Cerpen Abul Muamar (Analisa, 15 Oktober 2017)

Perempuan XXX ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Perempuan XXX ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Pembaca yang budiman, ketika membaca judul cerita ini, janganlah berpikir yang tidak-tidak, atau menerawang kelewat jauh. Percayalah, cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang barangkali pembaca pikirkan, atau bayangkan, itu. Tidak ada sama sekali. Agar tidak menerka-nerka, baiknya pembaca yang budiman langsung saja membaca cerita ini dengan santai. Sambil minum kopi dan makan pisang goreng panas, mungkin.

***

MULANYA, aku sungguh tak menyangka, perempuan XXX itu betul-betul ada. Siapa saja juga tak percaya ketika kucoba menceritakan tentang keberadaannya. Aku sulit menjelaskan secara spesifik dan gamblang, tapi dia, nyatanya, betul-betul ada. Dia muncul di hadapanku, masuk ke dalam hidupku dan berbuat sekehendak hatinya.

“Ah, kau ada-ada saja. Mana mungkin ada perempuan XXX!” seorang kawan menanggapi dengan malas.

“Perempuan itu XX, bukan XXX. Kau macam tak pernah belajar Biologi saja!” ucap yang lain.

“Makanya kau jangan terlalu banyak berkhayal!” cecar yang lain lagi.

Aku nyaris putus asa ketika tak ada seorang pun mau menanggapi penjelasanku, sebelum akhirnya kutemui Pak Arianto. Guru Biologiku dulu semasa SMA.

Kecuali jumlah keriput di sudut matanya yang bertambah banyak, Pak Arianto belum banyak berubah. Saat itu kuperhatikan dia ketika menyambut kedatanganku. Rambutnya hitam mengkilap, meski barangkali baru disemir. Dia sempat kesulitan mengingatku, bahkan walaupun cukup lama memindai wajahku.

“Siapa ya?” ia bertanya dengan mata setengah memicing, mencoba mengingat-ngingat.

“Saya Sukir, Pak. Murid Bapak dulu.”

Lama dia berpikir, menaksir, sebelum ingatannya bergulir.

“O ya, Sukir!” ucapnya akhirnya, sambil merangkul dan menggoncang-goncang bahuku.

“Wah, wah, sudah lama tidak jumpa. Ayo masuk!”

Dulu, semasa SMA, rumahku dan rumah Pak Arianto tidaklah berjauhan. Hanya berjarak kurang lebih satu kilometer. Sejak tiga tahun terakhir, tak lama sejak aku menamatkan sekolah, Pak Arianto pindah ke kabupaten sebelah. Di sana dia diangkat menjadi kepala sekolah di sebuah SMA negeri yang baru dibuka.

Rumah Pak Arianto yang sekarang cukup besar. Halamannya lebar. Kursi bambu yang ada di belakang rumahnya, menghadap langsung ke pematang sawah, kami pilih untuk duduk dan mengobrol.

“Apa kabarmu?” tanyanya.

“Kenapa datang tiba-tiba begini? Bapak jadi tak sempat menyiapkan apa-apa.”

Kumentahkan rasa tak enaknya dengan penjelasan mengenai tujuanku mendatanginya. Raut wajahnya berubah serius sesaat. Sekonyong-konyong ketawanya pecah, seusai kujelaskan apa maksud lawatanku.

“Jadi, kau datang meminta pertanggungjawaban atau berkonsultasi?” katanya setengah meledek. Rasa gelinya tak dapat dibendungnya.

“Atau mau saya mengulang pelajaran itu?” katanya lagi, masih menahan tawa.

“Saya senang. Ternyata kau mendengarkan pelajaran yang saya sampaikan dengan serius.” Tawanya perlahan mereda.

Pak Arianto adalah guru yang baik, meskipun aku sebenarnya tak terlalu menyukai Biologi. Aku lebih suka Fisika atau Kimia. Pelajaran tentang genetika yang disampaikan Pak Arianto waktu itu masih membekas dalam ingatanku sampai sekarang. Manusia normal terlahir dengan 46 kromosom. Terdiri atas 22 pasang autosom dan sepasang kromosom penentu kelamin. Kromosom Y merupakan kromosom memiliki gen untuk sifat laki-laki.

Berapapun jumlah kromosom X yang dimiliki seseorang, asal dia masih memiliki kromosom Y sebuah saja, maka orang itu tetaplah lelaki. Sebaliknya, jika orang itu tak punya kromosom Y, berapa pun banyak kromosom X yang dia miliki, dia tetaplah perempuan. Autosom sama sekali tidak mempengaruhi kelamin. Dalam sistem penentuan kelamin, laki-laki terlahir membawakan kromosom XY, sedangkan perempuan membawa kromosom XX.

