Cerpen Muhammad Irwan Aprialdy (Radar Banjarmasin, 15 Oktober 2017)

Selibat Musim Gugur ilustrasi Radar Banjarmasin.png
Selibat Musim Gugur ilustrasi Radar Banjarmasin

IA memutuskan berpaling pada putih yang memberinya hidup. Muasal dari kelahiran dan kerentaan. Cahaya yang memeluknya di malam ketika kabut tersesat di hadapannya dan angin di luar jendela kamar tak pernah begitu dingin. Ia pergi mengikuti arah angin, meninggalkanmu dan mereka yang berlindung di doa dan kidung untuk menyalibkan dirinya sendiri pada ketakberarahan diri.

Ke mana mencari arti? Sementara orang-orang tak memetakan jalan pulang, kau mencari siapa yang ingin meninggalkan. Tapi, di setapak tanpa nama, kota yang cadas bersama kutuk musim, dan usia sebuah benua yang coba kauterka lewat desau pohon dan jendela yang terbuka tutup— di dalamnya korden melambai, seorang gadis yang memutuskan melepas tudung rambutnya untuk mcmperjelas silsilah yang menemukannya sebelum sumpah selibat dilayangkan. Dan langit mengirimkan tanda air lewat sepia yang tak biasa.

Tak ada yang perlu kautangisi atas pilihannya. Gadis itu memilih menyerahkan paru-parunya pada berbatang sigaret, mengenakan gaun tanpa lengan, dan menghentakkan kebebasan dari sepatu hak pendeknya. Ketimbang, ia diam dan dalam sunyi meronta pada ketika tiga kaul diucapkan. Ia melambaikan tangan padamu yang lebih memilih putih—ganih ia putuskan untuk dibaiat menyimpang pada dirinya sendiri.

Bukan tanpa sebab. Bukan sapa bermata sembab. Ia menangis sebab pada satu dan lain hal ia hanya akan jadi wanita yang tertidur di peti matinya sebelum jam kematian dibunyikan. Dan Izroil hanya akan lewat di atas flatnya tanpa menyangkutkan pertanda di tali jemuran. Seperti kau yang hanya mengangkat tanganmu, menghormati sapa itu. Tanpa ada senyum. Kau hanya tertegun dan membiarkannya menyaksikan punggungmu yang menjauh secara lambat.

Sebelum kau membelok di tikungan, kau mendengar denting piano. Suara sop ran wanita itu yang menyanyikan lagu-lagu himne—puja-puji pada bapak di surga.

la melepasmu. Gadis itu melepas persahabatannya denganmu. Tapi, barangkali kau tak lebih dari sekadar kawula, sebab, toh, ia bisa mengkhianati kedua orangtuanya yang berpesan padanya untuk hidup melayani Tuhan.

Tapi, ia tidak ingin seperti neneknya.

“Sebelum aku menempuh pendidikan biana, Tuhan mempertemukanku den gan buku harian nenek yang tak sengaja kutemukan di gudang bawah tanah,” gadis itu menyesap sigaretnya kuat-kuat, membuat nyala tembakau terpancar ke mata birunya yang rana. “Nenekku tidak mencintai kakekku dengan jiwanya. Keluarga hanya keharusan waktu itu, dan nenekku terlalu tua untuk membujang. Maka ayah ibunya menikahkannya pada pria duda beranak satu. Nenekku tak pernah punya keturunan. Ayahku adalah anak dari istri kakekku sebelumnya yang meninggal pada persalinan. Seumur hidup kakekku tak pernah menyentuh istri keduanva. Dan nenek tiriku membawa pergi keperawanannya lewat sebotol pil tidur di usia 33.”

Kau tak mengerti maksudnya. Tapi kau memahami kenapa ia tak ingin mengucapkan sumpah selibat yang akan diadakan satu bulan lagi. Ia tak ingin membenci Tuhan yang harus ia layani secara paksa, seperti neneknya bersumpah setia pada suami yang tak dicintainya ketika ia ingin mengintip kebebasan dan cinta. Kau memahami benih yang sudah mengakar itu ketika mendapatinya pulang kelewat malam ke asrama lewat jendela. Pakaiannya beraroma tembakau dan nafasnya mengandung alcohol.

Ada kelicinan yang menegang dalam tiap gerak tubuhnya, tak seperti kau dan teman-teman lainnya yang sudah pasrah menghibahkan hidup untuk mengabdi pada Tuhan.

“Tuhan ada, aku tahu.Tapi aku tak ingin melayaninya hanya untuk membencinya.”

Pada kunjunganmu untuk membawanya kembali ke gereja, kau bahkan tak bisa beragumen apa pun. Dan kau tahu Kepala Biarawati Rosa tahu banyak kau tak pandai merayu. Tapi beliau tahu satu hal: kedekatanmu dengan gadis itu, serta hasrat yang terkandung di darahmu yang belum renta.

