuah meja antik, dua kursi plastik, dan sebuah kursi rotan yang anyamannya bolong tepat di tengah dudukan pantat untuk duduk santai dulu teronggok di sana. Namun ia sudah lupa detail bagian-bagian di dalam bagunan itu. Tentu saja, ia pun tak ingat lagi setiap sudut di bagian luar yang dulu berhalaman sangat luas itu. Yang masih terekam jelas hanya serumpun pohon jeruk nipis di pinggir pagar jeruji besi yang buahnya sangat lebat dan tak bosan ia buatkan minuman segar di siang terik. Genap delapan tahun ia tak menginjakkan kaki di lantai keramik putih bangunan permanen itu. Keramik putih? Itu dulu, entah sekarang, mungkinkah sudah berganti keramik merah delima?

“Teras depan rumah sudah diperluas sekarang. Banyak pot bunga kesayangan Mamamu di sana. Mirip toko bunga.”

Ayahnya berseloroh setengah bercanda, beberapa waktu sebelumnya, berpromosi meyakinkan saat memintanya pulang barang beberapa hari saja. Saat itu ayahnya menyempatkan mampir selagi tugas ke ibu kota.

Ia bergeming.

“Di samping kiri bagian belakang rumah, yang dulu tumbuh rindang pohon pelem itu, kini sudah disulap menjelma garasi mobil,” Ayahnya tak jera, terus saja bercerita tentang kediaman mereka terkini.

“Garasi mobil dinas?” gumamnya retoris, sekadar memastikan.

Apa kabar pohon salak dan durian di belakang rumah?

“Kolam 2 x 4 m di pinggir tembok jalan belakang rumah itu untuk induk gurame. Di pinggir tembok Wak Jasim, sepanjang tiga puluh meter, kandang entog. Rencana untuk kandang bebek kapasitas 500 ekor,” kata Ayahnya lagi.

Seketika ia teringat tingkah konyol bersama ketiga adiknya tak jauh di pinggir kolam ikan berair jernih yang sekarang ternyata sudah dibeton semua itu. Kolam ikan itu dulu bertabur pawai ikan mas dan nila. Suatu ketika, kepala adik bungsunya nyaris tertimpa sebutir kelapa tua yang jatuh tanpa permisi dari pohonnya di pinggir kolam itu.

Namun lagi-lagi kehampaan seolah tak lelah mencibirnya sempurna. Kekonyolan itu sudah jauh digerus waktu yang terus gegas melaju tak hirau jeritan pilu dan rintik sendu yang diam-diam menyatroni hatinya kini. Waktu yang tetap diam dan terus berjalan tanpa memihak pada siapa pun, tanpa membantu siapa pun; tak pernah kalah, tak akan usang, selalu baru, selalu tegar dan segar. *

Ke mana masa-masa penuh senyum itu sirna?

Satria menelan ludah serta merta. Tenggorokannya tiba-tiba seperti kram. Tak ingin ia mengingat kembali saat-saat keputusan paling sulit itu menjelma satu-satunya opsi yang paling diamini neutron syaraf di otaknya. Tak sudi ia terseret arus kembali ke pusaran sebuah episode kelabu. Tentang ide-ide yang selalu bersebrangan dan tak pernah menemukan titik temu. Tentang mufakat yang tak lebih indah dari slogan demokrasi, seekor makhluk asing di planet antah-berantah. Kecuali titah tak terbantah. Wanita itu diktator setara Hitler di hadapan goliath pada sosok hijaunya kala itu. Ya, dan ayahnya tak pernah benar-benar terlibat atau sengaja melibatkan diri dalam perseteruan antara ia dan wanita yang seharusnya dijunjung setinggi langit sepenuh bumi itu.

Sesungguhnya perasaan terbuang adalah bencana paling kronik. Seolah wanita itu hanya menanam janin di perutnya dan lantas membuangnya ribuan mil ke tanah sebrang. Membuang? Jika tidak, adakah seorang yang mempunyai naluri Hawa sanggup berpisah dari buah hatinya hanya sesaat berselang setelah kehadirannya? Dan dua puluh tahun terasing sebelum kembali dengan penolakan tersembunyi. Hanya itu yang dimahfumkannya selama ini.

Dirinya adalah alien yang sempat tersasar di hunian berlantai keramik putih itu dulu. Hingga pada akhirnya ia memilih tak pernah kembali. Hanya sesekali saja menengok sepasang lelaki tua dan nenek renta yang sangat bersahaja telah merawatnya sejak bayi merah di sela aktivitas perkuliahannya yang padat—ia sengaja memadatkannya dengan aktif di berbagai forum kampus, di sebuah universitas negeri tertua di Jawa. Dan, hampir satu dasawarsa bisu menihilkan sapaan kedua anak beranak itu.