“Ada juga perempuan XXX. Mereka berpenampilan cewek, tapi watak dan hati mereka tidak benar-benar seperti cewek. Hati dan darah mereka dingin. Cowok, berhati-hatilah!” begitulah Pak Arianto menerangkan kala itu sambil berguyon. Seisi ruangan tergelak.

***

“Kau nampaknya sangat penasaran dengan perempuan XXX yang saya bilang waktu itu,” Pak Arianto memulai jawaban yang kutunggu-tunggu.

“Perempuan XXX itu memang ada,” katanya, memulai penjelasan. Aku menyimak serius.

“Sekarang yang ingin kau tanyakan, perempuan XXX yang bagaimana?” tanyanya.

Pak Arianto sepertinya sudah membaca pikiranku. Aku tidak akan bertanya soal perempuan XXX. Seperti yang ada dalam daftar kasus kelainan genetika–bahwa dalam kasus kelainan genetika, memang ada perempuan yang terlahir dengan kromosom XXX. Disebut dengan istilah Sindrom Triple X atau Sindrom Superfemale; di mana si perempuan XXX bukan memiliki 46 kromosom, melainkan 47. Jelas bukan perempuan XXX yang demikan yang kumaksud, batinku.

Untuk meyakinkan diri, perempuan XXX yang kutemui bukanlah perempuan XXX yang diakibatkan oleh Sindrom Superfemale. Kucoba ingat-ingat kembali watak perempuan itu. Tinggi badannya normal, tidak unggul-unggul amat dibanding perempuan lain. Organ kelaminnya juga normal.

Kemudian, otaknya juga cerdas. Bahasa dan komunikasinya juga baik dan lancar. Orientasi seksualnya juga normal. Dia sudah pernah pacaran beberapa kali. Bahkan dia mengaku menikmati bersenggama dengan laki-laki. Sama sekali tidak seperti perempuan XXX yang dideskripsikan dalam Sindrom Triple X itu, batinku meyakinkan.

“Bagaimana pula kau bisa menyimpulkan, dia perempuan XXX?” tanya Pak Arianto.

Ah, aku hampir lupa memberitahunya. Aku bertemu dengan perempuan itu tepat sebulan sebelumnya. Di halaman Gedung Rektorat Universitas Negeri Tapi Komersil atau yang sering disingkat dengan UNTK.

“Kamu yang bernama Sukir?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Aku Elsa,” dia memperkenalkan diri sambil menjabat tanganku.

“Kok kamu tahu namaku?”

“Tahu dong,” katanya. “Semua orang kenal sama kamu.”

Aku tertawa. Percaya diriku melambung.

“Oke. Ada keperluan apa kamu menemui aku?”

“Nggak ada. Aku cuma mau menemui rektor. Kamu kenal, kan, sama rektor? Bisa temenin aku, nggak?”

Aku terdiam agak lama, saat memandangi sepasang matanya yang indah dan tajam. Aku tak sempat berpikir bahwa statusku sebagai pemimpin pemerintahan mahasiswa, membuatku bisa bertemu rektor dengan mudah.

“Bisa, nggak?” ulangnya, membuyarkan lamunanku.

“Bisa. Kapan?” kataku, tanpa sempat menanyakan apa keperluannya.

“Besok ya,” balasnya.

“Oke. Besok.”

***

Hari kedua. Kami bertemu di halaman depan gedung rektorat. Dia duduk di bawah pohon ketapang menungguku. Semilir angin berembus menyibakkan rambut coklat kepirangannya yang pendek tapi halus. Pertemuan dengan rektor yang kami janjikan berlangsung singkat. Rupanya tiada sesuatu yang teramat penting yang ingin dia sampaikan. Dia hanya mencoba menegosiasikan untuk mendapatkan ijazah tanpa mengikuti wisuda.

“Wisuda itu nggak penting,” katanya.

“Aku juga nggak akan ikut wisuda.”

“Aneh, orang-orang justru lebih semangat mengikuti wisuda. Wisuda bagi mereka adalah hari paling ditunggu-tunggu. Padahal sehari-harinya mereka jarang datang, jarang masuk kelas. Cuma datang, duduk, diam, pulang.”

Aku tertawa. Dia pun tertawa. Kami bertatap-tatapan. Daun ketapang yang tadi kupungut tak terasa telah remuk di genggamanku. Tulang tengahnya tanpa sadar kulingkarkan menjadi cincin-cincinan di jariku.

Aku tahu dia kecewa. Rektor menolak permintaannya itu. Betapapun keras dia menyembunyikan, kekecewaan itu tetap tampak dari wajahnya. Aku tak hendak mengungkit. Kubiarkan keberduaan kami mengalihkan rasa kecewanya.

Tak ada lagi percakapan setelah itu. Diam mengambil-alih pembicaraan kami. Hanya ada tatap yang dibalas tatap dan senyum yang dibalas senyum. Seakan pembahasan serius mengenai apapun. Termasuk soal wisuda atau gelar atau ijazah atau cita-cita mengenai pekerjaan setelah tamat, hanyalah basi-basi yang tak penting.