“Setelah tahun-tahun yang berlalu, pada akhirnya mazmur dan misa tak mampu menguliti takdirku. Ia menatapmu dengan pandangan minta tolong. “Dan adalah kebodohan untuk mengangguk pada perintah kedua orangtuaku yang bahkan tak tahu siapa aku. Mereka ingin mengikatku dan berjanji setia pada kemiskian, kemurnian, dan ketaatan. Sementara, aku memendam ingin untuk mereguk sebanyak-banyaknva dari usia mudaku.”

Angin mengibaskan korden begitu lepasnya. Pertanda musim gugur kini memisahkan kau dan kain itu lewat sehelai satin tak bermasa. Ingin kau menyelimuti jaket beludrunya yang terempas di lantai sebab kaulihat bulu tubuhnya bergidik sepanjang kulit. Tapi kau urung melakukannya. Dan saat itu, kau tahu ia sengaja minta merasakan dingin.

“Kau tak tahu bagaimana rasa laparku tak kunjung terpuaskan. Aku tak bisa berpuasa atas diriku, sementara, berbatas tembok gcreja mangsa-mangsa bertebaran. Bagimu itu kemuliaan, tapi, hatiku berkata itu kebodohan,” ia menyesap sigaretnya dalam-dalam. Matanya berair dan ketika ia membuang asap dari hidungnya, air itu tumpah.

Kau begitu larat menyaksikan kejatuhannya. Ketika ia berjalan menuju balkon di tengah angin yang membabi buta, kau tersentak berdiri. Entah untuk apa. Dan kau saksikan ia menggigil dengan seluruh bulu lengan yang bergidik bagai camar yang dikuliti. Tapi, gigilan itu baginya adalah kebebasan.

“Aku lelah merasa sebagai pendosa di sarang para perawan Tuhan. Aku merasa begitu kotor. Dan kupahami satu: kau tidak bisa melayani majikanmu sambil terus memintanya membersihkan dalaman  kotormu.” Gadis itu memberikanmu tatapan itu: duka yang agung.

Dan kau mengerti. Dan kau ikut menggigil. Bukan karena angin. Tapi karena ia telah mengulitimu pula. Kau merasakan sajak yang amat purba dari dirimu berdeklamasi lewat airmata. Gadis itu mendekatimu perlahan. Nafasnya selicin sentuhan yang asing.

“Kenakan mantelmu, hujan akan turun.” Dan ia berlalu dan memainkan pianonya. Chopin untuk scbuah perpisahan paling nyata. “Bukan salahmu untuk mengucap kaul dan berserah pada hidup selibat. Bukan pula salahku untuk hidup yang mungkin ‘kan dilaknat. Ini hanya dua jalan di mana domba satu berjalan pulang dan bersedia untuk disantap, dan domba lain berkelana untuk mencari gembala.”

Sebelum menyentuh bibir pintu kau berkata, “Au Revoir.”

“Kau mengenalku lebih dalam dari sebuah perpisahan.” tuturnya lembut.

Kau meninggalkan flat itu dan siluetnya: puisi melankolis yang tak akan kaulupakan.

Dan di sinilah kau. Ragu untuk berbelok dan berjalan hingga ke stasiun. Chopin masih samar mengambang di udara dan angin yang menyesatkan dedaunan. Seperti petir yang suaranya meredam di gulungan mendung, kau mendengar ada yang bergerak lambat di dirimu.

Lalu angin membawakanmu sesuatu. Bukan daun. Tapi helaian rambut. Brunette yang amat kaukenal bagai rambutmu sendiri. Kau tak ragu berbalik.

Dan kaudapati dirinya memangkas rambutnya. Jumput demi jumput. Hingga habis seluruh. Menyisakan catatan tak rapi di batoknya yang pucat. Inilah sumpah selibat itu. Gadis itu menguliti sisa kepalsuannya bersama musim gugur yang merapat bersama senja yang sebentar lagi akan lunas.

Chopin menjelma hujan. Entah berapa lama kau terpaku, tapi kau ikut menikmati bagaimana ia membiarkan tubuh kurusnya dimandikan langit yang tumpah. Untuk sebuah kebebasan yang ia pilih. Lalu ia menatapmu.

“Suatu waktu kau akan mendapatiku sebagai gadis yang berteriak bebas di tubir kehidupan.” Ia menghempaskan gaun yang tadi ia kenakan ke jalan. Tubuh kemurnian itu berjalan masuk dan menutup pintu balkonnya.

Berakhir. Ia telah bersumpah selibat pada udara musim gugur. Kau masih membuang waktu bila terus tertegun, merasa kesan yang menganga. Tidak lama, kau berbalik, berbelok ke tikungan. Sebab, pada akhirnya kau merasa jijik pada dirinya—dirimu, berjalan lurus menuju stasiun yang akan membawamu pada majikan yang akan terus mencuci baju kotormu. Dari waktu ke waktu. ()

Advertisements