Oleh Hamidah Jauhary (Kompas, 15 Oktober 2017)

Wisata Batik Trusmi ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Wisata Batik Trusmi ilustrasi Regina Primalita/Kompas

LULU pulang ke rumahnya yang ada di jalan Sekar Kemuning, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, dengan wajah cemberut.

“Kok kamu pulang sekolah malah cemberut, sayang? Ada apa?” tanya Mama keheranan.

“Aku sebal, Ma. Hari Sabtu nanti sekolah akan mengadakan pameran batik. Lalu semua siswa juga diminta memakai batik,” jawab Lulu.

“Wah, bagus dong kalau begitu,” sahut Kak Naila yang baru muncul dari dapur. Kak Naila adalah Kakak Lulu yang sudah kuliah. Hari ini Kak Naila tidak ada jadwal kuliah.

“Batik itu kan khas Indonesia. Kalau kita senang memakai batik artinya kita senang melestarikan budaya Indonesia,” lanjut Kak Naila.

Tapi Lulu masih saja cemberut. Rupanya Lulu tidak suka memakai batik. Menurut pikirannya, batik itu ketinggalan zaman dan sudah kuno. Hanya orang-orang dewasa yang cocok memakai batik. Anak-anak SD seperti Lulu tidak cocok memakai batik.

“Begini saja,” usul Mama. “Bagaimana kalau nanti sore kita berwisata batik ke Trusmi?”

“Wisata batik?” tanya Lulu keheranan.

“Wah, ide bagus tuh. Aku juga mau beli batik ya, Ma,” ujar Kak Naila bersemangat.

Mama tersenyum dan mengangguk. “Tentu. Kita pergi bertiga nanti.”

Sorenya, Lulu pergi bersama Mama dan Kak Naila ke Desa Trusmi, Plered, Cirebon. Di Trusmi memang terdapat banyak toko yang menjual berbagai jenis batik.

“Cirebon adalah salah satu kota penghasil batik di Indonesia, lho,” kata Mama sambil mengajak Lulu dan Kak Naila memasuki salah satu toko batik.

Lulu hanya mengangguk.

“Benar,” sahut Kak Naila. “Di Trusmi ini pusat batik Cirebon.”

Lulu pun diajak melihat berbagai jenis batik, termasuk batik khas Cirebon yaitu batik mega mendung. Lulu ternyata suka melihat batik mega mendung. Coraknya berbentuk seperti awan. Lulu memang paling suka benda-benda langit, termasuk awan.

Di toko itu pun dijual berbagai jenis pakaian anak yang terbuat dari kain batik. Ada yang berupa celana, rok, baju lengan pendek-lengan panjang dan gaun.

Lulu sangat tertarik melihat pakaian-pakaian anak batik itu. Ia kini jadi tahu, kalau batik itu bukan pakaian kuno yang hanya dipakai orang dewasa. Anak-anak pun ternyata banyak yang memakainya. Ia pun memilih dua baju dan satu gaun batik untuk dibelinya.

“Wah, banyak sekali, Lu,” ujar Kak Naila melihat baju-baju di tangan Lulu.

Lulu mengangguk. “Boleh kan, Ma?”

Mama tersenyum melihatnya. “Boleh saja. Tapi bukankah kamu tidak suka memakai batik?”

“Tidak lagi,” Lulu menggeleng. “Batiknya bagus-bagus, Ma. Aku suka yang mega mendung ini. Aku beli tiga ya, Ma. Biar bisa sering kugunakan. Kan aku cinta Indonesia, jadi aku harus cinta batik khas Indonesia juga dong, Ma.”

Mama dan Kak Naila hanya bisa geleng-geleng sambil tertawa melihat tingkah Lulu itu. *

Advertisements