“Hidup adalah sebuah misteri dini hari yang sangat pekat. Akan naas jika sudi tenggelam dan hanyut dalam lautan sentimentil berlebih. Ada kalanya kita harus legawa,” suatu waktu kata ayahnya, seolah ditujukan pada dirinya sendiri yang tak pernah sanggup mendinginkan konflik dua belahan jiwanya. Sosok yang mulai beranjak sepuh itu menatap dalam ceruk matanya bersahabat, tak pernah ada kesan menghakimi terdeteksi olehnya. Selalu begitu, bertahun-tahun, tak pernah berubah, tak mengenal lelah.

Ia mencoba tersenyum tulus menghormati. Tetapi bayangan seorang pemuda lugu yang sedang duduk mencangkung di ruang tengah rumah berlantai keramik putih itu, lebih sepuluh tahun silam, akan selalu hadir menghantui. Hujan deras, petir menggelegar, listrik mati, perut lapar, pemuda lugu itu terisak, tak mengerti kenapa ia ditinggalkan sendiri, tiga hari berturut. Pemuda lugu itu tak lain adalah dirinya yang baru tiba dari Jawa untuk menghabiskan liburan sekolah. Ayahnya tak tahu apa-apa tentang perlakuan itu karena sedang bertugas ke luar kota sejak beberapa hari sebelum kedatangannya. Adiknya yang paling besar tinggal di asrama sekolah, sedang dua yang paling kecil belum tahu apa-apa untuk dilibatkan dalam sebuah rahasia pelik itu. Wanita itu memboyong kedua adiknya meninggalkan rumah mereka ke kontrakan salah seorang famili tanpa permisi.

“Kau orang berilmu, Nak. Masa lalu akan menjadi catatan usang yang teronggok di lemari buku penuh kecoa,” lirih Ayahnya, kali ini lewat mimpi yang memaksa kedua matanya kembali terbuka tak lama berselang setelah terpejam pada suatu dini hari yang menggigilkan tulang.

Hingga pada akhirnya ia luluh, tersedu sendiri. Ego diri yang selama bilangan tahun diagungkannya melumer di hadapan lelaki pengasih itu. Kamu harus percaya, sesungguhnya ia tak sudi menyerah begitu saja. Namun mata elangnya tak kuasa melawan arus tatapan sepasang mata teduh itu setiap kali ia memberanikan diri menatapnya saat bersua. Sepasang ceruk beretina coklat tua yang menceburkannya pada sebuah kolam yang sangat dalam tak berombak tak beriak. Ia pun takluk dengan penghormatan tertinggi di dalamnya.

Tapi boleh jadi bukan itu penyebab sesungguhnya. Ia hanya sudah lelah dengan kesendiriannya. Mungkin. Ia memang merasa terbuang, namun ia yakin lelaki sepuh yang ia panggil Ayah itu tak pernah membuangnya. Ia pun hanya mengiris dendam pada seseorang yang tak ingin disebutnya lagi. Dendam? Entahlah kini. Ia hanya ingin memulai. Tak ada salahnya untuk memulai sebuah episode baru bukan? Ya, mungkin saja saatnya baru saja tiba.

Setelah membaca sekali lagi pesan singkat itu, memori otaknya kembali terlempar ke suatu lipatan masa, pada Wak Jasim, tetangga belakang rumahnya yang bertani ikan di lahan Ayahnya. Dulu ia beberapa kali menemaninya memberi pakan ikan-ikan lincah itu di kolamnya.

Satria mulai menggurat untaian kata di ponsel mungilnya dalam bahasa Inggris sesuai permintaan di SMS itu….

Beberapa kali jarum detik jam beker tak jauh darinya bersender ke dinding kamar mengitar sempurna tiga ratus enam puluh derajat. Pesan terkirim. Ia termangu. Kesendirian yang melabirin. Seperti menggerogoti nadi keakuannya.

Malam semakin beranjak matang. Lelaki muda itu semakin hening. Tetapi sepasang matanya tak jua redup meski sedari tadi sudah diserang jarum kantuk bertubi-tubi. Tiba-tiba perasaan ganjil menyelinap lindap. Ia seperti meridukan sesuatu yang entah. Sesuatu yang tak wujud, tak terdefinisikan. Mungkin, seperti keceriaan ikan-ikan di kolam Wak Jasim kah? (*)

Catatan:

* Kata-kata inspiratif Andrie Wongso tentang waktu.

Yogyakarta, 15 April 2010 – Jakarta, 7 April 2011 22:12 WIB

Lahir pada penghujung 1981 di Lubuklinggau. Penikmat sastra, alumni Jurusan Mesin FT UGM, berkarya sebagai Analis Industri di Ditjen IKM Kementerian Perindustrian.

 .

Advertisements