“Kamu mau langsung pulang?” tanyanya.

“Belum,” kujawab, “aku masih mau di sini.”

“Lihat rusa, yuk,” ajaknya.

Kami berjalan menuju halaman fakultas pertanian. Di sana terdapat hamparan rumput yang cukup luas. Di sana rusa-rusa dan hewan pengerat lainnya dipelihara.

“Mau ngasih makan? Ini,” kuserahkan padanya batang-batang kangkung yang tumbuh liar di sekeliling penangkaran hewan-hewan tersebut.

Dia tampak sangat manis sewaktu memberi makan rusa-rusa itu. Kulitnya yang sewarna susu semakin indah ditempiasi sinar mentari sore. Memandanginya, dadaku membuncah. Dia diam saja, memberi makan rusa dengan asyiknya. Seakan tak menyadari, aku dari tadi terus memelototinya.

***

Hari berikutnya yang diringkas dengan yang hari-hari berikutnya. Setiap detik dan menit dan jam dalam setiap hari adalah interaksi antara aku dan dia. Instens dan nyaris tanpa jeda. Kami sering berduaan di kampus, hingga malam dan orang-orang sudah pada pulang. Akhirnya, di depan kolam kecil yang dipenuhi teratai yang mengering. Di bawah langit malam. Di bawah sinar rembulan bersama hewan-hewan kecil yang bernyanyi riang. Benar-benarlah tanganku dan sikunya berlaga, mataku dan matanya berlaga, hidungku dan hidungnya berlaga, dengkulku dengan dengkulnya berlaga…

“Itu tidak berarti apa-apa,” katanya, pada hari kesekian setelah sekian hari pula ia enyah dan tak berkabar.

“Kesalahan terbesarmu adalah menganggap apa yang kita lewati sebagai sesuatu yang tak semestinya,” katanya lagi pada hari berikutnya, menambahkan jawaban-jawaban sebelumnya.

Awalnya, kuanggap dia hanya mengujicoba. Rupanya aku salah. Bukan hanya tak pernah mengenal yang namanya berkasih-kasih. Dia juga sama sekali tak menganggap setiap yang kami lalui itu berarti.

Pak Arianto menyimak tanpa ekspresi. Sesekali mengangguk. Ketika kulihat wajahnya, dia memintaku meneruskan.

Dua minggu lalu sebelum aku kemari, mendatangi Pak Arianto, kulihat perempuan itu dari jauh, bertengkar dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu sudah tua. Jelas bukan mahasiswa. Pria itu, jika saja tak kuenyahkan pikiran burukku, sungguh mirip dengan rektor. Aku menduga, dia masih bernegosiasi dengan rektor tanpa sepengetahuanku. Ah, mana mungkin, batinku. Laki-laki berwajah rektor itu seperti menuntut sesuatu darinya. Lamat-lamat kudengar laki-laki itu marah-marah padanya.

“Semua itu ada alasannya,” dalihnya, ketika menerangkan kepadaku tentang pertengkarannya dengan laki-laki berumur itu. Jawaban yang sama seperti yang sudah entah sekian kali setiap kali kutanyakan kepadanya. Ketika kutanya tentang siapa pria tua itu, ia sempat tergagap sebelum melarikan diri dari hadapanku.

Aku bukan tak mau menerima. Aku sudah ikhlas dan akan tetap ikhlas. Sampai meskipun kutemukan dirinya dengan beberapa pria yang lain lagi hanya dalam hitungan hari.

“Perempuan XXX itu memang ada,” Pak Arianto menyahut pelan, setelah tuntas mendengarkan ceritaku. “Mereka terbentuk bukan oleh kelainan kromosom,” katanya. Pak Arianto berkata dengan serius, mafhum bahwa aku membutuhkan jawaban yang demikian.

“X milik mereka yang satu lagi itu muncul oleh pengalaman, oleh keadaan.”

Benarkah ada yang seperti itu? Aku membatin.

“Kamu tidak percaya?” lagi-lagi Pak Arianto bisa membaca pikiranku. “Memang sulit untuk memercayainya. Itulah mereka. Kau hanya gagal memahaminya.”

***

Seminggu kemudian, suasana sudah tenang. Aku mulai terbiasa tak mendengar kabar dari perempuan itu. Satu pagi, kehebohan tersiar di kampus. Aku tak begitu saja memercayai kabar yang kudengar di sepanjang jalan menuju kampus. Akhirnya tak dapat menampik lagi, ketika pada halaman pertama koran pagi, kubaca judul kepala berita berbunyi, “Rektor UNTK Ditangkap Bersama Mahasiswinya di Hotel Tali Air”, dengan subjudul, “Minta Syarat untuk Ijazah Tanpa Wisuda”. (*)

 

Medan-Yogyakarta, Januari 2016-Agustus 2017.

Advertisements