Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Republika, 15  Oktober 2017)

Subuh yang Berkesan ilustrasi Rendara Purnama - Republika.jpg
Subuh yang Berkesan ilustrasi Rendara Purnama/Republika

Pandangannya sedikit berputar-putar. Jalanan yang biasanya tampak lurus, kini terlihat berkelok-kelok. Membuat motor yang ia kendarai bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa ada sebab. Tampaknya dua botol minuman keras tadi masih mempengaruhi kesadaran Kardi.

“Sialan,” umpatnya. Saat merasakan kandung kemihnya bergejolak meminta hajatnya. Dia menggerutu menyumpahi diri sendiri yang terlalu banyak minum. Malam itu ia memang berhasil menang dalam permainan kartu, sehingga bisa minum sepuasnya.

Kardi merapatkan kakinya menahan hajat. Malam-malam begini hendak di mana dia menumpang tandas. Apalagi di kiri dan kanan hanya terlihat hutan dan semak belukar. Nekat buang hajat sembarangan bisa-bisa diganggu penunggu hutan, pikirnya takut.

Kandung kemihnya kembali berkontraksi, seolah memberontak tidak hendak menunggu. Memang rumahnya masih cukup jauh dari hutan ini. Sengaja dia memilih warung remangremang di kampung seberang untuk malam ini, karena khawatir dipergoki istrinya seperti bulan lalu.

Sengaja benar ia keluar rumah dengan memakai kemeja lengan panjang dan bercelana bahan hitam. Ia berpakaian rapi agar tidak dicurigai istrinya. “Ada urusan bisnis sebentar,” kelitnya kepada istri sebelum berangkat.

Di tengah kebingungan, apakah akan membuang hajat di tengah hutan atau menahan hingga tiba di rumah dengan risiko ‘bocor’ di jalan, ia melihat sebuah musholla di ujung hutan. Tanpa pikir panjang, langsung ia kebut motornya menuju musholla tersebut.

Advertisements